Masuk
Byur!
Suara air yang pecah dengan keras itu membelah keheningan sore di kediaman mewah keluarga Pratama. Di tengah riak air itu, sesosok tubuh berjuang dengan dramatis, tangan-tangannya menggapai udara seolah sedang ditarik ke dasar neraka. "Tolong! Tolong aku! Kak Bintang, kenapa... uhuk... tolong!" Teriakan itu melengking, memicu kepanikan. Pintu-pintu kaca geser menuju area kolam terbuka lebar, semua berhamburan keluar dengan wajah pucat pasi. Bintang berdiri terpaku di tepi kolam. Tangannya masih gemetar, bukan karena habis mendorong seseorang, melainkan karena syok melihat sandiwara yang begitu rapi dimainkan di depan matanya. Monik, adik tirinya yang datang dengan dalih berkunjung baru saja menjatuhkan diri dengan sengaja. Namun, kejutan sebenarnya bukan pada jatuhnya Monik. Dalam hitungan detik, sebuah pemandangan yang mustahil terjadi di depan mata Bintang. Rendi, suaminya yang selama setahun terakhir hanya bisa terduduk lemah di atas kursi roda, tiba-tiba bangkit. Tanpa ragu kakinya menapak kokoh di atas lantai batu alam. Dengan gerakan yang sangat tangkas, Rendi berlari dan melompat masuk ke dalam air. Byur! Dunia seolah melambat bagi Bintang. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat Rendi berenang dengan kuat, merengkuh tubuh Monik ke dalam pelukan, dan membawanya ke tepi kolam dengan kekuatan seorang pria yang sangat sehat. Rendi mengangkat Monik ke atas permukaan, membiarkan wanita itu terbatuk-batuk manja di dadanya. Bintang masih membeku. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Fokusnya bukan pada Monik yang basah kuyup, melainkan pada dua kaki Rendi yang sekarang berdiri tegak, menyangga beban tubuhnya sendiri dengan sempurna. "Mas, kamu... Kamu bisa berdiri?" bisik Bintang, suaranya nyaris hilang ditelan angin sore. Rendi tidak langsung menjawab. Wajahnya merah padam, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang meluap-luap. Dia melepaskan Monik dengan hati-hati, lalu melangkah lebar mendekati Bintang istrinya. PLAK! Tamparan itu mendarat begitu keras di pipi kiri Bintang hingga kepalanya terhentak ke samping. Suara hantaman kulit itu bergema di area terbuka tersebut, diikuti oleh kesunyian yang mencekam. "Siapa yang menyuruhmu mendorongnya, hah?!" raung Rendi. Suaranya menggelegar, penuh dengan kebencian yang selama ini ia simpan rapat-rapat. "Sudah tidak berguna, tidak bisa memberikan anak, sekarang kamu mau menjadi pembunuh di rumahku sendiri?" Bintang memegangi pipinya yang mulai terasa panas dan berdenyut. Namun, rasa sakit di kulitnya tidak sebanding dengan rasa hancur di dalam dadanya. Dia menatap Rendi dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mencoba mencari sisa-sisa kejujuran di wajah pria yang setahun ini dia layani seperti raja. "Aku tidak mendorongnya, Mas... Dia jatuh sendiri," suara Bintang bergetar hebat. "Tapi itu tidak penting sekarang. Kamu... kamu sudah bisa berjalan? Sejak kapan? Bukanlah dokter bilang kamu lumpuh permanen?" Rendi sempat tertegun sejenak, menyadari bahwa penyamarannya terbongkar karena kepanikan sesaat. Namun, egonya jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya. Dia membusungkan dada, menatap Bintang dengan jijik. "Ya, aku sudah bisa berjalan! Baru saja! Rasa panik karena melihat kekejamanmu pada Monik membuat keajaiban terjadi. Tuhan menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya hari ini!" jawab Rendi dengan logika yang bengkok. Monik, yang kini sudah diselimuti handuk oleh adik Rendi, mulai terisak lebih keras. "Jangan salahkan Kak Bintang, Mas Rendi... Mungkin Kak Bintang hanya tidak sengaja. Mungkin dia sedang lelah karena mengurus Mas, jadi dia sedikit emosi padaku..." "Lihat!" teriak wanita paruh baya yang bergabung. Dia adalah mertua Bintang, yang langsung menghampiri dan menunjuk wajah Bintang. "Bahkan Monik yang kamu celakai masih berusaha membelamu! Dasar menantu tidak