LOGINVera terbangun dengan perasaan canggung yang mengancam untuk mencekiknya. Matanya membuka dan disambut oleh pemandangan yang sama dinginnya dengan dinding kamar: Kaelan Sterling.
Ia sudah bangun. Posisinya menyamping ke arah Vera, lengannya ditekuk di bawah kepala. Ia tidak tidur; ia mengawasi. Tatapan Kaelan tenang, tanpa emosi, tetapi mengandung klaim kepemilikan. Vera merasakan panas tubuhnya di belakang... pengingat yang menggangu bahwa semalam, ia tidur di samping musuhnya. "Kau tidur nyenyak, My Beautiful Thom?" sapa Kaelan, suaranya serak dan rendah, terdengar lebih seperti ucapan selamat atas penawanannya daripada salam suami. Vera segera menjauh, duduk tegak di sisi ranjang. Ia meraih robe sutranya dengan cepat, gerakan yang menunjukkan keengganan untuk berbagi ruang. "Tidur nyenyak?" Vera mengulangi, menatap tajam. "Itu istilah yang mewah, Tuan Sterling. Saya hanya beradaptasi. Jangan khawatir, saya terbiasa menghadapi ancaman yang mendengkur." Kaelan tertawa rendah, suaranya yang menghangatkan ruangan, tetapi tidak hati Vera. "Bagus. Kau harus terbiasa dengan kedekatan ini. Ini adalah medan perang barumu. Di sini, kau tidak bisa menyembunyikan rencanamu dariku." Vera mengabaikannya. Secara halus, ia merasakan lapisan bustier gaunnya yang ia buang ke lantai semalam, memverifikasi bahwa chip yang dicuri dari jas Kaelan masih tersembunyi dengan aman di lipatannya. Itu adalah kartu as-nya, dan Kaelan belum tahu. Seketika, ia menyadari detail kecil yang mengganggu: Kaelan sangat menarik di pagi hari. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan janggut tipisnya menambah pesona yang berbahaya. "Fokus, Vera! Dia adalah racun. Jauhi keindahannya," tegur Vera pada monolog batinnya yang nakal. Kaelan bangkit dari ranjang, hanya mengenakan celana tidur. Pemandangan itu memancarkan kekuatan absolut, membuat ruangan yang sudah besar terasa sesak. "Bangun. Sarapan sudah disiapkan. Dan hari ini, kita mulai bisnis nyata." Kaelan membimbing Vera turun. Ruang makannya formal dan dingin, didominasi meja panjang dari kayu gelap. Hanya mereka berdua dan seorang butler yang sangat diam mengisi ruangan. Vera memilih posisi duduk yang memungkinkan dia melihat pintu dan jendela, sebuah naluri keamanan yang tak pernah hilang. Ketika butler menyajikan menu sarapan yang mewah, Vera hanya meminta secangkir kopi hitam pekat. "Kau menolak masakan koki terbaikku?" tanya Kaelan, mengambil croissant dengan santai. "Saya orangnya fokus, Kaelan,"balas Vera, menyesap kopinya. "Dan saya tidak pernah mencampur pekerjaan dengan kesenangan, atau makanan lezat. Sekarang, mari kita bicara. Apa 'bisnis nyata' yang Anda maksudkan?" Kaelan menyandarkan dirinya ke belakang, menikmati ketidaksabaran Vera. "Sederhana. Aku sudah mengurus paperwork legal. Kau secara resmi adalah istriku, dan wakilku di publik. Sore ini, kau akan menghadiri pertemuan dengan Dewan Bisnis Eropa. Tunjukkan pada mereka bahwa Nyonya Sterling yang baru tidak hanya cantik, tetapi juga punya taring." ucap Kaelan. Vera merasakan adrenalinnya naik. Ini adalah kesempatan. "Tentu saja. Tapi taring butuh alat. Saya butuh akses penuh ke laptop lama saya, berkas kantor saya. Bukan versi yang sudah Anda sensor. Bagaimana saya bisa menjadi wakil Anda jika saya beroperasi dengan data yang dimanipulasi? Itu akan merusak citra Anda, Tuan Sterling." Vera menantangnya dengan logikanya sendiri, membalikkan argumen Kaelan tentang cinta. Kaelan tersenyum, menyukai pemainan itu. Ia melipat serbetnya. "Negoisasi yang