Home / Romansa / Om Bule Kekasihku / Sebuah Rahasia Kecil

Share

Sebuah Rahasia Kecil

Author: Sabrina dewi
last update publish date: 2026-04-06 17:52:04

Malam turun perlahan di Blankenese. Lampu-lampu taman vila Charter menyala lembut di antara salju yang masih menutupi halaman.

Di dalam rumah, suasana hangat seperti biasa.

Namun bagi Daniel dan Nadia, malam itu terasa berbeda.

Sebuah kemungkinan baru sedang berputar di kepala mereka.

Di ruang makan, makan malam berlangsung cukup ramai.

Lina menaruh sup hangat di tengah meja.

“Cuaca makin dingin. Sup ini pasti membantu sedikit menghangatkan badan.”

Rudi mengangguk setuju sambil memotong
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Om Bule Kekasihku   Agustus Yang Hangat

    Waktu berlalu jauh lebih cepat daripada yang disadari siapa pun. Tanpa terasa, musim panas di Hamburg sudah memasuki pertengahan Agustus. Taman Villa Blankenese tampak lebih hidup dari biasanya. Bunga-bunga bermekaran. Rumput hijau terawat rapi. Udara hangat membuat hampir seluruh penghuni rumah lebih sering menghabiskan waktu di luar. Dan ada dua penghuni kecil yang menjadi pusat perhatian setiap hari. Noah Charter dan Nora Charter. Kini usia mereka sudah genap satu bulan. Meski masih sangat kecil, perubahan keduanya sudah terlihat jelas. Berat badan mereka bertambah. Mereka lebih sering terjaga. Dan sesekali mulai menunjukkan ekspresi yang membuat seluruh keluarga gemas. Termasuk Daniel. Yang tentu saja tidak akan pernah mengakuinya. Pagi itu Nadia sedang duduk di teras belakang bersama Lina dan Margaret. Nora tertidur nyaman di pelukannya. Sedangkan Noah sedang berada di gendongan Daniel. Margaret memperhatikan kedua cucunya dengan bangga. "Mereka tumbuh sangat baik."

  • Om Bule Kekasihku   Pulang Lebih Cepat

    Selesai rapat besar bukan berarti pekerjaan Daniel langsung berakhir. Justru sebaliknya, begitu para investor meninggalkan kantor pusat, puluhan email baru sudah menunggu. Dokumen yang perlu ditinjau. Kontrak yang perlu disetujui. Laporan yang perlu dibaca. Namun ada satu perbedaan besar dibanding beberapa tahun lalu. Sekarang Daniel punya alasan untuk tidak menghabiskan seluruh harinya di kantor. Dan alasan itu berjumlah empat orang. Nadia. Elena. Noah. Dan Nora. Di ruang kerjanya yang berada di lantai paling atas gedung perusahaan, Daniel sedang menandatangani beberapa dokumen ketika Paul masuk membawa tablet. "Tuan." "Ada apa?" "Tim legal sudah menyelesaikan revisi kontrak" ucap Paul. "Bagus" jawab Daniel. singkat. "Dan investor Jepang meminta jadwal pertemuan lanjutan." Daniel mengangguk. "Atur minggu depan." Paul mencatat semuanya. Namun beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu. Daniel menatap layar komputer. Tetapi tidak membaca apa pun. "Tuan?" "Hm?

  • Om Bule Kekasihku   CEO Yang Kurang Tidur

    Pukul lima pagi. Villa Blankenese masih gelap dan tenang. Setidaknya untuk ukuran rumah yang dihuni dua bayi kembar. Daniel baru saja berhasil tidur sekitar satu jam ketika suara tangisan Nora terdengar dari baby monitor. Beberapa menit kemudian Noah ikut bergabung. Daniel membuka mata perlahan. Tatapannya kosong selama beberapa detik. Lalu ia menatap langit-langit kamar. "Ini serangan terkoordinasi lagi." Nadia yang sedang berusaha menahan tawa langsung memukul lengannya pelan. "Mereka masih bayi." "Aku tahu mereka bekerja sama" jawab Daniel. "Kamu mulai halusinasi karena kurang tidur." Daniel tidak menjawab. Karena sebagian dirinya mulai berpikir Nadia mungkin benar. Satu jam kemudian, semua kembali tenang.Noah dan Nora tertidur, Nadia kembali beristirahat. Daniel sedang menikmati secangkir kopi ketika ponselnya bergetar. Satu pesan. Dari Paul."Tuan, saya perlu berbicara dengan Anda segera." Daniel langsung membaca pesan itu dua kali. Karena Paul jarang menggunaka

