Home / Romansa / OBSESI TUAN STERLING / Bab 4: Kabur kedalam Bahaya

Share

Bab 4: Kabur kedalam Bahaya

Author: Sena
last update Huling Na-update: 2025-11-22 21:14:58

Ciuman Kaelan di dalam mobil mewah itu bukanlah sebuah gairah; itu adalah hukumanm, deklarasi perang yang meluap-luap. Bibirnya menekan Vera, brutal, dipicu oleh amarah dan kekaguman berbahaya atas keberanian Vera mengorek masa lalunya.

Namun, alih-alih panik, duri Vera merespons. Dia tidak membalas karena cinta...dia membalas untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan didominasi. Dia mendorong lidahnya kembali, melawan dominasi Kaelan dengan intensitasnya sendiri.

Respon Vera yang menantang itu membuat Kaelan menarik diri dengan tajam, napasnya tersentak. Matanya gelap, menatap Vera yang bibirnya bengkak. Konflik di wajahnya jelas: dia terkejut karena kehilangan kendalinya.

Vera segera merebut kendali psikologis kembali. Dia merapikan rambutnya yang berantakan.

"Apakah itu pembalasan yang Anda maksud,Tuan Sterling?" tanya Vera, suaranya kembali stabil dan tajam. "Lumayan. Tapi gairah membuat Anda ceroboh. Itu tidak membuat saya takut. Sekarang, kemudikan mobil ini. Saya lelah."

Vera menolak mengakui itensitas ciuman itu, menganggapnya hanya sebagai aksi yang gagal. Kaelan hanya menatapnya, bibirnya mengeras. Dia menyalakan mobil, tetapi keheningan di mobil itu kini jauh lebih berbahaya daripada amarah tadi.

Setibanya di Sterling Manor, ketegangan mengikuti mereka seperti bayangan. Mereka memasuki aula marmer yang dingin, dan Vera tidak menyia-nyiakan kesempatan.

"Saya berhak atas imbalan," kata Vera, menghentikan langkah Kaelan tepat di ambang pintu tangga besar. "Saya melakukan akting sempurna di depan para Dewan Bisnis. Anda mendapatkan wajah yang Anda inginkan. Sekarang, saya menuntut bayaran. Bukankah saya sudah mengatakan,ini tidak gratis."

Kaelan berbalik, wajahnya tanpa emosi. "Kau sudah mendapatkan hidupmu. Itu bayaran yang lebih dari cukup."

"Tidak," balas Vera dingin. "Bayaran saya adalah informasi. Anda bereaksi terhadap nama Reynard. Anda bereaksi terhadap masa lalu Anda. Itu kelemahan, dan karena saya telah menemukan kelemahan Anda, saya menuntut akses penuh ke catatan bisnis lama yang Anda ambil dari kantor saya. Saya akan membantu Anda melindunginya."

Kaelan meraih Vera, menariknya ke samping, jauh dari pandangan pengawal yang berdiri di kejauhan. Genggaman kali ini tidak posesif, melainkan penuh peringatan.

"Kau benar-benar tidak mengerti batasannya, bukan,Vera? Aku bisa memaafkanmu karena menginjak kakiku, atau mencuri chip murahan. Tapi kau tidak akan pernah, dengar aku baik-baik, tidak akan pernah menyentuh masa laluku."

Ancaman itu diucapkan dengan ekspresi yang mengerikan. Vera menatap matanya yang dipenuhi rasa sakit lama dan kemarahan yang membara. Untuk pertama kalinya, Vera melihat sekilas kerentanan Kaelan, dan itu memberinya kekuatan baru.

"Anda takut. Itu bagus. Karena saya tidak. Jika Anda ingin permainan ini, Anda butuh saya, Kaelan. Bukan sebagai istri di ranjang, tetapi sebagai perisai dan strategi di meja perang."

Kaelan melepaskan Vera, tetapi cengkraman pada ancaman tetap kuat. Dia menatap Vera, dan Vera tahu Kaelan sedang berpikir. Vera bukan hanya seorang istri...dia adalah variabel yang tidak terduga dan sangat berharga.

"Kau benar,"ujar Kaelan, suaranya kembali ke nada CEO yang dingin dan tanpa cela, seolah-olah perdebatan intens barusan tidak pernah terjadi. "Aku membutuhkanmu. Kau adalah strategist terbaik yang pernah aku lihat, dan kau memiliki kemampuan untuk melihat kelemahan.... termasuk kelemahanku."

