Mag-log inSelama lima tahun, Aluna mencintai CEO-nya dalam diam, sampai suatu hari pria itu tiba-tiba melamarnya tanpa sedikit pun tahu bahwa hatinya telah lama menjadi milik sang CEO. Nael San Diego hanya membutuhkan seorang istri untuk memenuhi tuntutan neneknya, sementara Aluna masih memiliki Rafael, mahasiswa dua puluh tahun yang baru sebulan mengajarinya bagaimana rasanya dicintai. Pernikahan Aluna dan Nael dirahasiakan, tetapi takdir justru mempertemukan Rafael dengan Nael ketika pemuda itu diterima sebagai anak magang di perusahaan sang suami. Di antara pernikahan yang tak boleh diketahui dan cinta yang tak sempat diakhiri, berapa lama Aluna mampu menyembunyikan bahwa suami dan pacarnya kini bekerja di bawah atap yang sama?
view more"Aluna, menikahlah denganku."
Pulpen hitam di tangan Aluna mendadak berhenti bergerak.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Ia masih berdiri membeku di depan meja kerja jati milik Nael San Diego, merengkuh map laporan keuangan cabang Eropa di dada. Pria di hadapannya bahkan tidak sudi mengangkat kepala. Tatapan matanya yang dingin tetap terpaku pada lembar angka yang sejak lima menit lalu diperiksanya. Di balik jendela kaca besar lantai dua belas, lanskap kota Paris yang diselimuti kabut tipis musim gugur membentang luas, tetapi kehangatan di ruangan itu seolah lenyap seketika.
Aluna berkedip lambat. Mengumpulkan kesadarannya yang meraba-raba kekosongan.
Mungkin desis pendingin udara kantor yang menghembuskan angin dingin Paris membuat pendengarannya terganggu.
"Maaf, Tuan Nael?" bisik Aluna, suaranya serak bergetar.
Nael membalik halaman dokumen dengan gerakan santai. Suara gesekan kertas kraf terdengar begitu keras di ruangan kedap suara itu.
"Aku bilang, menikahlah denganku."
Jantung Aluna seolah terlepas dari tangkainya dan jatuh bebas. Darahnya berdesir hebat, membuat ujung-ujung jarinya dingin seketika.
Lima tahun.
Selama lima tahun penuh bekerja sebagai sekretaris pribadi Nael San Diego di kantor pusat kawasan Rue de la Paix, Aluna sudah terbiasa menerima perintah kerja harian yang terdengar jauh lebih menakutkan daripada sebuah lamaran.
Jadwalkan ulang rapat direksi.
Batalkan makan malam dengan investor Prancis.
Hubungi klien cabang Singapura sekarang.
Siapkan seluruh revisi laporan sebelum pukul tujuh pagi.
Namun, tidak pernah sekalipun dalam mimpi terliarnya, Aluna membayangkan akan mendengar kalimat sakral itu meluncur dari bibir pria yang selama lima tahun ini diam-diam ia cintai dalam kesunyian.
Nael akhirnya meletakkan pulpen Montblanc mewahnya di atas meja. Suara ketukan ringan logam pada permukaan kayu jati memecah hening.
"Ini bukan pernikahan kontrak," ujar Nael tenang, tanpa nada ragu. "Aku membutuhkan istri yang sah secara hukum."
Aluna tetap membisu. Bibirnya terkunci rapat, tenggorokannya mendadak terasa sekering padang pasir.
Nael perlahan mengangkat pandangannya. Netra hitam pekat itu menatap Aluna lurus, dingin, dominan, dan tajam. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia baru saja mengguncang seluruh fondasi hidup perempuan di depannya.
"Dan kau adalah wanita yang paling tenang serta rasional di antara semua orang yang kukenal," lanjut Nael.
Genggaman Aluna pada map tebal itu semakin mengetat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa saya?" tanya Aluna memaksakan suaranya keluar.
"Karena kau tidak merepotkan."
Jawaban itu terlempar begitu saja. Terasa seperti tamparan keras yang menyengat pipi, namun di saat bersamaan menyisipkan rasa perih atas profesionalisme yang selama ini ia agungkan.
Nael kembali menunduk, menatap barisan angka di mejanya seolah percakapan ini hanyalah pembahasan agenda harian biasa.
"Nenekku terus mendesakku untuk segera menikah tahun ini," kata Nael tanpa beban. "Aku tidak punya waktu untuk mencari seseorang dari awal, berkencan, lalu menjalani hubungan emosional yang belum tentu berakhir di pelaminan."
Aluna menelan ludah dengan susah payah. Rasa pahit menjalar di pangkal lidahnya.
"Jadi... Tuan memilih saya?"
"Ya."
Sesederhana itu.
Lima tahun perasaan yang ia simpan rapi dalam doa-doa sunyinya, kini diringkas Nael menjadi satu kata tak beremosi.
