Beranda / Romansa / Om Bule Kekasihku / Undangan Dari London

Share

Undangan Dari London

Penulis: Sabrina dewi
last update Tanggal publikasi: 2026-01-05 17:50:22

Pagi di Blankenese datang dengan cahaya pucat yang menembus jendela besar ruang makan. Nadia duduk di kursi dekat jendela, secangkir teh hangat di tangannya. Di luar, Sungai Elbe mengalir tenang, seolah menyelaraskan diri dengan ritme hidup mereka yang perlahan menemukan keseimbangan.

Daniel turun dari tangga sambil membawa tablet. Wajahnya tampak rileks, ekspresi yang semakin sering muncul sejak ia belajar membagi waktunya, bukan mengorbankan satu hal demi yang lain.

“Kabar dari London,” kat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Om Bule Kekasihku   Batas Yang Tidak Boleh Dilanggar

    Rumah sakit kembali menjadi tempat yang menegangkan. Lampu putih yang terang. Langkah kaki yang tergesa. Dan suara napas yang terasa terlalu keras di telinga. Daniel berjalan cepat di samping brankar. Tangannya tidak pernah lepas dari Nadia. “Nadia, lihat aku” ucap Daniel dengan suara panik. Nadia mencoba membuka matanya. Namun wajahnya masih pucat. Tangannya tetap memegang perutnya. “Perutku masih kram..” ucap Nadia. Suaranya lemah. Elena berjalan di belakang bersama Ayu. Wajahnya penuh air mata. “Mama Nadia..” Ia terus memanggil. Seolah takut jika suara itu berhenti, semuanya akan hilang lagi. Pintu ruang penanganan tertutup. Daniel terpaksa melepaskan tangan Nadia. Dan itu terasa seperti hal tersulit yang harus ia lakukan. “Nadia..” Namun pintu sudah tertutup. Beberapa detik. Sunyi. Daniel menutup matanya. Menarik napas dalam. Namun kali ini, bahkan itu tidak cukup untuk menenangkan dirinya. “Elena” ucap Ayu lembut. Ayu berlutut di depan gadis kecil itu.

  • Om Bule Kekasihku   Aksi Nekat Nadia

    Hari itu dimulai dengan ringan. Terlalu ringan. Seolah semua orang akhirnya benar-benar bisa bernapas setelah semua yang terjadi. Pagi di halaman belakang villa Blankenese terasa cerah. Kolam renang yang beberapa hari lalu dibersihkan kini terlihat jernih, memantulkan langit biru Hamburg yang jarang muncul. Elena berlari kecil di sekitar taman, memegang Bruno. “Ke sini!” kata Elena riang, seolah Bruno bisa benar-benar mengerti. Di kursi dekat kolam, Ayu duduk santai, sementara Paul berdiri tak jauh, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. “Kalau kamu mau lihat, lihat saja,” kata Ayu tanpa menoleh. Paul mengangkat alis. “Saya tidak melihat apa-apa.” Ayu menyeringai. “Iya, iya.” Di balkon atas, Nadia berdiri dengan hati-hati, ditemani Camille. “Madame sebaiknya tidak terlalu lama berdiri,” ujar Camille. Nadia tersenyum. “Aku hanya lihat Elena sebentar.” Matanya mengikuti gerak anak itu. Penuh kasih. Penuh perhatian. Di bawah, Elena tertawa sambil berlari mundur. “Brun

  • Om Bule Kekasihku   Kunjungan Yang Kebetulan

    Sejak hari itu, semuanya terasa sedikit berbeda. Bukan karena sesuatu yang besar. Tapi karena seseorang yang mulai terlalu sering muncul. Pagi itu, villa Blankenese masih tenang. Ayu sedang duduk santai di ruang keluarga, menikmati teh sambil menggulir ponselnya. Elena bermain di lantai dengan puzzle. Lina di dapur. Camille seperti biasa berdiri rapi di dekat jendela. Dan tiba-tiba, ding dong. Ayu mengangkat alis. “Siapa pagi-pagi?” Camille berjalan menuju pintu dan membukanya. Di sana ada seseorang yang sedang berdiri, Paul. Dengan map di tangan. Dan ekspresi profesionalnya. “Selamat pagi.” Camille menatapnya beberapa detik. “Tuan Paul. Tuan Daniel belum memanggil anda.” Paul mengangguk. “Saya tahu.” Camille mengangkat alis tipis. “Lalu?” tanya Camille. “Hari ini saya datang lebih awal” jawab Paul dengan tenang. Camille menatapnya lagi. Lebih lama. Lalu, membiarkannya masuk. Ayu yang melihat dari sofa langsung bersuara, “Wah... rajin sekali.” Paul menoleh.

  • Om Bule Kekasihku   Tatapan Yang Tidak Sengaja

    Hari-hari di villa Blankenese mulai kembali normal. Namun di balik rutinitas yang terlihat tenang, ada sesuatu yang perlahan berubah. Sesuatu yang kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat seseorang mulai memperhatikan. Pagi itu, Paul datang lebih awal dari biasanya. Sebagai asisten pribadi Daniel, kedatangannya memang sudah biasa. Namun kali ini, ia tidak langsung menuju ruang kerja. Ia berhenti sejenak di ruang makan. Matanya mencari sesuatu atau seseorang. Dan ia menemukannya. Ayu. Ayu sedang duduk santai di kursi, menyeruput kopi sambil membaca sesuatu di ponselnya. Rambutnya diikat asal. Penampilannya sederhana. Namun entah kenapa, Paul tidak bisa mengalihkan pandangannya. Beberapa detik. Terlalu lama. Sampai akhirnya Ayu mengangkat kepala. Dan menangkap tatapan itu. “Kenapa?” tanya Ayu. Paul langsung tersadar. “Tidak, tidak apa-apa” jawab Paul gugup. Ayu mengangkat alis. “Kamu lihat aku kayak mau interview.” Paul sedikit gugup adalah hal yang

  • Om Bule Kekasihku   Hangatnya Dapur Dan Cerita Lama

    Beberapa hari setelah “misi nasi kuning” yang sukses besar, dapur villa Blankenese kembali hidup. Kali ini bukan karena keinginan mendadak, melainkan karena Nadia ingin melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan. Memasak. “Aku mau buat bakso Malang” ucap Nadia sambil berdiri di dapur, mengenakan apron sederhana. Ayu langsung menoleh cepat. “Serius?” Nadia mengangguk. “Iya. Aku lagi pengen banget makan itu” Lina tersenyum hangat. “Mama bantu, nak” ucap Lina. Camille yang berdiri di dekat pintu terlihat sedikit ragu. “Apakah Madame tidak kelelahan?” tanya Camille. Nadia tersenyum. “Aku tidak akan berdiri lama.” Ayu langsung menyela, “Kita yang kerja beratnya. Nadia cuma ‘supervisi’.” Nadia tertawa. Tak lama kemudian, dapur berubah menjadi lebih ramai. Lina menggiling daging. Ayu menyiapkan bumbu. Nadia duduk di kursi tinggi, sesekali mencicipi dan memberi arahan. “Ayu, garamnya tambah sedikit lagi” “Bawang putih gorengnya tambah lagi” Camille berdiri di de

  • Om Bule Kekasihku   Nasi Kuning Dan Rasa Rumah

    Pagi di villa Blankenese dimulai dengan sesuatu yang tidak biasa. Bukan karena suasana yang berbeda. Melainkan karena satu keinginan sederhana dari Nadia. Nadia berdiri di dapur, bersandar ringan di meja, sambil memperhatikan Lina yang sedang memotong bahan. “Ma..” “Iya, Nadia?” jawab Lina. Nadia tersenyum kecil. “Aku pengen nasi kuning.” Lina berhenti sejenak. “Nasi kuning?” Nadia mengangguk pelan. “Nasi kuning buatan mama, seperti yang dulu” Nada suaranya lembut. Hampir seperti anak kecil yang sedang rindu masakan rumah. Lina langsung tersenyum hangat. “Nanti mama buatkan ya” ucap Lina lembut. Ayu yang baru masuk dapur langsung menyahut, “Wah.. ngidam ya ceritanya.” Nadia tertawa. “Pengen aja” Ayu menyilangkan tangan. “Padahal kita bisa pesan di restoran Indonesia.” Nadia menggeleng. “Rasanya beda” Ia menatap Lina. “Aku mau yang buatan mama.” Lina tersenyum penuh arti. “Baik. Mama buatkan.” Lina dan Ayu pergi untuk berbelanja semua bahan untuk membuat nas

  • Om Bule Kekasihku   Diantara Detak Dan Keheningan

    Pagi di Blankenese selalu datang seperti bisikan. Cahaya matahari menyelinap melalui tirai tipis, jatuh perlahan di lantai kayu kamar. Nadia terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bangun, hanya menatap Daniel yang masih tertidur di sampingnya. Wajah Daniel terlihat lebih muda saat tidur. Garis-g

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Sunyi Menjadi Tempat Pulang

    Hari pembukaan pameran tiba dengan cara yang nyaris tidak dramatis. Tidak ada karpet merah. Tidak ada bunga berlebihan. Tidak ada keramaian kamera. Hanya sebuah galeri kecil di Altona, pintu kaca sederhana, dan papan nama putih bertuliskan nama Nadia dengan huruf yang tidak besar namun cukup bera

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Rumah Yang Tidak Minta Penjelasan

    Usulan itu datang di saat yang nyaris tanpa rencana. Pagi sebelum keberangkatan mereka ke London, Margaret berdiri di dekat jendela apartemen, menatap sungai kecil yang mengalir pelan. Ia memutar cangkir tehnya, lalu berkata seolah berbicara pada udara. “Kalian tahu,” katanya ringan, “villa kelu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Harga Dari Kejujuran

    Pagi itu, Hamburg tidak memberi isyarat apa pun. Langit biru pucat, udara dingin bersih, kota berjalan seperti biasa seolah hidup Daniel dan Nadia tidak sedang berada di titik rawan. Nadia berdiri di dapur, menyiapkan sarapan sederhana. Tangannya bergerak otomatis, pikirannya tidak. Daniel duduk

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status