登入“Menikahlah denganku.” Kalimat itu diucapkan oleh Komandan Ryuga Aksara kepada Dara Anjani, seorang pemilik toko bunga yang membenci segala hal tentang tentara. Ryuga membutuhkan seorang ibu bagi putranya, sementara Dara adalah satu-satunya perempuan yang tak bisa ia abaikan sejak menerima donor jantung dari mendiang istrinya. Dara mengira pernikahannya dengan Ryuga akan menjadi neraka baginya. Namun, pertahanan Dara runtuh di bawah dominasi dan sentuhan panas Ryuga. Hubungan mereka memang dingin, tetapi tidak untuk di atas ranjang. Gairah dewasa yang intens dan cara Ryuga mengklaim tubuh dara, mengaburkan batas antara benci dan obsesi di antara mereka.
查看更多.
.
.
“Besok kita pengajuan nikah,” kata Ryuga. Suara beratnya mengudara penuh otoritas di telinga Dara.
Ini hari kedua Ryuga mendatangi Dara. Sejak kedatangan pertamanya hari itu, bahkan sudah mengacaukan perasaan Dara hingga tak bisa tidur nyenyak.
Jari-jari Dara saling bertautan erat di dalam saku apron. “Maaf, Pak Komandan. Saya tidak bisa, anda bisa mencari perempuan lain yang lebih pantas,” cicitnya.
Tak pernah Dara mau mengangkat wajahnya, untuk menatap pria yang tiba-tiba mengajaknya menikah beberapa hari lalu itu.
Seorang duda beranak satu yang merupakan Komandan Detasemen dalam satuan militer.
Ryuga tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Dara bisa melihat guratan tipis bekas luka di rahang Ryuga.
“Apa saya terlihat seperti sedang memberimu tawaran?” Ryuga merendahkan tubuhnya. “Saya sudah memberitahu orang tuamu, dan mereka tidak keberatan, Dara.”
Dara terhenyak. “A-anda sudah bertemu orang tua saya?” suara Dara bergetar, bukan karena takut tapi karena ada amarah yang sedang coba ia tahan dalam dirinya.
Satu buah map tebal berisi beberapa dokumen pengajuan nikah, Ryuga hempaskan di atas meja. Setelahnya ia berbalik badan, meninggalkan Dara yang masih terpaku di tempatnya.
Begitu pintu kaca florist tertutup, baru lah Dara mengembuskan napas panjangnya. Buru-buru ia melepas apron dan meletakkannya asal. Bunga-bunga segar yang belum lama ia keluarkan di teras pun terpaksa harus dibereskan lagi ke dalam.
“Dasar Om-om mesum! Ngajak nikah, kok maksa!” Dara terus mengomel selagi meraih sling bag-nya. Tak lupa ia mengenakan sweater tebalnya yang tersampir di kursi, cuaca di sana mudah sekali hujan dan Dara alergi dingin.
Sebelum menguncinya dari luar, Dara lebih dulu membalikan papan di depan pintu menjadi tutup. Ia sudah menghubungi taksi online yang akan mengantar menuju rumah orang tuanya, yang berada cukup jauh dari toko bunga.
Sepanjang jalan, Dara hanya bisa meremas ujung sweaternya erat-erat. Bergerak gelisah di tempatnya sambil merapalkan doa. Semoga apa yang dialaminya saat ini hanya sebuah mimpi buruk saja.
Bertahun-tahun Dara menjauh dari semua hal yang berbau tentara. Semuanya terjadi sejak tunangannya yang seorang tentara gugur dalam tugasnya.
Dara menarik napas berat, setelah hampir dua puluh menit taksi yang ia tumpangi berhenti di sebuah pekarangan rumah milik orang tuanya. Seperti biasa rumah itu tampak hangat dan ramai oleh keponakan-keponakannya.
“Dara?” sapa Ibu Wulandari.
Seakan tahu apa yang akan Dara adukan, Ibu Wulandari segera memeluknya. Mengusap punggungnya beberapa kali. “Kamu sehat, Nak?”
“Bu, ayah mana?”
“Di halaman samping. Ayok, ibu antar.”
