INICIAR SESIÓN...Bab 126***Dealova meletakkan cup kopi ice caramel macchiato yang ketiga di atas meja. Dari balik kaca mata photocromic-nya ia mengamati wajah sahabatnya dengan seksama.Dalam satu jam mereka duduk di cooffeshop, Dara sudah menghabiskan hampir tiga cup kopi. Awalnya, Dealova mengira mengajak Dara keluar dan ngopi bisa membantu menghilangkan frustasinya. Sekarang, ia mulai curiga justru telah melakukan sebuah kesalahan.“Udah, ya! Nggak boleh nambah lagi,” peringat Dealova, saat Dara menyeruput kopinya cukup panjang hingga menyisakan hampir setengahnya.“Nanti aku yang digantung sama Komandan Ryuga kalau kamu jadi sakit.”Dara mengangkat bahu. “Aku baik-baik aja, De. Cuma kopi bukan alkohol.”Dealova menepuk pipi Dara, menyadarkan dari kegilaannya. “Heh! Ngagk ada yang baik-baik aja saat seseorang menghabiskan 3 cup ice coffe dalam waktu kurang dari sejam.”Ternyata marah juga membuat Dara merindukan seseorang. Terbiasa tiap malam tidur dalam pelukannya, semalam tadi ia tidur se
...Bab 125Setidaknya itu lah yang Dara pikirkan.Setelah membuat Dara terluka karena merasa tidak dipercaya dan terus-terusan disalahkan, sekarang Ryuga hanya mengirim satu pesan seakan semuanya bisa dibicarakan semudah itu.Dara meletakkan ponselnya kembali dengan layar menghadap ke bawah.“Dari komandan?” Dealova berusaha melongok.“Dia mau jemput katanya.”“Terus?”“De…” Dara menangkupkan kedua tangannya di depan dada. “Aku di sini dulu, ya? Yudha nggak mungkin datengin kamu siang-siang gini, kan?”Dealova berdecak. “Iyaa, aman.”Di sudut lain markas batalyon, Ryuga terduduk menatap ponselnya di atas meja. Entah sudah berapa kali ia melirik pada benda pipih itu, yang tak kunjung memberinya kabar.Tidak ada satu pun yang berani menyapa Komandannya, pagi ini. Sampai Yudha akhirnya mendekat. “Biarin aja, kakak ipar aman di tempat Dealova.”“Bagaimana hasil penyusuran Dhika?” tanya Ryuga, tak merespon ucapan Yudha.Dhika menyusul di belakang Yudha. “Siap. Kami sudah mendapat bebera
...Bab 124Sesak dalam dada Dara bukan main rasanya. Ternyata sebatas itu kepercayaan Ryuga padanya. Sampai-sampai rasa curiga priia itu sendiri membuat Dara merasa menjadi wanita yang tidak punya pendirian.Dirga memang masa lalunya, tetapi kejadian semalam tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Semuanya murni kebetulan. Kalau boleh memilih, dara juga tidak mau mengalaminya.Dara mempercepat langkah. Berharap Ryuga tak mengejarnya.Ryuga masih berdiri bergeming dari tempatnya. Ia hanya mengawasi kemana arah istrinya akan pergi. Benar apa yang Dara ucapkan, dirinya terlalu fokus khawatir akan keselamatannya sampai lupa mengerti bagaimana perasaannya malam tadi ketika dicegat seorang pria tak dikenal lalu dipukul sampai pingsan.Di depan toilet rumah sakit, Dara berhenti. Ia berjalan menghampiri wastafel. Memutar keran lalu membasuh mukanya. Dara menangis, ia bahkan tak sadar kapan air matanya turun.“Ternyata perasaan aku segitu kecilnya buat kamu, Mas. Sampai nggak bisa bikin kamu
...Bab 123Dara mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang terdengar seperti ungkapan ketidakpercayaan itu.“Iya, Dirga yang menolong aku dari pria jahat yang mencegat dan pukul aku sampai pingsan.”“Kalau memang dia nolong kamu kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja? Kenapa harus ke appartemen pribadinya?”Lama-lama Dara merasa seperti tengah diinterogasi atas sebuah kesalahan yang tak pernah dia lakukan. Ryuga bukan sedang bertanya, nada bicaranya lebih ke menuduh, bagi Dara.“Katanya jalanan di sana semalam cukup kacau karena ada penggerbekan oleh polisi. Dia cuma reflek aja bawa aku ke appartemen. Sumpah dia nggak sentuh aku, Mas. Aku juga udah diperiksa Dokter semalam,” jelas Dara tanpa diminta.Ryuga menghela napas berat. Ia ingin mendebat tentang ponsel Dara yang mati semalaman, tentang alasan Dirga yang kurang masuk akal. Tetapi, melihat wajah pucat istrinya membuat kata-kata itu tertelan kembali dan ia simpan lagi untuk sementara.“Kita mampir ke rumah sakit dulu, sia
... Bab 122Dirga mencuri pandang dari balik meja bar dapur.Dara masih terpaku pada layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat scroll layar ponselnya. Sesekali, ia tampak menggigit bibir bawahnya, jelas tengah diliputi rasa bersalah.Senyum miring terbit di sudut bibir Dirga. Lalu, mengeluarkan ponselnya mengetikkan sesuatu.“Lihat! Gue bisa selalu ada buat dia. Ada di mana lo semalam?”Pesan itu Dirga kirimkan pada nomor Ryuga, bersama dengan foto yang ia ambil diam-diam. Yaitu, foto Dara tengah duduk di tepian ranjang sambil memainkan ponselnya.Masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam, tampak lelah dan sedikit berantakan karena memang baru bangun tidur.Dirga tidak hanya sekedar membuktikan bahwa Dara tengah bersamanya sekarang. Lebih dari itu, senyum Dirga mengembang penuh kemenangan karena berhasil selangkah lebih maju untuk menjaga Dara dari pada Ryuga.“Aku harus pulang sekarang.”Dirga mengangkat wajahnya, ponselnya segera ia masukan kembali ke saku.“Iya, bol
...Bab 121Di tengah kesadarannya yang mulai mengabur, suara geraman itu masih sempat Dara dengan sayup-sayup.Pria yang menghadang Dara sigap melepas cengkeramannya pada setang motor Dara. “Dia melihat kita.”“Biar gue yang urus, kalian bawa motornya. Pastikan nggak ada yang liat,” tegas Dirga, sembari menopang tubuh Dara agar tak jatuh dari motornya.“Sorry, sayang.” Dirga berucap lirih.Ia mengangkat tubuh Dara dengan hati-hati, lalu membawanya menuju mobil yang terparkir tersembunyi di halaman rumah warga. Dirga tak bisa membiarkan perempuan itu tetap berada di jalan, terlebih ketika situasi di sana jelas bahaya untuknya.Orang-orangnya masih berkeliaran di sekitar. Mereka harus merubah strategi karena terjadi penggerebekan. Dan, salah satu dari anak buahnya sudah tertangkap.Dirga tidak peduli, jika setelah sadar nanti Dara akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Dari kecerdasannya tidak mungkin Dara langsung percaya Dirga berada di lokasi secara kebetulan.Appartemen prib







