LOGINSeorang Pria yang tengah berdiri diam menatap sekelilingnya ada banyak pohon yang tinggi dan besar.
Terdengar suara air disebelah kirinya tanpa harus menoleh pria itu dapat melihat dengan jelas pemandangan yang menakjubkan.
Air sungai yang jernih yang dikelilingi bebatuan dan bunga- bunga yang indah.
jika bukan karena Gerombolan Serigala yang siap memakannya, Pria itu ingin lebih lama tinggal didekat sungai menikmati keindahan alam yang manakjubkan itu.
"Sial, jika aku menemukan mu akan ku bunuh kamu L."
Teriakan nya malah membuat Para Serigala mengejarnya lebih cepat, nafasnya sudah tak menentu kakinya pun mulai sakit.
Pria itu terus berlari kedalam hutan semakin lama dia terlari Pepohonan disekeliling nya semakin besar dan tinggi.
Kelelahan terliat jelas diwajah nya, sesekali dia akan tersandung akar pohon larinya pun semakin melambat.
Tapi Para Serigala tak peduli semua itu, dengan giginya yang tajam dan larinya yang kencang mereka terus mengejarnya
Pria itu terus berlari sekencang mungkin salah satu kakinya tak sengaja tersandung akar pohon membuatnya terjatuh dan merintih kesakitan.
Tepat dibelakang nya para serigala mulai mendekat, dia mencoba berdiri tapi sia sia kakinya terlalu sakit dan lelah karena lari terus menerus.
Saat Para Serigala mendekat, tak sengaja dari surut mata nya dia melihat gua kecil di antara pohon.
Pria itu menggulingkan dirinya melewati akar pohon yang besar hingga pintu masuk gua, Para Serigala mulai mendekat.
Dengan kekuatan terakhirnya. Pria itu masuk kedalam gua dia mendorong pintu gua, salah satu serigala melompat dengan mulut terbuka memamerkan gigi tajam nya.
Dengan putus asa pria itu mendorong pintu gua, tepat didepan nya gigi tajam Serigala hanya 5 cm di wajahnya Pria itu mengerahkan seluruh kekuatan nya.
Hingga akhirnya pintu berhasil ditutup.
"Raymond kau berhasil, kamu masih hidup Raymond."
Gumam nya terdengar cukup keras di gua sepi ini, Raymond terjatuh seluruh tenaganya habis dia bahkan tidak dapat menggerakan satu jari pun.
Diluar gua hujan turun deras hari pun semakin gelap para serigala sudah tak terlihat lagi di depan pintu gua, banyak pasang mata menatap pintu gua tapi tidak ada yang berani mendekat.
Hewan akan takut pada sesuatu yang jauh lebih kuat dari nya itu semacam insting.
Keesokan harinya, Raymond yang semalam pingsan kelelahan perlahan membuka matanya, dinginnya gua membuat raymond menggigil kedinginan dia hanya memakai baju tidur bergambar spongebob warna kuning.
Kaki kanan yang semalam keseleo semakin membengkak, Raymond menyandarkan tubuhnya kedinding gua menyeret tubuhnya yang kelelahan.
Sedari tadi perutnya terus berbunyi minta diisi tapi apa daya tidak ada apapun digua hanya batu, ranting dan tanah.
Sudah cukup lama dia berjalan tapi ujung gua tak kunjung terlihat, rasa sakit dikakinya semakin parah dia terjatuh.
Nafasnya tak menentu penglihatannya pun mulai kabur, dari kejauhan dia samar samar mendengar langkah kaki yang mendekat Raymond mencoba menggat kepalanya.
Melihat bayangan hitam didepan nya lalu dia pingsan.
"Permisi Tuan Nona jangan tidur disini nanti sakit."
Raymond mendengar dengan jelas suara lembut yang dingin itu sebelum benar benar pingsan.
•••••
"Hangat, tapi juga panas."
"Tentu saja panas kau tepat di depan api."
Suara lembut itu membuatnya tersadar, Raymond terlahan duduk kaki nya sekarang tidak terlalu sakit, api unggun di depan membuatnya merasa hangat.