tahu diuntung! Kami memberimu tempat tinggal, martabat, dan ini balasanmu? Mencoba membunuh tamu di rumah ini?" "Ma, aku benar-benar tidak melakukannya!" "Diam!" potong Shinta, adik ipar Bintang, dengan tatapan sinis. "Semua orang lihat bagaimana kamu berdiri paling dekat dengannya tadi. Kamu iri kan karena Monik jauh lebih cantik dan disukai Kak Rendi daripada kamu yang hanya bisa bermuka sedih setiap hari? Dasar pembawa sial! Gara-gara kamu, Kak Rendi harus menderita setahun ini, dan sekarang kamu mau mencelakai orang lain?" Hinaan demi hinaan dilemparkan ke arah Bintang seperti batu yang dilemparkan pada pesakitan. Bintang berdiri di tengah-tengah mereka, basah oleh air kolam yang menciprat, sendirian di bawah tatapan benci keluarga yang selama ini dia bela dengan seluruh tenaganya. Air mata Bintang jatuh mengalir, membasahi pipinya yang merah bekas tamparan. Dia merasa kecil, tidak berarti, dan benar-benar hancur. Selama setahun dia mengabdikan diri untuk keluarga suaminya, bahkan pembantu disana lebih dihargai ketimbang dirinya yang merupakan seorang menantu Tiba-tiba Suara bariton terdengar, yang seketika membungkam semua makian. "Ada keributan apa ini?" Dari arah pintu muncul sosok pria tinggi dengan setelan jas lengkap. Langkah kakinya yang tenang namun mantap bergema di atas lantai batu. Itu adalah Angkasa. Kakak tiri Rendi, kepala keluarga Pratama yang sesungguhnya. Angkasa berhenti beberapa langkah dari kerumunan itu. Matanya yang tajam menyapu pemandangan di depannya. Suasana menjadi sangat kaku. Ibu Rendi segera mengubah ekspresinya menjadi wajah yang mencari perlindungan. "Angkasa, kamu sudah datang? Maaf baru pulang dari luar negeri kamu justru mendapati pemandangan seperti ini.” “Ada apa ini, Ma?” Suara dingin Angkasa menginterupsi. Nada bicaranya yang datar membuat semua orang di sana saling pandang dengan gugup. “Lihatlah apa yang dilakukan istri adikmu! Dia mendorong adiknya sendiri ke dalam kolam!" adu sang ibu dengan nada berapi-api. Angkasa tidak langsung menanggapi aduan ibu tirinya. Matanya justru terkunci pada Bintang. Dia bisa melihat bahu wanita itu naik turun karena nafas yang sesak menahan tangis, serta air mata yang terus mengalir tanpa suara di pipinya yang mulai memerah. Tatapan Angkasa kemudian beralih perlahan pada Rendi yang kini berdiri tegak di hadapannya tanpa kursi roda. "Rendi," panggil Angkasa. Nadanya datar, namun terasa sangat tajam dan menusuk. "Kamu sudah sembuh?" Rendi menelan ludah dengan susah payah. Nyalinya menciut seketika setiap kali harus berhadapan dengan sang kakak tiri. "I-iya, Mas," jawab Rendi sambil tertawa hambar dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berusaha keras menyembunyikan rasa gugupnya. "Melihat orang mau tenggelam... aku refleks, dan tiba-tiba bisa berdiri." Angkasa hanya tersenyum kecut. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringai sinis yang mengintimidasi. "Baru tahu aku... hanya dengan melihat orang nyaris tenggelam, saraf kaki yang diklaim mati total bisa sembuh seketika," sindir Angkasa telak. Angkasa jelas bukan orang bodoh yang bisa dikelabui dengan alasan murahan seperti itu. Semua orang di sana pun sebenarnya tahu bahwa alasan Rendi adalah sebuah kebohongan besar yang konyol. Keheningan kembali mencekam. Raut wajah Rendi mendadak pucat pasi; dia tahu persis kakaknya sama sekali tidak mempercayai omong kosongnya. Kini, tatapan Angkasa kembali mengarah kepada Bintang, wanita yang sejak tadi hanya bisa diam menerima cacian dan hinaan keluarganya. "Apakah tanganmu yang mendorongnya?" tanya Angkasa. Matanya menatap sangat dalam ke netra Bintang yang basah dan merah. Bintang menggeleng lemah, bibirnya bergetar hebat. "Tidak, Mas Angkasa. Aku bersumpah... aku tidak melakukannya." Angkasa kembali menatap keluarganya. Bibirnya membentuk senyum tipis yang tidak mencapai matanya, sebuah senyum berbahaya yang menandakan