Om Bule Kekasihku
Daniel menunduk, wajahnya sangat dekat. "Aku belum melakukan apa-apa… tapi kamu sudah gemetar. Nadia, kamu pikir aku nggak notice?"
Konflik awal antara mereka dikarenakan, Daniel memotret cafe milik Nadia secara diam-diam sedangkan Nadia sangat menjaga privasi tempatnya.
Nadia selalu berusaha menghindari Daniel, Daniel tidak menyerah untuk mendekati Nadia sampai akhirnya jarak diantara mereka semakin menipis.
Di bawah langit Ubud mereka menemukan kenyamanan, gairah, dan cinta yang tumbuh tanpa rencana. Namun, perbedaan usia, budaya, rahasia yang tersimpan, dan pandangan hidup mulai menjadi bayang-bayang yang sulit dihindari.
“Om Bule Kekasihku” adalah kisah cinta lintas usia yang manis, berani, dan menggoda, tentang dua hati yang dipertemukan takdir di tanah Bali, tempat di mana cinta dan gairah berpadu menjadi satu cerita yang tak terlupakan.
Read
Chapter: Api Yang Pelan Tapi Nyata Hari-hari di villa Blankenese kembali berjalan dengan ritme yang lebih tenang. Namun tidak berarti semuanya benar-benar tenang. Karena ada hal-hal yang tidak terlihat tapi terasa. Sore itu, Nadia duduk di balkon kamar. Angin musim semi menyentuh rambutnya pelan. Tangannya mengusap perutnya yang kini semakin jelas membesar. Ia tersenyum. Namun di balik itu, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Bukan rasa sakit. Bukan ketakutan. Tapi sesuatu yang lebih halus. Dan semakin hari, semakin kuat. Pintu kamar terbuka. Daniel masuk. Masih dengan kemeja kerja, namun tanpa jas. Ia langsung melihat Nadia. “Kamu di luar?” Nadia menoleh. “Iya, bosan di dalam kamar terus.” Daniel mendekat. “Jangan terlalu lama diluar.” Nada suaranya refleks. Protektif. Nadia tersenyum kecil. “Kamu ini..” Daniel berdiri di depannya. Menatapnya. “Aku serius.” Nadia tidak menjawab. Ia hanya menatap Daniel. Lebih lama dari biasanya. Daniel mengerutkan kening sedikit. “Ada apa?” Nadia ber
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: Tatapan Di Meja Makan Langit Hamburg mulai berubah warna saat mobil hitam itu melaju keluar dari gedung kantor. Sore menjelang malam. Cahaya keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil, suasana tenang. Daniel duduk di kursi belakang. Jasnya masih rapi. Namun dasinya sudah sedikit dilonggarkan. Hari yang panjang, akhirnya selesai. Paul menyetir dengan fokus. Namun sesekali ia melirik ke kaca spion. “Tuan ingin langsung kembali ke villa?” tanya Paul. “Iya. Sebelum makan malam” jawab Daniel. Paul mengangguk. “Baik.” Beberapa menit hening. “Bagaimana progress galeri?” tanya Daniel. “Saya sudah menghubungi tim arsitek” jawab Paul. “Lokasi sedang diproses.” “Dan desain awal bisa kita review besok, tuan.” Daniel mengangguk pelan. “Cepat.” Paul tersenyum tipis. “Sesuai dengan perintah.” Mobil akhirnya memasuki area Blankenese. Gerbang villa terbuka. Dan pada hari itu, Daniel terlihat sedikit lebih rileks. Mobil berhenti. Paul turun lebih dulu. Membukakan pintu.
