Masuk"Dia adalah Davin, anak dari istri kedua Papa. Ke depannya dia akan tinggal di sini dan menjadi kakakmu. Kau harus bersikap baik padanya, Naya." Kedamaian dan kebahagiaan Kanaya luluh-lantak dalam satu waktu. Sang ayah yang sekian lama ia percaya, tiba-tiba pulang membawa pengkhianatan yang tak hanya menghancurkan dirinya, tetapi juga ibundanya. Tak ada alasan bagi Kanaya untuk tidak membenci kehadiran Davin, lelaki yang dalam sekejap berhasil merenggut senyum dan kehangatan di dalam keluarganya. Namun, bagaimana jika akhirnya kebencian itu justru perlahan berubah menjadi cinta?
Lihat lebih banyak"Rumi ... maafkan aku."
Wanita berusia 45 tahun itu mengernyit bingung, menatap sang suami dengan penuh tanda tanya. Ia tak paham dengan arti kata 'maaf' yang barusan terlontar. Untuk apa? Belum terjawab kebingungan tersebut, langkah kaki yang terdengar mendekat mencuri perhatian Rumi. Ternyata yang datang adalah seorang remaja lelaki yang usianya kisaran 20 tahun, atau mungkin malah belum genap. Sosok itu sangat asing bagi Rumi. Namun yang ia herankan, mengapa remaja tersebut datang ke rumahnya, bersama suaminya? Apakah mereka saling mengenal? "Dia siapa, Mas?" tanya Rumi dengan setengah tak sabar. Perhatiannya masih tertuju pada remaja di hadapannya, yang entah mengapa membuat perasaannya mendadak tak nyaman. "Anakku." Satu jawaban lirih yang keluar dari bibir Abi—suaminya, sukses membuat Rumi tersentak. Ia melangkah mundur dengan mulut yang menganga tak percaya. Dua puluh tahun mereka membina rumah tangga, tak ada satu pun masalah yang memantik pertikaian. Keduanya rukun, hangat, dan harmonis. Lantas ... mengapa sekarang tiba-tiba Abi membawa pulang remaja yang diakui sebagai anak? Ada apakah ini? "Sejak tujuh tahun lalu, aku menikah lagi di belakangmu. Maafkan aku, Rumi, tapi ... aku memang sangat mencintainya." Abi menghela napas pendek, seraya menatap Rumi dengan canggung. Namun, wanita itu masih bungkam. Mulut yang tadi menganga, kini mengatup rapat, selaras dengan gestur tubuhnya yang dingin dan beku. "Namanya Amina. Wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta selain kamu, Rumi. Saat kami bertemu, dia sudah menjanda karena suaminya berpulang lebih dulu. Dan ... ini anak mereka. Davin Reswanda." Remaja yang bernama Davin, sekadar diam dan memandang Rumi dengan tatapan datar. Tampak jelas dari raut wajahnya bahwa ia pun tak sudi berada di sana. Kalau bukan karena keadaan yang memaksa, pantang baginya mengikuti pria brengsek yang selama tujuh tahun terakhir menjadi ayah tirinya. "Ini bercanda kan, Mas? Kamu nggak serius kan, Mas?" Dengan nada gemetaran, Rumi bertanya dan menatap suaminya, berharap bahwa semua itu sekadar bagian dari kejutan meskipun ulang tahunnya masih beberapa bulan lagi. Dalam situasi ini, bohong jika Abi tak merasa bersalah. Namun, mau bagaimana lagi? Semua sudah telanjur. Waktu itu, ia pun tak bisa menolak pesona seorang Amina. Kebaikan hatinya, kelembutannya, juga kecantikannya, meruntuhkan pertahanan hati yang sebelumnya terkunci untuk Rumi. "Maafkan aku, Rumi. Aku bersalah. Aku mengkhianati kamu dan Naya." Abi sedikit menunduk, sembari mengembuskan napas berat yang serasa mencekik tenggorokan. "Minggu lalu Amina kecelakaan, dan ... kemarin mengembuskan nafas terakhirnya. Itu sebabnya sekarang aku membawa Davin ke sini. Kuharap kamu bisa menerimanya, Rumi, karena selain aku, dia tidak punya siapa-siapa lagi," sambung Abi dengan wajah yang belum terangkat sepenuhnya. Minggu lalu, kemarin, dua hal yang kemudian membuat Rumi percaya bahwa semua itu bukan sekadar candaan. Minggu lalu, waktu di mana Abi pamit