Masuk“Carmellita Brown.”Netra Ivy terlihat fokus mengamati layar laptop sementara tangannya mengusap-usap alas sentuh. Ia tengah berselancar di situs web Huggle untuk mencari tahu lebih jauh siapa wanita yang bertunangan dengan Lexton.Setelah beberapa saat, Ivy menarik tubuhnya menjauh dari laptop dan merenggangkan tubuh dengan lelah. Ia menyerah. “Nggak ada yang menarik. Nggak ada kelemahan.”Walau sebelumnya Ivy mengatakan akan menunggu komentar Lexton, tapi ia tidak bermaksud diam saja tanpa perlawanan. Orang seperti Carmellita akan mudah melenyapkannya, kalau ia tidak hati-hati dan bersiap dengan banyak amunisi. Di saat bersamaan, sebuah pesan masuk. Dari salah satu seniornya di organisasi siber rahasia. Dahi Ivy berkerut membaca pesan dari Jack. Ia menyuarakan pesan tersebut, “Pekerjaan baru? Perusahaan TanTambang lagi? Apa ada masalah ya?”Sepertinya Jack menawari Ivy sebuah pekerjaan lanjutan dari pelanggan lama mereka.Dengan cepat Ivy membalas pesan itu. To SentinelJ: Mau. Ak
“Jangan salah sangka sama Om Lex, Iv!” sentak Samantha tergesa. “Gue bisa jelasin!”Dahi Ivy berkerut. “Well, gue nggak salah sangka. Gue cuma nanya sih.”“Oh? Oh …. Fyuh! Gue kira lu bakalan nangis dan ngerasa dimainin om gue.” Samantha terduduk lemas di salah satu kursi besi dekat mereka. “Jadi, gini ceritanya ….”Keponakan Lexton pun segera menjelaskan awal mula adanya pertunangan itu. Tentu saja, yang ia ceritakan berdasarkan cerita dari sang ibu—Giana, juga 2 tantenya.Ivy akhirnya bisa bernapas lega. “Syukurlah kalau Om Lexton baik-baik aja, Sam. Gue takut kalo karena gue dia jadi susah.” Samantha menatap Ivy sesaat kemudian berkata, “Nggak juga. Dia emang bakal susah karena dia milih lu, Iv. Itu kenyataan yang nggak bisa lu singkirin.”Wajah Tessa panik mendengar Samantha bicara terus terang. Ia takut kata-kata Samantha akan menyakiti Ivy dan mungkin bisa membuat teman barunya menyerah berhubungan dengan Lexton. “Sa—Sammy, mungkin jangan bilang gitu—”“Kenapa? Gue bicara keny
“Selamat Lexton!” Seruan itu kembali menggema setelah Jeremy mengumumkan tanggal pernikahan Lexton dan Carmellita. Pers yang datang pun mulai mengambil foto. Beberapa bertanya, tetapi tidak banyak. Carmellita sedikit bingung, karena mereka bertindak di luar kesepakatan.Selain itu, mereka membuat suasana sedikit ricuh, sehingga Jeremy justru membuat para pers meninggalkan ruangan itu secepatnya. Carmellita tidak tahu, Lexton sudah mengganti semua personel wartawan yang dibayar olehnya. “Ayo, ayo! Kita bersulang untuk kebahagiaan kedua calon mempelai kita!”“Cheers!”*** “Berhasil?” tanya Lexton pada Frank—sekretaris sekaligus asisten pribadinya.“Tentu saja!”Setelah acara semalam, akhirnya tidak ada satupun televisi yang menayangkan penggabungan dua keluarga terkuat di Jayakara.Frank sampai harus lembur demi menjaga agar acara tersebut tidak beredar di manapun. Namun, ia langsung mendapat bonus tambahan untuk kerja kerasnya itu. “Kalau gitu, aku bisa tenang, Frank.” Lexton ter
“Om Lex? Kok mukanya merengut?”Ivy jadi ikut mengernyitkan dahi melihat Lexton kembali dengan wajah gusar. Namun, yang dikhawatirkan hanya tersenyum dan memberi kecupan di atas kepala. “Ada sedikit masalah, Hon,” jawab Lexton tak bisa berdusta, tapi juga tak mungkin menceritakan soal Carmellita. “Selesai makan, aku nggak bisa lama-lama. Oke?”Ivy mengangguk paham. Ia cukup penasaran dengan masalah yang sedang dihadapi Lexton, tetapi ia tahu batasannya. Jadi, ia memutuskan, selama Lexton tidak cerita, ia juga tidak akan menuntut. “Kuharap masalah itu bukan karena Om dateng ke sini di jam kerja.” Ivy sedikit menegur sikap Lexton yang sembarangan meninggalkan pekerjaan itu. Dengan lihai, Lexton mengelak, “Ini jam istirahat, Sayang. Karena tempat makannya jauh, jadi aku ambil waktu istirahat lebih cepat.”Cengiran kekanakan di wajah Lexton membuat Ivy tidak bisa membantah lagi. Ia hanya bisa mengiyakan apapun alasan pria yang usianya 19 tahun lebih tua darinya itu. “Ya, ya, ya!”Seles
“Dia beneran mau ke sini,” gumam Ivy sambil menunggu kaku di ruang tamu kediamannya. Setelah rumah itu dibeli Lexton, Ivy tinggal di sana dengan asisten rumah tangga lengkap. Bahkan sekarang ia punya kepala asisten rumah tangga. Ludwig, lelaki yang datang untuk membersihkan rumah itu, adalah kepala asisten rumah tangga. “Saya sudah minta dapur siapkan makan siang lebih awal, Nona,” ujar Ludwig penuh hormat. “Anda yakin, Tuan Lexton datang sekarang?”Ivy mengangguk, mengiyakan semua ucapan Ludwig. Karena memang masih pukul 11 siang dan tiba-tiba saja Lexton berniat ke rumahnya. Padahal ini masih jam kerja. “Kemungkinan Tuan Lexton akan kena protes dari asistennya di kantor,” kekeh Ludwig yang sudah terbiasa dengan sikap tidak peduli dari majikannya itu. “Beliau pasti diam-diam kabur dari kantor.”“Apa nggak apa-apa dia seenaknya gitu, Paman Ludwig?” tanya Ivy keheranan.“Hahaha! Tentu saja, pasti muncul masalah,” jawab Ludwig tanpa rasa khawatir. “Nona tenang saja. Tuan muda selalu
Beberapa hari berlalu setelah rapat besar keluarga Tan. Lexton tidak pernah menduga, bahwa akan datang harinya di mana ia mendapat tekanan dan ancaman karena sudah menolak seorang wanita.Foto-foto Lexton dengan Ivy terhampar di atas meja kerjanya. Sementara itu, seorang wanita muda cantik jelita bersedekap angkuh. Matanya memandang remeh ke arah Lexton. Dia adalah Carmellita Brown, wanita yang digadang-gadang akan menjadi calon istri Lexton di kemudian hari. Keluarga Brown adalah satu dari segelintir keluarga old money yang cukup berpengaruh. Perusahaan utama mereka bergerak di bidang keuangan. “Kamu sadar, kan, kalau perempuan yang kamu pacari itu usianya terpaut jauh denganmu?!” tukas Carmellita tegas. “Om Jeremy nggak akan setuju dengan hubungan kalian!”Lexton tak menjawab. Netranya masih terfokus pada setiap foto yang ada di depan mata. Ia mengambil satu per satu dan tersenyum puas. “Hebat juga yang ngambil gambar! Jernih banget! Thanks, aku nggak perlu nyewa fotografer.” C