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Rencana Besar Dan Candaan KecilPagi di villa Blankenese terasa lebih hidup. Udara segar masuk dari jendela-jendela besar. Dan suasana hati semua orang, jauh lebih ringan dibanding beberapa hari sebelumnya. Nadia duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh hangat. Tangannya sesekali menyentuh perutnya. Masih teringat jelas gerakan kecil semalam. Senyumnya tidak pernah benar-benar hilang sejak itu. Elena duduk di karpet, menggambar. Namun kali ini, ia menggambar sesuatu yang berbeda. “Tiga orang?” tanya Ayu sambil melirik. Elena menggeleng. “Empat.” Ayu mengerutkan kening. Elena menunjuk gambar itu. “Aku, mama, papa dan dua adik bayi.” Ayu tertawa kecil. “Oh iya.. kan harusnya lima.” Elena langsung mengangguk. “Iya, lupa” jawab Elena sambil menutup mulutnya. Di sisi lain, Daniel duduk di kursi sambil membaca beberapa dokumen. Namun fokusnya tidak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia melirik Nadia. Seperti memastikan semuanya baik-baik saja. Ketukan pintu terdengar. Camille m
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Peringatan Daniel Malam semakin larut, villa Blankenese kembali sunyi setelah makan malam. Lampu-lampu mulai diredupkan. Dan satu per satu orang kembali ke kamar masing-masing. Di luar, mesin mobil Paul baru saja menyala. Namun sebelum mobil itu sempat bergerak, Daniel keluar dari pintu utama. “Paul.” Suara itu membuat Paul langsung mematikan mesin. Ia keluar dari mobil. “Iya, Tuan.” Daniel berjalan mendekat. Tangannya masuk ke saku celana. Wajahnya tenang. Namun tatapannya, tajam seperti biasa. “Ada yang ingin saya bicarakan,” kata Daniel. Paul langsung berdiri lebih tegak. “Tentu.” Beberapa detik hening. Angin malam berhembus pelan. “Kamu semakin sering ke sini akhir-akhir ini,” ujar Daniel. Paul tidak menyangkal. “Iya.” Daniel menatapnya. “Bukan hanya karena pekerjaan.” Paul diam. Namun kali ini ia tidak menghindar. “Benar,” jawab Paul akhirnya. Daniel mengangguk pelan. Seolah sudah tahu. “Ayu.” Satu nama itu cukup. Paul menarik napas. “Iya.” Daniel berjalan sedikit m
Last Updated: 2026-06-01
Chapter: Kembali Ke Dunia LamaPagi itu terasa berbeda di villa Blankenese. Bukan karena suasana. Bukan karena rutinitas. Tapi karena satu hal yang sudah lama tidak terlihat, Daniel kembali mengenakan setelan formalnya. Di kamar, Daniel berdiri di depan cermin. Kemeja putih rapi. Jas hitam yang pas di tubuhnya. Dasi yang terikat sempurna. Wajahnya kembali dingin. Tegas. Seperti sosok CEO yang selama ini ia tinggalkan, demi keluarga. Nadia yang duduk di tempat tidur memperhatikannya. Sudah lama ia tidak melihat sisi ini. “Kamu terlihat berbeda hari ini” kata Nadia pelan. Daniel menoleh. “Lebih buruk?” Nadia tersenyum kecil. “Lebih berbahaya.” Daniel mendekat. “Mungkin.” Ia membungkuk sedikit. Mencium kening Nadia. “Aku harus ke kantor hari ini.” Nadia mengangguk. “Hati-hati ya” Daniel menatapnya. “Kamu juga.” Tangannya menyentuh perut Nadia dengan lembut. Sejenak. Namun penuh arti. Di ruang bawah, Ayu hampir menjatuhkan gelasnya saat melihat Daniel turun. “Wow.” Rudi mengangkat alis.
Last Updated: 2026-05-31
Chapter: Kejutan untuk Nadia Malam turun perlahan di villa Blankenese. Lampu-lampu menyala hangat, namun suasana di dalam rumah terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih dalam. Nadia berdiri di dekat jendela kamarnya. Tablet masih ada di tangannya. Layar itu sudah mati. Namun pikirannya, tidak. Undangan itu masih terbayang jelas. Paris. Residensi. Kesempatan. Mimpi. Di sisi lain, Daniel dan Elena. Dua bayi dalam kandungan yang sedang ia jaga. Pintu terbuka pelan. Daniel masuk. Langkahnya tenang. Namun tatapannya langsung tertuju pada Nadia. “Kamu belum tidur?” Nadia tidak menoleh. “Belum.” Beberapa detik. Hening. Namun bukan hening yang kosong. Melainkan yang penuh ketenangan. Daniel mendekat. Berhenti di belakangnya. “Kamu masih memikirkan residensi.” Bukan pertanyaan. Pernyataan. Nadia tersenyum kecil. “Iya.” Akhirnya ia menoleh. Menatap Daniel. “Aku tidak bisa pura-pura tidak peduli.” Daniel mengangguk pelan. “Aku tahu.” Nadia berjalan pelan kembali ke tempat tidur. Duduk. Meng
Last Updated: 2026-05-30