ke luar kota dengan tergesa-gesa. Katanya, ada urusan dengan teman lama, perihal pekerjaan yang konon bisa mendongkrak bisnis rumah makan mereka. Lantas kemarin, waktu di mana Abi sama sekali tidak menjawab pesan dan teleponnya. Pria itu seolah menghilang dan tidak memberi kabar, sampai detik ini, detik di mana ia justru pulang sambil membawa sisi kelam yang sekian lama berhasil disimpan rapi. "Kamu jahat, Mas! Kamu keterlaluan!" pekik Rumi. Suaranya nyaris tak terkontrol, demi menyadari bahwa pernikahan yang ia banggakan selama bertahun-tahun, ternyata rapuh tanpa ia sadari. "Maafkan aku, Rumi." "Apa kurangku selama ini, hah? Kurang apa aku menjadi istrimu?" bentak Rumi dengan mata yang berkaca-kaca. Tak sanggup lagi ia menahan sesak yang sedari tadi merebak. "Kamu tidak kurang apa-apa, Rumi, semua ini salahku." Abi bicara lirih, seraya melangkah mendekati istrinya. Akan tetapi, Rumi menggeleng kecewa. Ia kembali mundur dan menepis kasar tangan Abi yang hendak meraihnya. Ia tak sudi disentuh pria itu, pria yang entah sudah berapa kali menyentuh wanita lain tanpa sepengetahuannya. "Rumi, Sayang, aku—" "Tega kamu mengkhianati aku dan Naya! Bajingan kamu, Mas! Bajingan!" Sambil berteriak memaki, Rumi membalikkan badan dan hengkang dari hadapan suaminya. Ia berlari cepat menuju kamar dan membanting pintunya dengan keras. Tak mau lagi ditenangkan dengan sentuhan, pelukan, atau sekadar satu-dua kata. Selagi Abi masih menunduk penuh sesal, Davin menarik napas berat. Semua yang terjadi barusan, persis seperti yang ia bayangkan. Meski belum cukup dewasa untuk memahami konflik dalam pernikahan, tetapi dia cukup mengerti bahwa tak mungkin ada wanita yang dengan lapang dada menerima perselingkuhan suaminya, bahkan dipaksa pula menerima anak dari selingkuhannya itu. "Andai Mama nggak jatuh cinta pada pria brengsek ini." Davin membatin dengan tangan yang mengepal. Perasaannya jelas kesal dan kecewa. Namun, ia pun tak tahu pasti, kepada siapa kekesalan dan kekecewaan itu dilabuhkan. Pada ibu yang menurutnya bodoh ataukah pada ayah tiri yang menurutnya brengsek. Entah. Tak jauh dari kekacauan itu, seorang gadis yang baru saja menamatkan bangku SMA, membekap mulutnya sendiri di balik dinding penyekat antara ruang tamu dengan ruang keluarga. Dari detik awal dia ada di sana, menguping dan memahami apa yang terjadi pada keluarganya. Terkejut, tak percaya, dan berharap semua itu sekadar mimpi buruk yang akan berakhir saat ia bangun nanti. Akan tetapi, rasa sakit akibat terlalu kuat membekap mulut membuatnya sadar bahwa adegan demi adegan itu adalah nyata, membuatnya mengerti bahwa kini dirinya bukan lagi putri kesayangan sang ayah. Ia telah diduakan. Ia telah dikhianati sejak bertahun-tahun yang lalu. Rasa percaya dan kagum pada sosok ayah, sekarang perlahan runtuh dan menyisakan puing-puing luka yang entah kapan sembuhnya. Terlampau keras badai kehidupan menghempas tubuhnya, hingga kini tak mampu melakukan apa pun selain diam dan menangis. Tak bisa menenangkan sang ibunda yang barusan berlari dengan burai air mana, tak bisa memaki sang ayah yang teramat kejam, pun tak bisa mengusir lelaki asing yang di matanya berdiri tanpa rasa bersalah. Bersambung...."Aku udah tahu semuanya, Ma."Setelah keduanya saling mengurai pelukan dan kemudian duduk berdampingan di kursi usang, di dalam ruang tamu tersebut, Kanaya mulai membuka pembicaraan.Kepalanya masih tertunduk, sesak tak terkira dan seakan tak kuasa jika beradu tatap dengan ibunya. Sekadar tangannya yang begitu erat menggenggam jemari Rumi, yang kini jauh lebih kurus dibanding terakhir kali mereka bertemu."Siapa yang