"Tuan..." Suara Aluna nyaris tenggelam oleh deru hembusan udara hangat ruangan. "Saya boleh meminta waktu untuk berpikir?"
Nael melirik jam tangan Rolex perak di pergelangan tangan kirinya.
"Berapa lama?"
"Sehari."
"Tidak."
Aluna spontan mengangkat wajahnya.
Nael bersandar santai pada kursi kulitnya, menopang dagu dengan jari-jemarinya yang panjang.
"Aku akan menunggu jawabanmu sampai sore ini," tegas Nael, suaranya tak terbantahkan. "Kalau kau keberatan atau merasa ragu, aku akan mencari wanita lain."
Dada Aluna mendadak sesak. Kalimat terakhir itu menghujam tepat di pusat kesadarannya.
Wanita lain.
Bayangan seorang perempuan lain berdiri di samping Nael, mengenakan gaun pengantin putih, menggandeng lengan tegap pria itu di hadapan media dan keluarga besar San Diego, membuat jemari Aluna mencengkeram map semakin kuat.
Lima tahun. Ia sudah menunggu momen ini selama lima tahun.
Dan sekarang, ketika pintu kesempatan itu terbuka lebar di depan matanya, ia justru memegang alasan moral untuk menolaknya.
Aluna menarik napas panjang, mengisap udara sebanyak-banyaknya untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.
"Kalau saya menerima... kapan pernikahannya?"
"Besok."
Jawaban itu datang terlalu cepat.
"Dan hingga waktu yang tidak ditentukan," tambah Nael dengan tatapan mengintimidasi, "kita akan merahasiakan pernikahan ini sepenuhnya dari publik dan seluruh karyawan perusahaan."
Aluna mengangguk perlahan.
Tidak akan ada pesta mewah bertabur bunga. Tidak ada masa pacaran yang manis. Tidak ada kencan romantis di tepi Sungai Seine seperti yang selama ini diam-diam ia imajinasikan sebelum tidur.
Hanya sebuah kesepakatan praktis berkedok pernikahan.
Namun bukankah cinta Aluna pada Nael memang selalu seperti itu? Rahasia, sepihak, dan tanpa pernah menuntut pembalasan.
"Baik."
Gerakan tangan Nael yang hendak mengambil pulpen mendadak terhenti.
"Apa?"
Aluna mengangkat wajah, menatap lurus mata hitam pria itu. Kali ini sebuah senyum tipis yang sangat samar terbit di bibirnya, meski dadanya bergemuruh hebat.
"Saya bersedia menikah dengan Anda, Tuan Nael."
Untuk pertama kalinya sepanjang pagi itu, ekspresi wajah Nael yang sekeras batu berubah. Alis tebalnya terangkat sedikit. Hanya sekilas, namun cukup bagi Aluna untuk menangkap sedikit celah emosi manusiawi di sana.
"Baik," sahut Nael, kembali menguasai raut wajahnya. "Mulai hari ini, kita urus semua berkas dan persiapan secara pribadi."
Aluna mengangguk patuh. Ia berbalik, bersiap melangkah keluar dari ruangan CEO yang megah itu ketika suara bariton Nael kembali memanggilnya.
"Aluna."
Aluna menghentikan langkah, menoleh ke belakang. "Ya, Tuan?"
Nael menatapnya dengan pendar mata yang sulit diartikan.
"Jangan memakai panggilan formal ketika kita sedang berdua saja."
Aluna membeku di tempatnya.
"Mulai sekarang, kau adalah calon istriku."
Kalimat singkat itu seketika meletupkan rasa panas yang menjalar cepat ke seluruh permukaan wajah Aluna. Pipinya memerah seketika.
Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah itu.
"Baik... Nael."
Entah mengapa, mengucapkan nama depan pria itu tanpa embel-embel jabatan untuk pertama kalinya terasa jauh lebih intim dan mendebarkan daripada yang pernah ia bayangkan.
**"KAU GILA!"
Suara pekikan nyaring Moly membuat Aluna hampir menyenggol cangkir latte hangatnya di atas meja hingga tumpah.
"Moly, pelankan suaramu!" bisik Aluna panik. Matanya memutar cepat, memindai sekeliling café kecil bernuansa hangat di daerah Le Marais itu. Beberapa pengunjung lokal sempat menoleh heran.
Moly menatap sahabatnya dengan mata membelalak lebar, membiarkan sendok kecilnya tergeletak begitu saja. Sebagai seorang content creator Indonesia yang tinggal di Paris, Moly dikenal dengan energinya yang meluap-luap, sangat berbanding terbalik dengan Aluna yang selalu menyimpan rapat perasaannya.
"Kau bilang CEO dinginmu itu tiba-tiba melamarmu pagi ini?" Moly mencondongkan tubuhnya melintasi meja kayu, berbisik histeris.
"Ya."
"Dan kau... kau langsung bilang iya?!"
Aluna mengangguk lambat.