badai besar akan segera datang. "Semua orang di sini tahu kalau Bintang yang mendorong adiknya ke kolam, Mas!" sela Rendi dengan nada menggebu-gebu, berusaha mengalihkan perhatian dari kebohongan kakinya. "Aku tidak melakukannya, Tiba-tiba saja Monik menceburkan dirinya sendiri ke dalam air," Bintang mencoba membela diri dengan sisa kekuatannya, namun Rendi langsung memotongnya dengan kejam. "Bintang! Kamu pikir aku bodoh?! Mana ada orang yang dengan sengaja membahayakan nyawanya sendiri?!" Tatapan pria itu sangat sinis dan penuh kebencian pada istrinya sendiri. Angkasa kembali tersenyum kecut, menatap Rendi dengan pandangan merendahkan. "Rendi... kenapa reaksimu sangat berlebihan?" tanya Angkasa lambat-lambat, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan. "Memangnya... apa hubunganmu dengan adik tiri istrimu itu sampai kamu bisa se-emosional ini?”Aww... Mas," keluh Bintang pelan, menatap Angkasa dengan tatapan cemberut.Angkasa justru tertawa rendah, memeluk pinggang Bintang semakin erat. "Kenapa, Sayang? Pegal?""Kan sudah kubilang! Jangan berlebihan!" omel Bintang gemas, menepuk dada telanjang Angkasa. "Kamu benar-benar tidak meloloskan aku sedikit pun sampai subuh!""Aku hanya menepati janjiku, Nyonya Pratama," goda Angkasa, mengedipkan sebelah matanya. "Dan seperti yang kubilang, stamina suamimu ini tidak perlu diragukan.""Dasar CEO tidak mau mengalah!" potong Bintang sambil tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Angkasa dan menyandarkan dagunya di sana. "Tapi... terima kasih, Mas. Untuk segalanya."Angkasa menatap mata Bintang yang kini bersih dari keraguan. "Aku yang harus berterima kasih, Bintang. Karena kamu sudah bertahan, karena kamu mau percaya padaku, dan karena kamu sudah melengkapi hidupku bersama Arka."Oweee! Oweee!Suara tangisan mungil dari arah pintu balkon luar memecah suasana romantis merek
Aroma kehangatan kayu cendana dan deburan halus ombak Uluwatu yang menerpa tebing malam itu menjadi saksi bisu meleburnya sisa-sisa cemburu di kamar utama vila. Senyuman kemenangan terukir jelas di bibir tegap Angkasa saat merasakan kedua lengan halus Bintang mengunci lehernya."Pikirkan sendiri?" Angkasa berbisik rendah tepat di depan bibir Bintang, mengikis jarak hingga napas mereka menyatu. "Jawabanmu barusan sudah lebih dari cukup, Nyonya Pratama.""Jangan percaya diri dulu, Mas," gumam Bintang dengan napas yang mulai tersengal. Sorot matanya berbinar jahil di bawah remang lampu kamar. "Itu cuma jaminan supaya kamu tidak macam-macam lagi.""Lalu mana tebusannya?" Angkasa terkekeh pelan. Tanpa memberi Bintang kesempatan memprotes, tangan kekarnya langsung menyambar pinggang Bintang, mengangkat tubuh ramping istrinya itu dalam satu gerakan mudah menuju tempat tidur berukuran king size di tengah ruangan.Bintang tertawa pelan saat tubuhnya mendarat di atas kasur empuk yang tertu
"Bintang, tunggu! Sayang, dengarkan aku dulu!"Suara bariton Angkasa yang biasa menggema tegas di ruang rapat kini terdengar panik setengah mati. Langkah kakinya yang lebar bergegas menyusul Bintang yang sudah melangkah keluar dari butik dengan kecepatan penuh. Beberapa pelayan dan pengawal yang berjaga di luar langsung menunduk, pura-pura tidak melihat wajah bos besar mereka yang tampak frustrasi.Bintang tidak memedulikan panggilan itu. Ia langsung membuka pintu mobil luks yang menjemput mereka, masuk ke kursi tengah, dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah sedingin es. Suster bayi yang sedang memangku Arka di kursi belakang seketika membeku, merasakan udara mobil yang mendadak drop hingga minus nol derajat.Brak!Angkasa menyusul masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan cepat, dan langsung memberi isyarat kepada sopir. "Jalan. Langsung ke vila.""Baik, Tuan."Mobil pun bergerak membelah jalanan Seminyak menuju Uluwatu. Di dalam kabin mobil yang luas itu, keh
