Se connecterSebuah video unik viral dalam satu malam. Di dalam video itu, di puncak gunung yang diselimuti kabut, pacarku, Adriel Mahendra, berlutut dengan satu lutut dan dengan ekspresi yang lembut. Di tengah sorak-sorai, cincin di jari perempuan itu berkilau yang menandai dirinya sebagai calon istri Keluarga Mahendra. Dalam hitungan jam, video itu menduduki puncak berbagai daftar tren. Orang-orang menyebutnya sebagai lamaran paling romantis tahun ini. Isabel Santoso kemudian menulis pesan di akun media sosialnya. [Aku sudah menunggu pernikahan ini begitu lama, dan akhirnya sekarang benar-benar terjadi! Terima kasih!] Kolom komentar langsung dipenuhi seruan antusias. [Pewaris keluarga mafia dan wanita biasa? Suka banget!] [Seperti cerita di novel.] [Aku iri banget.] Aku mendatangi pacarku untuk meminta penjelasan. Tapi bahkan sebelum aku sempat membuka mulut, aku mendengar suaranya berbicara dengan sahabat dekatnya di ruang kerja. "Emangnya aku punya pilihan lain?" kata Adriel dengan nada suaranya yang sedikit kesal. "Kalau aku tidak menikahinya, ayahnya akan menjualnya." Temannya ragu sejenak. "Tapi bagaimana dengan Karina? Dia sudah bersamamu bertahun-tahun. Apa kau tidak khawatir dia bisa hilang kendali?" Adriel tertawa, sama sekali tidak peduli. "Terus kenapa kalau dia marah? Karina dan aku sudah bersama selama enam tahun. Dia tidak akan pergi. Dia tidak mungkin pergi." Hampir seluruh tubuhku terasa membeku saat itu. Sebulan kemudian. Aku menikah dengan pria lain di hari yang sama ketika Adriel dan Isabel menikah. Rombongan pernikahan kami bertemu di pusat kota. Sesuai adat, kami bertukar buket bunga di antara dua mobil pengantin yang saling berpapasan, dan jendela kami turun bersamaan. Saat itulah Adriel melihatku. Aku mengenakan gaun pengantin putih dan bukan bersamanya, tapi di dalam pelukan pria lain. Setelah bertahun-tahun mengenal Adriel Mahendra, wajah tenangnya yang selalu sempurna akhirnya retak untuk pertama kalinya.
Voir plusJamuan Keluarga Wijaya diadakan di sebuah kediaman batu tua di atas bukit.Lampu gantung kristal.Meja-meja panjang berlapis beludru hitam.Segalanya penuh dengan hierarki dan sejarah.Saat Adriel melangkah masuk, dia langsung merasakannya.Hening sejenak.Perubahan yang begitu halus.Suara-suara rendah mengikuti langkahnya seperti bayangan."Itu dia … pewaris Keluarga Mahendra.""Bukankah jalur pesisir mereka baru saja kehilangan tiga rute?""Kudengar itu karena dia menikahi perempuan yang salah.""Perempuan yang tidak paham aturan."Rahang Adriel mengeras.Dia terus berjalan.Isabel menegang di belakangnya.Jari-jarinya menggenggam lengan bajunya secara refleks.Bisik-bisik lain terdengar cukup jelas"Kalian lihat Austin Pratama akhir-akhir ini?""Tentu. Sejak dia menikahi wanita itu, kinerjanya melesat.""Rute dibuka kembali, dan kemitraan aktif lagi. Kuartal ini dia mendapatkan keuntungan besar."Hening sejenak.Lalu satu kalimat paling menusuk, diucapkan seolah tanpa maksud."Lucu
Jamuan bersama Keluarga Wijaya diadakan di Hotel Montrose.Zona netral.Keluarga Kusuma.Tempat ini sengaja dipilih karena tidak benar-benar milik siapa pun dan karena itu, semua orang harus bersikap sopan dan hadir.Austin dan aku tiba tepat waktu.Tidak terlalu cepat.Tidak terlambat.Begitu kami melangkah ke aula, percakapan mereda, dan topik bergeser perlahan.Pandangan orang-orang mengikuti kami, bukan lagi dengan rasa ingin tahu, tapi dengan rasa hormat.Aku merasakannya dengan jelas.Ini bukan pengawasan.Ini penerimaan.Tangan Austin lembut menyentuh pinggangku, memberikan rasa nyaman."Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan.Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja."Dan memang begitu.Sampai aku melihat Adriel.Dia berdiri di seberang ruangan, berpakaian sempurna seperti biasa, dan dengan Isabel di sisinya. Perempuan itu tertawa keras, satu lengannya melingkari lengan Adriel, seolah kedekatan fisik bisa mengamankan posisinya.Adriel tidak tertawa.Dia menatapku.Tidak terang-teranga
Keesokan paginya, ada sesuatu yang terasa tidak beres di rumah Adriel.Ruang yang seharusnya sunyi justru bising.Dan tempat yang seharusnya hangat malah hening.Isabel sudah bangun.Dia berdiri di dekat meja dapur, ponsel menempel di telinganya, suaranya sengaja ditinggikan dan seolah rumah itu sendiri adalah penonton yang perlu dia buat terkesan."Aku sudah bilang, tidak masalah," katanya dengan nada tidak sabar. "Adriel yang akan mengurusnya. Nama Keluarga Mahendra tidak akan dipertanyakan hanya karena hal sekecil ini."Adriel berhenti di ambang pintu."Apa tadi kamu bilang?"Isabel menoleh, terkejut, lalu merapikan ekspresinya dengan mudah."Oh, tidak penting. Hanya gala amal minggu depan. Aku bilang ke penyelenggaranya kita akan datang.""Kamu bilang ke mereka?" Suaranya menajam. "Kamu bilang apa tepatnya?!"Isabel melambaikan tangan seolah menepisnya. "Santai saja. Aku cuma memberi isyarat soal proyek pengembangan pelabuhan yang kamu sebut sebelumnya. Itu akan menarik orang yang
Kediaman Keluarga Pratama benar-benar berbeda dari milik Adriel.Di sini, aku tidak merasakan tekanan apa pun.Tidak ada yang mengawasi setiap gerakku.Tidak ada yang membetulkan postur tubuhku, dan tidak ada yang mengingatkanku harus berdiri di mana.Austin berjalan di sampingku."Lewat sini," katanya sambil memberi isyarat lembut, lalu kami menyusuri koridor yang disinari sinar matahari. Jendela-jendela tinggi menghadap ke halaman dalam, cahaya menembus pepohonan zaitun yang tertata rapi dengan begitu tenang dan damai.Saat itu aku sadar, tidak ada yang terburu-buru padaku.Tidak ada yang memaksaku memainkan peran.Tidak ada yang memaksaku patuh.Tidak ada yang memaksaku diam."Bagian ini biasanya dipakai untuk rapat internal," lanjut Austin. "Tapi di sini lebih tenang. Kalau kamu ingin sedikit privasi, tempat ini tidak masalah. Dan tentu saja, kamu bebas pergi ke mana pun."Aku berhenti melangkah. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku."Dia ikut berhenti dan menoleh ke arahku."Itu me
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.