Se connecterKwekkk..Kwekk…Kweeekk…Suara bebek yang memanggil untuk diberikan makan oleh tangan-tangan Bambang yang melempar pakan ternak bebek. Bambang dengan mata yang masih bengkak dan sedikit getaran setelah menangis memberi makan bebek-bebek Kakek Ron.Ia melemparkan pakan bebek dengan sedikit kasar karena kesal tapi Kakek Ron tidak menegurnya atau memarahinya. Ia tahu anak yang berada di depannya sedang kesal. Ia malah terkekeh senang melihat Bambang emosi.“Anakku, mau sampai kapan kamu emosi seperti ini?” tanya Kakek Ron sembari menghidupkan canting rokok kreteknya. Ia menarik setiap sari-sari rokok dan menyebulkannya, membentuk awan hitam yang tiba-tiba hilang setelahnya.Bambang yang masih cemberut langsung duduk di sebelah Kakek Ron, ia mendenguskan napasnya.“Aku kesal, bukannya orang-orang bilang kalau aku cerdas, pintar, dan penurut. Kenapa tidak ada satu orang pun yang datang untuk mengadopsiku,” dengus Bambang. Ia menatap Kakek Ron yang tidak bereaksi apa-apa hanya tersenyum.“K
Suara riuh terdengar di telinga seorang anak sekolah dasar yang berdiri tegak di depan papan pengumuman hasil ujian nasional sekolahnya.Bambang.Nama itu tertulis di paling atas, dengan nilai bulat 3.00. Semua anak yang berada di sebelahnya saling memuji betapa hebat dan cerdasnya Bambang yang masih berdiri tanpa ekspresi di wajahnya.“Hebat banget kamu, Mbang! Pasti nanti kamu bakal masuk SMP favorit,” celetuk anak laki-laki bertopi di sebelah Bambang.“Bener, keren banget kamu. Kalo aku pintar kayak kamu pasti orang tuaku bangga.” ujar anak perempuan dengan jepit di rambutnya.Bambang masih terdiam tidak menjawab, ia masih berdiri tegak di sana disaat semua anak berlari menuju orang tuanya masing-masing memberitahukan hasil nilai mereka. Terlihat ada yang memeluk bangga anak mereka, ada juga yang dijewer dengan orang tua mereka karena nilainya jelek.“Orang tua, huh?” gumam Bambang melihat datar ke arah mereka semua. Ia merasa sangat asing dengan kata orang tua. Nilai itu menjadi
Bambang menoleh ke sumber suara yang ia kenali, Herman. Dia berdiri di sana tegak dengan wajahnya sebelum kecelakaan.“Tuan Herman?” gumam Bambang, Herman hanya tersenyum dan menghampiri Bambang dengan berlari-lari kecil.“Sudah berapa lama kamu di sini?” tanya Herman yang langsung merangkul Bambang dan menepuk pundaknya. Bambang hanya menatap Herman seolah tak percaya ia bisa melihat Herman bisa berjalan.“Kenapa? ada yang salah denganku?” Bambang menggeleng mendengar pertanyaan Herman, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan sekarang kecuali mengikuti kata-kata Herman.“Kamu ternyata sudah sedewasa ini Bambang, aku benar-benar kira kamu tidak akan bisa bertahan hidup selama ini,” ucap Herman.Wajah Bambang dingin, rambutnya mengibas karena terkena angin, tetapi hatinya gelisah, matanya yang masih melihat penampakan Herman ditambah perkataannya barusan membuat Bambang makin bingung.“Kenapa? Kenapa? Kenapa
Suara tekukuran burung perkutut yang bertengker di balkon kamar Bambang. Mata Bambang terbuka dengan beratnya. Kepalanya terasa sangat berat, sangat berat sekali. Tangannya memegang kepalanya, dahinya terasa panas. Ia ternyata terkena demam.Kepala Bambang semakin berat, bahkan terasa melayang-layang, “Aku harus minum obat,” ujarnya.Bambang berjalan dengan tangan yang dijulurkan, menyeleksi tembok-tembok di depannya. “Arghhh… Mana sih kotak obatnya!” erang Bambang. Tanpa sengaja kakinya tersandung oleh kabel yang berada di lantai kamarnya.Braaaakkk!Bambang terjatuh, suara hantamannya terdengar hingga ke dapur di mana Bianca sedang memasak untuk sarapan. Ia yang tengah terlamun disadarkan oleh suara hantaman di kamar Bambang.“Mas! Mas!” teriak Bianca, ia mendobrak kamar Bambang dan melihat Bambang sudah tersungkur kesakitan di bawah sana.“Kamu gak papa, Mas?” tanya Bianca panik, ia memapah tubuh Bambang, menidurkannya di atas
Bambang berjalan ke ruang perawatan Herman seperti biasa karena ada dokter yang hendak mengecek kesehatan Herman.“Bagaimana dokter Gilang, kondisi Tuan Herman?” tanya Bambang sembari memakaikan baju ke tubuh Herman yang tadinya dibuka setelah diperiksa.Dokter yang berperawakan seusia dengan Herman, mengecek datanya. Ia menaikkan kacamatanya, membenarkan posisinya yang sudah melorot. “Aku tidak menjamin kondisinya akan semakin baik, aku akan bicara sebagai manusia saja sekarang. Melihat kondisinya yang seperti ini. Masih bisa bernafas dengan alat bantu saja sudah mukjizat,” jawab Gilang. Matanya bergerak dari ujung kepala hingga ujung kaki Herman.Bambang mengiyakan pernyataan Gilang, tapi bukan itu masalahnya Bambang menanyakan kondisi Herman. Bambang hanya ingin memastikan kondisi Herman yang seperti ini pasti sangat menyiksa untuknya. Jiwanya pasti terjebak selama itu dalam keadaan koma membuatnya benar-benar tersiksa.“Memang pantas,” gumam Bambang dengan menangggalkan senyuman
Mobil Bianca melaju dengan kecepatan yang tinggi. Ia menekan keras pedal gasnya dengan dalam dengan seluruh emosi yang bertumpuk di kepala dan hatinya. Ia menyetir dengan setengah ugal-ugalan membuat mobil-mobil lain mengklakson mobil Bianca.Bianca yang sudah frustasi, ia memukul-mukul setir mobilnya berkali-kali, “Diana sialan! Diana sialan!” Matanya menatap tajam jalan yang gelap. Hanya disinari oleh lampu jalan yang kekuning-kuningan.Cittttt….Mobil Bianca mengerem sempurna di parkiran rumahnya. Ia lalu melangkah dengan langkah cepat dan berat masuk ke dalam rumah, langsung berjalan masuk dan naik ke lantai dua. Bianca tidak melihat siapapun di sana karena sepertinya sedang sibuk di kamar masing-masing.Brak!Pintu kamar Diana ditendang paksa oleh Bianca, Diana yang sedang menyisir rambutnya di meja riasnya berdiri dan menoleh ke arah Bianca yang sedang tersengal-sengal menahan rasa marah dan kesalnya kepada Diana.“Sayang… kamu kenapa?” tanya Diana dengan senyuman khasnya, Bianc