LOGINBambang terjebak oleh obsesi istri dan anak dari penyelamatnya, Herman. Bambang sengaja menggantikan Herman menjadi kepala rumah tangga sebagai bentuk tanggung jawabnya pada pria yang kini terbaring lumpuh karena menyelamatkannya saat kecelakaan dua tahun lalu. Diana, Bianca, dan Celine terus menerus menggoda Bambang untuk mendapatkan perhatiannya. Bahkan makin hari godaannya semakin menjadi-jadi. Bambang yang awalnya berpegang teguh pada pendiriannya, kini merasa mulai goyah. Apakah Bambang akan tergoda dengan bujuk rayu Nyonya dan Nona di rumah itu?
View More"Harusnya aku yang berada di ranjang itu, Tuan Herman," batin Bambang setiap kali melihat pria malang itu.
Bambang, pria berusia tiga puluh tahun dengan otot dada dan lengan yang tercetak jelas di balik kamus polo hitam ketatnya, baru saja keluar dari ruangan Tuan Herman, majikannya. Di ruang tengah, Diana, sang Nyonya rumah, berdiri gemetar ketakutan dengan punggung menempel rapat pada dinding. Ia hanya mengenakan lingerie baju tidur sutra berwarna merah marun yang sangat tipis, nyaris menerawang, dengan potongan kerah berenda yang teramat rendah. Namun, apa yang Bambang lihat di ruang tengah malam ini benar-benar menguji iman sekaligus memancing naluri pembunuhnya. Siapa pria normal yang darahnya tidak berdesir melihat istri majikan yang begitu mempesona, sedang rapuh, dan hanya menggunakan lingerie? Melihat itu, Bambang tidak ada pikiran apapun karena ia masih terngiang janji suci pada Tuan Herman yang lumpuh total, akibat kecelakaan tragis dua tahun lalu demi menyelamatkan nyawa Bambang. Sejak saat itu, Bambang bersumpah untuk mengambil alih peran kepala keluarga, menjaga seisi rumah ini, dan terutama, melindungi nyonya rumah dari kerasnya dunia luar. "Tagihan lima ratus juta ini kamu sudah menunggak enam bulan! Kapan kamu mau bayar, Hah?!" bentak salah satu preman botak dengan codet di pipinya, menunjuk-nunjuk kasar tepat ke wajah cantik Diana. Diana menyilangkan kedua lengannya di depan dada, berusaha keras menutupi miliknya yang terus dipandangi preman satunya. "A-aku tidak pernah meminjam sebanyak itu! Aku… aku hanya meminjam 150 juta untuk biaya rumah sakit. Kenapa tiba-tiba berubah jadi 500 juta, 350 juta dari mana?" suaranya bergetar hebat karena menahan tangis. Kedua penagih itu tertawa meremehkan, tawa kasar yang bergema memuakkan di ruangan mewah tersebut. Kamu ini bodoh atau apa, Nyonya?” sentak preman yang berbadan lebih besar. “Itu namanya bunga pinjaman bulanan dan denda keterlambatan! Kalau kamu tidak sanggup bayar, jangan sok-sokan meminjam uang!” Mata mereka kemudian memperhatikan sekujur tubuh Diana, menikmati pemandangan paha mulus dan belahan dada wanita matang itu. Diana langsung menundukkan kepalanya, berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh. Selama dua tahun terakhir, hidupnya memang terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung usai. Suaminya lumpuh, kondisi mentalnya hancur, dan pelariannya pada kebiasaan belanja demi meredakan stres justru menjebaknya dalam lintah darat. Awalnya hutang itu memang hanya seratus lima puluh juta, tapi sekarang angkanya membengkak secara tidak masuk akal. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa, selain berharap ada seseorang yang akan menolongnya. "Kalau gak bisa bayar cash hari ini, semua aset di rumah ini akan kami sita! Atau..." Preman botak itu menjilat bibirnya, menunjukkan dia sudah bernafsu. Maju memangkas jarak, preman itu menjulurkan tangan, ingin meraih pinggang Diana "...membayar pakai badanmu malam ini juga cukup untuk menutupi cicilan bulan ini, Nyonya. Membayangkan tubuhmu menggeliat di bawahku, rasanya pantas dihargai mahal, apalagi kamu sangat cantik." Mendengar ancaman tersebut, Diana semakin merapatkan pelukannya pada tubuhnya sendiri. “Aku pasti akan bayar, tapi tolong... berikan aku waktu tambahan sedikit lagi.” Tepat ketika kedua penagih itu melangkah maju untuk memojokkan Diana lebih jauh, suara tepukan tangan yang pelan namun berirama terdengar dari arah belakang. "Apa yang mau kalian sita?" tanya Bambang, seraya berjalan mendekat ke arah Diana dan dua preman itu. “Siapa kamu?!” teriak si preman besar, tampak tidak suka ada orang yang berani mencampuri urusan mereka. Bambang melirik sekilas ke arah Diana, lalu tersenyum miring. “Aku? Itu tidak penting untuk sekarang. Jawab saja dulu pertanyaanku tadi, apa yang mau kalian sita dari Nyonya-ku yang cantik ini?!” “Tentu saja rumah mewah ini yang akan kami sita!” jawab preman kedua dengan nada sombong. “Kalian punya sertifikat rumah ini sampai berani mau menyita?” balas Bambang santai. “Tentu saja kami punya hak. Kami memegang dokumen perjanjian utangnya dan jelas sekali bahwa Si Matre ini tanda tangan kesepakatan!” Si preman besar langsung mengacungkan sebuah map berisi kertas ke udara. Bambang mengernyitkan dahinya, lalu bertanya memastikan. “Jadi, kalian datang kemari dan berteriak-teriak hanya bermodalkan selembar dokumen perjanjian itu?” Kedua penagih itu mengangguk, tapi sorot mata mereka tampak menantang, seolah siap untuk menghajar Bambang jika ia berani melawan. Melihat respons mereka, Bambang menghela napas panjang. Dalam hitungan detik, ia sudah melesat dan berada tepat di depan si preman besar. BUGH! Tanpa aba-aba sedikit pun, tinju kanan Bambang melayang dengan kecepatan penuh dan menghantam wajah pria itu. Preman bertubuh besar itu langsung terlempar ke belakang dan jatuh menghantam lantai dengan keras. Rekannya yang terkejut mencoba untuk ikut menyerang, namun sebuah tendangan telak dari Bambang lebih dulu bersarang di dadanya. Pria itu pun ikut tersungkur menahan sakit, persis seperti preman botak yang berbadan kekar tadi. Keadaan berbalik sepenuhnya. Bambang mengambil dokumen kontrak yang tadi terjatuh dari tangan mereka, lalu membacanya sekilas. “Bukankah kalian berdua ini benar-benar hebat? Mirip sekali dengan tukang sulap. Jika kalian bisa melipatgandakan uang secepat ini, boleh ajari aku caranya?” Kedua penagih itu terdiam karena pukulan Bambang. Tubuh mereka menolak untuk diajak berdiri setelah menerima pukulan telak barusan. “Biar kutebak,” lanjut Bambang dengan suara tegas. “Jika pinjaman pokok seratus lima puluh juta bisa berubah menjadi lima ratus juta hanya dalam enam bulan, maka bunga yang kalian tetapkan pasti 23 persen per bulan. Ditambah dendanya 93 persen. Benar, kan?” Mereka hanya bisa saling pandang dengan tatapan merinding. “Lagipula, draf perjanjian ini bentuknya sudah seperti dokumen palsu. Kertas ini tidak akan punya kekuatan hukum apa pun untuk menyita rumah ini,” Bambang mendengkus pelan lalu kembali berdiri tegak. Ah, ia sampai lupa mengecek kondisi majikannya. "Kamu nggak apa, Nyonya? Ada yang luka, apa ada yang berkurang darimu karena " tanyanya sambil menoleh, mencoba menyeringai untuk menenangkan. Diana masih mematung di tempatnya. Kejadian barusan