Share

Garis Tipis

Author: Sabrina dewi
last update publish date: 2026-03-13 14:13:29

Beberapa minggu setelah Nadia tiba di Paris, kehidupannya mulai menemukan ritme baru.

Pagi hari di studio kecilnya di Montmartre selalu dimulai dengan hal yang sama: kopi panas, jendela terbuka, dan kanvas kosong yang menunggu disentuh kuas.

Camille, asisten yang dikirim Daniel, biasanya datang sekitar pukul sembilan pagi.

Ia membawa roti hangat dari boulangerie di sudut jalan dan sesekali buah segar.

“Kalau anda tidak makan, Daniel akan menyalahkan saya madame” kata Camille suatu pagi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Om Bule Kekasihku   Nafas Terakhir Seorang Ibu

    Di villa Moretti semua terasa berbeda malam itu. Seolah rumah besar itu tahu bahwa seseorang yang penting sedang berada di ujung waktunya. Di kamar Viola, lampu tidur menyala redup. Udara di dalam ruangan terasa sangat sunyi. Hanya ada suara napas Viola yang semakin pelan. Nadia masih duduk di sisi tempat tidur sambil memegang tangannya yang dingin. Perutnya yang membesar terasa berat malam itu, namun ia tidak bergerak sedikit pun. Daniel berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya tetap tenang. Namun matanya tidak pernah lepas dari Viola. Di kursi dekat tempat tidur, Elena tertidur. Gadis kecil itu akhirnya tertidur setelah terlalu lama menangis. Ia memeluk Bruno erat seperti boneka besar. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Lalu Viola perlahan membuka matanya. “Nadia” ucap Viola, suaranya hampir tidak terdengar. Nadia langsung mendekat. “Aku di sini.” Viola menatap wajah Nadia lama. Matanya penuh rasa lelah tapi juga ketenangan. “Aku ingin m

  • Om Bule Kekasihku   Hari Terakhir Seorang Ibu

    Pagi itu tidak ada hujan, tetapi udara terasa berat dan dingin. Angin yang biasanya membawa aroma kebun anggur kini terasa pelan dan sunyi. Seolah alam ikut menahan napas. Di villa Moretti, semua orang bangun lebih awal. Namun tidak ada yang benar-benar tidur semalam. Di kamar Viola, tirai jendela dibuka sedikit agar cahaya pagi masuk dengan lembut. Viola terlihat jauh lebih lemah dari hari kemarin. Tubuhnya hampir tidak bergerak di atas tempat tidur putih. Napasnya pendek dan sangat pelan. Dokter yang datang pagi itu memeriksa dengan hati-hati. Daniel berdiri di dekat jendela, sementara Nadia duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Viola. Beberapa menit kemudian dokter berdiri dan menatap mereka dengan wajah yang sangat serius. “Kita harus bersiap” ucap dokter itu. Nadia langsung menundukkan kepala. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Daniel tidak berkata apa-apa. Namun tangannya yang berada di samping tubuhnya perlahan mengepal. Di kamar sebelah, Elena m

  • Om Bule Kekasihku   Hari Yang Perlahan Pergi

    Udara terasa berat pagi itu. Seolah seluruh rumah mengetahui sesuatu yang tidak ingin diucapkan siapa pun. Di kamar Viola, tirai jendela dibuka sedikit agar sinar matahari pagi masuk dengan lembut. Namun cahaya itu tidak mampu menyembunyikan kenyataan bahwa kondisi Viola semakin memburuk.Ia hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dokter yang datang pagi itu berbicara pelan dengan Daniel dan Nadia di lorong. “Tubuh Viola semakin lemah.” Nadia memegang perutnya dengan gelisah. Daniel berdiri diam, wajahnya tenang seperti biasa. Namun matanya lebih gelap dari biasanya. “Apakah dia kesakitan?” tanya Nadia. Dokter menggeleng. “Kami memberi obat agar ia tetap nyaman.” Daniel akhirnya bertanya satu hal yang paling sulit. “Kira-kira berapa lama lagi Viola bisa bertahan?” Dokter tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata pelan, “Mungkin tidak lama.” Nadia menutup mulutnya dengan tangan. Air mata langsung jatuh. Daniel hanya mengangguk sekali. Tidak ada emosi di wajahnya.

  • Om Bule Kekasihku   Janji Nadia Kepada Viola.

