로그인Anastasya, seorang wanita berusia 23 tahun yang menjadi istri kedua, harus menyembunyikan identitasnya dari sorotan publik yang terus memantau keluarga besar suaminya, Samuel John Len, pria berumur 29 tahun, seorang pemimpin perusahaan pertelevisian terkenal bernama SJL, tengah menghadapi masalah mental yang muncul sebagai dampak dari sebuah kecelakaan yang terjadi ketika ia dan istri pertamanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah acara peluncuran yang diadakan oleh mitra bisnis mereka di Los Angeles, Amerika Serikat. Menjadi titik awal bagi perjalanan pernikahan mereka, dimulai dari obsesi Anastasya yang meyakini bahwa kebahagiaan Alesha berarti kebahagiaannya, termasuk memiliki Samuel.
더 보기"Sam!"
Di hadapan mereka berdirilah Alesha, wajahnya tegang penuh amarah, tubuh yang masih mengenakan pakaian pasien berdiri tegap meski baru saja sembuh dari sakit panjang selama dua tahun. Samuel melangkah maju mendekati sosok yang sangat dikenalnya, matanya sulit percaya dengan apa yang dilihatnya. Istrinya yang koma selama dua tahun kini berdiri di depannya, "Alesha ... apakah itu benar-benar kamu?" tanyanya, suaranya nyaris bergetar. Alesha hanya diam beberapa detik sebelum menatap Samuel tajam. Air mata mulai bergulir bebas di pipinya, namun sorot matanya tidak mengendur sedikit pun, "Ini aku, Sam, apa kamu sudah melupakan aku?" Samuel menggeleng perlahan, wajahnya menampilkan kebingungan yang tidak bisa ia sembunyikan, "Tapi ini ... mustahil! Baru pagi tadi aku masih berada di sisimu, menjagamu di kamar rumah sakit, kamu masih terbaring tidak sadarkan diri, dan sekarang ... kamu berdiri di sini? Aku ... aku tak mengerti, apa aku sedang bermimpi?" "Tidak! Ini nyata," jawab Alesha dengan suara yang tiba-tiba menguat. Sementara Samuel masih bergulat dengan benang-benang pikirannya sendiri, Alesha melayangkan pandangannya ke seorang wanita yang berada tepat di belakang suaminya. Sosok itu jelas menarik perhatian. Wajahnya sama persis seperti dirinya sedang bercermin, meskipun dengan gaya berpakaian yang berbeda. Dia terlihat anggun dalam gaun panjang yang longgar, dengan rambut lurus sebahu. Alesha mencoba mendekatinya, ternyata saat dilihat dari dekat, matanya melihat dengan jelas perut wanita itu cukup besar. Suara Alesha mengeras, "Siapa dia?" tanyanya, isi kepalanya penuh pertanyaan. Tanpa ragu sedikit pun, wanita itu yang menjawab dengan tenang, "Aku Anastasya, aku adalah istri Samuel." Ekspresi Alesha berubah, tetapi ia masih memperhalus tatapannya kembali kepada Samuel. "Apa itu benar? Kenapa kamu melakukan ini? Kamu berselingkuh, Sam!" Alesha ingin mendapatkan jawaban dari suaminya untuk meringankan beban hatinya. Namun Samuel hanya berdiri diam, belum tahu harus memulai dari mana. Sementara Anastasya tetap berdiri tenang tanpa menunjukkan rasa takut atau bersalah. Raut wajahnya bahkan seperti menyiratkan keyakinan bahwa kehadiran Alesha tidak akan mengguncang posisinya. "Tenanglah Alesha, aku ... aku tidak mungkin mengkhianati kamu, Alesha, tidak pernah terlintas dalam pikiranku, tetapi ... semuanya tidak berjalan seperti yang aku inginkan," kata Samuel akhirnya, suaranya terdengar putus asa dan kebingungan. Namun ketika matanya bertemu dengan tatapan Alesha, Samuel menyadari bahwa tidak ada penjelasan sederhana yang dapat memperbaiki kehancuran yang telah terjadi di pernikahannya bersama Alesha. "Tenang? Katamu, aku