memberitahumu, Nak?" tanya Rumi dengan lirih.Entah bagaimana perasaannya kala itu. Antara lega, terharu, sedih, dan menyesal, bercampur menjadi satu. Membuatnya canggung dan hampir tak mengerti harus melakukan apa.Kanaya pun, detik itu ada di posisi yang sama. Ia tak ingin memberitahukan tentang Diana, tetapi ia juga tak bisa menutupinya dengan kebohongan. Alhasil, Kanaya sekadar diam dengan kepala yang masih setia menunduk.Melihat diamnya Kanaya, Rumi mulai bisa menebak. Pastilah Diana, seseorang di balik ini semua. Hanya dia, satu-satunya orang yang paling paham deng
Sudah tiga jam lebih Kanaya menunggu. Lima gelas iced coffee sudah dia pesan, pun sudah dihabiskan. Namun, belum ada tanda-tanda kedatangan Diana di sana.Kanaya mulai was-was. Apa jangan-jangan wanita itu tidak serius dengan pesannya tadi? Atau ... mungkinkah niat itu terlebih dahulu diketahui ibunya?"Ahh!"Kanaya mende-sah panjang. Gelas terakhir sudah tandas dari dua menit lalu. Haruskah ia memesan lagi sekarang? Atau lebih baik ia pulang? Mungkin saja penantian itu memang tidak akan berujung baik."Coba aku tanyain aja deh, dia jadi datang atau nggak," batin Kanaya.Lantas ia nyalakan lagi ponselnya dan kembali membuka pesan dari Diana.Namun, baru saja ia mengetik sedikit pesan, bahkan belum sempat dikirim, seseorang datang memangilnya. Saat Kanaya mendongak, ternyata Diana yang datang."Maaf ya kamu menunggu lama. Tadi setelah sidang, aku masih mengantar Rumi pulang," ucap Diana sembari menatap bekas gelas di hadapan Kanaya.Sebenarnya ia pun tak menyangka gadis itu akan datang
"Mana papamu?"Satu pertanyaan dingin dan datar meluncur dari bibir Rumi. Alih-alih menanyakan kabar Kanaya, justru hal itulah yang ia tanyakan.Di depannya, Kanaya menatap miris. Dalam pikirannya muncul satu pertanyaan yang begitu mengusik.Sebenci itukah Rumi terhadap dirinya? Sampai-sampai pertemuan mereka saat ini layaknya dua orang asing yang tak ada ikatan apa pun."Papa nggak akan datang, Ma."Rumi mengernyitkan kening. Agak heran dengan jawaban Kanaya, karena yang dia tahu Abi tak pernah setuju dengan perceraian tersebut. Jadi, mana mungkin pria itu tidak datang."Aku yang menerima surat panggilannya, dan aku nggak menyampaikan itu ke Papa. Aku melakukan ini karena tahu Mama sangat mengharapkan perceraian. Aku cuma berniat bantuin Mama," lanjut Kanaya.Rumi sedikit tersentak dengan jawaban barusan. Tak disangka Kanaya akan berbuat sejauh itu untuknya. Namun, Rumi berusaha keras menyembunyikan gestur asli wajahnya. Ia tetap memasang tampang datar agar Kanaya berhenti berharap.
Sudah dua hari berlalu, tetapi surat panggilan sidang untuk ayahnya masih berada di tangan Kanaya. Sedikit pun gadis itu belum mengungkitnya. Bahkan terhadap Davin, ia juga masih bungkam. Entahlah. Kanaya masih betah menyimpannya sendiri.Malam ini, Kanaya yang sedang dilanda bimbang, memutuskan untuk mengirim pesan pada Davin yang kala itu sudah masuk ke kamarnya sendiri.'Kak, udah tidur belum?'Sampai beberapa saat, tak ada balasan darinya. Kanaya sempat mengira mungkin Davin sudah tidur. Namun ternyata, lelaki itu justru datang dan mengetuk pintu kamarnya.Kanaya langsung bangkit dan bergegas membuka pintu, menemui lelaki yang merangkap kakak tiri sekaligus kekasihnya itu."Kamu tadi katanya ngantuk. Kok belum tidur? Kenapa, hmm?" tanya Davin ketika keduanya sudah saling berhadapan di ambang pintu."Nggak tahu, Kak. Pas dibawa rebahan, ngantuknya malah ilang," jawab Kanaya setengah berbohong. Sebenernya, dari awal masuk ke kamar sekitar setengah jam lalu, sedikit pun tak ada rasa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.