berlangsung sangat cepat sehingga otaknya masih memproses apa yang sedang terjadi. Setelah mencemooh, Bambang lalu menunduk menatap mereka. “Kenapa diam saja? Aku yang salah hitung, atau kalian yang terlalu bodoh dan hanya mengandalkan badan kekar kalian untuk mengancam?” Bambang sudah sangat paham dengan pola seperti ini. Sebagai lulusan hukum dan pernah bekerja seabgai seorang konsultan, dia sering menangani kasus perpinjolan setiap bulan, masalah pinjaman online ilegal adalah makanan sehari-harinya. Ia tahu persis bahwa dua kecoak busuk di depannya ini hanyalah pesuruh biasa yang tidak akan berani bertindak lebih jauh. Lebih baik ia selesaikan sekarang daripada masalahnya melebar ke mana-mana. "Kalian lihat ini," ucap Bambang datar. Video itu menampilkan dengan jelas rekaman dari kamera CCTV saat mereka berdua mengancam dan memeras Diana, bahkan hampir melecehkannya secara fisik. Melihat bukti tersebut, salah satu preman mencoba menggapai ponsel Bambang dengan panik. Namun tanpa ampun, Bambang langsung menginjak tangan preman itu kuat-kuat. “Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Aku memegang bukti dokumen palsu kalian, ditambah rekaman video ancaman dan percobaan pemerasan ini. Aku bisa saja melaporkan masalah ini pada Otoritas Keuangan dan polisi hari ini juga. Tapi, kebetulan aku sedang berbaik hati.” Bambang diam sejenak, lalu meneruskan kalimatnya. “Anggap pukulan tadi hukuman untuk kalian karena telah membuat Nyonyaku menangis. Oh iya, perihal hutang, aku akan membayar sesuai nominal utang pokok, tanpa bunga dan denda gila yang tercantum di sini.” Bambang menyodorkan layar ponselnya, menunjukkan bukti transfer yang baru saja diproses. “Utangnya lunas. Ingat, jangan pernah berpikir untuk kembali ke rumah ini lagi, kalian dengar ancamanku ini, kan!?” ancam Bambang sambil menyeringai dingin. Mendengar ancaman itu, kedua penagih utang tersebut langsung bangkit dan berlari tunggang-langgang keluar dari rumah Diana. Setelah suasana kembali sepi, Diana yang sedari tadi masih shock karena menahan beban emosinya akhirnya tidak kuat lagi. Tubuhnya merosot dan jatuh ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Rasa malunya jauh lebih besar, karena aib yang selalu ia sembunyikan kini malah diketahui oleh Bambang. Melihat wanita itu menangis, Bambang melangkah perlahan mendekati Diana, memeluknya, dan mengelus kepalanya. Sebagai wanita rapuh yang 2 tahun tidak pernah mendapat belaian suami, Diana mulai merasakan kenyamanan itu pada diri Bambang. Bahkan, andai Bambang mencium keningnya, Diana tidak akan melawan, sebagai ucapan terima kasih. Diana tahu Bambang tidak mau melakukan hal di luar batas kewajaran itu, mengingat Bambang membawa moral hutang nyawa suaminya. Karena itulah, Diana melepas pelukan dan…Sudah hampir 3 hari Bambang di rumah sakit, setelah mengalami demam tinggi. Setelah Bianca meninggalkannya sendirian dan Bambang menelan obatnya. Ternyata Bambang memejamkan matanya, panasnya tidak kunjung reda malah tambah tinggi.Diana yang awalnya mau menanyakan Bambang tentang kunjungan dokter selanjutnya kepada Bambang, membuka pintu kamar Bambang dan melihat Bambang yang sudah menggigil kedingin mengigau nama seseorang.“Kakek Ron… Kakek Ron..” Diana tanpa pikir panjang langsung menelpon Bianca. Itu pertama kalinya dia menelpon anak tirinya itu.Tuuut.. tuttt..“Halo, ada apa sih?” tanya Bianca dari telepon, seperti biasa ia masih sangat judes kepada Diana.Diana tidak mengambil pusing saat ini karena dia sudah amat sangat panik dengan kondisi Bambang, “Bianca, tolong mama… Mas Bambang badannya panas banget ini loh, Mama gak tahu harus apa…” Jantung Bianca seperti tersambar petir, padahal tadi ia sudah memberikan obat penurun demam kepada Bambang, kenapa masih tak kunjung reda
