MasukAlesha menatap layar ponselnya sejenak, jantungnya berdebar kencang membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada Kaivan. Ia melangkah mundur dari pintu kelas yang baru saja hendak ia masuki, memilih menjawab panggilan itu terlebih dahulu di lorong yang lebih sepi.
"Halo, Tante? Ada apa?" tanya Alesha cepat, suaranya sedikit terburu-buru karena firasat tidak enak yang tiba-tiba menyergap dadanya.
Pertanyaan Kaivan menggantung di udara, namun ayahnya tidak segera menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, seakan takut menyebutkan nama itu secara langsung, lalu berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan. Kaivan tidak mengejarnya; ia tahu jawaban itu akan datang pada waktunya. Namun saat ini, pikirannya justru tertuju pada hal lain. Saran yang terus berputar di kepalanya, yang semakin lama semakin sulit untuk diabaikan. Ia merasa terjepit di antara keputusasaan dan keinginan untuk memiliki Alesha. Akhirnya, ia memutuskan untuk berbicara jujur kepada kedua orang tuanya, berharap mereka akan mengerti, berharap mereka akan mendukungnya.Malam itu, setelah makan malam, Kaivan duduk di hadapan ayah dan ibunya di ruang tengah. Ia menarik napas panjang, menata kata-kata yang selama ini mengganjal di tenggorokannya. Wajahnya tegang, namun suaranya mantap saat ia mulai berbicara.
Kata-kata ayahnya menggantung di udara, membuat napas Kaivan tertahan seketika. Ia menatap pria yang selama ini ia anggap teladan itu, mencari tanda-tanda kebohongan atau sekadar kiasan, namun tidak ada. Wajah ayahnya penuh penyesalan yang mendalam, seakan kata-kata itu mengembalikannya puluhan tahun ke masa lalu yang ingin ia lupakan. Keheningan yang menyelimuti ruangan terasa berat, menekan dada Kaivan yang masih berusaha mencerna apa yang baru didengarnya. Jika ayahnya pernah melakukan hal serupa, jika pernikahan mereka pun bermula dari langkah yang kelam, apakah itu berarti saran temannya tidak sepenuhnya salah? Pertanyaan itu muncul perlahan, menyusup ke celah keraguannya yang paling rapuh.“Apa maksud Papa?” tanya Kaivan pelan, suaranya bergetar. “Apakah… pernikahan Papa dan Mama juga dimulai dengan cara itu?”Ayahnya mengan
Kabar kesembuhan ayah Alesha menjadi awal yang baru bagi keluarganya, namun bagi Kaivan justru sebaliknya. Ia tetap datang setiap pagi, kadang membawa makanan kesukaan Alesha, kadang sekedar membantu urusan rumah yang berat, kadang hanya duduk di teras menunggu sekedar untuk menyapa. Setiap kali ia menyampaikan maksud hatinya, Alesha menyampaikan penolakan dengan lembut. Semakin ia berusaha mendekat, semakin Alesha mundur perlahan, menjaga jarak yang tegas seakan ada tembok tidak terlihat di antara mereka. Kaivan mulai menyadari, kehadirannya bukannya mendekatkan, justru membuat perempuan itu semakin menjauh.Suatu sore, saat matahari mulai condong ke barat, Kaivan berdiri di depan pagar rumah Wijanarka. Ia baru saja menyampaikan niatnya untuk berbicara sebentar, namun jawaban Alesha sama seperti biasanya, ia menolak dan memintanya untuk tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menatap punggung Alesha yang masuk
Pintu ruangan dokter terbuka lebar. Dokter tersenyum ramah menyampaikan kabar yang dinanti, kondisi ayah Alesha sudah stabil, tidak ada resiko tersisa, dan ia dinyatakan sudah sehat sepenuhnya. Mahesa tersenyum lebar, memeluk istrinya yang tampak lega tidak terlukiskan. Suasana di ruangan itu seharusnya penuh sukacita, namun Alesha berdiri agak terpisah, tersenyum tipis tanpa benar-benar ikut merasakannya. Ia bersyukur ayahnya sembuh, namun kabar baik itu tidak mampu mengangkat beban yang masih membebani hatinya. Bayangan masa lalu, penolakan yang telah ia sampaikan, dan pesan misterius yang belum terjawab. Semuanya bercampur menjadi satu, membuat hatinya tetap berat.Di perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa hangat. Ayahnya bercerita tentang rencana kegiatan yang ingin dilakukannya setelah sekian lama sakit. Namun sesampainya di rumah, saat semua mulai tenang, ayahnya menatap putrinya dengan pan
Pesan itu masih terngiang di pikiran Alesha meski layar ponsel sudah kembali gelap. Ia berdiri terpaku, tangan masih gemetar memegang benda itu. Manipulasi? Apakah mungkin sikap dingin dan kata-kata kasar Kaivan dulu bukan sepenuhnya kehendak hatinya sendiri? Pertanyaan itu muncul sekaligus disangkalnya sendiri, terlalu mustahil, dan terlalu menyakitkan jika ternyata benar. Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran itu. Apa pun alasannya, kenyataan tetap sama, luka itu nyata dan belum sembuh. Ia tidak bisa membiarkan keraguan baru mengubah keputusan yang sudah bulat di hatinya.Pintu perlahan terbuka. Kaivan berdiri di ambang pintu, belum pergi sepenuhnya. Ia menatap Alesha, menyadari ada sesuatu yang berubah. Keraguan di wajah perempuan itu bukan lagi sekedar ketakutan, melainkan bercampur kebingungan yang mendalam. Ia melangkah masuk kembali perlahan, menutup pintu di belakangnya, namun tidak mendekat. Ia berdiri di tempat yang sama, menjaga jarak yang sopan, seakan takut kehad
Kata-kata itu menggantung berat di ruangan itu, lalu pria itu berbalik pergi, meninggalkan keheningan yang mencekam. Tak ada yang mengejarnya, tak ada yang meminta penjelasan lebih lanjut; semua orang terpaku mendengar apa yang baru saja terucap. Kaivan berdiri diam, bingung sekaligus tertekan. Tuduhan itu datang dari orang yang seharusnya mendukungnya, dan kenyataan yang tersisa terasa makin mengancam.Namun bagi Alesha, keraguannya bukan hanya soal rahasia masa lalu keluarga. Setiap kali ia melihat Kaivan, wajah dingin dan kata-kata tajam yang dulu pernah diucapkan pria itu kembali muncul di pikirannya. Ia ingin percaya perubahan ini nyata, tapi luka lama belum kering, apalagi sembuh.Mahesa menghela napas panjang, memecah keheningan. “Kami melihat usahamu selama ini, Kaivan,” ucapnya pelan namun tegas, menatap pemuda itu. “Kamu datang setia







