Home / Romansa / OBSESI Ternikmat / 37. Tagihan Luka

Share

37. Tagihan Luka

Author: CacaCici
last update publish date: 2026-11-02 23:12:01

"Tenang! Kakak di sini dan Kakak akan membantumu bebas dari Tuan Malik, Anya Sayang."

Alis Anya menekuk tajam, keningnya mengerut seperti simbol integral, tatapannya kesal dan muak secara bersamaan.

"Membantu apa?" Anya bersedekap di dada, berkata ketus pada Gillian, "aku sama sekali nggak butuh bantuanmu, Kak."

"Kau sangat butuh, Anya!" Gillian berkata pelan, tetapi nadanya penuh penekanan, "Tuan Malik itu kejam, dia menikahimu pasti untuk mempermainkanmu saja, Anya. Kau tidak bisa lepas dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OBSESI Ternikmat   47. Merayu Suami

    Ekspresi Malik langsung berubah dingin. Dia buru-buru meraih baju piyama lalu mengenakannya kembali. "Aku tidak sakit," jawabnya dingin, "kau mempermainkanku hanya untuk ini?" lanjutnya, menatap tajam pada istrinya. "Aku enggak mempermainkan Mas Malik." Anya menggelengkan kepala, "pundak Mas sakit. Ayo, berobat."Malik diam tetapi menatap semakin tajam pada Anya. Dia duduk di pinggir ranjang—aura mengerikan menguar dari tubuhnya. "Aku paling tidak suka dipermainkan, Anya Shivani Edelsteen!!" geramnya, bersedekap di dada, terlihat menahan marah. Satu hal yang benar! Dia menahan sakit di pundaknya dan amarahnya datang untuk menutupi itu. "Aku juga nggak suka Mas sakit tapi Mas pura-pura baik-baik saja. Buat apa coba begitu?" ucap Anya, nadanya pelan tetapi intonasinya terkesan mengomel. "Tidak ada yang sakit. Kau tidurlah," datar Malik. Dia memalingkan wajah, enggak bersitatap dengan Anya. "Aku tahu Mas sakit, pundak Mas saja bengkak. Ayo, berobat, Mas Malik." Anya berucap murung.

  • OBSESI Ternikmat   46. Malik Buka Celana

    "Ja-jangan salah paham! Aku cuma ingin memeriksa sesuatu." Anya mendorong Malik cukup kuat agar bisa bangkit dari atas tubuh pria itu. "Ack." Malik tiba-tiba meringis sakit, pelan tetapi masih bisa Anya dengar. "Weh …." Anya bergumam pelan, matanya melebar dan ekspresinya dipenuhi rasa panik saat melihat raut muka Malik yang menahan sakit. Anya sudah mengulurkan tangan ke arah dada suaminya akan tetapi dia takut salah pegang. Anya khawatir ada luka yang Malik sembunyikan! "Mas Malik ke-kenapa? Sakit?" Malik memejamkan mata sejenak lalu kembali membuka mata dengan ekspresi wajah yang sudah berubah datar. "Tidak," jawab Malik cepat. "Umm …-" Anya tampak gelisah, menatap ke sekitar dada dan pundak Malik. Jawaban Malik tak membuatnya puas dan lega. Malah Anya semakin khawatier. Malik sepertinya memang menyembunyikan lukanya. Tapi untuk apa?! "Mas Malik, coba buka bajunya," ucap Anya lembut dan pelan, sengaja karena biasanya Malik selalu mendengarkan ucapannya jika sudah berkat

  • OBSESI Ternikmat   45. Anya Membuka Baju Malik

    "Kenapa Mas Malik senyum?" gumam Anya, menatap aneh campur bingung pada Malik yang malah tertawa kecil saat dia meminta cerai. Anya mengerjap beberapa kali sambil menatap ke arah Sean, bertanya pada Sean kenapa Malik marah tertawa. Namun, Sean langsung mengedikkan pundak—juga bingung kenapa Malik malah tertawa. "Renggalan membenciku, Candu." Malik kembali mengusap pucuk kepala Anya, senyum tipis pada istrinya, "dan dia akan berusaha membuatku terlihat buruk di hadapanmu," lanjutnya. Anya menganggukkan kepala tanpa sadar, termenung karena aneh pada satu hal. Selain itu, Anya terhipnotis oleh suara lembut dan tatapan hangat yang dalam milik Malik. Hati Anya berdesir hebat mendengar suara Malik. Tak menyangka jika suara Malik bisa selembut dan sehat ini padanya. 'Ja-jangan terpana, Nya! Namanya juga Setan, memang tugasnya merayu dan menggoda.' batin Anya, menyangkal perasaan tertegun dan terpana karena suara Malik. "Berjanjilah untuk selalu percaya padaku, Amora," bisik Malik tiba-t

  • OBSESI Ternikmat   44. Aku Minta Cerai Mas!