  • Om Bule Kekasihku   Rencana Masa Depan

    Seminggu setelah Noah dan Nora pulang ke Villa Blankenese, seluruh penghuni rumah akhirnya memahami satu kenyataan yang sama. Bayi kembar memang menggemaskan. Sangat menggemaskan. Namun mereka juga mampu membuat seluruh rumah kehilangan jadwal tidur yang normal. Termasuk Daniel Charter. Pria yang selama bertahun-tahun mampu mengelola perusahaan internasional, menghadapi negosiasi bernilai miliaran euro dan menyelesaikan krisis bisnis tanpa kehilangan ketenangan. Kini terlihat kebingungan karena dua bayi berusia beberapa hari. Dan hal itu menjadi hiburan bagi seluruh keluarga. Pukul dua dini hari. Noah menangis. Daniel langsung bangun. Beberapa detik kemudian Nora ikut menangis. Daniel bangun sepenuhnya. Lalu lima menit kemudian Noah kembali menangis dan Nora menyusul. Daniel menatap langit-langit kamar. "Mereka ini kerja sama." Nadia yang sedang menyusui Nora tertawa pelan. "Mereka masih bayi" jawab Nadia. "Mereka bersekongkol" kata Daniel. "Kamu terlalu banyak mem

  • Om Bule Kekasihku   Sebuah Keluarga

    Suasana hangat yang tercipta setelah percakapan antara Margaret dan Ayu masih terasa bahkan hingga malam hari. Villa Blankenese yang besar itu dipenuhi tawa, percakapan, dan sesekali tangisan kecil Noah atau Nora yang langsung membuat setengah penghuni rumah bergerak bersamaan. Malam itu setelah makan malam selesai, sebagian besar keluarga berkumpul di ruang keluarga. Perapian memang tidak dinyalakan karena musim panas, tetapi lampu-lampu hangat dan suara ombak Sungai Elbe di kejauhan menciptakan suasana yang nyaman. Noah sedang tidur di pelukan Daniel. Sedangkan Nora tertidur di gendongan Nadia. Pemandangan yang masih membuat semua orang tersenyum. Karena beberapa bulan lalu, kamar bayi itu masih kosong. Dan sekarang ada dua penghuni kecil yang menjadi pusat dunia mereka. Di sofa panjang, Ayu duduk di samping Margaret. Kalung pemberian Margaret masih tergantung di lehernya. Beberapa kali tangannya tanpa sadar menyentuh liontin kecil itu. Margaret memperhatikannya. "Kamu men

  • Om Bule Kekasihku   Sebuah Undangan

    Beberapa hari setelah kepulangan Noah dan Nora ke Villa Blankenese, kehidupan perlahan mulai menemukan ritmenya. Meski "tenang" mungkin bukan kata yang tepat. Karena sekarang ada dua bayi yang bisa bangun bergantian sepanjang malam. Atau kadang-kadang bersamaan. Yang menurut Daniel merupakan bentuk konspirasi kecil terhadap waktu tidurnya. Pagi itu seluruh keluarga sedang menikmati sarapan di teras belakang. Udara musim panas Hamburg terasa nyaman. Noah tertidur di gendongan Nadia. Sedangkan Nora sedang berada dalam pelukan Oma Margaret yang tampak sangat menikmati perannya sebagai nenek. "Aku rasa aku akan pindah ke Hamburg" kata Margaret tiba-tiba. Thomas yang sedang minum kopi hampir tersedak. "Kita sudah membahas ini." Margaret tersenyum. "Dan aku masih menyukainya." Daniel hanya menggeleng. Sementara Elena langsung menyambut ide itu. "Oma tinggal di sini saja." Margaret tertawa. "Nanti Opa protes." "Aku tidak protes" jawab Thomas. "Kamu tidak protes?" tanya Marg

  • Om Bule Kekasihku   Peta Yang Tak Pernah Lurus

    Hamburg pagi itu dibungkus langit kelabu. Kabut tipis menggantung rendah di atas Sungai Elbe, membuat garis antara air dan langit seolah melebur. Dari balik jendela besar ruang kerjanya, Daniel Charter berdiri diam, secangkir kopi yang sudah dingin di tangan. Kota tampak teratur dari ketinggian, b

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Garis Yang Tidak Boleh Dilintasi

    Pagi di Blankenese selalu datang perlahan. Kabut tipis menggantung di atas Sungai Elbe, menutup pandangan seperti tirai tipis yang belum sepenuhnya ditarik. Nadia duduk di teras villa, jaket tipis membungkus tubuhnya, secangkir kopi mulai mendingin di tangan. Di depannya, kanvas setengah jadi men

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Diantara Detak Dan Keheningan

    Pagi di Blankenese selalu datang seperti bisikan. Cahaya matahari menyelinap melalui tirai tipis, jatuh perlahan di lantai kayu kamar. Nadia terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung bangun, hanya menatap Daniel yang masih tertidur di sampingnya. Wajah Daniel terlihat lebih muda saat tidur. Garis-g

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Om Bule Kekasihku   Ketika Sunyi Menjadi Tempat Pulang

    Hari pembukaan pameran tiba dengan cara yang nyaris tidak dramatis. Tidak ada karpet merah. Tidak ada bunga berlebihan. Tidak ada keramaian kamera. Hanya sebuah galeri kecil di Altona, pintu kaca sederhana, dan papan nama putih bertuliskan nama Nadia dengan huruf yang tidak besar namun cukup bera

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status