bagus, Vera. Aku akan memberimu akses ke kantor lamamu. Kau boleh menyentuh berkas lamamu. Tapi ingat: semua berjamur dengan sensor terbaik yang bisa dibeli oleh uangku." Dia berdiri, mengakhiri sarapan. "Kau adalah Duri yang indah. Tapi di kastil ini, aku yanga memegang kendali atas kebunnya, siapkan dirimu. Aku ingin istriku terlihat sempurna... sempurna di bawah pengawasanku." Setelah Kaelan pergi untuk mengurus urusannya, Vera tahu ia hanya punya sedikit waktu. Akses ke kantor lamanya yang dijanjikan Kaelan adalah umpan, tetapi Vera harus mencoba. Dia kembali ke kamar, dengan hati-hati melepaskan chip kecil yang terselip di gaunnya. Dia harus memasangnya di perangkat yang tidak dikontrol Kaelan. Vera bergerak menuju di lantai bawah, berakting seolah mencari buku pengalih perhatian. Matanya yang terlatih segera menemukan celah: sebuah laptop tua dia pojok ruangan, sepertinya tidak tersambung ke jaringan utama. Dengan napas tertahan, Vera memasukkan chip itu ke port USB. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut tertangkap, tetapi karena kegembiraan strategis. Dia berhasil! Komputer itu mulai memproses data, yang mungkin berisi kelemahan Kaelan. Namun, hanya beberapa detik kemudian, lampu di perpustakaan berkedip dua kali. Bukan lampu rusak, rapi sinyal. Vera merasakan bahaya menusuknya. Tiba-tiba, suara Kaelan yang dingin, disiarkan dari intercom di dinding, memenuhi ruangan. Kaelan dengan suara tenang, tetapi mengancam, "Aku menyarankanmu membaca novel klasik, Vera. Bukan mencari informasi ilegal. Jaringan itu adalah umpan, seperti yang kubilang di meja sarapan. Jangan buang waktumu." Darah Vera mendidih. Dia tahu Kaelan tidak hanya mengawasinya... dia mengantisipasi setiap langkahnya. Vera mencabut chip itu, amarahnya berubah menjadi tekad yang tajam. Dia tidak berhasil, tetapi dia tahu batasan kendali Kaelan. Kaelan membiarkan dia melakukan kesalahan ini untuk menegaskan kekuasaannya. Dia berjalan keluar dari perpustakaan, menuju kamarnya, di mana Kaelan sudah menunggu, mengenakan setelan jas yang sempurna. Kaelan tersenyum kecil. "Kau tidak mendengarkanku. Aku bilang, semua jalan keluar mengarah kembali padaku. Jangan buang energimu, Sayang. Lebih baik gunakan energi itu untuk membuatku senang sore hari." Vera menatapnya, api di matanya tidak disembunyikan. "Saya hanya melakukan riset, Kaelan. Dan sekarang saya tahu, benteng Anda lebih kokoh dari yang saya duga. Tetapi setiap benteng punya kelemahan. Dan sekarang, saya tahu di mana mencarinya." Transisi ke pertemuan di Grand Ballroom hotel elit. Vera telah berubah. Dia mengenakan gaun yang dipilihkan Kaelan... mewah dan elegan, tetapi Vera memakainya seolah itu adalah baju zirah. Saat mereka memasuki ruangan yang dipenuhi wajah-wajah elit, Vera mengaktifkan mode Totalitas Akting. Dia tersenyum. Senyum itu sempurna, menunjukkan gairah untuk Kaelan. Dia menyentuh lengan Kaelan dengan tangan kirinya, bukan dengan cengkraman ketakutan, tetapi dengan sentuhan intim yang menuntut perhatian semua orang. Kaelan terkejut. Dia terbiasa Vera melawan dengan mata, bukan dengan penampilan. Vera meliriknya, tatapannya berbisik: Aku akan memberimu pertunjukan, tapi kau berutang padaku. Vera berperilaku sebagai istri yang ideal: mengangguk saat Kaelan berbicara, memberikan senyum malu-malu saat Kaelan menyentuh punggungnya di depan umum. Kaelan menunduk, berbisik di telinga Vera. "Kau luar biasa, Vera. Mereka semua berpikir kau tergila-gila padaku. Aku mulai berpikir aku juga percaya." Vera membalas