Vera merasa menang, tetapi tetap waspada. Dia tidak boleh menunjukkan euforia.

"Jadi?" tanya Vera, mengangkat alisnya. "Apa tawaran Anda, Tuan Sterling? Kontrak pernikahan kita tidak mencakup konsultasi strategis."

"Aku menawarkan kontrak sementara,"tegas Kaelan. "Kau akan menggunakan keahlianmu untuk membantu menghancurkan Reynard dan membersihkan sisa-sisa yang mengancamku. Sebagai imbalannya, kau akan memiliki proteksi penuh, dan kau akan mendapatkan sesuatu yang kau hargai lebih dari uang."

Vera tersenyum tipis. Ini adalah perang yang ingin ia menangkan.

"Saya tidak tertarik pada uang, Kaelan. Saya tertarik pada kelemahanmu,saya tahu saya tidak bisa melakukannya secara diam-diam,jadi saya melakukannya di depanmu. Akses ke perpustakaan pribadi Anda. Di sana Anda menyimpan semua rahasia yang tak pernah tersentuh."

Kaelan mencondongkan tubuh, matanya menelisik. Itu adalah permintaan yang sangat beresiko, menunjukkan bahwa Vera mencari alat untuk menjatuhkannya. Namun, Kaelan mengangumi keberaniannya.

"Permintaan yang berani. Aku setuju. Tapi kau harus tahu, perpustakaan itu adalah jantung bentengku. Akses terbatas. Jika kau mengkhianati kepercayaan ini, aku tidak akan hanya mematahkan dirimu. Aku akan merobek hatimu."

Mereka berjabat tangan. Kaelan hanya menatapnya, dan Vera membalas tatapan itu... perjanjian itu disegel dalam keheningan yang penuh ancaman. Perang du antara mereka tidak berakhir, ia baru saja mendapatkan sekutu yang paling berbahaya.

Malam itu, Vera berdiri di depan cermin kamar mandi, mencoba melepaskan anting mutiara yang dipinjamkan Kaelan sore itu. Tangannya gemetar, bukan karena ketakutan, tetapi karena sisa adrenalin dari ciuman di mobil dan kesepakatan barusan. Tiba-tiba, ia menyentuh bekas memar samar yang ia dapatkan saat penculikan, dekat tulang selangka, yang ia sembunyikan dengan riasan.

Pintu kamar mandi terbuka, dan Kaelan berdiri di sana, hanya mengenakan robe sutra hitam. Dia melihat pantulan Vera di cermin, dan matanya tertuju pada memar yang tidak sepenuhnya tertutup riasan.

Kaelan bergerak mendekat. Vera kaku. Siap melawan.

Namun, alih-alih menyerang, Kaelan meraih dagu Vera, menolehkan wajahnya. Dia menyentuh memar itu dengan ujung jarinya, gerakannya sangat lembut.

"Kau menyembunyikan ini? Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, Vera. Aku tidak suka asetku terlihat rusak. Jangan di tutup dengan riasan lain kali,itu akan membuatnya semakin sakit."

Kaelan mengeluarkan kotak P3K kecil dari lemari, mengambil salep, dan dengan gerakan lembut serta tanpa emosi, ia mengoleskannya pada memar Vera. Kelembutannya yang tiba-tiba ini lebih mengganggu daripada ancaman.

Kaelan selesai, menjauhkan tangannya. Mata mereka bertemu di cermin.

"Jangan salah paham. Aku membutuhkanmu dalam kondisi prima. Sekarang, tidurlah. Jarak antara kita akan semakin menipis. Kau tidak bisa lari dari fakta itu."

Kaelan mematikan lampu, meninggalkan Vera di kegelapan kamar yang luas, kaku karena sentuhan lembut Kaelan yang terasa seperti racun baru dalam permainan mereka.

Pagi berikutnya, Kaelan membawa Vera ke ruang kerjanya yang gelap dan mewah. Di atas meja mahoni, terhampar berkas-berkas yang berhubungan dengan Reynard... musuh lama yang menjadi kunci kelemahan Kaelan.

"Inilah tugas pertamamu, Nyonya Sterling," kata Kaelan, mendorong berkas itu ke hadapan Vera. "Gunakan otakmu, gunakan ke ahlianmu. Cari tahu apa yang disembunyikan Reynard yang bisa menghancurkanku. Dan hancurkan dia lebih dulu."

Vera mencondongkan tubuh, mengambil berkas itu, merasakan gairah kerja yang sudah lama ia rindukan. Namun, kali ini, ia melakukan ini bukan untuk perusahaannya, tetapi untuk sekutu berbahaya.

"Sebagai balasan dari kontrak ini, saya ingin pengakuan. Saya ingin Anda mengakui bahwa Anda membutuhkan saya, Kaelan."

Kaelan tersenyum, senyum yang bukan ancaman murni, melainkan campuran kekaguman dan rasa memiliki.

"Aku selalu membutuhkanmu, Vera. Sejak pertama kali aku melihatmu melawan. Kau adalah bagian dariku sekarang."

Kaelan berjalan mengitari meja, mengehentikan langkah di belakang Vera. Dia meletakkan kedua tangan di kursi Vera, membungkuk hingga bibirnya berada di dekat telinga Vera.

"Aku tidak akan menyegel perjanjian kita dengan jabat tangan kaku. Itu membosankan. Perjanjian kita... disegel dengan gairah."

Dia memutar kursi Vera menghadapnya, dan kali ini, ciuman berbeda dari yang ada di mobil. Ciuman ini mengatakan: " Aku melihatmu, aku menginginkanmu di sisiku." Vera membalas ciuman itu, tidak lagi melawan hasrat itu, tetapi mencampurnya dengan ambisinya untuk menggali rahasia pria ini.

Kaelan menarik diri perlahan, tatapannya menyala.

"Pergilah ke kantor lamamu besok. Tapi berhati-hatilah,dengan ini bahaya yang kau hadapi menjadi ganda."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 108: Taming the Princess

    Matahari sudah mulai condong ke barat, membiarkan semburat jingga menghiasi langit Sterling Manor. Namun, penderitaan Alora belum berakhir. Setelah "disiksa" dengan layar monitor berjam-jam, Kaelan justru memindahkan arena permainan ke taman bermain outdoor pribadi yang sangat mewah di area belakang mansion. Awalnya, Alora bersorak gembira. Ia berlarian, memakan cotton candy yang dibelikan pelayan, dan mencoba perosotan raksasa dengan antusias. Namun, seiring berjalannya waktu, kaki kecilnya mulai terasa berat. Napasnya tersengal, dan bajunya sudah mulai lembap oleh keringat. "Papa... Alora... Alora capek, mau masuk ke dalam," keluh Alora, terduduk lesu di atas rumput hijau yang terawat. Kaelan, yang sudah melepas jasnya dan hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung, justru tampak sangat bugar. Ia sedang berdiri di dekat ayunan sambil menyesap espresso dinginnya. "Lho, kenapa capek? Ini kan baru sore, Sayang. Katanya mau main seharian? We still have so many things

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 107: reverse psychology

    Sterling Manor yang biasanya tenang di pagi hari, kini mendadak gaduh oleh suara lengkingan Alora yang memenuhi ruang makan. Suasana hectic itu kontras dengan penampilan Vera yang sudah sangat stunning. Pagi ini Vera mengenakan silk robe berwarna champagne yang jatuh pas di tubuhnya, dengan rambut yang tertata rapi dan riasan tipis namun terlihat sangat mahal. “Alora, makan sarapanmu dan pergi sekolah sekarang!” Vera berusaha membujuk dengan nada yang mulai meninggi. Ia berdiri dengan anggun di samping meja makan, namun wajah cantiknya tampak menegang. Pintu lift terbuka, dan Kaelan melangkah keluar dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap yang sangat rapi. Langkah kakinya yang mantap langsung terhenti saat mendapati putrinya sedang menangis sesenggukan. “Ada apa hari ini, hm?” tanya Kaelan, suaranya bariton dan menenangkan. “PAPAAAA…!” Alora langsung berlari menghampiri Kaelan. Dengan gerakan sigap, Kaelan mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. “Kaelan,

