LOGINApakah menjadi pejuang garis dua adalah aib? Lalu bagaimana dengan mereka yang hamil di luar pernikahan? Kinasih. Perempuan tangguh dengan berbagai luka di hatinya. Satu per satu orang terkasih di hidupnya pergi, bahkan buah hati yang sangat dinantikan pun, turut meninggalkannya dalam lara tak berujung. Tekanan demi tekanan datang silih berganti, dan puncaknya saat Aryo -sang suami, melayangkan kalimat perpisahan yang tersirat. Mertua dan iparnya, turut memberi dukungan. Bukan, bukan untuk tetap tinggal, namun tawa memuakkan yang mengiringi langkahnya, keluar dari rumah itu. Dengan hati yang carut-marut bak benang kusut, Asih pergi ke kota. Dalam hatinya masih terus mengharap keajaiban, agar dia dan Aryo dapat kembali bersama. Karena dia tahu, Aryo mencintainya, dulu, sekarang dan esok yang akan datang. Namun, kehadiran seseorang dari masa lalu, membuat benang di hatinya semakin kusut.
View MoreTiba-tiba, Mariana terdiam. Menatap satu titik yang kini semakin mendekat."As, dia ... di sini?"Asih menoleh, mengikuti arah pandang wanita di hadapannya lalu mengangguk. Tiba-tiba, Mariana berdiri dan pamit pergi tanpa kata-kata lain. Bahkan, dia tak sempat memanggil Arya yang kini berada di belakang. "Lho, Mbak. Tamunya sudah pulang? Maaf, ini minumannya telat ya," ucap Rani dengan wajah menunduk. Asih menyentuh lengan Rani lalu menggeleng, "Nggak papa, kita minum aja. Ayo duduk sini, Ran." Asih mempersilakan Rani duduk di dekatnya, tapi wanita itu memilih duduk di hadapan Asih -kursi yang sama dengan Mariana. Asih menatap Rani dengan seksama. Lalu memberanikan diri untuk bertanya. "Ran, kamu kenal wanita tadi?" Rani menggeleng. Namun Asih merasa ada yang disembunyikan. Melihat gerak-gerik tamunya tadi yang terkejut saat Rani keluar dari pintu dapur. "Emang kenapa, Mbak? Dia siapa?" tanya Rani sembari mengaduk isi cangkirnya. Rani coba mengingat, tapi sama sekali tak ada sat
Setelah mendengar penjelasan Mariana, Asih lebih banyak diam. Dia menarik diri dari setiap pertemuan dengan wanita tersebut, bukan karena benci, namun lebih pada rasa kecewa atas semuanya. Asih merasa dirinya adalah penyebab dari segala kegaduhan yang terjadi, hingga melupakan takdir Tuhan yang memang memintanya ada di posisi tersebut. Hari demi hari, dilewati Asih mengurus usaha kulinernya. Sebisa mungkin, dia menjauh dari hal-hal yang membuatnya down. Pagi siang malam, digunakan Asih untuk terus mengembangkan usahanya demi satu tujuan, mengembalikan semua yang telah Mariana berikan padanya dan hidup bebas tanpa merasa berhutang budi. Nyatanya, realita tak semulus angan yang kita buat. Jatuh bangun Asih rasakan sampai akhirnya, dia berada di titik ingin menyerah karena keadaan. Namun, Tuhan Maha Baik. Adanya Arya adalah sebagai penyemangat satu-satunya yang dia miliki saat ini, karena sang nenek sudah jauh darinya, sementara Rani? Tak mungkin Asih menceritakan hal pribadi pada wanit
Meski berat, Asih akhirnya meninggalkan sang nenek di desa. "Di sini ada kegiatan, Nduk. Uti juga masih kuat ngarit. Kalau di kota, cuma makan tidur, bikin badan sakit semua." Ucapan neneknya membuat Asih menggeleng. Dia paham, itu hanyalah alasan agar nek Ijah dapat menemani Tika melewati musibah yang kini menimpa rumah tangganya. Tika menangis di pelukan Asih. Berulang kali kata maaf terlontar dari bibirnya, menyesali perbuatan yang telah dilakukan sang suami pada keluarga Asih. "Sudah, Tik. Jangan gitu, semua orang punya salah, semua orang pernah keliru. Sekarang kamu harus bisa bangkit, demi anak-anak. Ikhlaskan yang telah terjadi. Meski itu berat, tapi aku percaya kamu bisa." Kata-kata itu membuat Tika mengulas senyum di antara isak tangisnya. Begitupun dengan Arya yang menangis karena harus berpisah dengan Ijah dan si kembar. Anak itu tak ingin pulang, terus memberontak dan berakhir dalam pelukan Ijah yang hangat. "Arya pulang dulu sama Ibu. Lain waktu kalau libur sekolah ka
Sesuai dugaan, polisi akhirnya mendatangi kediaman Tika. Tentu saja suasana kampung mendadak ramai. Selama ini, tak pernah ada warga yang berurusan dengan aparat penegak hukum tersebut. Maka dari itu, kabar kemunculannya di desa, dengan cepat menyebar luas.Mereka berkumpul. Tak mendekat, hanya berani sampai pintu pagar, dengan tatapan ke arah rumah Ijah yang ramai dan bibir terus membuat cerita dengan versi berbeda. "Selamat pagi, Bu Atika." Tika menggenggam kedua tangan si kembar dan menjawab pelan. Ijah dan Asih turut serta di sana. Rencana untuk kembali ke kota, terpaksa ditunda. Karena bagaimanapun, kejadian itu masih ada sangkut pautnya dengan mereka. Polisi menginterogasi penghuni rumah, termasuk Ijah dan cucunya. Kabar tentang pembunvhan yang dilakukan Eko, ternyata benar terjadi. Asih tak menyangka, begitu juga dengan Ijah yang menutup mulut karena syok. Meskipun semalam, Tika sudah menceritakan semua, namun baik Ijah maupun Asih, masih tak percaya dan menganggap itu semua
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.