Dara mengangguk pelan, firasat buruk mulai merayapi tengkuknya.
Di depan sebuah kolam ikan kecil Ayah Dara duduk tenang. Memberi makan ikan-ikan itu sambil sesekali mengajaknya berbicara. Mendengar suara langkah kaki, ia menoleh.
“Yah,” panggil Dara dengan nada protes.
“Duduk dulu sini,” perintah Ayah Arya.
Dara melangkah ragu. “Apa benar, ayah sudah menyetujui permintaan Komandan Ryuga?” tanya Dara, mencoba menahan getaran suara yang bercampur dengan rasa benci dalam dadanya.
Tidak mendapat jawaban dari Ayahnya, Dara menyimpulkan bahwa apa yang Ryuga katakan benar adanya.
“Bu, tolong bilang ayah. Aku nggak mau nikah sama Komandan Ryuga. Ibu tahu itu, kan?” rengek Dara.
“Cukup!” hardik Ayah. “Mau sampai kapan kamu hidup dalam ketakutan begini, Dara?!”
Ibu wulandari mendekat, menggenggam tangan Dara yang dingin. Lalu, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. “Ayahmu benar, Dara.”
“Kenapa, Bu? Dara masih muda, nanti juga Dara akan menikah. Tapi, nggak sama tentara juga.” Suara Dara meninggi diiringi isak tangis yang terdengar putus asa.
Ayah Arya berdiri dari duduknya. Mendekati Dara tanpa bisa menatap matanya, kalau boleh dia pun tidak sanggup menyampaikan alasan di balik keputusan ini.
“Dara, Komandan Ryuga sudah sangat baik pada kita. Kita harus membalas budi …”
“Tapi nggak harus sampai menikah juga, Yah,” potong Dara, cepat.
“Bahkan kalau ada hal yang lebih besar dari pernikahan, Ayah akan memberikannya, Dara.”
Dara menatap tidak percaya pada ayahnya. Namun, sang ayah hanya bisa tertunduk. Menyembunyikan setitik cairan pada kelopak matanya.
“Memangnya apa yang dia lakukan buat kita, Yah? Bu?” tanya Dara, sedikit menuntut.
Ia menatap wajah kedua orangtuanya bergantian, menanti jawaban yang seakan begitu berat keluar dari mulut keduanya.
“Dara.” Ayah Arya menggenggam tangan Dara, menepuk-nepuk punggungnya.
“Jantung yang berdetak di dalam dadamu saat ini, adalah … milik mendiang istri Komandan Ryuga yang meninggal setelah melahirkan. Hari itu bertepatan dengan kamu kecelakaan.”
Degh!
Dara terdiam membeku, seketika lupa caranya bernapas. Detik berikutnya ia refleks menyentuh dada sebelah kiri. Dara tahu tentang operasi transplantasi jantung itu, tapi baru sekali ini ia tahu siapa pendonornya.
Dan, hutang itu harus Dara bayar dengan menyerahkan seluruh sisa hidupnya pada lelaki yang paling ia benci.
“Kalau gitu kembalikan saja jantungnya. Dara nggak minta hidup dengan jantung dia!” seru Dara, gemetar.
Keringat dingin mengaliri pelipisnya.