Setelah itu Bambang hanya mengingat dirinya dibawa ke kantor polisi dan membuat sok 1 panti. Ia juga dihajar habis-habisan oleh ayah Rusdi. Seperti kata Rosyid sebelumnya, keluarga Rusdi itu keluarga terpandang, sebaiknya tidak pernah membuat masalah dengan Rusdi.Bambang kembali dengan tubuh babak belur, penuh dengan ancaman dan hinaan. Ia menggigil, tidak menjawab dengan semua ancaman yang dilantamkan kepadanya. Sampai di panti pun ia masih dicaci maki oleh pihak panti. Ia bahkan diancam akan dibuang jika tidak menjadi anak yang penurut lagi.Bambang pun mendapatkan skorsing dari pihak sekolah selama 1 bulan full, begitu pula dengan pihak panti yang mengurungnya di asrama dan hanya diberi makan 1X sehari. Bambang hanya bisa menahan rasa lapar dan hausnya setiap hari. Ia duduk di sudut kamarnya, menunggu siapapun mengajaknya berbicara tapi tidak ada yang berani mendekat ke arah kamarnya.Bambang merasa benar-benar terjatuh. Dia hanya anak kelas 3 SMP yang masih memasuki masa puber, k
“Kamu gila, Mbang?” Rosyid membelalakkan matanya tidak percaya dengan pilihan Bambang yang segila itu. Ia menepuk pundak Bambang sekali lagi, memastikan Bambang benar-benar yakin akan melakukan hal ekstrim seperti itu. Bambang hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memang sudah memiliki niat. Ia bahkan dengan santai lanjut makan bekalnya tidak menghiraukan Rosyid yang menggelengkan kepalanya tidak percaya.“Seriuslah Mbang, yang kamu lawan itu si Rusdi. Kakak kelas kita yang dikenal rajanya tawuran. Orang tuanya itu polisi, Mbang. Udahlah mending gak usah ya,” pinta Rosyid dengan memohon kepada Bambang agar tidak mencari keributan dengan Rusdi.Bambang menepis Rosyid, “Kenapa? Kamu di pihak Rusdi atau aku?” Rosyid menggarukkan kepalanya, ia benar-benar bingung kali ini. Ia jelas memilih Bambang tapi ia tidak bisa menjamin nasib Bambang ke depannya jika berurusan dengan Rusdi.“Mbang, plis lah pikiran sekali lagi.”Bambang tidak merespon, ia malah menutup kotak bekalnya dan me
Kakek Ron menatap Bambang yang memohon padanya, ia lalu memegang pundak Bambang dan duduk di sebuah kursi tua yang sudah hampir ambruk. “Kenapa sebenarnya? Ini masalah percintaan atau apa?” tanya Kakek Ron, Bambang duduk di sebelah kursi yang Kakek Ron duduki. “Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku bukan orang yang lemah dan mudah dimanfaatkan, Kek!” ujar Bambang, ia memainkan tangannya. “Bela diri itu baik untuk dipelajari, tapi kamu hanya bisa menggunakannya untuk membela dirimu saat kamu sedang tersudut bukan untuk melawan atau membully orang yang tidak bersalah,” jelas Kakek Ron. Bambang mendangakkan kepalanya menatap Kakek Ron. “Tentu saja aku ingin membela diriku, Kek. Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku ini juga pantas untuk dihargai dan tidak takut meski mereka jauh lebih tua dariku.” Penjelasan itu cukup membuat Kakek Ron menganggukkan kepalanya, ia memainkan janggutnya yang panjang itu seolah sedang mempertimbangkan pemintaan Bambang. “Aku bisa saja mengajarim






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews