O Alfa Me Rejeitou - Grávida, Agora Meu Filho é Seu Rei

O Alfa Me Rejeitou - Grávida, Agora Meu Filho é Seu Rei

last updateHuling Na-update : 2026-10-26
By:  Rosana LyraIn-update ngayon lang
Language: Portuguese
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
125Mga Kabanata
564views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Seraphina Thourlet passou a vida acreditando que havia nascido para ser a Luna de Kaiden Cyrus. Ele era seu companheiro destinado. O homem que seu coração escolheu antes mesmo de o vínculo entre eles despertar. E, por uma única noite, Kaiden a fez acreditar que também a escolheria acima de qualquer coisa. Então veio a cerimônia que deveria uni-los para sempre. Diante de toda a matilha, Kaiden fez o impensável. Ele a rejeitou. Humilhada, com o vínculo destruído e carregando um segredo que ele jamais chegou a descobrir, Seraphina desapareceu antes do amanhecer. Cinco anos depois, ela está de volta. Mas a jovem que imploraria pelo amor de seu Alfa não existe mais. Seraphina retorna mais bela, perigosa e poderosa do que Kaiden poderia imaginar. E não está sozinha. Ao seu lado existe um menino de olhos familiares demais para ser ignorado. Kaiden conquistou territórios, submeteu Alfas e se tornou um dos homens mais temidos das matilhas. Mas bastou Seraphina atravessar novamente seu caminho para ele descobrir que existe uma coisa que todo o seu poder é incapaz de obrigá-la a fazer: amá-lo outra vez. Ele a rejeitou quando ela estava disposta a entregar tudo. Agora, Kaiden terá que descobrir até onde um Alfa é capaz de se ajoelhar pela mulher que deveria ter escolhido. Porque Seraphina voltou carregando muito mais do que o filho que ele nunca soube que tinha. E quando a verdade despertar, talvez não seja Kaiden quem decidirá quem merece governar. Talvez seja ela.

view more

Kabanata 1

Prólogo

"Nyonya!" "Nyonya!"

Teriakan terdengar dari bawah. Semua orang melihat ke arah menara tertinggi kastil, tempat seorang wanita dengan gaun putih penuh darah berdiri di tepi.

Selene Moreau Leventis.

Duchess Leventis. Wanita yang biasanya tenang dan penurut itu kini berdiri di tempat yang paling berbahaya. Para penjaga di belakangnya bergerak hati-hati, takut salah langkah akan membuatnya benar-benar melompat.

Tangisnya pecah, jelas dan memilukan. Selene memegang perutnya yang sakit. Ia baru saja keguguran untuk kelima kalinya. Kali ini ia tahu kebenarannya: semua itu bukan karena penyakit atau kelemahan tubuhnya, tapi karena ulah suaminya sendiri yang tidak menginginkan dia melahirkan keturunan.

"Selene!" suara berat memanggil dari belakang. Dirian, sang Duke, suaminya.

Selene mendengar tapi enggan menoleh. Kecewa sudah terlalu dalam.

"Apa ini trik lain untuk menarik perhatianku?" tanya Dirian dingin. Ia memang tidak suka dibuat repot. Selene tahu, pria itu datang hanya karena tidak tahan mendengar bisik-bisik orang soal istrinya yang berdiri di puncak menara.

Selene tersenyum miris. Suaranya serak saat ia menjawab, "Bukankah kau seharusnya meminta maaf?" Pandangannya jatuh pada seorang wanita cantik yang berdiri di antara para pelayan. Wanita yang rapi, berbeda jauh dari dirinya yang berantakan. Wanita itu dicintai Dirian, wanita yang bahkan tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan dirinya dimata Dirian 

"Apa kau gila?" Dirian membalas, nadanya meremehkan.

Selene berbalik menatapnya. Mata suaminya merah, tapi tetap dingin.

"Ya, aku memang gila! Aku gila karena mencintaimu, padahal kaulah yang membunuh lima anakmu sendiri!" teriak Selene.

Semua pengawal terkejut. Dirian pun terdiam sesaat.

"Selene, jangan bicara omong kosong," ucapnya, mencoba menahan kendali.

Selene tertawa getir. Darah terus merembes membasahi gaunnya.

"Pernahkah kau mencintaiku?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.

Dirian diam. Lalu ia mengalihkan pandangan 

"Tidak pernah " Selene menjawab sendiri karena reaksi Dirian 

Kata dari mulutnya sendiri  menghantam Selene. Ia menarik napas gemetar.

"Hentikan semua ini dan turun. Kau butuh istirahat," kata Dirian.

"Jangan pura-pura peduli!" bentak Selene. Air matanya jatuh. "Mengapa tidak membunuhku saja, daripada membunuh semua janin yang tidak berdosa itu?"

"Selene, berhenti! Turun sekarang!" Dirian berteriak memberi perintah.

"Aku akan melompat dan mati lalu bertemu dengan anak-anakku untuk meminta maaf karena tidak mampu melindungi mereka dari ayah mereka sendiri!" balas Selene lagi.

"Jangan gila, Selene! Kau tidak boleh mati!" seru Dirian, gelisah. Langkah mundur Selene membuatnya semakin rentan di tepi menara.

Selene justru tersenyum. "Demi anak-anakku yang kau bunuh, aku bersumpah! Kau akan membayar semuanya! Aku akan menghantuimu seumur hidup dengan penyesalan dan penderitaan tanpa akhir!"

Ia lalu melompat.

"Selene!" Dirian menjerit, berlari ke tepi menara bersama para pengawal. Tapi mereka terlambat. Tubuh Selene meluncur cepat dan menghantam tanah.

Brak 

Suara seluruh tulang yang dihancurkan dan darah yang menggenang disana . 

Matanya masih terbuka, sempat melihat wajah Dirian yang kacau melihat tubuhnya di bawah.

Teriakan pelayan dan orang-orang pecah memenuhi udara malam. Langit gelap tanpa bintang malam itu menjadi saksi tragedi yang menimpa Duchess Leventis.

.

.

"Selene!"

Selene tersentak, matanya terbuka lebar. Napasnya pendek, seperti orang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam. Di depannya berdiri Dirian Leventis, suaminya. Wajahnya tenang, dingin, matanya tajam. Di belakangnya ada dokter dan pelayan, bau obat memenuhi ruangan. Semua terasa nyata, seperti panggung yang sama ketika hidupnya berakhir dulu.

Dia menoleh ke samping. Jam di meja kecil berdetak. Hari dan tahun yang tertera menunjukkan dua tahun sebelum ia mati. Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma yang sama dengan saat ia terjatuh dari menara. Ingatan itu kembali: tubuhnya menghantam tanah, sakit yang luar biasa, lalu gelap. Ia meraba perutnya, mencari bekas luka. Tangannya berbalut kasa, hangat, berdarah. Ia bingung — pernah mati, tapi sekarang hidup lagi.

"Nyonya Duchess, tangan anda berdarah. Saya akan memasang infus," kata dokter cepat. Selene menatap gerakannya dengan kaku, masih tidak percaya.

Dirian berkata, suaranya terdengar jengkel. "Jangan mempersulit dokter."

Selene menarik napas panjang. Kepalanya penuh dengan bayangan jasadnya, jeritan orang-orang, dan terutama lima janin yang tidak pernah lahir. Semua itu menghantam dirinya sekaligus.

Ia menoleh pada Dirian. Suaranya pelan tapi jelas.

"Dirian."

Suaminya menatap. "Apa?"

Selene menatap lurus ke matanya.

"Ayo bercerai."

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.


Walang Komento
125 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status