Melihat reaksi pasrah sekaligus ledekan manis dari istrinya, pertahanan sombong Angkasa runtuh seketika. Tawa renyah dan merdu pria itu pecah, menggema hangat memenuhi ruang makan mansion mereka yang megah. Bintang pun tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa lebar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Angkasa dengan perasaan cinta.Badai kelam kemarin kini benar-benar telah digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. "Jadi, tidak perlu ke atas untuk kemas-kemas lagi, kan?" bisik Angkasa geli, mengecup pelipis Bintang yang masih bersandar nyaman di bahunya.Bintang mendongak, lalu mencubit dagu suaminya pelan. "Iya, Pak CEO. Terserah perintah Bos saja. Tapi awas ya kalau sesampainya di Bali aku tidak menemukan baju yang cocok!""Jangankan baju yang cocok, butiknya sekalian akan aku belikan untukmu kalau kamu mau," sahut Angkasa penuh percaya diri yang langsung dihadiahi tatapan malas namun penuh cinta dari Bintang.Siang harinya, persiapan keberangkatan yang serba
Suasana meja makan pagi itu terasa berkali-kali lipat lebih hidup. Aroma sup ayam ginseng buatan Angkasa memenuhi ruangan, bersanding dengan tawa kecil Bintang yang akhirnya kembali terdengar.Tak lama kemudian, suster bayi datang menggendong Arka yang sudah mandi dan beraroma harum minyak telon. Begitu melihat sang anak, Bintang langsung mengambil alih Arka ke dalam pangkuannya. Bayi mungil berusia dua bulan itu tampak mengerjap-erjap lucu, menatap lumat ke arah Angkasa seolah tahu bahwa pria di depannya adalah pahlawan yang telah menjaga tidurnya tetap aman."Sini, biar aku yang gendong Arka. Kamu habiskan dulu supnya selagi hangat," ucap Angkasa lembut. Tanpa canggung, pria itu mengambil alih Arka dari dekapan Bintang, menimangnya dengan satu tangan yang kokoh sementara tangan lainnya bergerak mengelus pipi gembul putranya.Bintang tersenyum haru menatap pemandangan di depannya. Ketakutan bahwa Angkasa akan berubah seperti Rendi benar-benar terkikis habis tak bersisa."Bagaima
Di tengah tangis Bintang yang tumpah di dadanya, Angkasa mempererat pelukan. Tubuh tegapnya bergetar, menyalurkan rasa takut yang teramat sangat—bukan takut pada ancaman musuh di luar sana, melainkan takut kehilangan kepercayaan wanita yang menjadi separuh jiwanya ini.Angkasa menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara lembut. Sorot matanya begitu mengiba, sarat akan luka ketika menyadari dirinya disamakan dengan pria masa lalu Bintang yang bajingan itu."Aku mohon, Bintang... Jangan pernah samakan aku dengan Rendi," bisik Angkasa, suaranya parau dan bergetar hebat di depan wajah Bintang. "Rendi adalah masa lalumu yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Tapi aku... aku Angkasa Pratama. Aku sangat mencintaimu, Bintang. Hidup dan matiku hanya untukmu dan Arka. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."Bintang menatap kedalaman manik mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyal
Di dalam ruang kerja yang remang itu, tawa rendah Angkasa pecah. Pria itu geli sendiri mendengar pertanyaan adik iparnya. "Bintang, Bintang..." Angkasa melangkah maju, memangkas jarak hingga Bintang bisa merasakan hembusan nafas pria itu di keningnya. "Seorang adik ipar datang tengah malam, memin
Malam itu dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara di koridor yang sunyi, Bintang berjalan menuju lantai tiga, area pribadi tempat ruang kerja Angkasa berada. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan akan penolakan. Namun, keputusasaan telah mengikis habis rasa t
Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan
Malam itu ketika semua orang sudah tidur, Bintang membuka lemari, mengambil sebuah jubah tidur berbahan tipis yang selama ini tak pernah dia pakai.Itu adalah hadiah pernikahannya dulu, tapi sudah setahun berlalu baju tipis itu tak pernah dia pakai dan malam ini dia akan memakainya, bukan untuk Ren