dengan senyum manis ke publik, tetapi bisikan mematikan ke Kaelan: "Akting yang bagus membuatku senang, Kaelan. Tapi akting yang bagus membutuhkan imbalan. Ingat itu." Di tengah kerumunan, saat Kaelan berbicara dengan seorang pria bernama Reynard, seorang musuh lama, Vera memperhatikan sesuatu. Reynard menyebutkan nama lama perusahaan Kaelan, dan wajah Kaelan sesaat kehilangan kendali. Itu adalah kelemahan emosional yang cepat dan tersembunyi. Saat mereka berdua kembali ke mobil, suasana kembali mencengkram. Vera dengan kemenangan di matanya. "Saya menemukan kelemahan Anda, Kaelan. Anda tidak kebal terhadap masa lalu Anda. Dan Tuan Reynard adalah kunci untuk memahami itu." Kaelan menatapnya, matanya gelap. Dia meraih dagu Vera, memaksa tatapannya bertemu dengannya. "Jangan pernah berpikir kau bisa menang dariku dengan informasi lama, Vera. Karena setiap informasi yang kau dapatkan, aku akan membalasnya. Dan pembalasanku tidak akan dilakukan di ruang rapat." Kaelan mencium Vera dengan brutal dan penuh ancaman di dalam mobil.Suasana kamar mandi yang dipenuhi uap panas kini tertinggal di belakang saat Kaelan melangkah keluar dengan langkah mantap. Ia menggendong Vera dalam dekapan protektif, seolah istrinya adalah harta karun paling rapuh sekaligus paling berharga di dunia. Tubuh Vera terasa begitu ringan dan lemas, kepalanya bersandar pasrah di bahu kokoh Kaelan yang masih menyisakan sedikit kelembapan dan aroma sabun maskulin yang pekat. Kaelan tidak membiarkan satu pun udara dingin menyentuh kulit istrinya; ia membungkus Vera dengan jubah handuk putih berbahan katun Mesir yang tebal dan lembut sebelum meletakkannya dengan presisi luar biasa di atas ranjang berukuran king-size.Vera hanya bisa memejamkan mata, merasakan kasur beludru itu menyambut tubuhnya yang letih setelah badai gairah dan emosi tadi. Namun, Kaelan belum selesai dengan tugasnya sebagai "penjaga". Dengan ketelatenan yang kontras dengan citra diktatornya, pria itu mengambil pengering rambut berlapis krom. Suara hairdryer yang menderu ren
Setelah makan malam yang singkat namun penuh tekanan bagi Kaelan, pria itu langsung beranjak menuju kamar mandi tanpa kata, masih dengan wajah cemberut yang samar. Begitu suara gemericik air mulai terdengar dari balik pintu, Vera berdiri dengan tenang. Ia melepaskan pakaian tidurnya satu per satu; kain sutra putih itu jatuh dengan lembut, membentuk gundukan di atas lantai.Tanpa sehelai benang pun, Vera menggeser pintu kaca kamar mandi yang sudah beruap. Ia melangkah masuk, membiarkan uap hangat menyambut kulitnya yang sensitif. Di bawah kucuran air, tubuh atletis Kaelan terlihat begitu memukau. Kaelan berdiri membelakanginya, kedua tangannya terangkat memijat rambutnya yang basah—sebuah gerakan maskulin yang menonjolkan otot-otot lengan dan punggungnya yang kokoh."Ahh..."Suara helaan napas Kaelan terdengar berat, beradu dengan suara air yang menghantam lantai. Vera berdiri mematung beberapa langkah di belakangnya, matanya menyisir setiap inci tubuh suaminya yang basah, menikmati pe
