ログインAnastasya yang melihat suaminya marah tidak merasakan ketegangan yang terlalu kuat, karena dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Dia tahu Alesha akan mengadukan masalahnya kepada Samuel. Dia segera memegang perut besarnya dan berkata, "Samuel, tolong aku, perutku terasa sakit lagi," ucapnya dengan nada merayu kepada suaminya yang tengah marah dan menunggu jawaban dari istri kedua mengenai pengakuan Alesha.
Samuel yang melihat Anastasya dalam kesakitan langsung bergegas membantunyaAnastasya tidak mau mengangkat telepon masuk tersebut, mengabaikan satu nama yang menurutnya akan membuat dirinya sakit hati. "Sudah Anastasya, kamu jangan terpancing oleh mereka berdua, pastikan kamu harus rela melepaskan jika memang Samuel maunya seperti itu," ucap Anastasya yang tidak mau memperpanjang semuanya. Saat Anastasya menaruh ponselnya, ternyata Anastasya menaruh harapan besar terhadap hubungannya bersama suaminya tersebut, ia duduk di kursi depan tempat tidur bayinya. "Kita bertiga keluarga yang bahagia, seharusnya seperti itu, Papa dan Ibumu ini sayang padamu, tapi karena Alesha, semuanya hancur," ucap Anastasya yang tidak berhenti menyalahkan Alesha. Padahal Anastasya sudah memahami rasa sakit yang dia rasakan itu karena dirinya sendiri yang memulai. Dalam lamunannya, Anastasya yang sedang tidak baik-baik saja, dia membayangkan sesuatu yang mungkin itu menjadi harapannya selama ini.
Setelah langkah Len terhenti di ambang pintu kamarnya yang ternyata tidak tertutup, matanya langsung menangkap sosok Elisa, istrinya, yang sedang sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon. Meski ia belum memasuki ruangan, telinganya cukup tajam untuk mendengar percakapan itu, Elisa sedang berbicara dengan anak mereka.Begitu Elisa selesai menutup telepon, terlihat jelas gelisah, ketika ia menyadari kehadiran Len yang berada di belakangnya, tubuhnya kaku sekaligus tegang."Len, sejak kapan kamu di situ?" tanyanya dengan gugup.Tatapan Len penuh dengan amarah yang sulit disembunyikan. Ia merasa dikhianati oleh orang yang seharusnya ada di sisinya, istri dan anaknya ternyata diam-diam berbuat sesuatu yang menyakiti menantu kesayangannya."Elisa! Serius? Kamu masih punya keberanian bertanya hal nggak penting seperti itu?" suara Len meninggi, jelas memperlihatkan kekesalannya, sementara Elisa semakin gelisah.Perasaan bersalah mulai men
Anastasya terkejut, ternyata apa yang diinginkannya akan terwujud, suaminya akan menceraikan Alesha tanpa ada rasa kasihan sedikitpun, walaupun Anastasya tahu kalau Samuel tetap akan kesulitan melupakan Alesha seumur hidup. "Jangan bohong! Kamu banyak sekali berjanji yang tidak kamu tepati, termasuk dalam pernikahan kita berdua, dan kamu sudah jahat sama aku dan anakku, kamu mau memisahkan kita berdua, padahal kamu tahu aku adalah ibu kandungnya yang baru saja mempertaruhkan nyawaku," ucap Anastasya mengingatkan betapa pengorbanan besar yang sudah dia lakukan untuk melahirkan anaknya. "Aku janji kali ini tidak akan mengecewakan kamu, aku pun sudah berjanji di depan Mama untuk bisa menjaga kamu dan anak kita, asalkan kamu masih memberikan aku kesempatan kedua," balas Samuel yang masih berusaha untuk membuat Anastasya percaya kepadanya. "Hentikan semua ini Samuel! Aku sama sekali tidak mau tertipu lagi sama kamu, bahkan kamu tidak menyesal karena kamu men
