LOGIN"Aku tidak peduli! Kalian berdua itu jahat! Aku akan memberi tahu Sam tentang semua ini! Kalian akan diusir oleh Sam karena sudah menyakiti wanita yang paling dicintainya," kata Alesha sambil memperhatikan betapa babak belur dirinya.
Len Artama sangat khawatir dengan keadaan Anastasya yang sedang hamil besar dan berusaha mengendalikan emosinya agar tidak membuat tekanan darahnya meningkat. Belum lagi, Alesha sudah terlihat sangat parah, yang dapat menimbulkan kecurigaan Samuel terhadSamuel memalingkan wajahnya dari Alesha, "Alesha, kamu jangan membahas ini dulu, lebih baik kamu tetap istirahat, atau kita pergi ke dokter dulu untuk merawat luka kamu," kata Samuel yang menghindari keinginan istrinya. Alesha mendengus, "Sam! Kamu tinggal jawab iya, atau tidak?" Samuel masih berat mengiyakan keinginan Alesha, "Cukup Alesha! Kamu jangan paksa aku menjawab sesuatu yang belum mau aku jawab!" Alesha semakin kesal, "Sam! Kamu lebih baik keluar dari kamar ini! Aku sama sekali tidak mau melihat wajah kamu lagi, aku minta kamu jangan ganggu aku, luka aku tidak akan dirawat oleh siapapun, luka ini akan menjadi bukti kejamnya Papamu dan Anastasya, mereka yang membenci aku, tapi suamiku sendiri keberatan memberikan hakku yang tadinya kamu ingin berikan, jadi aku minta kamu jangan temui aku," kata Alesha mengusir suaminya. "Alesha! Walaupun Papaku jahat, Papaku tetaplah Pa
"Aku memilih Alesha," jawab Samuel, lalu melanjutkan lagi dengan berkata, "Tapi kamu tenang saja, anak. kita akan tetap bersama aku, tapi dengan syarat anak itu akan memanggil Alesha dengan sebutan Ibu, Alesha yang akan menjadi ibunya," balas Samuel sudah menentukan pilihannya. Hati Anastasya sangat teriris, bukan hanya akan kehilangan suami, namun ia juga harus kehilangan anaknya demi mengalah pada Alesha yang sama sekali tidak pantas menjadi ibu dari anaknya di masa depan. "Jangan harap! Aku akan memperjuangkan anak ini walaupun tanpa kamu! Ingat baik-baik Samuel, kamu juga tidak akan mendapatkan izin bertemu dengannya karena kamu sudah menyakiti aku, catat kata-kata aku ini, sekarang kamu bisa memilih dia, tapi dia akan menyakiti kamu dan membiarkan kamu sendirian, dan ingat baik-baik Samuel, kamu bukan kehilangan aku dan anak kita, kamu juga akan kehilangan orang tuamu yang sangat percaya padaku, dan itu tidak akan berubah hanya karena kehadiran A
Anastasya sudah ada di dalam mobil Samuel, dan Samuel terlihat sangat siap untuk pergi bersama Anastasya demi memperlancar semua yang di harapan dari Papanya. "Samuel, kamu mau pergi ke mana?" Anastasya mau tahu tujuan pergi suaminya, sedangkan Anastasya mau langsung memberitahu Papa mertuanya tentang niat suaminya mau berlibur berdua. "Ke suatu tempat, yang pasti kamu akan suka," jawab Samuel. Anastasya semakin penasaran, ia langsung memegang ponselnya dan mengirim pesan pada Len Artama. Samuel bisa melihat ketikan tangan Anastasya sangatlah cepat, namun memiliki arti pemberitahuan kepada Papanya, dalam hatinya berkata, "Semua akan baik-baik saja selama kamu mengirim pesan pada Papa dengan cara tersenyum seperti itu." Samuel tidak membenci Anastasya, namun Anastasya begitu dekat dengan Papanya, itu yang membuatnya kesulitan untuk memiliki ruang berdua dengan Anastasya.
Anastasya keluar dari kamar, dia mau mendekati suaminya walaupun akan ada penolakan berulang kalinya. Samuel masih ada di ruang makan, Samuel tidak bisa makan dengan lahap karena dia masih memikirkan Alesha di luar sana sudah makan atau belum. "Sayang, apakah kamu belum selesai makan?" tanya Anastasya yang mengejutkan Samuel. Tangan Samuel menaruh alat makanannya, dia berdiri melihat ke arah Anastasya, "Anastasya, kenapa kamu kembali?" Anastasya sudah sangat dekat sekarang dengan suaminya, "Aku hanya ingin menemani suamiku, apakah aku salah? Suamiku sedang makan sendirian, aku janji tidak akan bicara kamu kalau tidak suka, setidaknya aku bisa menemani kamu, aku tahu kamu sedang memikirkan Alesha, tapi wajahku sangat mirip dengan Alesha, jadi kamu bisa melihat aku terus menerus kalau kamu mau, aku di sini untuk kamu Samuel," balas Anastasya yang mau ada di sisi suaminya. Samuel tidak menolaknya, "Baik
Anastasya tidak takut dengan tatapan suaminya, "Apa kamu membentak aku, Samuel?" Anastasya tidak mau sikap suaminya seperti ini padanya, kehamilan ini membuatnya sulit mengendalikan emosinya. "Anastasya, aku mohon sama kamu, jangan memperbesar masalah baru, masalah aku sudah besar, jadi diam, nikmati perjalanan kamu bersama aku di sini, kita akan tetap pulang, kamu jangan lagi bicara tentang perasaan kamu saja, tapi perasaan aku juga tidak bisa dipaksa oleh siapapun termasuk Papa," balas Samuel pada Anastasya. Anastasya diam, tatapannya sekarang mengeluarkan air mata yang membuat tatapan tajam Samuel berubah menjadi rasa bersalah, "An, jangan nangis, aku minta maaf, tadi itu aku hanya terbawa emosi sendiri, hapus air mata kamu itu, kamu tahu kan aku tidak suka calon ibu dari anakku menangis?" Sekarang tangan Samuel sedang perlahan menyeka air mata yang ada di wajah Anastasya. "Dihapus, karena air matamu menutupi cantiknya kam
Samuel melihat jelas Papanya sangat marah di depannya, Samuel mendekati Papanya, "Papa, ada apa?" Tangan Papanya sekali lagi menampar keras anak laki-lakinya tersebut, "Kamu benar-benar membuat Papa malu!" Tangan Samuel memegang wajahnya yang tertampar oleh Papanya, "Maksud Papa?" tanyanya dengan menatap mata Len Artama. "Kamu menyakiti Anastasya! Itu yang membuat Papa tidak suka! Kamu sudah menikah dengannya, tapi kamu berkata sembarangan tentang pernikahan kamu, apa kamu tidak berpikir hatinya terluka? An, dia sedang hamil anak kamu, tapi kamu sibuk mengejar wanita yang sama sekali tidak bisa memberikan kebahagiaan termasuk anak untuk kamu, apakah kamu menyadarinya?" Samuel menarik nafasnya perlahan, "Papa, jangan seperti ini, aku sama sekali tidak mengerti apa yang Papa maksud itu, tapi aku hanya berkata jujur tentang perasaan aku, tapi Papa tenang saja, perasaan aku terhadap Anastasya juga ada, aku mencintai dia, hanya tidak sebesar peras