Beberapa hari setelah pemeriksaan di klinik Julian, suasana hati Vera terasa sedikit lebih ringan. Meskipun gengsinya masih setinggi langit, ia tidak lagi sekeras dulu setiap kali Kaelan datang ke apartemennya. Siang itu, Vera sedang bersantai di sofa dengan mengenakan daster sutra premium berwarna champagne yang jatuh dengan indah di lekuk tubuhnya, dipadukan dengan cardigan tipis yang menambah kesan mewah namun nyaman.Suara bel pintu yang tiba-tiba terdengar cukup mengejutkannya. Vera mengintip melalui peephole. Di sana berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian bermerek yang sangat mencolok, perhiasan emas yang terlalu berat, dan ekspresi wajah yang kaku.Vera membuka pintu perlahan. "Ya? Mencari siapa?"Wanita itu tidak menjawab salam. Ia memindai penampilan Vera dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Apa kamu istrinya Kaelan?" tanya wanita itu dengan suara angkuh.Vera sedikit mengernyit, namun tetap menjaga martabatnya sebagai Nyonya Sterling. "Iy
Selesai makan, kesadaran Vera kembali sepenuhnya. Ia mencoba mendorong dada Kaelan, berusaha turun dari pangkuan hangat suaminya yang terasa terlalu posesif."Sudah selesai makan. Sekarang, lepaskan aku. Kau harus pulang, Kaelan," desis Vera dengan sisa-sisa ketegasan yang ia miliki.Kaelan tidak menjawab. Ia justru mempererat pelukannya dan berdiri dengan santai, menggendong Vera seolah wanita itu seringan kapas. Alih-alih membawanya ke pintu keluar, Kaelan justru melangkah lebar menuju kamar mandi utama."Kaelan! Turunkan aku! Kau mau apa?!" Vera berteriak kecil, jemarinya yang lentur memukul-mukul bahu Kaelan yang keras seperti batu."Sikat gigi dulu, Sayang. Setelah itu tidur lagi," sahut Kaelan tenang. Ia mendudukkan Vera di atas meja wastafel marmer, tepat di depan cermin besar yang memantulkan wajah Vera yang sudah cemberut maksimal.Kaelan mengurung tubuh Vera dengan kedua tangan yang bertumpu pada pinggiran wastafel, mengunci pergerakannya. Ia merogoh laci dan mengeluarkan du
Vera duduk di sofa kulit yang luas di ruangan Kaelan dengan bibir yang sudah mengerucut maksimal. Rencananya untuk meledakkan amarah dan memberikan surat cerai seketika gagal total. Begitu ia masuk tadi, Kaelan hanya sempat mengecup keningnya kilat dan memintanya menunggu karena klien penting sudah tiba untuk rapat mendadak."Satu jam, Vera. Tunggu aku di sini," ujar Kaelan tadi dengan nada yang tidak bisa dibantah.Namun, satu jam berubah menjadi dua jam, lalu tiga jam. Vera berulang kali menghela napas panjang. Ia meluruskan kakinya di atas sofa, memijat pergelangan kakinya yang mulai terasa kaku dan membengkak akibat pengaruh kehamilan dan sepatu hak tinggi yang ia kenakan sejak pagi. Selama menunggu, seorang pelayan masuk membawakan nampan berisi makan siang mewah dan potongan buah-buah segar yang sangat berair. Vera tahu ini pasti perintah Kaelan; tidak mungkin staf biasa berani masuk ke ruangan sang CEO tanpa instruksi khusus.Setelah perutnya kenyang, rasa kantuk yang menjadi m
Empat hari telah berlalu sejak Vera memutuskan untuk menempati apartemen barunya. Bagi Vera, ini adalah kemerdekaan, namun kemerdekaan itu ternyata datang dengan rasa lelah yang luar biasa. Hormon kehamilannya mulai bekerja lebih aktif; mual di pagi hari dan rasa lapar yang datang tiba-tiba membuat tubuhnya kehilangan energi lebih cepat.Sore itu, setelah menyelesaikan rentetan rapat di V-Alliance, Vera memutuskan untuk mampir ke salon langganannya. Ia butuh relaksasi."Tolong lakukan perawatan tubuh yang paling ringan saja," ucap Vera pada petugas salon sambil merebahkan diri. "Dan pastikan semua produknya berbahan organik. Saya sedang hamil, jadi saya harus sangat berhati-hati."Dua jam kemudian, Vera keluar dari salon dengan kulit yang bercahaya dan rambut yang tertata blow-out sempurna. Namun, rasa kantuk yang berat tetap menggelayuti matanya. Begitu sampai di apartemen, ia bahkan tidak sanggup lagi melangkah menuju kamar tidur. Ia melempar tas desainer seharga ratusan juta itu ke