"Anastasya, kamu harus memberikan aku kesempatan untuk yang terakhir kalinya, karena aku sangat menyesal atas apa yang terjadi pada kamu dan anak kita, jadi kita bisa melanjutkan rumah tangga ini yang telah Papa inginkan selama ini, kamu tahu kalau aku begitu sangat mencintai kamu selama Alesha tidak ada, kamu tahu itu kan?" Anastasya tidak mau percaya dengan cepat walaupun Samuel masih terus merayu dengan ucapan manis, karena Anastasya tidak mau semua itu terjadi untuk yang kedua kalinya dirinya dipermainkan oleh suaminya sendiri. "Cukup Samuel! Kamu jangan bicara lagi, buktikan kalau kamu sudah berubah menjadi diri kamu yang mencintai aku dan anak kita, bukan hanya ingin mengambil apa yang seharusnya tidak diperebutkan oleh kita berdua, karena kamu memang harus terbiasa memperlakukan aku dan anak kita dengan penuh cinta dan kasih sayang, kamu tidak boleh mengulang rasa sakit yang aku alami, tapi kamu tahu rasa sakit itu di sebabkan oleh apa bukan? Kam
Di depan rumah, Samuel terlihat berdiri dengan wajah yang penuh kesedihan, penyesalan atas apa yang terjadi, "Papa, tolong izinkan aku masuk, kali ini saja, aku mau bersujud di kaki Anastasya atas apa ya h telah aku lakukan, mungkin aku salah, dan aku tidak ingin melakukan yang tidak disukainya, anakku tetaplah anakku dengan Anastasya, aku salah mau mengambilnya, karena tidak diambil pun, anakku tetaplah anakku," ucap Samuel. Len yang tidak percaya anaknya kembali lagi melirik dengan tatapan tidak suka, "Sudahi semuanya! Kamu jangan bermain-main tentang perasaan seseorang! Papa mau kamu pergi! Video anakmu sudah cukup untuk kamu bisa melihatnya, tapi bukan untuk datang bertemu dengannya," balas Len Artama dengan tegas. Anastasya sekali lagi mendengar suara suaminya datang ke rumah mertuanya, "Samuel, apakah dia ada di luar sana?" tanyanya sendiri. Karena rasa penasarannya, akhirnya Anastasya keluar dari kamar, ternyata suara itu seperti hilang ditelan b
"Kamu benar, dia adalah rasa sakit untuk Samuel, aku akan berusaha menyingkirkan Alesha bagaimanapun caranya," ucap Len Artama yang sudah tidak mau melihat Alesha ada di sekitar kehidupannya lagi. Hari itu sudah cukup rumit, begitupun Samuel, namun malam hari ketika Samuel sudah membayar detektif paling bagus untuk mencari keberadaan Alesha, ternyata dia mendapatkan informasi yang sangat cepat pada orang yang tepat, Alesha telah ditemukan di tempat yang disembunyikan Papanya. Samuel segera pergi ke tempat tujuan, dan Samuel berharap tidak ada halangan yang sulit untuk menyelamatkan Alesha dari sana dan Papanya kemungkinan masih di rumah, karena tidak mungkin Papanya berada di sana dia puluh empat jam. Samuel telah sampai, namun tempat itu sepi tanpa penjaga, ternyata memang Alesha ditinggalkan sendiri di tempat itu dalam keadaan pingsan, Len Artama ingin Alesha mati perlahan di sana tanpa diketahui oleh siapapun, anak buahnya diminta untuk meninggalkan
Di saat Anastasya berada di dapur, Samuel berjalan dengan kepala yang sangat berdenyut, sudah mulai muncul ingatan yang tidak bisa dipahaminya, "Kenapa sakit ini? Kenapa ada dua Alesha?"Samuel kebingungan dengan apa yang ada di pikirannya, namun ia berusaha keras untuk mengingat meski r
"Papa, jangan khawatir, aku kuat dan hanya membantu suamiku seperti sebelumnya, lagipula, seharusnya Papa yang ditanya, apakah Papa tidak capek terus membantu urusan rumah?" tanya Anastasya kembali.Len Artama menyadari bahwa Anastasya sangat peduli padanya, "Tidak usah khawatir tentang
"Jangan lakukan itu! Aku tidak mau! Mari kita langsung pulang, aku adalah anak Len Artama, dan aku bisa melakukan apa saja yang aku mau, jadi kamu tidak perlu melarang ku Alesha," kata Samuel.Anastasya memegang kepalanya, karena dia merasa suaminya kini bersikap seperti anak yang sangat
Len Artama merasa sangat marah, tetapi dia harus bisa mengendalikan emosinya di rumah anaknya, terlebih lagi karena dia khawatir Anastasya mungkin mendengar semua pertengkaran di antara mereka."Papa pergi saja! Papa sangat kecewa dengan kamu, dan jika Mama tahu, mungkin Mama juga akan m