Moly seketika menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Matanya berkedip-kedip cepat mencoba mencerna berita liar tersebut.
"Tunggu, tunggu sebentar." Moly menunjuk wajah Aluna dengan jari telunjuknya. "Lalu bagaimana dengan Rafael?!"
Pertanyaan tajam itu ibarat jarum yang menyengat tepat di titik terlemah Aluna.
"Aku tidak butuh persetujuanmu, Aluna.""Tapi aku belum siap!" suara Aluna bergetar hebat, napasnya memburu dramatis. "Ini keluarga besar San Diego! Bukankah seharusnya kau memberiku waktu untuk beradaptasi dulu? Aku bahkan belum menghafal silsilah keluargamu atau tata krama makan malam mereka!"Aluna menggenggam lengan jas Nael, tatapannya memohon penuh kegugupan. "Tolong, Nael... batalkan untuk malam ini. Berikan aku waktu beberapa hari,"Nael menggenggam pergelangan tangan Aluna, menatap lurus ke dalam manik mata perempuan yang kini resmi menjadi istrinya itu dengan dominasi mutlak."Tidak ada pembatalan," potong Nael dingin, tak tergerak sedikit pun oleh kepanikan Aluna. "Kau adalah Nyonya San Diego sekarang. Berdirilah di sampingku dan jalankan peranmu."**Mobil sedan hitam Nael meluncur membelah kegelapan malam Kota Paris menuju kawasan elit Neuilly-sur-Seine.Di kursi penumpang, Aluna meremas ponsel pribadinya di bawah pangkuan. Pikirannya kalut membayangkan Rafael yang mungki
"M-maaf Tuan Nael, kami masih menunggu penyesuaian dari tim auditor independen pagi ini..."Sebelum ketegangan itu membakar ruangan lebih jauh, Aluna melangkah maju satu langkah secara halus. Tanpa instruksi, dengan keanggunan profesional yang luar biasa, ia menyodorkan sebuah dokumen cetak berlaminasi tipis tepat di samping jemari Nael."Dokumen validasi auditor independen sudah keluar pukul delapan lima puluh pagi ini, Tuan," sela Aluna dengan nada suara yang sangat tenang, jernih, dan terukur. "Deviasi disebabkan oleh kenaikan tarif retribusi pelabuhan lokal. Saya sudah melampirkan lembar skenario mitigasi biaya di halaman tiga untuk persetujuan Anda."Nael mengalihkan pandangannya dari layar proyektor ke dokumen di mejanya, lalu menatap Aluna selama dua detik.Di mata pria itu, terpancar rasa percaya yang mutlak. Aluna tidak hanya bekerja; ia selalu membaca arah pikiran Nael dua langkah di depan orang lain. Tanpa Aluna, rapat ini bisa berubah menjadi ladang pembantaian profesional
"Kau membawa dokumen kependudukan yang kuminta semalam?"Suara bariton Nael memecah keheningan di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di tepi jalan Rue de Cortambert. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme teratur.Aluna mengangguk pelan, meremas tas tangannya di atas pangkuan. "Semua sudah ada di dalam map, Nael."Nael melirik jam tangan peraknya sekilas. "Bagus. Petugas Mairie sudah menunggu di dalam. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum aku harus memimpin rapat direksi."Aluna menatap bangunan Mairie du 16e arrondissement di hadapannya. Langit Paris pagi ini diselimuti kabut tipis, menghembuskan udara dingin yang menusuk hingga ke balik mantel tebalnya.Tidak ada gaun pengantin putih berenda. Tidak ada karangan bunga mawar. Bahkan tidak ada kerabat atau sahabat yang mendampingi."Mari masuk," ajak Nael singkat seraya membuka pintu mobil.Aluna menyulut napas panjang, melangkah mengekor di belakang punggung tegap
"Aku... aku akan memutuskan hubungan dengannya," cicit Aluna."Kapan?"Aluna menunduk, menatap uap tipis yang membumbung dari cangkir kopi hangatnya. "Secepatnya.""Aluna!" tegur Moly dengan nada tertahan, cemas sekaligus tidak percaya. "Kau gila, ya?""Aku serius, Moly. Aku akan bicara baik-baik padanya."Moly bersandar kembali ke kursi kayu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Aluna penuh keprihatinan."Kau baru satu bulan berpacaran dengan budak cinta manis itu, Aluna. Tapi jujur padaku... apa kau sudah punya rasa padanya?"Aluna menggigit bibir bawahnya erat. Jarinya sibuk mengusap gagang cangkir yang hangat."Bukan begitu...""Lalu apa?"Aluna menghela napas panjang, sebuah beban berat terasa menghimpit dadanya. "Rafael membuatku merasa dihargai. Dia membuatku bahagia."Moly memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan pandangan menohok. "Lalu Nael?""Nael adalah pria yang kucintai selama lima tahun terakhir," jawab Aluna jujur tanpa keraguan sedikit pun.Moly menatap s


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.