    "Tu-tutup telinga Nyonya, jangan dengarkan apa yang Tuan Tua katakan," panik Sean, menatap cemas pada Anya. Sejujurnya Sean juga tak tahu di mana Malik dan ke mana pria itu berada. Dia juga tidak bisa menyangkal ucapan Renggalan. Hanya saja, dia pun tak bisa membenarkan. Intinya Sean ikut bimbang. Andini adalah mantan Malik, yang Sean tahu juga sebagai cinta pertama Malik. Namun, bukan semua ini belum jelas? Jadi Sean harus memastikan jika Anya tidak terpengaruh oleh ucapan Renggalan. "Tu-Tuan Malik hanya mencintai anda dan Tuan Malik tidak mungkin seperti yang Tuan Tua katakan," ucap Sean lagi. Sekalipun dia ragu dan bimbang—terpengaruh oleh ucapan Renggalan, tetapi Anya tidak boleh begitu. Anya berdiri, menatap Renggalan dan Sean secara bergantian. Keningnya mengerut dan tatapannya tampak seperti orang bingung. "Apa yang tidak mungkin? Malik itu seperti kegelapan, penuh kejahatan dan kebiadapan. Dia bukan manusia, dia iblis." Renggalan berkata rendah, menatap Anya dan Sean

  • OBSESI Ternikmat   43. Hubungan Malik dengan Sekretaris Renggalan

    "Jika kau tidak tahu cara bersikap, silahkan keluar dari ruangan ini," dingin Malik. Nadanya terdengar tenang tetapi semua orang di ruangan itu tahu kalau Malik sedang marah. "Malik!" geram Renggalan, tersinggung karena Malik terkesan mempermalukannya dengan cara mengusirnya dari sini. Namun, mengingat sesuatu, Renggalan menahan emosi, "menurutku rak ada dari sikapku yang salah, Malik. Sekretaris baruku ini memang jalang bodoh," ucap Renggalan sambil melirik ke arah Malik. "Semua orang tahu jika sikapmu keterlaluan," dingin Malik. "Hahahaha …." Renggalan tiba-tiba tertawa, "aku tahu Andini ini mantan kekasihmu, Nak" ujarnya santai sambil diam-diam melirik ke arah Anya. Smirk tipis muncul di bibirnya saat mendapati ekspresi kaget yang timbul di wajah Anya. 'Andini mantannya Mas Malik yang Nenek ceritakan itu yah? Pantas nggak asing namanya.' batin Anya, memperlihatkan ekspresi wajah kaget, 'pantas saja Mas Malik kepancing. Orang yang ditindas sama si Kakek bau tanah ini mantan teri

  • OBSESI Ternikmat   42. Perempuan yang Membuat Malik Marah

    Bug' Sedangkan Anya, setelah Malik menghadap padanya, mendadak dia mengubah rencana. Seharusnya dia menabrak Malik untuk melihat apakah dia lembut atau tidak. Namun, dia malah melompat ke arah pria itu. Malik lambung menangkap tubuh Anya ketika perempuan itu melompat ke arahnya. Bak tupai! Pada akhirnya Anya mendarat di gendongan Malik. Mata Anya melebar, wajahnya kaku, dan jantungnya berdebar kencang. 'Kok jadi gini sih?' batin Anya, sudah panik dan gugup setengah mati. Apalagi ketika dia terikat kalau tadi dia meneriaki Malik dengan nana 'Malik Kundang. Fix, setelah ini Anya jadi lemper! 'Otak Bangke memang! Tadi dia nyuruh aku manggil 'Malik Kundang ke Mas Malik. Sekarang dia nyuruh aku lompat ke Mas Malik. Sumpah! Musuhku otakku sendiri. Benci banget!' batin Anya, semakin risau karena Malik menatapnya sangat tajam. "Anya Shi--" Cup' Sebelum Malik menyelesaikan ucapannya, Anya dengan cepat mencium bibir Malik. Lagi-lagi dia mengikuti kata otaknya! "A-angin, Mas," gugup

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status