"Permisi, Tuan Nona."
Sadar akan sesuatu yang jauh lebih penting, Raymond menatap Wanita didepan nya. Dia Wanita yang cantik mata biru keabuannya yang unik, kulit nya pucat dengan rambut hitam bergelombang membuat Wanita itu jauh lebih cantik.
"Hello.. nama ku Liora siapa nama mu tuan nona?"
"Oh.. hello aku Raymond terima kasih sudah menolong ku."
Liora mengagukan kepalanya, dia menyicitkan matanya mengamati penampilan Raymond. dia memiliki rambut pirang tidak emas dengan mata sebiru lautan dia termasuk Pria tampan
Lebih tepatnya, dia Pria cantik wajahnya yang cantik seperti Perempuan itu terkadang membuat Liora salah mengira dia Wanita.
Tak satu pun dari mereka yang bicara suasana menjadi canggung, hanya suara ranting yang dimakan api dan benturan dari lubang disebelah kanan Raymond yang terdengar.
Merasa tidak nyaman, Raymond mencoba bicara tapi tak satu pun kata keluar dari mulutnya malah membuat suasana semakin canggung.
Benturan yang keras menarik perhatian mereka, ada sesuatu yang datang dengan sangat cepat dari lubang di samping Raymond.
Sebelum sempat menghindar, Raymond tertindih oleh sesuatu yang besar dan berat. Tubuhnya yang masih sakit akibat dikejar Para Serigala membuat Raymond merintih kesakitan
Liora menatap Buaya besar dan berat diatas tubuh Raymond dengan tatapan lapar, mata nya terbinar, buru- buru Liora merai ekor Buaya dan memindahkannya hingga siap dibedah.
Refleks, mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara. Di sana, seorang anak berusia enam tahun berlari kencang menerobos kerumunan, berusaha menghindari kejaran pria bertubuh besar.Dengan napas yang berburu tak beraturan, anak itu mendekap erat sepotong roti di dadanya. Sesekali ia melirik ke belakang, memastikan jarak antara dirinya dengan sang pengejar.“Ketangkap kau, bocah nakal!” teriak pria itu geram. Ia menyambar lengan si anak dengan kasar, hingga kulit mungil itu memerah seketika.“Lepaskan! Lepaskan aku!” Anak itu meronta hebat, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman sangar tersebut.“Hah... hah... Terima kasih, Tuan, sudah menangkap pencuri ini,” ucap pemilik roti dengan napas tersengal-sengal saat tiba di lokasi.Raymond dan kedua temannya saling pandang, lalu mendekati kerumunan agar bisa melihat lebih jelas.“Anak itu mencuri roti lagi. Sudah berapa kali dalam sebulan ini?” bisik salah satu warga.“Sejak dia datang ke sini, hampir setiap minggu ada saja barang
Waktu berlalu dengan cepat, sudah satu minggu Raymond datang kedunia ini. Dalam satu minggu ini tidak ada yang istimewah. Hari-hari nya diisi oleh pertengaran dengan Liora atau Arion. Bahkan sesekali Madam Sami dan Sion akan mampir kemari hanya untuk mengecek keadaan kami dan menagih hutang atas patung yang mereka pecahkan waktu itu. Dan sepertinya kali ini pun Madam Sami datang dengan alasan yang sama.Saat ini Raymond, Liora dan Arion tengah menghadapi keadaan kritis.“Jadi kapan kalian akan membayar uang untuk rumah dan patung yang kalian pecahkan?”Raymond memalingkan wajah saat Madam Sami memandangnya, begitu pun dengan Arion dan Liora. Tidak ada yang berani berbicara. Raymond menghela napas, memberanikan diri menatap Madam Sami.“Kami tidak memiliki uang.”Madam Sami terdiam sejenak lalu menyerap kembali tehnya sembari berkata,“Aku tau.”“Jadi kami tidak bisa membayarnya sekarang.”&ld
