LOGIN
"Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang dunia ini Ray, saat dimana kau mengetahui salah satu rahasia dunia, kau akan ditarik untuk mengetahui yang lain kerana mereka saling terhubung, ingatlah terkadang apa yang kita anggap benar tidak selalu benar "
Kata - kata Paman yang selalu membuat Raymond bingung dan tidak dia percayai terlahan mulai menjadi nyata.
Nyatanya segala sesuatu yang dia liat selama ini tidak selalu benar, akan selalu ada kegelapan dibalik cahaya.
Ada banyak hal yang tidak dia ketahui, dunia paralel yang dia anggap imajinasi liar dari kebanyakan remaja benar adanya.
Dan perlahan satu persatu rahasia dunia mulai terbuka hingga membuatnya meragukan segala hal yang ada.
Membuat nya terjebak didalam labirin yang panjang, dan terkadang ia mulai meragukan siapa dia.
Paman selalu bilang bahwa segala sesuatu mempunyai alasan untuk ada, dan selalu mengingatkan nya jangan pernah meragukan diri sendiri.
Karena jika Raymond mulai meragukan dirinya sendiri lalu siapa yang harus dia percayai.
"Apa yang kau lalukan Ray? " suara Liora membangunkan Raymond dari lamunannya.
"Tidak, hanya kupikir aku mulai mengerti apa yang paman katakan, tapi terkadang aku mulai meragukan diriku sendiri."
"Hm.... begitu, jika kau mulai meragukan dirimu aku akan memukul mu hingga kau ingat siapa dirimu, lagi pula Liora adalah Liora, Arion adalah Arion dan Raymond adalah Raymond itu tidak akan pernah berubah bukan? "
Tawa Raymond bergema di kegelapan malam, walaupun Liora tidak mengerti mengapa Raymond tertawa dia mulai ikut tertawa.
"Tidak ku sangka Liora yang acuh pada segala hal selain makan dapat berbicara seperti itu."
Liora mengedipkan mata tidak terlalu mengerti perkataan Raymond.
"Apa yang kalian berdua lakukan disini? Makanan sudah siap."
"Yay makanan." Liora berlari kedalam rumah meningalkan Raymond dan Arion.
"Oh.. Rion, aku hanya sedang berpikir tentang segala rahasia yang kita ketahui sekarang itu membuatku bingung dan terkadang mulai meragukan banyak hal."
"Begitu.... ya aku pun sama mulai meragukan banyak hal dan terkadang meragukan diriku sendiri, aku bertanya-tanya siapa aku? Mengapa aku ada? Tidak ada jawaban atas semua pertanyan ku."
Keheningan terjadi mereka terdiam tak tau harus berkata apa, sampai teriakan Liora dari dalam rumah membangunkan mereka.
"Jika kalian tidak segera kesini semua makanan ini milikku."
Mereka saling memandang, senyuman terlihat diwajah mereka
"Apa kau tau? Tadi Liora bilang Liora adalah Liora, Arion adalah Arion dan Raymond adalah Rayomnd itu tidak akan pernah berubah."
"Benarkan? Aku tidak menyangka Wanita yang hanya tau makan bisa berkata seperti itu, membuat semua keraguan yang ada seperti omong kosong belakang."
"Kau benar."
Refleks, mereka bertiga menoleh ke arah sumber suara. Di sana, seorang anak berusia enam tahun berlari kencang menerobos kerumunan, berusaha menghindari kejaran pria bertubuh besar.Dengan napas yang berburu tak beraturan, anak itu mendekap erat sepotong roti di dadanya. Sesekali ia melirik ke belakang, memastikan jarak antara dirinya dengan sang pengejar.“Ketangkap kau, bocah nakal!” teriak pria itu geram. Ia menyambar lengan si anak dengan kasar, hingga kulit mungil itu memerah seketika.“Lepaskan! Lepaskan aku!” Anak itu meronta hebat, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman sangar tersebut.“Hah... hah... Terima kasih, Tuan, sudah menangkap pencuri ini,” ucap pemilik roti dengan napas tersengal-sengal saat tiba di lokasi.Raymond dan kedua temannya saling pandang, lalu mendekati kerumunan agar bisa melihat lebih jelas.“Anak itu mencuri roti lagi. Sudah berapa kali dalam sebulan ini?” bisik salah satu warga.“Sejak dia datang ke sini, hampir setiap minggu ada saja barang
