INICIAR SESIÓNDi tengah tangis Bintang yang tumpah di dadanya, Angkasa mempererat pelukan. Tubuh tegapnya bergetar, menyalurkan rasa takut yang teramat sangat—bukan takut pada ancaman musuh di luar sana, melainkan takut kehilangan kepercayaan wanita yang menjadi separuh jiwanya ini.Angkasa menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara lembut. Sorot matanya begitu mengiba, sarat akan luka ketika menyadari dirinya disamakan dengan pria masa lalu Bintang yang bajingan itu."Aku mohon, Bintang... Jangan pernah samakan aku dengan Rendi," bisik Angkasa, suaranya parau dan bergetar hebat di depan wajah Bintang. "Rendi adalah masa lalumu yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Tapi aku... aku Angkasa Pratama. Aku sangat mencintaimu, Bintang. Hidup dan matiku hanya untukmu dan Arka. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."Bintang menatap kedalaman manik mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyal
Mendengar jeritan pilu Bintang dan tuduhan yang menyamakannya dengan Rendi, jantung Angkasa rasanya seperti berhenti berdetak. Pria itu tidak peduli lagi pada harga dirinya sebagai seorang CEO Pratama Grup yang ditakuti. Melihat wanita yang teramat dicintainya menangis histeris dengan tubuh gemetar hebat, pertahanan Angkasa runtuh total.Angkasa melepaskan pelukannya, lalu perlahan merosot hingga kedua lututnya menyentuh lantai dingin—berlutut tepat di hadapan Bintang yang masih terisak di tepi ranjang."Bintang... tatap aku, Sayang. Tolong tatap aku," pinta Angkasa dengan suara parau yang pecah. Air mata frustrasi mengalir melewati rahang kokohnya.Bintang memalingkan wajah, enggan melihat. Namun, Angkasa dengan lembut namun tegas menangkup kedua pipi Bintang, memaksa sepasang mata sembap itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang sarat akan kejujuran dan kerapuhan yang teramat mendalam."Aku bersumpah demi nyawaku, demi Arka yang sedang tidur di sana... tidak pernah ada wa
Angkasa mematung di tempatnya berdiri. Kalimat tenang yang keluar dari bibir Bintang terasa bagai tamparan keras yang tak kasat mata. Pesan singkat yang ia kirimkan empat hari lalu—yang niat awalnya demi melindungi psikologis Bintang agar tidak ikut terbeban dengan ancaman sabotase—kini justru berbalik menjadi senjata yang memotong kedekatan mereka."Bintang, soal pesan itu..." Suara Angkasa tercekat di tenggorokan. Rencana untuk menjelaskan semuanya malam ini mendadak buyar melihat betapa kokohnya dinding pertahanan yang dibangun istrinya."Sudahlah, Mas. Tidak perlu dibahas lagi. Kamu lelah, sebaiknya langsung istirahat. Aku harus menyusui Arka dulu," potong Bintang halus, menyudahi pembicaraan bahkan sebelum Angkasa sempat membela diri.Dengan gerakan anggun, Bintang berjalan membawa Arka menuju sofa menyusui di sudut yang agak remang, memunggungi Angkasa sepenuhnya. Sikap itu begitu rapi, begitu sopan, namun sekaligus menegaskan penolakan mutlak atas kehadiran Angkasa di dalam