Raymond menatap kagum pada rumah di depannya, dia tidak bisa berkata apa pun pada apa yang dia lihat, begitu pun dengan Liora dan Arion. Dia ingat dengan jelas Madam Sami mengatakan bahwa rumah yang akan kita tinggali adalah rumah yang paling sederhana diantara rumah yang dia miliki. Sekali lagi Raymond mulai bertanya-tanya seberapa kaya Madam Sami. Raymond berjalan menuju rumah itu disusuli Liora dan Arion, rumah 2 lantai penuh dengan hiasan indah disetiap dindingnya, ada juga patung didepan pintu masuk.“Rumah ini bahkan lebih mewah dari rumah Paman.”“Paman? Kamu punya Paman Ray?”“Tentu saja memangnya ada yang tidak punya paman didunia ini? Walaupun tidak punya paman sedarah tapi setidaknya mereka punya orang yang bisa mereka sebut paman kan?”“Tapi aku tidak memilikinya, aku hanya punya Kapten dan profesor.”“Kau yakin Liora? Aku saja memiliki Paman.”Liora terdiam mendengar pe
"Tidak ada yang ingin menjawab? Ku ulangi sekali lagi sedang apa kalian disini?"Sekarang Raymond yakin bahwa suara yang di dengarnya memang suara Madam Sami, diam- diam Raymond melangkah mundur. Setelah dipikir kembali suara berisik Arion dan Liora tidak lagi terdengar Merasa ada yang salah Raymond melirik kesamping dia terteguh menyadari Arion dan Liora sudah tidak ada disana.Suara langkah kaki dari belakang menarik perhatian Raymond, dia memalingkan wajah kebelakang. Di lihatnya Arion dan Liora tengah berlari cukup jauh dari posisinya sekarang.'Sialan'Raymond benar- benar ingin membunuh mereka berdua, tapi itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah melarikan diri. Nenek tua di depannya sangat mengerikan.Entah kenapa Raymond selalu merasa agak takut pada Madam Sami, rasa takut serupa yang terkadang Raymond rasakan saat bersama Paman. Belum sempat Raymond berlari cuku
[Aku tau kau akan menjawab seperti itu, tapi tetap saja aku terkejut mendengar kamu menerima tugas ini]"Aku berhutang budi pada seseorang, anggap saja ini salah satu balasan ku."[......begitu, baiklah aku sangat sibuk sekarang aku tutup dulu. Tolong jaga mereka untuk ku, sampai jumpa Sami]Cahaya dibola itu mulai menghilang, Madam Sami menghela nafas lelah. Dia menyandarkan dirinya kekursi."Apa anda yakin akan mengambil tugas ini Nyonya?"Madam Sami mengalihkan pandangan nya menatap Sian yang sedari tadi ada di sampingnya."Ya, dan juga sudah berapa kali ku bilang jangan bicara formal pada ku.""Maaf tapi saya tidak bisa Nyonya.""Hah.... kau masih saja keras kepala.""Maafkan saya."Madam Sami diam tidak menjawab Sian, Dia tau mau berapa kalipun dia mengatakan bahwa Sian bisa berbicara santai dengannny
"Kita sudah mengalahkan nya Liora." "Monster pohon? Maksud mu Kleine Boom, kalian cukup beruntung bertemu dengan nya." "Beruntung?" "Ya, ada dua cara untuk keluar dari Hutan Kematian. Pertama mengalahkan Penguasa Hutan salah satu makhluk terkuat dibenua ini. Kedua dengan mengalahkan Boom Family." "Boom Family? Maksud mu keluarga Kleine Boom?" "Ya, kerena Hutan Kematian yang didominan oleh Pohon Tentu saja Pohon akan tau jalan keluar. Hanya saja tidak mudah untuk menemukan Boom Family mereka pandai bersembunyi dan mereka cukup kuat." Madam Sami mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, batu biru yang memancarkan cahaya terang batu yang sangat Raymond kenal. "Bukankah itu inti dari Kleine Boom yang sudah kami kalahkan? Bagaimana itu ada disini?" "Kau yang membawanya bukan pria cantik." "Aku? Tidak, jika dipikir- pikir bagaimana kita bisa berada disini?"







