LOGIN.
.
.
Bab 84
Panik, Ryuga hanya bisa menyeduh segelas teh hangat dan membawa dua botol air mineral yang disediakan vila. Ia bergegas mendekati Dara kembali.
“Saya buatkan teh hangat. Atau mau di kompres?” tawar Ryuga, penuh perhatian.
Masih dalam posisi meringkuk, Dara menggeleng pelan. Bantal yang menutupi wajahnya coba ia turunkan untuk dipeluk. Dara beranikan diri membalas tatapan
...Bab 89Yudha bertanya sebab dia tahu persis bagaimana Ryuga dulu memilih untuk menjauh bahkan setelah tahu Dirga memiliki hubungan dengan mendiang istrinya.Kilat amarah terpancar jelas di mata Ryuga kala episode buruk dalam masa lalunya kembali berputar. Dulu dia bisa lari dan tidak menghadapi Dirga secara langsung karena tak ingin membuat konflik keluarga kian membesar.Namun, kali ini berbeda.“Sekarang bukan hanya antara aku dan Dirga, tapi ada Dara…”Sedetik kemudian Ryuga langsung melengos dan melangkah pergi meninggalkan markas.***Keesokan paginya Dara terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih kesal. Rasanya agak berbeda ketika dia terbangun tidak dalam dekapan suaminya. Hanya ada aroma parfumnya yang tertinggal di bantal.“Apa dia marah karena aku bahas soal Dirga semalam?” tanya Dara pada dirinya sendiri.Sambil terus menebak apa yang ada dipikiran suaminya saat ini, Dara segera bangun dan menyiapkan sarapan seperti biasa.“Nda, Om Yudha ajak sarapan.” Dengan suara
...Bab 88Hampir satu jam berlalu sejak Dara akhirnya tertidur lelap dalam dekapan suaminya. Ryuga melangkah keluar kamar setelah memastikan posisi tidur Dara nyaman dan selimut menutupi tubuhnya hingga dada.Ia kembali ke markas berniat untuk mengecek beberapa hal terkait dengan kegagalan misinya malam ini. Misi singkat yang seharusnya bisa Ryuga dan timnya sukseskan, ternyata harus berakhir dengan kegagalan.“Udah aku tebak, pasti kamu ke sini,” ujar Yudha dari posisi berbaringnya. Dia menggunakan bangku kayu panjang untuk rebahan dan merenung sembari menikmati secangkir kopi panas.Tubuh kekar Ryuga terhempas kasar pada kursi yang berada di samping Yudha.“Huh!” Ryuga memijat pelipisnya. “Udah cek cctv dekat jembatan?”Yudha bangkit dari rebahan, mengambil satu cangkir lagi dan kopi instan sambil berujar. “Dhika udah cek. Rekaman di sana terhapus. Seperti yang udah kita duga.”Tatapan Ryuga merawang jauh pada sosok yang ia benci teramat dalam, hingga hanya menyisakan dendam yan
...Bab 87“Pergi, aku mohon,” pinta Dara dengan mata yang terpejam. “Aku mohon, jangan siksa aku gini,” ucap Dara lagi.Ryuga terpekur sesaat. Apa yang terjadi pada pada istrinya? Apa dirinya membuat kesalahan yang begitu menyakitinya?Semua pertanyaan itu memenuhi benak Ryuga.“Kamu mimpi buruk?” Ryuga masih mencoba berpikir positif.Pasalnya, jarum jam masih menunjukkan pukul satu malam. Bisa saja Dara terbangun dari tidurnya tepat saat Ryuga pulang tugas.“Minum dulu,” Ryuga menyodorkan gelas berisi air minum ke hadapan Dara.Pelan-pelan Dara menolehkan wajahnya pada sosok yang duduk merangkul bahunya.“Mas Ryu?!” seketika Dara menghambur dalam pelukan pria itu. Mengabaikan gelas yang airnya sedikit tumpah.“Mas,… kamu kapan pulang?” cicit Dara, seakan baru sadar kalau lelaki disampingnya memang Ryuga.Ryuga mengusap punggung istrinya dengan gerakan beraturan. “Barusan, kamu kenapa? Hm.”Dara mengusap jejak air matanya kasar. “Kayaknya aku beneran butuh konsul ke Dokter lagi, de
...Bab 86“Oke. Mau ditunggu atau diantar ke mana?”“Aku tunggu di sini.”Tidak sampai sepuluh menit Dara menyelesaikan pesanannya, senyumnya mengembang lebar mendapati hasil rangkaian bunga dari tangan ajaibnya. Tentu dia berharap melihat senyuman yang sama di wajah pelanggannya juga ketika dia mempersembahkan hasil karangan bunganya.“Ini buketnya, sudah siap. Apakah sudah cocok?”Ekspresi laki-laki pemesan bunga terkesan tidak ramah, membuat Dara resah. Ia perhatikan sekali lagi buket di tangan lelaki itu. Rasanya tidak ada yang salah, lalu kenapa dia tampak kesal?“Kenapa? Apa ada yang kurang?” tanya Dara, cemas.Pria itu tersentak kaget dan sepertinya sadar kalau kekesalannya tergambar jelas di wajah. Dengan segera dia tersenyum sambil menurunkan ujung topinya.“Oh, nggak. Kamu pandai merangkai bunga. Saya hanya harus buru-buru, bos saya kasih tugas mendadak.”Dara mengembuskan napas lega dan mengangguk paham. Karena dia sudah membayar ke Dealova, pria itu pun gegas membawa bu
...Bab 85“Tips dari aku, udah dipraktekin?”Dara menggeleng lemah. “Aku nggak inget gimana detailnya, mana sempat inget-inget tips dari kamu.”“Jadi, kamu pasrah aja gitu pas Komandan beraksi semalam?” Dealova meneliti leher Dara, kemudian menarik kerahnya untuk melongok ke dalam.Buru-buru Dara menepuk tangan tidak sopan itu untuk menjauh. “Apaan? Mesum dasar!”“Nggak ada bekas cupang di leher, jadi aku tebak pasti banyak bertebaran di dada. Aku nggak salah, kan?” Dealova nyengir puas.Dara menoyor kepala Dealova sekuat tenaga seolah ia sedang mengusir setan mesum dari kepala gadis itu.“Cerita, dong! Penasaran aku gimana pertahanan kamu berhasil dijebol Sang Komandan.”Dara meringis. “Aku nggak inget, De. Aku kayak orang kena hipnotis tau!”Dealova mendecap. “Halah! Kena hipotis tuh, yang ila
...Bab 84Panik, Ryuga hanya bisa menyeduh segelas teh hangat dan membawa dua botol air mineral yang disediakan vila. Ia bergegas mendekati Dara kembali.“Saya buatkan teh hangat. Atau mau di kompres?” tawar Ryuga, penuh perhatian.Masih dalam posisi meringkuk, Dara menggeleng pelan. Bantal yang menutupi wajahnya coba ia turunkan untuk dipeluk. Dara beranikan diri membalas tatapan panik suaminya.“Aku nggak apa-apa,” ujar Dara, dengan suara lrih dan sengau.Mendengarnya membuat Ryuga ingin meninju dinding.“Sedikit agak sakit, tapi aku nggak apa-apa,” ulang Dara.“Saya harusnya lebih pelan.”Dara menggeleng cepat, jari-jarinya meremas bantal dengan cukup kencang. “Aku malu, Mas.”Kembali Dara menutup wajahnya dengan bantal. Beberapa detik kemudian ia menurunkan bantal untuk menatap w