...Bab 9Dua menit, lima menit, Dara menunggu tidak ada balasan dari Ryuga.“Ya sudah. Anggap saja setuju,” ucap Dara, meyakinkan dirinya sendiri dengan konyol.Dara melangkah tergesa keluar dari toko bunga, tangannya sibuk mengutak-atik layar ponsel untuk memesan taksi online. Tidak butuh waktu lama aplikasi di layar ponselnya menunjukan adanya notifikasi mendapatkan driver.Tepat saat itu bersamaan dengan terdengarnya deru mesin mobil yang menghampiri Dara. Sebuah SUV Fortuner hitam yang tadi pagi mengantar Dara berhenti tepat di depannya sekarang.Dari dalam mobil gagah itu keluar sosok Yudha dengan seragam PDL-nya yang rapi.“Siang, Bu Dara,” sapa Yudha, langsung mengitari kap mobil dan membukakan pintu penumpang bagian belakang. “Mari, Bu.”Dara tak bergeming di tempatnya berdiri. Melongo, mengerjap bingung. “Yudha, kok kamu bisa di sini?”Yudha mengulas senyum tipis yang sopan. “Bapak yang meminta saya menjemput Ibu di sini.”“Tapi saya nggak minta jemput. Saya udah pesan t
...Bab 8“Zio anak yang cukup kooperatif, Bu. Jarang membuat masalah,” kata Guru. Menjeda sejenak untuk menarik napas.Sedikit sungkan menyampaikan, tetapi sebagai Guru dia memang sudah seharusnya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Zio di sekolah.Dara mengangguk, memang dari yang ia lihat sejak awal bertemu Zio, anak itu termasuk anak yang penurut.“Namun, belakangan memang ada sedikit masalah,” lanjut Sang Guru, merendahkan suaranya.“Ada beberapa anak yang sering mengejek Zio tidak punya Ibu. Awalnya memang Zio biasa saja, tapi lama kelamaan mungkin dia tidak bisa diam lagi. Zio sempat memukul beberapa teman sekelasnya yang mengejek dan orang tua mereka tidak terima,” ungkap Guru Zio, lebih jauh.Diam-diam tangan Dara mengepal. Dada kirinya berdenyut ngilu.“Apa Zio menangis, Bu?” tanya Dara, suaranya sedikit bergetar.Guru wanita itu menggeleng. “Tidak, hanya saja sejak beberapa orang tua murid itu menegur Zio langsung tanpa sepengetahuan kami, Zio jadi terus murung se
...Bab 7Tidak banyak bicara lagi, Ryuga menarik pergelangan tangan Dara hingga tubuh keduanya saling merapat. Dalam jarak sedekat itu, indra penciuman Dara dapat menghirup jelas aroma woody yang maskulin dan elegan menguar dari tubuh Ryuga.Sialnya, Dara menyukai aroma itu dan ingin terus menghirupnya. Sampai-sampai ia lupa untuk segera menjauhkan diri, lebih terkesan menikmati posisi mereka saat ini.Ryuga mendengus pelan, menahan kekehan geli saat menyadari kalau istrinya tidak lagi memberontak.“Suka, parfumnya?” bisik Ryuga rendah, tepat di telinga Dara. “Betah banget peluk saya?”Dara tersentak mundur, nyaris tersedak ludahnya sendiri. Hendak menjauhkan badan, tubuh perempuan itu lebih dulu ditahan oleh Ryuga.Ryuga menahan pinggang Dara dengan satu tangan. Memajukan sedikit tubuhnya hingga mengikis habis jarak yang tersisa.“Siapa juga yang peluk. Kan, kamu yang narik aku?” bantah Dara.Sudut bibir Dara berkedut. Baru semalam Ryuga memperingatinya tentang melanggar batas, se
...Bab 6Tidak mau repot-repot merengek pada Ryuga untuk minggir, Dara hampir membalikkan badannya. Mengalah, menunggu lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri.“Bunda sama Ayah lagi apa?” celetuk Zio.Mbak Fitri sedang menggandeng Zio, datang dari arah kamar mandi.“Bunda?” kening Ryuga mengerut dalam. Mengalihkan pandang pada Zio penuh tanda tanya.Anak itu lantas menjawab dengan santai. “Iya, Bunda. Zio sekarang boleh kan, panggil Bunda.”Rahang Ryuga mengeras. Sorot matanya beralih kepada Dara, seolah tengah memperingatinya.“Eum, Zio mau sarapan apa?” sela Dara cepat-cepat. Ia tidak mau membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi, seperti saat Ryuga murka tentang panggilan untuknya hari itu.“Susu sama sereal. Tapi Zio mau bawa bekal,” sahut Zio, riang.Dara sengaja menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Ryuga dari Zio. “Oke, Bunda buatin bekal yang enak buat Zio.”Ryuga mengembuskan napas pelan. Bibirnya mengatup kembali, tidak jadi menegur. Namun, jelas ia masih bel












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.