Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama

Obsesi Terlarang Menikah Kontrak Dengan Pama

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-05
Oleh:  CacaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
9Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Blur PERINGATAN: Cerita ini mengandung unsur dewasa/erotika (21+). Harap bijak dalam membaca. "Aku masih suci. Aku siap jadi istri kontrakmu, asalkan kau bayar sekarang!" Di bawah badai Madrid, Aixa Morales Vega menjual dirinya pada pria asing bermata elang. Malam itu, ia tidak hanya dikhianati oleh Elio—kekasih yang memanfaatkan otaknya—tapi juga terdesak maut demi biaya operasi adik laki-lakinya. Aixa mengira ini hanya pernikahan kontrak tanpa cinta. Pria itu pun mengira Aixa hanyalah gadis desa matre yang rendahan. Namun, takdir mempermainkan mereka. Pria misterius itu ternyata Fernando Castello Ortega, miliarder terkuat di Spanyol sekaligus paman kandung Elio-mantan kekasihnya. Saat rahasia terbongkar, pernikahan kontrak ini berubah menjadi obsesi terlarang yang panas, posesif, dan berbahaya. Paman dan keponakan kini saling berebut untuk menguasai tubuh dan jiwanya. Bagaimana kisah selanjutnya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

“Jadi, si gadis desa beasiswa itu benar-benar mengira kamu mencintainya, Elio?” Suara tawa melengking itu memotong alunan musik jazz di dalam ruangan privat Bar Velvet, salah satu bar paling eksklusif di pusat kota Madrid.

Aixa Morales Vega membeku di depan pintu kayu jati yang sedikit terbuka. Kotak kado beludru marun di genggamannya mendadak terasa seberat batu, meremukkan jemarinya yang mulai mati rasa karena dingin. Malam ini adalah perayaan hari jadi mereka yang kedua. Aixa sengaja menghemat uang sakunya demi membeli bahan rajutan, dan menghabiskan malam-malam tanpa tidur untuk membuatkan sebuah syal hangat untuk Elio Santiago Alvarez. Namun, justru dirinyalah yang mendapat kejutan yang menghancurkan hidupnya malam ini.

“Ya! Dia mengira aku mencintainya padahal aku sama sekali tidak mencintainya,” sahut sebuah suara yang sangat Aixa kenali. Suara Elio.

“Kalau dia tidak pintar dan tidak bisa menjamin nilai-nilai kuliahku tetap sempurna, aku tidak akan sudi bertahan dua tahun dengannya. Dia itu membosankan.”

Gelak tawa kembali pecah dari teman-teman jetset Elio.

Elio duduk di sofa kulit mewah. Tangannya dengan santai merangkul pinggang seorang wanita anggun bergaun satin hitam yang memancarkan aura kemewahan—Catalina Rios Mendoza. Cinta pertama Elio yang baru saja kembali dari studinya di Inggris.

“Tapi dia cukup tangguh untuk ukuran gadis miskin dari desa,” celetuk salah satu teman kuliah Elio sambil menenggak minumannya. “Lihat saja bagaimana dia bekerja paruh waktu di kafetaria kampus dan masih bisa mempertahankan indeks prestasi sempurna. Dia seperti mesin pengisi nilai gratisanmu, Elio.”

“Tangguh atau tidak, tempatnya bukan di lingkungan kita,” timpal Catalina dengan nada malas yang merendahkan. Jarinya yang dihiasi manikur mahal mengusap rahang Elio dengan manja. “Sekarang aku sudah pulang, Elio. Kamu tidak perlu lagi berpura-pura mencintainya.”

Braakk!

Pintu kayu berat itu terbuka kasar, menghantam dinding hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema. Seluruh tawa di dalam ruangan seketika tercekik.

Aixa melangkah masuk. Pakaiannya sedikit lembap oleh rintik hujan, kontras dengan gaun-gaun malam desainer ternama yang dikenakan para wanita di dalam ruangan itu. Namun, tidak ada keraguan dalam langkahnya. Kepalanya tegak, punggungnya lurus. Matanya yang jernih menatap lurus pada pria yang selama dua tahun ini dia panggil dengan sebutan kekasih.