    Malam di villa Moretti terasa lebih sunyi dari biasanya. Langit Tuscany dipenuhi bintang, namun di dalam kamar tempat Viola berbaring, suasana terasa berat. Lampu tidur menyala redup. Viola terlihat jauh lebih lemah dibandingkan beberapa hari lalu. Nafasnya pendek, dan kulitnya pucat hampir seperti kertas. Namun matanya masih jernih. Ia tahu waktunya semakin sedikit. Di sisi tempat tidur, Nadia duduk sambil memegang tangannya. Sementara di kursi kecil dekat jendela, Elena duduk dengan Bruno yang setia di kakinya. Gadis kecil itu memandang ibunya dengan wajah bingung. “Mama masih sakit?” Viola tersenyum lemah. “Sedikit.” Elena turun dari kursinya dan berjalan mendekat. Ia naik perlahan ke tempat tidur dan memeluk ibunya dengan hati-hati. “Kalau mama sakit, Elena akan jaga mama.” Viola hampir menangis mendengar itu. Ia mencium rambut Elena

  • Om Bule Kekasihku   Janji Kepada Seorang Ibu

    Matahari baru saja naik, namun suasana villa terasa berat seolah sesuatu yang tidak terlihat sedang menekan seluruh rumah itu.Di kamar tempat Viola dirawat sementara, udara terasa berbeda. Aroma obat dan bunga lavender memenuhi ruangan. Viola terbaring di tempat tidur dengan wajah yang jauh lebih pucat dibandingkan beberapa minggu lalu. Tubuhnya terlihat semakin kurus, napasnya lebih berat. Seorang dokter yang didatangkan Daniel dari Florence baru saja selesai memeriksanya. Nadia berdiri di dekat jendela sambil menunggu. Daniel berdiri di samping tempat tidur. Dokter itu akhirnya melepas stetoskopnya. “Dokter, bagaimana kondisi Viola sekarang?” tanya Daniel. Dokter menghela napas pelan. “Kondisinya semakin lemah.” “Berapa lama dia bisa bertahan?” tanya Daniel. Dokter tidak langsung menjawab. “Sulit memastikan. Bisa beberapa minggu atau mungkin beberapa bulan.” Nadia memegang perutnya secara refleks. Sementara Viola yang masih setengah sadar membuka matanya perlahan.

  • Om Bule Kekasihku   Ketika Daniel Charter Bermain Dengan Caranya Sendiri

    Kabut tipis menyelimuti kebun anggur, matahari musim semi menyinari perbukitan dengan lembut, dan villa Moretti berdiri megah di puncak bukit seolah tidak tersentuh masalah. Namun di balik ketenangan itu, perang diam-diam sedang dimulai. Di ruang kerja villa, Daniel sudah bangun sejak pukul lima pagi. Laptopnya terbuka dengan beberapa layar penuh data. Paul muncul di panggilan video lagi. “Anda tidak tidur?” tanya Paul. Daniel menjawab tenang. “Tidur dua jam.” Paul menggeleng pelan. “Anda terlihat seperti seseorang yang sedang merencanakan kudeta besar-besaran” ucap Paul. Daniel tersenyum. “Tidak.” Ia menutup satu dokumen dan membuka yang lain. “Hanya membersihkan masalah.” Paul menatap layar Daniel. Di sana ada daftar perusahaan milik Matteo Moretti. Perusahaan anggur. Perusahaan ekspor. Beberapa properti. Namun juga ada beberapa yang mencurigakan. Perusahaan logistik. Gudang pelabuhan. Investasi offshore. Paul bersandar di kursinya. “Anda menggali sangat dalam

  • Om Bule Kekasihku   Keputusan Yang Menggetarkan

    Suara ketukan pintu itu meninggalkan gema aneh di ruang kerja Daniel. Setelah pintu tertutup kembali, Nadia dan Daniel saling menatap, keduanya tahu babak berikutnya bukan hanya tentang bisnis, tapi tentang nasib mereka berdua. Daniel menarik napas panjang, kemudian berjalan mendekati meja kerjan

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Om Bule Kekasihku   Rahasia Yang Mulai Terlihat

    Pagi di Ubud terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Nadia membuka jendela kamarnya, membiarkan udara lembap bercampur bau tanah basah menyapu wajahnya. Ia belum sepenuhnya pulih dari kejadian semalam, kecanggungan, dan kedekatan yang membuat dadan

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Om Bule Kekasihku   Hal Yang Belum Pernah Diucapkan

    Daniel tidak segera melanjutkan. Ia berjalan ke arah jendela besar itu lagi, seolah butuh udara meski ruangan sudah cukup sejuk. Punggungnya tegang, kedua bahunya turun-naik perlahan, seperti seseorang yang sedang mencari keberanian.Nadia hanya bisa menunggu. Ia meremas jemarinya sendiri, merasa j

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Om Bule Kekasihku   Saat Rahasia Menemukan Cahaya

    Pagi itu Ubud dipenuhi cahaya keemasan yang menembus celah pepohonan. Embun masih menggantung di dedaunan ketika Nadia membuka mata, menyadari ia tertidur di kursi panjang studio kecilnya. Malam sebelumnya terlalu penuh emosi, konflik, penjelasan, lalu kehangatan yang menguatkan mereka. Ia meregan

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status