Waktu berlalu dengan cepat, sudah satu minggu Raymond datang kedunia ini. Dalam satu minggu ini tidak ada yang istimewah. Hari-hari nya diisi oleh pertengaran dengan Liora atau Arion. Bahkan sesekali Madam Sami dan Sion akan mampir kemari hanya untuk mengecek keadaan kami dan menagih hutang atas patung yang mereka pecahkan waktu itu. Dan sepertinya kali ini pun Madam Sami datang dengan alasan yang sama.Saat ini Raymond, Liora dan Arion tengah menghadapi keadaan kritis.“Jadi kapan kalian akan membayar uang untuk rumah dan patung yang kalian pecahkan?”Raymond memalingkan wajah saat Madam Sami memandangnya, begitu pun dengan Arion dan Liora. Tidak ada yang berani berbicara. Raymond menghela napas, memberanikan diri menatap Madam Sami.“Kami tidak memiliki uang.”Madam Sami terdiam sejenak lalu menyerap kembali tehnya sembari berkata,“Aku tau.”“Jadi kami tidak bisa membayarnya sekarang.”&ld
Raymond menatap kagum pada rumah di depannya, dia tidak bisa berkata apa pun pada apa yang dia lihat, begitu pun dengan Liora dan Arion. Dia ingat dengan jelas Madam Sami mengatakan bahwa rumah yang akan kita tinggali adalah rumah yang paling sederhana diantara rumah yang dia miliki. Sekali lagi Raymond mulai bertanya-tanya seberapa kaya Madam Sami. Raymond berjalan menuju rumah itu disusuli Liora dan Arion, rumah 2 lantai penuh dengan hiasan indah disetiap dindingnya, ada juga patung didepan pintu masuk.“Rumah ini bahkan lebih mewah dari rumah Paman.”“Paman? Kamu punya Paman Ray?”“Tentu saja memangnya ada yang tidak punya paman didunia ini? Walaupun tidak punya paman sedarah tapi setidaknya mereka punya orang yang bisa mereka sebut paman kan?”“Tapi aku tidak memilikinya, aku hanya punya Kapten dan profesor.”“Kau yakin Liora? Aku saja memiliki Paman.”Liora terdiam mendengar pe
"Tidak ada yang ingin menjawab? Ku ulangi sekali lagi sedang apa kalian disini?"Sekarang Raymond yakin bahwa suara yang di dengarnya memang suara Madam Sami, diam- diam Raymond melangkah mundur. Setelah dipikir kembali suara berisik Arion dan Liora tidak lagi terdengar Merasa ada yang salah Raymond melirik kesamping dia terteguh menyadari Arion dan Liora sudah tidak ada disana.Suara langkah kaki dari belakang menarik perhatian Raymond, dia memalingkan wajah kebelakang. Di lihatnya Arion dan Liora tengah berlari cukup jauh dari posisinya sekarang.'Sialan'Raymond benar- benar ingin membunuh mereka berdua, tapi itu tidak penting, yang terpenting sekarang adalah melarikan diri. Nenek tua di depannya sangat mengerikan.Entah kenapa Raymond selalu merasa agak takut pada Madam Sami, rasa takut serupa yang terkadang Raymond rasakan saat bersama Paman. Belum sempat Raymond berlari cuku
[Aku tau kau akan menjawab seperti itu, tapi tetap saja aku terkejut mendengar kamu menerima tugas ini]"Aku berhutang budi pada seseorang, anggap saja ini salah satu balasan ku."[......begitu, baiklah aku sangat sibuk sekarang aku tutup dulu. Tolong jaga mereka untuk ku, sampai jumpa Sami]Cahaya dibola itu mulai menghilang, Madam Sami menghela nafas lelah. Dia menyandarkan dirinya kekursi."Apa anda yakin akan mengambil tugas ini Nyonya?"Madam Sami mengalihkan pandangan nya menatap Sian yang sedari tadi ada di sampingnya."Ya, dan juga sudah berapa kali ku bilang jangan bicara formal pada ku.""Maaf tapi saya tidak bisa Nyonya.""Hah.... kau masih saja keras kepala.""Maafkan saya."Madam Sami diam tidak menjawab Sian, Dia tau mau berapa kalipun dia mengatakan bahwa Sian bisa berbicara santai dengannny
"Kita sudah mengalahkan nya Liora." "Monster pohon? Maksud mu Kleine Boom, kalian cukup beruntung bertemu dengan nya." "Beruntung?" "Ya, ada dua cara untuk keluar dari Hutan Kematian. Pertama mengalahkan Penguasa Hutan salah satu makhluk terkuat dibenua ini. Kedua dengan mengalahkan Boom Family." "Boom Family? Maksud mu keluarga Kleine Boom?" "Ya, kerena Hutan Kematian yang didominan oleh Pohon Tentu saja Pohon akan tau jalan keluar. Hanya saja tidak mudah untuk menemukan Boom Family mereka pandai bersembunyi dan mereka cukup kuat." Madam Sami mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, batu biru yang memancarkan cahaya terang batu yang sangat Raymond kenal. "Bukankah itu inti dari Kleine Boom yang sudah kami kalahkan? Bagaimana itu ada disini?" "Kau yang membawanya bukan pria cantik." "Aku? Tidak, jika dipikir- pikir bagaimana kita bisa berada disini?"