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 106: Morning Addiction

    Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik tirai sutra yang sedikit terbuka, namun suasana di dalam kamar utama Sterling Manor masih terasa begitu sunyi dan hangat. Vera masih tertidur sangat nyenyak, tenggelam sepenuhnya dalam dekapan protektif Kaelan. Wajahnya tampak begitu tenang dan damai, kontras dengan badai gairah yang mereka lalui semalam.Kaelan, yang rupanya sudah terbangun lebih dulu, hanya diam memerhatikan pahatan indah di depannya. Ia menarik selimut tebal mereka ke atas, membungkus tubuh polos istrinya agar semakin rapat menempel pada dadanya. Meskipun semalam mereka sempat mandi bersama untuk membersihkan sisa cairan pelumas yang licin itu, Kaelan tetap tidak mengizinkan Vera mengenakan sehelai benang pun. Setiap kali Vera mencoba meraih piyama, tangan Kaelan selalu berhasil menariknya kembali hingga kain itu terlepas lagi ke lantai."Tidurlah, my wife. Aku selalu mencintaimu... sangat," bisik Kaelan dengan suara bariton yang masih serak khas bangun tidur.Cup!Ka

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 105: My Naughty Girl

    Kaelan tidak lagi bisa menahan geraman rendah yang tertahan di tenggorokannya. Dengan satu sentakan yang swift and unpredictable, ia membalikkan posisi mereka dalam sekejap. Vera, yang baru saja menikmati kemenangannya di posisi atas, kini justru terperangkap di bawah kungkungan tubuh kokoh Kaelan. Kulit mereka yang licin karena cairan pelumas itu menciptakan gesekan yang terasa begitu seamless—halus, intim, dan membakar saraf.Kaelan menumpu berat tubuhnya pada kedua siku, mengunci pergerakan Vera sepenuhnya. Ia menatap wajah istrinya yang tampak berantakan namun sangat menggoda di atas bantal. Sambil mengecup pipi Vera dengan tekanan yang dalam, ia berbisik tepat di depan bibir wanita itu.“You are being so naughty tonight, aren’t you, Mrs. Sterling?” Suara Kaelan rendah, serak, dan membawa ancaman yang justru terdengar seksi.Vera mengerjipkan matanya, mencoba mengatur napasnya yang mulai kacau. Ia menyunggingkan senyum menantang, sembari mengalungkan tangannya di leher Kaelan yang

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 104: Minta pijatan

    Kaelan tidak membuang waktu. Begitu kakinya menginjak karpet bulu di dalam kamar, ia langsung menyentak kaos hitamnya hingga terlepas, lalu melemparkannya dengan asal tepat ke arah wajah Vera yang baru saja menutup pintu balkon."KAELANNNN!" Vera berseru kaget, menarik kaos itu dari wajahnya dengan mata melotot. Aroma parfum maskulin yang bercampur keringat tipis dari kaos itu menyerbu indranya, membuat jantungnya sedikit berdesir meski ia sedang kesal.Tanpa merasa bersalah, Kaelan menjatuhkan tubuh kokohnya ke atas ranjang king size mereka. Ia berbaring tengkurap, menyembunyikan wajahnya di bantal sembari merentangkan tangan. "Ayo pijit, Sayang. Punggungku rasanya mau rontok," gumamnya dengan suara yang teredam bantal, namun masih menyisakan senyum tipis yang penuh harap.Vera melempar kaos Kaelan ke sofa dengan ekspresi datar yang dibuat-buat. Ia memicingkan matanya, menatap punggung lebar dengan otot-otot yang tampak tegang itu. Seketika, sebuah ide jahil melintas di benaknya. Bib

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 103: Siluit tanpa Celah

    Angin sore berembus pelan, memainkan anak rambut Vera yang terlepas dari ikatannya. Pelukan Kaelan di pinggangnya masih terasa hangat, namun ada beban yang mendadak menghimpit dada Vera. Ia tahu, ketenangan ini bisa hancur kapan saja jika rahasia kecil dari gerbang sekolah tadi tetap ia simpan sendiri."Kaelan..." panggil Vera lagi, suaranya hampir menyerupai bisikan."Hmm?" Kaelan menyahut rendah, hidungnya masih asyik menyesap aroma lavender dari ceruk leher Vera.Vera menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk merusak momen manis ini. "Tadi di sekolah Alora... Rico datang."Tubuh Kaelan tidak menegang secara dramatis, namun Vera bisa merasakan otot lengan yang melingkari perutnya mengeras seketika. Keheningan yang mencekam mendadak jatuh di antara mereka, menelan suara kicauan burung di kejauhan."Dia menghalangi mobilku. Menanyakan hal-hal konyol tentang masa lalu dan... tentang Alora," lanjut Vera cepat, ingin segera menuntaskan pengakuannya. "Aku menegaskan padanya bah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status