“Jadi, dua tahun ini aku hanya dijadikan alat demi nilai kuliah, Elio?” tanya Aixa.

Elio sempat terkejut, tubuhnya menegang di sofa. Namun, melihat teman-temannya dan terutama Catalina yang sedang memperhatikannya, ekspresi pria itu dengan cepat berubah menjadi dingin, angkuh, dan acuh tak acuh. Ia bahkan tidak beranjak dari posisinya yang sedang bersandar.

“Oh, lihat siapa yang datang. Si Genius Miskin,” ejek Catalina, berdiri dari sofa dan berjalan mendekati Aixa dengan langkah yang dibuat-buat anggun. “Aixa, sadarlah. Berkaca di cermin sebelum kamu datang ke tempat seperti ini. Gaun murah yang kamu pakai—yang sepertinya dibeli dari pasar loak desa—bahkan tidak lebih mahal dari harga segelas es batu di bar ini. Kamu tidak pantas berada di sini, apalagi berdiri di samping Elio.”

Catalina sengaja mengayunkan lengannya, menyenggol bahu Aixa dengan kasar saat melewati gadis itu. Sentuhan itu membuat kotak kado di tangan Aixa terlepas dan jatuh ke lantai. Penutupnya terbuka, menampilkan syal rajutan berwarna marun yang kini berguling di atas lantai yang kotor oleh tumpahan alkohol dan abu rokok.

“Jangan sentuh barangku,” desis Aixa, suaranya mendalam dan tajam seperti mata pisau. Tatapannya menghujam langsung ke manik mata Catalina tanpa ada rasa takut sedikit pun.

“Barang sampah seperti ini?” Catalina tertawa renyah, lalu dengan sengaja menginjak syal rajutan itu dengan tumit sepatu hak tingginya, memutarnya hingga kain rajutan yang dibuat Aixa dengan penuh cinta itu menjadi hitam dan koyak. “Oops, sengaja.”

Darah Aixa berdesir panas. Harga dirinya yang selama ini dia jaga di tengah kemiskinan diinjak-injak dengan begitu kejam. Tanpa peringatan, Aixa maju satu langkah, mencengkeram pergelangan tangan Catalina dengan sangat kuat hingga wanita manja itu memekik kesakitan.

“Aku mungkin miskin, dan aku mungkin berasal dari desa yang jauh dari kemewahan kotamu,” ucap Aixa, setiap kata ditekankan dengan emosi yang membakar. “Tapi aku tidak pernah mengemis harga diri. Aku tidak pernah merendahkan diriku untuk menjadi parasit yang memanfaatkan otak orang lain demi kelulusan, dan aku tidak sekotor wanita yang dengan bangga memamerkan diri sebagai perebut kekasih orang! Simpan uang dan kesombonganmu, Catalina. Karena di mataku, moralmu jauh lebih murah daripada kain lap di bar ini!”

“Kurang ajar! Lepaskan aku!” jerit Catalina panik karena cengkeraman Aixa yang tak tergoyahkan.

Plak!

Sebuah tangan kekar menyentak lengan Aixa, dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Aixa. Bukan dari Catalina, melainkan dari Elio. Tamparan itu begitu kuat hingga sudut bibir Aixa pecah, mengeluarkan setitik darah hangat.

“Cukup, Aixa!” bentak Elio, berdiri melindungi Catalina yang langsung berakting ketakutan di belakang punggungnya. Elio menatap Aixa dengan pandangan penuh kejijikan, seolah-olah Aixa adalah hama yang mengotori hidupnya. “Pergilah! Hubungan kita sudah selesai sejak malam ini. Nilai semester akhirku sudah keluar, indeks prestasiku aman, dan aku tidak lagi membutuhkan otakmu. Lagipula, sejak awal cintaku hanya untuk Catalina. Kamu itu tidak lebih dari sekadar alat, budak gratisan yang bodoh karena mau percaya pada bualan cinta pria dari kasta yang berbeda denganmu.”

Untuk membuktikan kata-katanya di depan teman-temannya sekaligus mematikan seluruh harapan yang tersisa di hati Aixa, Elio membalikkan badan. Ia menarik pinggang Catalina dengan posesif, menundukkan kepalanya, dan langsung mencium bibir wanita itu dengan panas di hadapan semua orang.

Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh langsung menggema di dalam ruangan privat itu. Mereka menertawakan Aixa, menikmati tontonan penghinaan yang begitu keji terhadap seorang gadis berumur 19 tahun.

Pipi Aixa terasa panas dan perih, namun hatinya jauh lebih kebas. Pria yang selama ini dia rawat saat sakit, pria yang selalu dia buatkan bekal, pria yang dia percayai sebagai tempat bersandar setelah orang tuanya tiada... ternyata hanyalah seekor monster berwajah tampan.

Aixa menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis di depan mereka. Dengan sisa-sisa martabat yang dia miliki, Aixa membalikkan badan, meninggalkan ruangan jahanam itu dengan langkah yang tegap, mengabaikan tawa mengejek yang terus mengiringi langkah kakinya.

Begitu melangkah keluar dari Bar Velvet, badai hujan yang dahsyat langsung menerpa tubuh Aixa. Angin malam yang menusuk tulang menyapu gaun tipisnya, membuat tubuhnya gemetar hebat. Di bawah guyuran air yang seolah ikut menangisi nasibnya, air mata Aixa akhirnya tumpah, berbaur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Di tengah gemerlap dan dinginnya kota Madrid, Aixa merasa benar-benar hancur dan sendirian.

Di tengah deru angin dan guntur, ponsel usang di dalam tas kainnya berdering nyaring. Dengan jari-jari yang bergetar hebat karena kedinginan dan syok, Aixa meraba tasnya dan mengangkat panggilan itu. “Ha-halo?”

“Apakah ini dengan Nona Aixa Morales Vega? Kami dari Rumah Sakit Pusat Madrid,” suara seorang perawat di seberang sana terdengar sangat mendesak dan panik. “Adik Anda, Leo, baru saja mengalami serangan gagal jantung akut akibat komplikasi penyakitnya. Kondisinya sangat kritis dan dia harus segera masuk ke ruang operasi malam ini juga!”

Jantung Aixa seolah berhenti berdetak. Dunianya yang baru saja retak, kini runtuh sepenuhnya menjadi kepingan tak berbentuk. “Operasi? Suster, saya mohon... lakukan operasinya sekarang. Selamatkan adik saya!”

“Nona Aixa, biaya deposit awal untuk operasi jantung darurat dan sewa alat pacu jantung khusus ini adalah lima puluh ribu euro. Manajemen rumah sakit membutuhkan konfirmasi pembayaran atau bukti transfer dalam waktu maksimal dua jam dari sekarang. Jika tidak ada jaminan finansial, kami tidak bisa melanjutkan tindakan operasi. Ini sudah regulasi mutlak.”

“Lima puluh ribu euro?!” Pekikan Aixa tertelan oleh suara petir. Uang dari mana? Tabungannya sebagai pekerja paruh waktu bahkan tidak sampai lima ratus euro. “Suster, saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang... tolong saya, saya mohon demi Tuhan! Leo baru sepuluh tahun, dia satu-satunya keluarga yang saya miliki di dunia ini! Jangan biarkan dia mati, saya pasti akan mencari uangnya, saya akan mencicilnya seumur hidup saya!”

Aixa berlutut di atas trotoar yang dingin dan basah. Air matanya mengalir deras, menyatu dengan genangan air hujan. Ia memohon hingga suaranya serak, melupakan semua ketangguhan yang baru saja ia tunjukkan di dalam bar. Namun, dunia ini terlalu kejam untuk mendengar tangisan gadis miskin.

“Maaf, Nona. Waktu Anda hanya dua jam. Jika tidak ada pembayaran, kami hanya bisa memberikan perawatan paliatif seadanya.” Sambungan telepon itu terputus dengan suara *klik* yang dingin.

“Leo... Leo, jangan tinggalkan Kakak...” Aixa mendekap ponselnya di dada, tubuhnya meringkuk di atas trotoar, terguyur hujan deras. Pikirannya buntu. Elio baru saja mencampakkannya, adiknya sedang sekarat menantang maut, dan dia tidak memiliki siapa pun untuk dimintai tolong.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status