Short
Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku

Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku

Oleh:  Crispy CocoTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Bab
11Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Aku bersama sang bos mafia, Maxim, selama lima tahun. Sepanjang waktu itu, dia tak pernah menyembunyikan siapa wanita favoritnya. Clara, putri sopirnya. Sopirnya permah menahan peluru demi melindunginya. Dia menyebutnya sebagai "membayar utang". Bodohnya, aku mempercayainya. Dia memberi Clara perhiasan, mobil-mobil sport, dan dia bahkan membelikannya sebuah pulau. Tiga hari sebelum pernikahan, aku tahu dia memindahkan lokasi acara. Bukan ke tanah milik keluargaku di Silia, melainkan ke pulau itu. Pulau milik Clara. Alasannya? Clara klaustrofobia. Tak sanggup menghadapi pernikahan besar di dalam ruangan. Saat itu, aku sudah muak. Tiga hari kemudian, pernikahan tetap berlangsung di pulau itu. Namun, pengantinnya tak pernah muncul. Maxim dipermalukan di depan umum. Dia mengacak-acak kota, mencariku ke mana-mana. Saat itulah dia baru menyadari kebenarannya. Dia mengira akan menikah denganku. Nyatanya, aku menikahi musuh terbesarnya. Niko Valgana. Bos mafia dari Rasia. Dia meninggalkan Clara. Dia berlari ke kediaman milik keluargaku dan menunggu. Tujuh hari tujuh malam. Dengan bunga, sebuah cincin, dan segunung permohonan ampun.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Tiga hari sebelum pernikahanku, undangan itu tiba. Lokasinya bukan di kediaman milik keluargaku di Silia. Melainkan di pulau yang dibeli tunanganku untuk peliharaan kecilnya, Clara.

Ponselku menyala. Unggahan baru dari Clara.

Dia memajang foto-foto persiapan pernikahan di pulau itu. Satu foto dirinya bersama Maxim. Dia mengenakan gaun putih seksi, menggandeng lengannya. Maxim tampak rapi dalam setelan jas, wajahnya sangat tampan. Dia menulis deskripsi di foto itu.

[ Merencanakan pernikahan impian. Sangat bahagia. ]

Mereka tampak seperti pasangan bahagia, siap menjalani sisa hidup bersama.

Hidungku terasa perih. Amarahku membara.

Aku jatuh cinta pada Maxim sejak pertama kali melihatnya. Enam tahun lalu, di sebuah lelang. Aku mengejarnya selama setahun, tetapi dia tak bergeming.

Kemudian, ayahku meninggal mendadak. Aku mengambil alih keluarga, jalur pelayaran kami, dan bisnis kami yang sebenarnya.

Tiba-tiba, dia menginginkanku. Keesokan harinya, dia mengumumkan pertunangan kami.

Aku tak peduli. Selama aku bisa bersamanya, apa masalahnya? Bahkan jika dia hanya menginginkanku karena nilai keluargaku.

Hidup bersama Maxim tidak buruk. Dia berkelas, tampan, dan dermawan. Bahkan di ranjang, kami sangat "menyala". Namun, dia sama dermawannya pada Clara. Setelah dia membelikannya sebuah pulau, aku yakin kalau Clara meminta bulan, Maxim akan membangun roket untuk meraihnya.

Aku cemburu dan aku kecewa, tetapi bodohnya aku selalu memaafkannya setiap kail.

Aku seorang pecandu. Maxim adalah canduku.

Saat dia melamarku, aku mengajukan satu syarat. Itu adalah permintaan terakhir ayahku. Menikah di kediaman Keluarga Rasman di Silia. Di sanalah keluarga kami bermula, di sanalah ayahku dimakamkan.

Sekarang, Maxim malah menghancurkannya.

Aku tak tahan lagi. Aku langsung menyetir menemui Maxim. Aku harus tahu apa sebenarnya yang dia pikirkan.

Saat tiba di kantornya, aku mendengar tangan kanannya berbicara. "Bos, kamu mengubah lokasi di undangan tanpa sepengetahuan Bu Rosa. Kamu yakin dia nggak bakal ngamuk?"

Maxim hanya tertawa santai dan ringan. "Dia sudah terobsesi padaku bertahun-tahun. Dia tak sabar menjeritkan namaku sepanjang malam. Lagian, keluarganya sudah berantakan. Tinggal dia seorang. Dia tak punya pilihan selain bertahan denganku."

Tanganku mengepal. Mataku menahan perih, aku mendorong pintu hingga terbuka. Senyumnya goyah, hanya sedetik, lalu "topeng" angkuh itu kembali terpasang.

"Kamu sudah berjanji padaku acaranya harus diadakan di Silia," kataku.

Suaraku datar. Dia melangkah mendekat, melingkarkan satu lengan di pinggangku.

"Aku ingin memberimu kejutan. Nikah di pulau bukannya lebih romantis?"

"Romantis?" Suaraku mulai bergetar. "Kamu tahu itu permintaan terakhir ayahku. Tradisi keluarga kami ...."

"Tradisi bisa berubah." Dia menurunkan lengannya dan kehangatan di matanya menghilang. Mata cokelat yang dulu kucintai kini dingin, tak sabar. "Clara sering kena serangan panik. Dia nggak bisa berada di ruang tertutup. Pulau itu terbuka. Ini untuk dia."

Clara. Selalu nama sialan itu.

"Dia bukan orang yang akan menikah denganmu, Maxim. Tapi aku."

"Tapi dia temanku." Dia berjalan ke bar. "Dan dia sudah bekerja keras merencanakan pernikahan ini."

Aku melihatnya menuang wiski. Rasanya seperti pisau tumpul berputar di perutku. Dia pasti merasakannya, karena dia menoleh, nadanya seperti sedang berbicara pada anak kecil.

"Rosa. Yang hidup lebih penting daripada yang sudah mati. Berhenti bersikap dramatis." Tatapannya menyimpan rasa iba yang membuat kulitku merinding. "Undangan sudah tersebar. Semuanya sudah diputuskan. Ingat posisimu, calon Nyonya Chandra."

Saat itu juga, ponselnya berdering. Nada dering khusus untuk Clara.

Dia langsung mengangkatnya. "Clara? Ada apa?" Suaranya melembut. "Apa? Mimpi buruk lagi? Oke, oke. Aku segera ke sana."

Dia meraih mantelnya dan berjalan melewatiku tanpa melirik sedikit pun. "Rosa. Pastikan para tamumu tahu soal perubahan lokasi."

Maxim pun pergi, meninggalkanku sendirian dalam keheningan yang menekan. Hanya bunyi kayu yang terbakar di perapian.

Aku menoleh dan melihat kotak-kotak bertumpuk di ruang tamu. Isinya ikon-ikon suci dan dekorasi altar untuk rumah besar itu. Aku yang memilih setiap bagiannya. Masing-masing adalah potongan dari harapanku untuk pernikahan ini.

Sekarang, semuanya hanya barang rongsokan yang ditinggalkan.

Tunggu. Ada yang hilang. Lilin-lilin pemberian nenekku. Aku membongkar kotak-kotak itu. Lilin-lilin itu tidak ada.

Saat aku hendak memanggil pengurus rumah untuk memastikan semua kotak sudah sampai, Maxim kembali. Dia lupa sesuatu.

"Ah, iya," katanya sambil mengambil kunci mobil dari meja. Dia bahkan tak menatapku. "Lilin-lilin itu. Kata Clara, di pulau akan terlalu berangin. Jadi aku menyuruh orang membuangnya."
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status