Tiga hari pencarian jawaban dalam kehampaan akhirnya berakhir. Malam itu, deru mobil Angkasa terdengar memasuki pekarangan mansion. Berbeda dari biasanya—di mana Bintang selalu berdiri di dekat pintu dengan senyuman hangat, siap melepaskan jas hitam suaminya—kali ini Bintang memilih tetap berada di kamar. Ia duduk tegak di sofa sudut, menatap kosong ke arah pintu yang perlahan terbuka.Angkasa melangkah masuk dengan gurat lelah yang teramat pekat di wajahnya. Pria itu menatap Bintang, berharap mendapatkan dekapan penenang setelah tiga hari bertaruh nyawa di luar kota. Namun, yang ia dapatkan hanyalah tatapan sedingin es dari sang istri.Bintang tidak bergerak setapak pun. Ia bersikap abai, seolah pria yang baru masuk itu adalah orang asing. Kecewa dan terlalu lelah untuk berdebat karena energinya terkuras habis oleh masalah kantor, Angkasa hanya menghela napas berat. Pria itu langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di ranjang, kembali memunggungi Bintang hingga pagi menj
Pagi itu, saat Bintang perlahan membuka mata, hawa dingin langsung menyergap kulitnya. Ia menoleh ke sisi ranjang yang kosong. Ketika tangannya meraba seprai di sebelahnya, tempat itu sudah mendingin, menandakan pria yang terbiasa memeluknya setiap malam sudah lama beranjak.Rasa sesak akibat perlakuan dingin Angkasa semalam kembali merayap di dada Bintang. Dengan langkah tergesa, ia segera turun ke lantai bawah menemui kepala pelayan yang sedang merapikan ruang makan."Bik, Mas Angkasa di mana? Apa dia sudah sarapan?" tanya Bintang dengan gurat kecemasan yang tercetak jelas di wajah ayunya.Pelayan paruh baya itu menunduk hormat. "Maaf, Nyonya Besar. Tuan Angkasa sudah berangkat sejak subuh tadi. Beliau bahkan tidak sempat menyentuh sarapannya dan langsung meminta sopir menyiapkan mobil."Sontak, jantung Bintang berdegup kencang. Berangkat dari subuh? Perasaan tidak enak kian membuncah. Bintang segera mengambil ponselnya, mencari nama sang suami, dan mencoba menghubunginya. Pang
Nyonya Rahayu buru-buru menunduk. "Maaf, Angkasa..." Dengan tangan gemetar, ia menarik lengan Shinta dan mengajaknya pergi dari koridor rumah sakit sebelum amarah Angkasa semakin meledak.Mereka melangkah gontai keluar dari area rumah sakit jiwa. Kali ini, tidak ada lagi caci maki egois atau rencana licik di kepala mereka. Langkah kaki mereka terasa berat, namun ada sesuatu yang retak sekaligus mencair di dalam dada mereka. Mereka akhirnya paham dan sadar sepenuhnya bahwa perbuatan mereka di masa lalu benar-benar kejam, dan kehancuran hari ini adalah buah yang harus mereka petik.Di bawah halte bus yang sepi, Shinta menatap telapak tangannya yang kasar. "Lebih baik kita kerja yang layak, Ma. Shinta akan coba cari kerja apa pun," kata Shinta dengan suara parau namun sarat tekad baru.Nyonya Rahayu menatap putrinya, lalu mengangguk pelan sembari menyeka air matanya. "Benar, Shin. Mama juga akan coba jadi ART, siapa tahu ada tetangga atau agen yang butuh tenaga Mama. Kita tidak bisa b
Malam itu dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara di koridor yang sunyi, Bintang berjalan menuju lantai tiga, area pribadi tempat ruang kerja Angkasa berada. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan akan penolakan. Namun, keputusasaan telah mengikis habis rasa t
Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan
Setelah makan malam, Kakek meminta Angkasa untuk menjaga Bintang. "Bintang sudah Kakek anggap sebagai cucu kandung Kakek Angkasa tolong jaga dia baik-baik. Rendi sangat tidak bisa diharapkan." "Pasti Angkasa akan menjaganya Kek, Kakek tenang saja." Sahut Angkasa. Tak selang lama Rendi dan Mama b
Byur!Suara air yang pecah dengan keras itu membelah keheningan sore di kediaman mewah keluarga Pratama.Di tengah riak air itu, sesosok tubuh berjuang dengan dramatis, tangan-tangannya menggapai udara seolah sedang ditarik ke dasar neraka."Tolong! Tolong aku! Kak Bintang, kenapa... uhuk... tolo