harus tenang, Sam!Tapi nyatanya kamu berkhianat! Kamu tega, kamu menghancurkan pernikahan kita, Kenapa kamu menikah dengan wanita itu? Bahkan dia hamil! Apa salahku, Sam? Apa salahku?" Dengan penuh penyesalan, Samuel memegang tangan Alesha lembut, mencoba menghapus air mata di pipi istri pertamanya. "Maafkan aku, Alesha, itu bukan salahmu, kamu tidak pernah salah di mataku, semua salahku, tapi aku lega karena kamu ada di sini sekarang, kamu sudah sembuh seperti dulu lagi, kamu tidak tahu betapa senangnya aku melihatmu berdiri sehat di depan mataku hari ini." Pelukan itu terjadi begitu saja. Samuel mendekap Alesha erat, cinta yang tak pernah berubah untuknya meski badai dalam pernikahan mereka begitu besar. Pernikahan kedua yang dilakukan Samuel hanya bertujuan agar tetap menjaga pernikahannya bersama Alesha. Dalam pelukan itu, Anastasya hanya mampu berdiri mematung dengan air mata yang akhirnya mengalir begitu saja. Hatinya terasa tercerai-berai melihat Samuel bersama Alesha, adegan yang menjadi mimpi buruk terbesar bagi dirinya selama ini. "Samuel," panggil Anastasya pelan. Tangan Samuel memegang pergelangan tangan Anastasya, sementara sorot matanya, berbicara tanpa kata, membuat Anastasya memilih tetap bertahan di tempat itu meski harus merasakan rasa sakit melihat mereka berpelukan. Tiba-tiba, Alesha melepaskan pelukan suaminya dengan gerakan kasar. Raut wajahnya memancarkan kemarahan saat melihat Samuel, suaminya, sedang memegang tangan Anastasya. "Wanita perebut suami orang!" pekik Alesha dengan kemarahan yang meledak-ledak. Kata-kata itu menusuk hati Anastasya, membuat dadanya sesak. Meskipun ia sadar dirinya memang bersalah telah masuk ke dalam rumah tangga saudari kembarnya sendiri, namun Anastasya ingin mendapatkan keadilan dari keluarga kandungnya, dan alasan lainnya untuk menyelamatkan mental Samuel agar tak hancur di masa terpuruknya. "Jaga ucapan kamu, Alesha!" Anastasya tidak terima dirinya di cap perebut suami orang, karena selama ini Anastasya sudah berusaha merawat Samuel sampai pria itu sembuh dari masalah mentalnya. "Lalu apa? Sudah jelas kamu menikah dengan suami orang, padahal kamu tahu aku sedang koma di rumah sakit, apa kamu tidak memiliki rasa malu? Oh, atau kamu memang ingin mendapatkan suami orang kaya, jadi kamu merebut Sam dari aku?" Sungguh Alesha terus menerus membuat Anastasya seperti wanita tidak terhormat yang mengambil kebahagiaan orang lain. "Tutup mulutmu, Alesha! Kamu tidak pantas bicara seperti itu padaku, karena sekarang aku juga istri Samuel," balas Anastasya membela dirinya dan memperkuat statusnya yang mana sudah menikah dengan Samuel secara sah. Kembali Alesha melirik ke arah Samuel, "Ceraikan dia, Sam!" Samuel mematung tidak menjawabnya, namun ia mencoba mencerna kekecewaan Alesha yang sekarang sedang dihadapi. "Samuel, jangan lakukan itu, jangan ceraikan aku, apalagi aku sedang mengandung anakmu," pinta Anastasya. Samuel yang diam seketika teringat perjuangan Anastasya menemaninya di masa terpuruk, hanya ada Anastasya yang disampingnya mau menerimanya dalam kondisi yang mungkin Alesha tidak akan mau ada di posisinya. "Tenanglah, Anastasya, aku tidak mungkin menceraikan kamu atau meninggalkan calon anak kita," jawab Samuel seraya menenangkan istrinya. Sambil berkata demikian, ia menyentuh perut besar Anastasya yang sudah memasuki bulan kedelapan. Gerakan lembut janin