LOGINBatas Datar dan Dingin Malam itu, Fernando berada di ruang kerjanya. Layar laptop menampilkan video yang sama berkali-kali. Dengan ekspresi datar, ia memperhatikan setiap detail: gerakan mata, bayangan cahaya, perpindahan sudut kamera. Sesuatu terasa tidak tepat. Fernando mengambil ponselnya. "Hubungi tim digital forensik." Pria di seberang telepon langsung menjawab, "Baik, Tuan." "Aku ingin hasil secepat mungkin." "Apakah ada tenggat waktu?" Fernando memandang layar laptop. "Dalam dua puluh empat jam." Setelah panggilan berakhir, Fernando bersandar di kursinya. Tatapannya kosong. Ia teringat wajah Aixa saat berkata bahwa dirinya tidak bersalah. Air mata perempuan itu. Nada suaranya yang bergetar. Dan pertanyaan sederhana yang belum dijawabnya: Apa kau meragukanku? Fernando menutup laptop. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menyadari sesuatu. Jika benar video itu palsu, maka Aixa sedang menghadapi penghinaan yang luar biasa. Dan selama ini... ia harus menghadapinya
Kepuasan Semu Ketegangan antara Fernando dan Elio semakin membakar udara. Aixa menundukkan kepala. Ia terlalu lelah untuk menjadi alasan pertengkaran baru di antara mereka. Sementara itu, di sisi lain kota, Valeria tersenyum puas melihat kekacauan yang baru saja diciptakannya. "Aku ingin melihat berapa lama Fernando tetap mempertahankannya," ujarnya sambil menyeruput kopinya. Catalina terkekeh kecil. "Video itu sudah tersebar ke mana-mana. Wajah Aixa pasti sangat menyedihkan sekarang." Catalina menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Bagaimana kalau Fernando tetap percaya padanya?" Senyum Valeria perlahan memudar. "Itu tidak akan terjadi." "Terlalu yakin?" Valeria meletakkan cangkirnya. "Laki-laki bisa memaafkan banyak hal. Tapi penghinaan terhadap harga dirinya adalah pengecualian." Catalina tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita lihat saja." Namun tak satu pun dari mekeka menyadari bahwa badai yang mereka ciptakan mulai berbalik arah. Lampu-lampu gantung kristal di dalam penthouse
Pertanyaan Tanpa Jawaban Aura dingin Fernando langsung memenuhi ruangan. Tatapannya berpindah dari Elio menuju Aixa, lalu berhenti pada ponsel yang masih berada dalam genggaman istrinya. "Kalian sudah melihatnya?" tanyanya datar. Nada suaranya terlalu tenang. Justru itu yang membuat Aixa semakin takut. Fernando melangkah mendekat. "Siapa yang menyebarkannya?" Aixa membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Elio maju selangkah. "Kemungkinan besar Valeria dan Catalina." Tatapan Fernando berubah tajam. "Apa kau punya bukti?" "Belum." Fernando mengalihkan pandangan kepada Aixa. "Kau menontonnya?" Aixa menggigit bibir. "Hanya beberapa detik." "Dan?" "Itu video rekayasa." Keheningan memenuhi ruangan. Fernando tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Pria itu hanya berdiri tegak dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Apa kau meragukanku?" tanya Aixa pelan. Fernando tidak segera menjawab. Hening itu terasa begitu menyiksa, sampai akhirnya pria itu berkata, "Aku tidak mengambil
Gelombang Fitnah Ponsel Aixa bergetar tanpa henti di atas meja dapur. Satu pesan masuk. Lalu dua. Kemudian puluhan notifikasi membanjiri layar. Dahinya berkerut. Ada sesuatu yang tidak biasa. Grup keluarga yang biasanya sunyi mendadak ramai. Bahkan beberapa nomor yang tidak dikenalnya ikut menghubunginya. Dengan jantung berdegup tidak menentu, Aixa membuka salah satu pesan. Sebuah video—disertai kalimat singkat: "Ternyata begini wajah asli menantu keluarga Castello." Tubuh Aixa membeku. Tangannya gemetar saat menekan tombol putar. Beberapa detik pertama membuat napasnya tercekat. Wajah perempuan dalam video itu adalah dirinya, sementara pria di sampingnya tampak seperti Elio. Aixa langsung menghentikan tayangan itu sebelum berlanjut lebih jauh. "Apa ini..." bisiknya pelan. Wajahnya memucat. "Itu bukan aku." Air matanya hampir jatuh. Ia mengenali tubuhnya sendiri sebagai hasil manipulasi. Gerakan bibir, sudut wajah, bahkan pencahayaan dalam video itu tampak janggal jika diperh
Bab 90: Tawa Pertama Malam harinya, suasana mansion Castello tenggelam dalam kesunyian yang mendalam. Jarum jam dinding menunjuk ke angka dua pagi ketika Aixa perlahan terbangun karena rasa haus yang mengeringkan tenggorokannya. Kesadaran yang perlahan terkumpul membuatnya bergerak hendak turun dari tempat tidur. Namun saat meraba area di sebelahnya, ia menyadari sisi ranjang Fernando kosong dan sudah terasa dingin. Dengan rasa penasaran dan keheranan yang menyelimuti pikirannya, Aixa bangkit, membenahi gaun tidurnya, lalu melangkah keluar dari kamar utama dengan jejak kaki yang hampir tak terdengar. Koridor panjang lantai atas tampak remang-remang, hanya diterangi oleh lampu-lampu dinding yang redup. Namun di ujung lorong, garis cahaya kuning keemasan menerobos dari balik pintu yang sedikit terbuka. Lampu ruang kerja Fernando masih menyala terang. Aixa melangkah mendekat, berdiri sejenak di depan pintu kayu tebal itu sebelum memajukan tangannya untuk mengetuk pelan. "Masuk." Suara
**Bab 89: Bayangan Masa Lalu** Tidak semua orang merasakan kegembiraan dan kehangatan yang sama. Sementara kehangatan dan harapan baru menyelimuti seluruh sudut mansion Castello, mendung tipis dan bayangan masa lalu justru menggelayut di kediaman lain yang berjarak tak jauh dari sana. Elio berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lurus ke arah taman belakang. Angin sore yang berhembus lembut meniup pelan helai-helai rambutnya, namun tatapannya tetap kosong, menembus jauh ke hamparan rumput hijau yang tak lagi mampu menyegarkan matanya yang redup. "Jadi kau hanya akan menyerah begitu saja?" Suara Catalina memecah kesunyian yang hening, membuat Elio menoleh pelan dengan gerakan lambat. Perempuan itu berdiri anggun di ambang pintu balkon, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapan menuntut yang dipenuhi ketidakpuasan. "Apa maksudmu?" tanya Elio pendek, suaranya terdengar serak, berat, dan menyimpan keletihan jiwa yang teramat sangat. Catalina melangkah mendekat, menghentak







