共有

Bab 16

作者: Caca
last update 公開日: 2026-07-13 05:46:23

Denting gelas dan alunan lembut musik klasik memenuhi aula megah Kediaman Castello malam itu. Para tamu yang mengenakan busana mahal saling bertukar senyum dan berbincang sopan, membahas proyek bisnis, investasi baru, serta kehidupan pribadi para tokoh terkemuka yang menghadiri gala amal tahunan tersebut.

Aixa berdiri di dekat meja minuman, jemarinya menggenggam erat segelas jus jeruk yang bahkan belum sempat ia sentuh. Gaun biru tua yang dikenakannya membuatnya tampak anggun. Rambut hitam panj
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 79

    Napas Baru di Tengah Badai Keheningan yang pekat merayap masuk ke dalam kamar utama saat Marco membungkuk hormat lalu melangkah keluar secara perlahan, menutup pintu kayu tebal itu tanpa suara. Kini, hanya tinggal Aixa dan Fernando yang tersisa di ruangan yang luas itu. Aixa masih duduk di tepi ranjang, mencengkeram lembaran surat pembatalan medis di tangannya. Kertas putih itu terasa begitu ringan, namun dampak yang dibawanya seolah mengguncang seluruh peta kehidupannya di Mansion Castello. Di ambang pintu, Fernando berdiri membisu. Pria itu tampak sangat lelah—garis-garis keletihan tercetak jelas di sekitar matanya, dan kemeja putihnya yang sedikit kusut menjadi saksi bisu betapa sengitnya perang kata-kata yang baru saja ia lewati bersama ibunya di lantai bawah. Aixa perlahan mengangkat pandangannya. Matanya yang sembap menatap sosok pria yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. "Fernando..." bisik Aixa lirih. Suaranya serak, menahan gelombang emosi yang mendesak di kerongko

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 78

    pengorbanan Seorang Castello Bisikan Fernando di atas balkon malam itu meninggalkan jejak kebingungan sekaligus riak ketegangan yang amat pekat di dada Aixa. Kata-kata itu bergema bagai janji terselubung—sebuah komitmen berbahaya yang menantang pondasi utama dinasti Castello. Malam itu, Aixa kembali tak mampu memejamkan mata, namun bukan lagi karena rasa mual atau ketakutan akan jarum suntik, melainkan karena rasa cemas menanti badai yang dipastikan meletus esok hari. Pagi menyingsing dengan awan kelabu yang menggantung rendah di atas Mansion Castello. Keheningan rumah megah itu terasa jauh lebih pekat, seolah setiap sudut ruangan menyimpan ancaman yang siap meledak sewaktu-waktu. Pukul delapan pagi tepat, Fernando telah berada di ruang kerja utama mansion. Ruang kerja berpanel kayu mahoni yang biasanya menjadi tempat eksekusi keputusan-keputusan bisnis penting itu kini berubah menjadi medan pertempuran keluarga. Fernando duduk tegap di balik meja besarnya, sementara Dokter Elena b

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 77

    Keputusan Malam Hari Ancaman Sovia bergema di setiap sudut ruang kerja, bagaikan gema lonceng kematian yang dingin. Nama Elio—anak laki-laki yang menjadi pusat dunia Fernando—dipertaruhkan tanpa belas kasihan. Sovia Castello tahu betul di mana letak kelemahan terbesarnya, dan wanita itu baru saja menusukkan belati tepat di titik paling rapuh tersebut. Namun, alih-alih menunjukkan kepanikan atau ketakutan, Fernando justru menegakkan tubuhnya. Rahangnya mengeras begitu ketat hingga otot-otot di sepanjang lehernya bertaut. Matanya menyipit, memancarkan kilatan aura berbahaya yang amat dingin—sebuah tatapan yang jarang ia perlihatkan, bahkan di hadapan ibunya sendiri. "Cobalah, Momy," bisik Fernando. Suaranya tidak lagi menggelegar, namun nada rendah itu dipenuhi oleh ancaman yang jauh lebih mengerikan. "Gunakan seluruh pengacara terbaik yang Momy miliki. seret nama Castello ke lumpur pengadilan, dan tengok saja siapa yang akan kehilangan segalanya lebih dulu. Momy pikir aku masih pria

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 76

    Retakan pada Dinding Ketegasan Kalimat terakhir yang diucapkan Aixa menggantung di udara seperti bilah pisau yang tajam dan dingin. *“Aku mulai benci melihat diriku sendiri setiap kali aku berdiri di sisimu, Fernando.”* Ruang konsultasi bernuansa putih itu seketika terasa mencekik. Dokter Elena menundukkan pandangannya, enggan ikut campur dalam badai emosi yang mendadak meledak di antara pasangan tersebut. Sementara itu, Fernando tetap membeku di kursinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Fernando Castello—pria yang terbiasa mengendalikan jalannya negosiasi bisnis bernilai miliaran—ia kehilangan kata-kata. Dadanya terasa berdenyut nyeri, dihantam oleh kenyataan telanjang yang baru saja dilontarkan perempuan di sebelahnya. Aixa tidak menunggu balasan. Tanpa mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya, ia berdiri mendadak, menyambar tas tangannya, dan melangkah lebar keluar dari ruang konsultasi. Langkah kakinya yang tergesa-gesa bergema di sepanjang lorong rumah s

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 75

    Di Ujung Batas Pagi itu, Mansion Castello diselimuti suasana yang lebih dingin dan tenang dari biasanya—sejenis ketenangan semu yang justru menyimpan badai di baliknya. Suara denting sendok yang beradu pelan dengan piring porselen menjadi satu-satunya bunyi yang memecah keheningan di ruang makan megah tersebut. Aixa duduk kaku di kursi kayu mahoni berukir. Di depannya, secangkir teh chamomile hangat yang disiapkan pelayan mulai kehilangan uapnya. Wajah perempuan itu terlihat sangat pucat, hampir menyatu dengan warna gaun kasualnya yang pudar. Lingkaran hitam samar di bawah matanya menjadi saksi bisu bahwa tidur nyenyak telah menjadi kemewahan yang mustahil baginya selama bertiga-tiga minggu terakhir. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan jarum suntik, bau antiseptik rumah sakit, dan angka-angka kadar hormon yang terus menghantuinya selalu berhasil memaksa matanya kembali terbuka. "Nyonya, Anda harus menghabiskan setidaknya separuh dari sarapan Anda," ujar Marco, kepala pelayan s

  • Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama   Bab 74

    Dua Hati di Ujung Tanduk Aixa menutup pintu balkon dengan gerakan amat halus, tetapi gema engsel yang bergeser terasa begitu nyaring menyayat heningnya kamar utama. Senyum tipis nan pahit yang sempat menghiasi bibirnya kini memudar sepenuhnya, menyisakan kekosongan yang membiru di matanya. Ia berjalan lambat menuju meja rias pualam, duduk di depan cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya: seorang wanita muda berpakaian hangat, namun memiliki pandangan mata yang telah mati rasa. Di luar, Fernando masih berdiri terpaku di balik kaca transparan. Angin malam yang kian berembus kencang meniup kemeja putihnya yang tak terkancing sempurna, menghantarkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun rasa dingin dari udara luar itu sama sekali tak sebanding dengan kekosongan aneh yang mendadak melingkupi dadanya. Pria itu menatap punggung Aixa dari balik kaca. Ada dorongan hebat di dalam dirinya untuk memutar gagang pintu, melangkah mendekati istrinya, dan menyuarakan seluruh pergo

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status