di dalam seolah merespons sentuhan ayahnya. "Terima kasih, Samuel, aku mencintaimu, juga anak kita," ucap Anastasya dengan suara lembut. Wajahnya yang basah oleh linangan air mata menunjukkan betapa ia bersyukur, sebab Samuel tidak tunduk pada tuntutan Alesha. Namun di sisi lain, hati Alesha teramat pedih melihat kebersamaan mereka, menyadari dirinya hanya memiliki kenangan masa lalu setelah terbaring lama di rumah sakit. "Kembali kasih Anastasya, aku pun mencintaimu dan calon anak kita," balas Samuel membuat Anastasya terbang dan melupakan keberadaan Alesha di antara mereka. Namun Alesha yang sudah dikuasai amarah dan cemburu, justru melayangkan tamparan keras di wajah Anastasya. Tak cukup sampai di situ, ia juga menampar Samuel tanpa ragu sedikit pun. "Kalian benar-benar tidak tahu malu! Dan kamu, Anastasya, beraninya mencoba merebut suamiku dengan menggunakan kehamilanmu, anak itu jelas bukan anak Sam, berapa banyak pria yang sudah jatuh ke dalam perangkap mu, Anastasya? Jangan kira aku bodoh menghadapi wanita seperti dirimu!" Tanpa ragu, tangan Anastasya langsung melayang ke wajah Alesha, membalas dengan tamparan yang jauh lebih keras. "Itu pantas untukmu, Alesha! Jangan rendahkan ku lagi, lihat dirimu sendiri, baru sembuh, tapi langsung menuduh orang lain atas semua kesalahan ini, apa kamu sadar kalau selama dua tahun kamu tidak sadarkan diri? Samuel menghadapi semuanya sendirian! Dan apa kamu tahu bahwa dialah yang memohon kepada dokter agar mereka tidak mencabut alat-alat medis yang membuatmu tetap hidup?" Anastasya tidak ingin menunjukkan kelemahan di hadapan Alesha. Ia telah berjanji untuk mempertahankan pernikahannya dengan Samuel, terutama setelah mendapat dukungan dari mertuanya. Apalagi Alesha sudah berkali-kali merendahkannya. Tentu saja Anastasya tidak akan membiarkan dirinya diam begitu saja. Ia berharap kata-katanya dapat menyadarkan Alesha untuk bersikap lebih baik, meski tatapan penuh amarah dari wanita di hadapannya justru semakin memanas. Tiba-tiba Alesha mencengkeram leher Anastasya dengan penuh emosi, "Diam! Kamu sudah terlalu banyak bicara, jangan lupa satu hal, kamulah perusak rumah tanggaku dengan Sam!" "Alesha, lepaskan!" teriak Samuel dengan panik. "Sam, jangan mencoba membela wanita ini, aku tidak akan melepaskannya sebelum dia pergi dari rumah ini," sahut Alesha masih dengan kemarahannya. Anastasya semakin kesulitan untuk bergerak maupun bernapas. Tekanan di lehernya terasa begitu menyiksa, seolah ingin putus akibat cekikan kuat dari Alesha yang dipenuhi oleh amarah yang meluap-luap. "Lihatlah, suamiku sudah diam saja, itu berarti dia setuju kamu pergi, jangan berani bicara lagi, pergi sekarang, atau aku juga akan memastikan calon anakmu merasakan penderitaan," bisik Alesha mengancam. Pernyataan itu menyalakan tekad Anastasya. Dia tidak ingin calon anaknya menjadi korban beringasnya Alesha. Dengan sisa tenaga yang ada, dia berusaha menendang kaki Alesha hingga akhirnya berhasil melepaskan dirinya. Tanpa banyak pikir panjang, Anastasya berlari menuju pintu utama untuk keluar dari rumah. Dalam benaknya, kabur adalah satu-satunya jalan agar ia bisa menyelamatkan anaknya dari ancaman wanita yang seolah kehilangan rasa kemanusiaan. "Aku harus pergi supaya anakku tidak disakiti oleh Alesha," ucapnya pelan sembari meninggalkan Alesha dan Samuel yang hanya diam mematung tanpa melakukan tindakan apa pun. Namun keinginannya untuk kabur terhentikan. Alesha mengejar dan kembali berhasil menangkapnya. Situasi Anastasya yang tidak bisa berlari kencang karena kondisi hamil membuatnya mudah dijangkau. "Mau ke mana kamu, Anastasya? Aku belum selesai bicara! Kamu ketakutan, ya?" ujar Alesha sambil mencengkeram rambut Anastasya dengan brutal. Tindakan itu membuat Anastasya semakin meringis kesakitan. Dia hanya bisa memohon agar dilepaskan, tetapi Alesha tidak menunjukkan sedikitpun rasa belas kasihan. "Wanita tak tahu diri sepertimu memang pantas diperlakukan seperti ini, apakah kamu pikir aku rela dimadu secara diam-diam? Ingat, ini rumah suamiku, dan kamu hanyalah pengganti sementara! Jadi pergilah setelah aku melepaskanmu, aku tak akan membiarkanmu mengganggu kehidupan kami lagi," tegas Alesha dengan kebenciannya yang memuncak. Anastasya merasa tubuhnya semakin tak berdaya. Meskipun begitu, dia enggan menunjukkan kelemahan lebih jauh di hadapan Alesha. Dengan suara yang tetap stabil, dia mencoba berbicara. "Alesha, lepaskan aku, aku bisa pergi sementara waktu agar kamu punya kesempatan untuk berpikir jernih mengenai keberadaan ku di sini, tapi ingat, aku tidak akan pernah meninggalkan Samuel, apa pun yang terjadi, aku tak peduli apakah kamu merestui hubungan ini atau tidak," ucap Anastasya dengan penuh keyakinan. Ucapan itu membuat kemarahan Alesha kian meluap. Kebencian pada Anastasya semakin membakar hatinya. Tanpa banyak kata, dia menarik rambut Anastasya dengan paksa dan menyeretnya menuju pagar rumah. Begitu sampai di sana, Alesha dengan kasar melepaskan cengkeramannya hingga tubuh Anastasya terlempar ke luar pagar. Masih berada di luar pagar, Anastasya memandang ke arah Samuel dengan penuh rasa kecewa. Suaminya tak melakukan apa pun untuk mencegah tindakan Alesha, seolah apa yang terjadi bukanlah sebuah masalah yang perlu dipermasalahkan. Saat tatapan Alesha masih tertuju pada Samuel, ia memutuskan untuk mendekati suaminya yang tengah berdiri di depan teras rumah. "Masuk sekarang, Sam! Aku tidak mau kamu peduli lagi sama dia," ucap Alesha sambil berusaha menarik lengan Samuel. Namun, Samuel menolak dengan ekspresi serius, "Maaf, Alesha, aku tidak bisa begitu saja mengusir Anastasya, dia akan tetap tinggal di sini bersama kita, ini bukan salahnya, tapi salahku dan Papa, jadi aku tidak punya alasan untuk menyuruhnya pergi," jawab Samuel sebelum melangkah menuju Anastasya yang masih berdiri di luar pagar. Anastasya tersenyum lirih, merasa lega karena Samuel tidak membiarkannya pergi. Saat Samuel mendekatinya untuk mengajaknya masuk kembali, Alesha mendadak berdiri di hadapan mereka berdua dengan sorot mata penuh emosi. "Sam! Kamu benar-benar menguji kesabaranku! Kamu bahkan memakai alasan Papa sebagai pembenaran, aku bukan orang bodoh, Sam! Sekarang kamu harus memilih antara aku, istri pertamamu, atau Anastasya, istri keduamu?"Anastasya langsung menangis sambil memeluk Christina, "Aku minta maaf, Ibu, ternyata aku tidak mampu menghadapi pernikahan ini, Samuel tidak benar-benar menginginkanku, dia hanya mau Alesha," kata Anastasya dengan penuh isak tangis.Hans merasa sangat marah karena putrinya diperlakukan seperti ini, "Jika kamu mau, Anastasya, Ayah akan berbicara dengan Len Artama," ucap Hans sambil menawarkan.Anastasya menatap Hans dengan serius, "Jangan, Ayah, Papa Len tidak boleh tahu tentang ini, Samuel bilang aku selalu tergantung pada Papa Len ketika ada masalah, dia merendahkan diriku karena itu, dan aku tidak ingin Samuel berpikir seperti itu lagi."Christina pun langsung melihat ke arah Hans, "Ikuti saja permintaan Anastasya, biarkan ini menjadi masalah kami berdua sebagai orang tuanya, tidak apa-apa jika Len Artama tidak tahu tentang ucapan kasar Samuel kepada Anastasya, nanti aku yang akan berbicara dengan Samuel jika dia masih mengganggu putriku," tegas Christin
Alesha terus memperhatikan cara mereka berbicara dengannya dengan sangat kasar. Salah satu dari mereka memegang ponsel seperti saat awal penculikan, yang pasti berarti ada yang sedang menghubungi atasan mereka."Hey, apakah aku akan tetap di sini?" tanya Alesha.Mereka tak memberikan jawaban, membiarkan Alesha terus bertanya dengan tatapan dan mulut yang terbuka, hanya tangan dan kakinya yang terikat.Di tempat lain, Anastasya sedang membersihkan wajahnya menggunakan pembersih yang aman untuk ibu hamil. Ia melakukannya secara teratur setiap malam sebelum tidur.Sementara itu, Samuel di rumahnya sudah menutup matanya karena merasa pusing memikirkan kedua istrinya.Malam ini terasa sangat panjang bagi ketiga mereka. Alesha pun akhirnya terlelap karena matanya tidak tahan, membiarkan para penculik tetap menjaganya di tempat itu.Ketika pagi menjelang dan Anastasya terbangun, ia menemukan panggilan masuk dari Hans yang tidak terjawab
"Papa, Samuel! Tolong hentikan semuanya, Mama tidak suka dengan sikap kalian, kalian tidak menghargai waktu, sudah malam, kalian tahu apa yang seharusnya dilakukan saat malam, yaitu beristirahat, tapi kalian malah mengganggu tetangga!"Len melihat Elisa, "Jangan bicara, Elisa! Masuk ke kamar!" perintahnya agar istrinya tidak membela anak mereka di saat ini.Elisa tidak dapat berbuat lebih, dia pergi dari situ bukan karena tidak ingin membela anaknya, tetapi saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa agar Samuel dan suaminya bisa kembali berdamai seperti biasanya."Pa, jangan bersikap kasar pada Mama!"Perlakuan tidak baik Papanya terhadap Mamanya membuat Samuel marah dan ingin melawan Papanya saat itu juga."Cukup, Samuel! Ini bukan masalah Mama! Ini menyangkut pernikahanmu, jadi jangan libatkan Mama Elisa dalam hal ini, biarkan kita selesaikan masalah ini berdua secara laki-laki, apa kamu tidak malu membicarakan ini di depan mamamu?
Anastasya menarik tangannya dari Samuel yang tadi menghalanginya, "Maaf, aku tetap ingin pulang, jika kamu terus bersikap seperti ini, aku tidak ingin berada di sini," katanya pelan sambil tidak menoleh sedikit pun.Hans dan Christina berjalan di samping Anastasya, sementara Samuel berusaha mengejar mereka. Namun, ada tangan yang menahannya, "Samuel! Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya dengan penuh kekecewaan, suaminya mengeluh bahwa dia ingin Anastasya tetap tinggal di rumah.Samuel, melihat Alesha di hadapannya, mengeluh bahwa dia menahan Anastasya pergi, "Aku hanya ingin Anastasya tetap di sini. Dia mengandung anakku, kamu tahu itu, jangan menyangkal hakku, karena dia akan melahirkan anakku," katanya, mengabaikan Alesha.Alesha berusaha menahan tangan Samuel dengan sangat kuat hingga membuatnya tidak bisa bergerak, "Aku tidak mau kamu pergi! Jangan tinggalkan aku di sini! Aku tidak rela kamu bersama Anastasya!"Samuel merasa tidak berdaya keti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.