MasukKata-kata itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam. Kaivan melangkah mendekat, namun Alesha mundur selangkah, seakan takut kehadirannya justru membawa bahaya. Ia menatap layar ponsel itu kembali, lalu menatap Kaivan dengan bingung dan takut. Ancaman itu bukan lagi sekedar peringatan, ia menunjuk ke arah lingkaran terdekat mereka, dan itulah yang paling membuat Alesha gemetar. Kaivan mengerti ketakutan itu, namun ia juga tahu bahwa menyerah bukanlah jawaban. Ia harus meyakinkan Alesha bahwa bersamanya berarti perlindungan, bukan bahaya. Ia meraih ponsel di tangan Alesha perlahan, menatapnya lekat-lekat agar perempuan itu tidak merasa terancam.“Dengarkan aku, Alesha,” ucap Kaivan lembut namun tegas, berusaha menembus kepanikan yang mulai menyelimuti perempuan itu. “Orang yang mengirim pesan ini ingin memisahkan kita. Itu tujuannya, menanamkan ketakutan agar kita salin
Kata-kata Mahesa menggantung berat di udara, namun sebelum ia sempat melanjutkan, suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Alesha muncul di ambang pintu, wajahnya tenang namun matanya tetap waspada. Ia melihat Kaivan duduk di sana, lalu menatap ayahnya seakan menanyakan apa yang sedang dibicarakan. Kaivan segera berdiri, tidak ingin terlihat seakan mengorek rahasia tanpa izin. Ia menyapa dengan sopan, lalu berpamitan agar tidak menimbulkan ketegangan lebih lanjut. Alesha tidak menahannya, namun ia juga tidak berpaling. Ia hanya berdiri diam, memperhatikan kepergian Kaivan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Langkah kaki Kaivan terasa berat, namun tekadnya tidak goyah sedikit pun; ia tahu menembus tembok ini membutuhkan waktu lebih lama dari yang ia kira.Hari-hari berikutnya, Kaivan tetap datang. Ia tidak membahas percakapan sore itu, tidak mendesak Mahesa untuk melanjutkan cerita. Ia kembali melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat, membantu memindahkan barang yang berat, merapi
Suara ancaman di ujung telepon masih terngiang di telinga Kaivan saat ia melangkah keluar dari halaman rumah Wijanarka. Namun alih-alih takut, justru tekadnya semakin menguat. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk rahasia masa lalu, memisahkan dirinya dari Alesha. Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah; pintu hati Alesha tertutup rapat, dan larangannya begitu tegas. Namun Kaivan juga menyadari satu hal, menyerah sekarang berarti membiarkan masa lalu menang, dan ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Setiap pagi, ia datang membawa sesuatu yang sederhana bukan bunga yang mewah, melainkan makanan kesukaan Alesha yang disiapkan sendiri, atau sekedar menanyakan kabar keluarga Wijanarka. Ia tidak memaksa bertemu, hanya menitipkan lalu pergi, memberi ruang agar kehadirannya tidak terasa menekan.Pagi ketiga, saat Kaivan berdiri di depan pagar, Helena keluar menyambutnya. Ia tidak langsung mengizinkanny
Suasana di ruang tamu seketika mencekam. Wajah Helena pucat pasi, tangannya gemetar menahan ponsel di telinga. Mahesa langsung bangkit berdiri, napasnya tertahan di tenggorokan mendengar kabar itu. Kaivan dan Adrian saling berpandangan, kekhawatiran langsung menyelimuti hati mereka. Alesha pergi dan dia pergi setelah mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikan dari dirinya. Kaivan tidak membuang waktu, ia segera melangkah maju, berniat mencarinya, namun Mahesa menahannya dengan isyarat tangan yang gemetar.“Tunggu dulu, Kaivan,” ucap Mahesa pelan namun tegas, berusaha menenangkan diri sekaligus orang lain. “Biarkan Alesha menenangkan pikirannya sendiri dulu. Dia butuh waktu untuk mencerna semuanya.”Kaivan menatapnya dengan cemas, kakinya terasa gatal ingin segera berlari mencari keberadaan perempuan itu. “Tapi Om, dia sendirian di luar sana… siapa yang tahu ke mana dia pergi.”Helena meletakkan ponselnya perlahan, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, lalu beralih menatap K
Kaivan menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras, pesan Vanessa itu membuat dadanya bergemuruh antara amarah dan kekhawatiran. Ia menunjukkan pesan itu kepada Adrian yang duduk di kursi pengemudi, wajah papanya langsung berubah tegang membaca kalimat yang begitu penuh ancaman itu."Vanessa ada di depan rumah Alesha, Pa. Kita harus segera berangkat sebelum dia membuat keributan lagi," ucap Kaivan cepat, suaranya begitu tegang, tangannya sudah bersiap membuka pintu mobil.Adrian mengangguk tegas, segera menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. "Kita akan hadapi bersama, Nak. Jangan biarkan dia mengacaukan rencana kita hari ini."Sesampainya di depan kediaman keluarga Wijanarka, mereka justru menemukan halaman rumah itu begitu sepi, tidak ada tanda-tanda kehadiran Vanessa sama sekali, membuat Kaivan mengernyitkan dahi dengan perasaan campur aduk antara lega dan curiga."Sepertinya dia hanya menggertak, Nak. Untuk sementara kita fokus
Malam itu juga, Kaivan pulang ke rumah orang tuanya, pikirannya masih dipenuhi firasat buruk dari ancaman terakhir Vanessa. Ia menemukan Adrian dan Lavienna sedang duduk di ruang keluarga, dan tanpa membuang waktu lagi, ia langsung duduk di hadapan mereka dengan wajah yang begitu serius."Pa, Ma, aku butuh bantuan kalian," ucap Kaivan langsung, suaranya begitu mantap meski jelas ada kegugupan yang tersirat di balik nada bicaranya itu.Adrian meletakkan koran yang sejak tadi ia baca, menatap anaknya dengan penuh perhatian, merasakan keseriusan yang begitu berbeda dari biasanya terpancar dari sorot mata Kaivan."Bantuan apa, Nak? Ada apa lagi?" tanya Adrian, suaranya penuh kekhawatiran, mengingat rentetan kejadian berat yang sudah mereka lalui bersama selama berbulan-bulan terakhir ini.Kaivan menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengucapkan permintaan yang sudah lama ia pikirkan sejak pertemuannya dengan Alesha di rumah sakit beberapa hari lalu."Aku ingin m







