Inicio / Romansa / Om Bule Kekasihku / Garis Yang Disepakati

Compartir

Garis Yang Disepakati

Autor: Sabrina dewi
last update Fecha de publicación: 2026-01-05 17:44:36

Keheningan kembali menyelimuti villa Blankenese setelah kepergian Elena. Namun kali ini, sunyi itu tidak kosong. Ia terasa seperti ruang yang sudah diisi, lalu dirapikan dengan hati-hati menyisakan jejak tawa kecil, seprai yang masih hangat, dan sebuah kepastian baru yang belum diberi nama.

Nadia merapikan dapur perlahan. Tangannya menyentuh meja kayu panjang yang kemarin dipenuhi remah kue dan cerita anak-anak. Daniel berdiri di ambang pintu, mengamati tanpa menyela.

“Kamu tidak lelah?” tany
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Om Bule Kekasihku   Nasi Kuning Dan Rasa Rumah

    Pagi di villa Blankenese dimulai dengan sesuatu yang tidak biasa. Bukan karena suasana yang berbeda. Melainkan karena satu keinginan sederhana dari Nadia. Nadia berdiri di dapur, bersandar ringan di meja, sambil memperhatikan Lina yang sedang memotong bahan. “Ma..” “Iya, Nadia?” jawab Lina. Nadia tersenyum kecil. “Aku pengen nasi kuning.” Lina berhenti sejenak. “Nasi kuning?” Nadia mengangguk pelan. “Nasi kuning buatan mama, seperti yang dulu” Nada suaranya lembut. Hampir seperti anak kecil yang sedang rindu masakan rumah. Lina langsung tersenyum hangat. “Nanti mama buatkan ya” ucap Lina lembut. Ayu yang baru masuk dapur langsung menyahut, “Wah.. ngidam ya ceritanya.” Nadia tertawa. “Pengen aja” Ayu menyilangkan tangan. “Padahal kita bisa pesan di restoran Indonesia.” Nadia menggeleng. “Rasanya beda” Ia menatap Lina. “Aku mau yang buatan mama.” Lina tersenyum penuh arti. “Baik. Mama buatkan.” Lina dan Ayu pergi untuk berbelanja semua bahan untuk membuat nas

  • Om Bule Kekasihku   Dua Nama

    Perjalanan pulang dari rumah sakit terasa lebih hidup dari biasanya. Di dalam mobil, suara Elena tidak berhenti sejak tadi. “Papa, nanti aku yang pilih nama ya?” tanya Elena. Daniel yang sedang menyetir melirik lewat kaca spion. “Kamu sudah punya ide buat nama adik bayi?” kata Daniel. Elena mengangguk cepat. “Ada!” Ayu yang duduk di kursi depan langsung tertarik. “Siapa tuh?” Elena berpikir keras beberapa detik, lalu berkata penuh percaya diri, “Kalau cowok, Leo!” Ayu tertawa kecil. “Kenapa Leo?” Elena menjawab polos, “Karena kuat.” Daniel tersenyum tipis. “Bagus.” Elena lalu menoleh ke Nadia. “Kalau yang cewek, Luna” jawab Elena dengan semangat Nadia mengangkat alis. “Kenapa Luna?” Elena tersenyum kecil. “Karena cantik.” Suasana di dalam mobil langsung terasa hangat. Daniel tidak berkata apa-apa. Namun senyum kecil di wajahnya cukup menjelaskan semuanya. Sesampainya di villa Blankenese, semua orang langsung berkumpul di ruang keluarga. Lina membawa minuman ha

  • Om Bule Kekasihku   Dua Detak Kecil

    Pagi itu, suasana villa Blankenese terasa lebih sibuk dari biasanya. Daniel sudah berdiri di ruang tengah sejak pagi, mengenakan kemeja rapi, ponsel di tangan, namun perhatiannya jelas bukan pada pekerjaan. “Nadia sudah siap?” tanya Daniel untuk ketiga kalinya. Dari tangga, suara Ayu terdengar, “Tenang sedikit, Daniel. Ini bukan rapat penting.” Daniel menghela napas tipis. “Ini lebih penting dari pada rapat.” Beberapa detik kemudian, Nadia turun perlahan dengan bantuan Camille. “Madame, pelan-pelan,” ujar Camille dengan nada formalnya. Nadia tersenyum. “Iya, Camille” jawab Nadia lembut. Elena langsung berlari kecil menghampiri. “Mama!” Ia memegang tangan Nadia dengan hati-hati. “Aku ikut ya?” tanya Elena. “Kamu mau ikut ke dokter?” kata Daniel. Elena mengangguk cepat. “Aku mau ikut!” Ayu langsung menyela, “Wah, seru nih. Ada pasien kecil tambahan.” Nadia tertawa. “Boleh” ucap Nadia. Daniel tidak menolak. “Baik. Kita pergi bersama.” Perjalanan menuju rumah sakit

  • Om Bule Kekasihku   Rencana Yang Ditunda

    Malam itu villa Blankenese terasa hangat dan hidup. Lampu-lampu di ruang keluarga menyala lembut, meja makan dipenuhi hidangan buatan Lina dan untuk setelah sekian lama, semua orang berkumpul tanpa bayang-bayang ketegangan. Daniel duduk di ujung meja, sementara Nadia di sampingnya, dengan Elena yang setia menempel di kursinya. Ayu duduk santai sambil memainkan sendok, Camille berdiri di dekat dinding seperti biasa, dan Lina serta Rudi duduk berhadapan dengan mereka. Suasana terasa nyaman. Namun Daniel terlihat sedikit lebih serius dari biasanya. “Nadia” kata Daniel pelan. Nadia menoleh. “Iya?” Daniel menarik napas kecil. “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.” Ayu langsung menegakkan badan. “Wah.. sepertinya serius nih” ucap Ayu. Elena menatap Daniel dengan penasaran. “Ada apa papa?” tanya Elena serius. Daniel melirik semua orang. Tentang resepsi. Di Bali. “Aku ingin kita menunda resepsi.” Ruangan langsung hening beberapa detik. Nadia menatapnya. “Kamu yakin?” Da

  • Om Bule Kekasihku   Di Antara Tanggung Jawab Dan Tawa Kecil

    Hari-hari di Blankenese mulai kembali ke ritme semula. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Villa itu tidak hanya menjadi rumah, tetapi benar-benar menjadi tempat untuk pulih. Pagi itu, ruang kerja Daniel kembali hidup. Laptop terbuka, beberapa dokumen berserakan di meja, dan suara panggilan video terdengar samar. “Ya, lanjutkan akuisisi itu,” kata Daniel dengan nada tenang namun tegas. Di layar, beberapa eksekutif mengangguk. “Dan pastikan tidak ada celah hukum. Aku tidak mau ada masalah di kemudian hari.” “Baik, Tuan Daniel.” Panggilan berakhir. Daniel menutup laptopnya perlahan. Namun belum sempat ia berdiri, pintu terbuka sedikit. Seorang kepala kecil muncul. “Papa” Daniel langsung melunak. “Elena.” Gadis kecil itu masuk pelan. “Apa aku boleh masuk?” Daniel tersenyum. “Kamu tidak perlu izin.” Elena mendekat. “Papa sibuk?” Daniel menggeleng. ”Untuk anak papa, tidak” Elena terlihat puas dengan jawaban itu. Ia naik ke kursi di samping Daniel. “Mama lagi ti

  • Om Bule Kekasihku   Cerita Elena

    Udara Hamburg yang biasanya dingin seolah tidak mampu menembus suasana rumah yang kini dipenuhi kehangatan, kelegaan dan kebersamaan. Di ruang makan, meja besar sudah dipenuhi sarapan. Lina menyiapkan makanan dengan penuh perhatian, sementara Ayu membantu sambil sesekali bercanda. Rudi duduk membaca berita dan Camille berdiri tegak di dekat tangga, seperti biasa rapi dan sigap. “Madame sudah bangun?” tanya Camille dengan nada hormat. Nadia yang baru turun tangga tersenyum kecil. “Sudah, Camille.” Camile menuntun Nadia dengan pelan-pelan. Elena langsung berlari kecil menghampirinya. “Mama” Ia memeluk Nadia dengan hati-hati. Seolah masih mengingat bahwa wanita itu belum sepenuhnya pulih. Nadia mengusap rambutnya. “Pagi, sayang.” Daniel berdiri dari kursinya, matanya langsung tertuju pada Nadia. “Kamu harus cepat duduk.” Nada suaranya tenang, tapi tidak memberi pilihan. Ayu tertawa kecil. “Bossy banget.” Nadia hanya tersenyum dan menurut. Sarapan dimulai dengan suasan

  • Om Bule Kekasihku   Hadiah Untuk Ulang Tahun ke-10

    Beberapa hari sebelum perjalanan mereka kembali ke Italia, Nadia berdiri di tengah ruang tamu apartemen Daniel di Hamburg dengan wajah serius. Di atas meja terdapat beberapa kotak kecil, buku dan sebuah boneka beruang yang baru saja ia beli. Namun tak satu pun terasa benar. Daniel yang duduk di

    last updateÚltima actualización : 2026-04-03
  • Om Bule Kekasihku   Perjalanan Yang Membawa Pulang

    Pagi itu datang terlalu cepat bagi Nadia. Langit Ubud masih berwarna abu-abu kebiruan ketika ia membuka jendela kamar. Udara pagi terasa lembap dan tenang, seperti Bali yang masih setengah tertidur. Hari ini mereka akan pergi. Setelah beberapa minggu tinggal di Ubud, saatnya Nadia dan Daniel men

    last updateÚltima actualización : 2026-04-02
  • Om Bule Kekasihku   Kota Baru Dan Rindu Yang Teratur

    Berlin menyambut Nadia dengan udara yang lebih dingin dan ritme yang berbeda. Kota itu tidak berusaha ramah, ia apa adanya dan penuh sudut yang menantang. Dari jendela taksi, Nadia melihat bangunan-bangunan tua berdampingan dengan dinding penuh grafiti. Ada keindahan yang tidak rapi, dan untuk alas

    last updateÚltima actualización : 2026-03-30
  • Om Bule Kekasihku   Pulang Dengan Nama Baru

    Berlin malam itu bersinar seperti kota yang tahu bahwa sesuatu sedang lahir. Galeri di Kreuzberg penuh. Lampu-lampu hangat menggantung rendah, memantulkan warna pada dinding putih yang dipenuhi karya-karya Nadia. Musik jazz lembut mengalun, bercampur suara percakapan dalam berbagai bahasa. Ada kur

    last updateÚltima actualización : 2026-03-30
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status