LOGINNaomi memulai perjalanan karir di perusahaan kecil yang hampir bangkrut. Lalu dia berkembang dan bertumbuh hingga ke perusahaan besar. Sang Social Butterfly selalu berusaha dan membantu tim dalam mengembangkan perusahaan. Tak sedikit orang yang meminta bantuannya. Ketika Naomi mengalami satu masalah, orang-orang di sekitarnya tidak mendukungnya bahkan menggunjingnya. Tapi senyum sang kupu-kupu tidak pernah pudar. Tidak ada yang tahu bahwa di luar dia selalu mengembangkan sayapnya dengan indah. Tapi di dalam, sayapnya terlipat dan terluka. Satu kesalahannya menghapus semua kebaikan yang dia lakukan. Lalu apa pilihan Naomi?
View More"Siapa ayah anak itu?"
Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya.
"Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut.
"Ini anakmu." Naomi mengambil nafas dan menatap lelaki itu. "Yang kita lakukan waktu itu adalah kesalahan."
"Aku akan bertanggung jawab." Dia mengatakan itu tanpa penuh keraguan sedikit pun.
"Bagaimana kamu akan bertanggung jawab? Menceraikan istrimu dan menyakiti puterimu?" Nada Naomi meninggi dan terdengar tegas. "Kamu memiliki keluarga, aku memiliki Leon," Naomi mengingatkan.
"Yang kita lakukan memang kesalahan, tapi aku tidak menyesalinya"
Naomi menghela nafas begitu keras hingga mungkin lelaki itu mendengarnya. Naomi tidak menyangka akan mendengar itu darinya. Naomi tahu bahwa lelaki di hadapannya ini sangat mencintainya begitu pula dirinya. Tapi, mereka masing memiliki pasangan.
***
Naomi melangkahkan kaki ke dalam lobi. Jantungnya berdegup kencang. Hari ini adalah hari pertama bekerja di perusahaan impiannya. Aroma kopi dan kertas baru menyambutnya, berpadu dengan bisikan-bisikan samar yang membuatnya merasa gugup.
Keluar dari ruang HRD, Naomi diminta untuk mengikuti seorang yang sebelumnya disebut Team Leader. Mereka menyusuri lorong dan masuk ke ruangan yang bagian depannya tertulis DIVISI PENJUALAN. Naomi melangkah masuk, seketika ia merasa ditarik ke pusaran energi yang berbeda.
Dinding-dindingnya seperti kanvas hidup, dihiasi sticky notes warna-warni membentuk mozaik tak beraturan. Mind maps yang digambar dengan panah-panah tak terduga. Ada potongan-potongan mood board yang ditempel beberapa produk, diagram entah apa itu, bahkan coretan pena yang terkesan tak sengaja. Dia akan mengetahui maksud semua ini nanti ketika dia sudah terjun ke dalamnya.
Meja-meja tidak beraturan, mencerminkan kepribadian para penghuninya. Ada yang mengiasnya dengan cantik, ada yang menatanya dengan rapi, ada pula yang berantakan dengan tumpukan lembaran-lembaran kertas.
"Baik, semuanya! Perkenalkan ini anggota kita yang baru namanya Naomi. Mulai hari ini menjadi bagian dari kita. Jadi, bantu dia jika ada kendala." ujar pria yang di tanda pengenalnya tertulis Herman.
Naomi melemparkan senyumnya kepada para penghuni ruangan.
"Halo, perkenalkan saya Naomi. Mohon bimbingannya."
"Selamat bergabung" ujar seorang wanita.
"Kamu tidak tepat bergabung sekarang, tapi semoga beruntung" celetuk salah seorang pria yang tampak sibuk dengan kertas-kertasnya.
Naomi mengangkat alisnya heran, tanpa mengubah senyumnya. Mengapa dia bicara seperti itu? Tanya Naomi dalam hati.
"Naomi, di situ meja kamu" Herman menunjukkan salah satu meja yang bersih. Hanya ada set komputer terlihat.
Naomi menoleh pada Herman dan memberikan senyumnya, "Terima kasih".
Naomi melangkah ke mejanya dengan semangat. Ini miliknya, dia bisa menghias meja ini semaunya. Naomi lalu duduk di kursinya lalu meraba meja untuk mengagumi.
"Aku Killa." Suaranya membuat Naomi menoleh.
"Meski keadaan sekarang nggak bagus, tapi kita tetap harus berusaha," ujarnya.
"Sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi. Ada apa?" Tanya Naomi.
"Pemimpin kantor terkena kasus korupsi. Ada perpecahan kubu dalam penunjukkan pengganti pemimpin."
"Ahh.." Naomi menganggukkan kepala. Dia akhirnya mengerti sekarang apa yang terjadi.
"Tapi itu biarlah menjadi urusan para petinggi. Kita fokus saja bekerja. Bilang saja padaku kalau kamu butuh bantuan."
"Terima kasih"
***
Ketika jam makan istirahat, Killa mengajak Naomi untuk makan di kantin kantor. Tapi, dia menolak halus karena dia ingin melihat sekeliling kantor. Putri yang mendengar itu pun menghampiri dan menawarkan diri untuk mengajak berkeliling. Tia yang menedengar pun ikut bergabung. Tentu saja Naomi menyambut mereka.
Mereka pergi ke luar kantor dan berbelok ke kiri bagian luar kantor.
"Kita ke sini sebentar untuk membeli minum dan camilan. Aku sarankan kamu membeli cheese cake di sini. Soalnya enak banget," ujar Tia menekankan kata enak dengan penuh semangat.
"Oh ya? Kebetulan aku suka cheese cake" mata Naomi mulai membelalak karena dia mendengar sesuatu yang disuka.
"Tapi siap-siap kantongmu jebol kalau beli setiap hari." Ujar Putri sambil terkikih.
Mereka melewati pintu kaca. Aroma manis menyeruak, perpaduan aroma kopi dan kue. Suara alunan lagu pun terdengar ke penjuru ruangan.
Putri menarik lengan Naomi ke arah konter, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Tia sudah memesan apa yang dia inginkan. Putri memandang papan menu di belakang barista. Naomi pun ikut menyapukan pandangan ke arah menu.
Dia selalu melewatkan menu bagian kopi. Naomi tidak kuat meminum kopi. Kepalanya akan menjadi pusing ketika dia mengkonsumsi kafein yang tinggi. Untuk itu, dia selalu memilih teh atau matcha.
"Matcha Frappuccino satu" Pesan Naomi.
"Kamu ingin membeli cheese cake juga?" Tanya Tia yang telah bergeser ke etalase kue.
"Ya, aku ingin mencobanya."
"Cheese cake tiga" pinta Tia.
Lonceng di pintu berbunyi. Hampir setiap orang di sana menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria memegang ponsel di telinga. Entah apa yang dia bicarakan, tapi terdengar sangat marah. Dia melangkah kearah Naomi dan yang lain. Naomi pun bergeser agar pria tersebut bisa memesan.
Naomi memandangi pria itu dari samping. Cukup tinggi karena Naomi yang memakai heels hanya sebahunya. Brewok tipisnya terkesan seperti campuran Arab. Muka asing tapi familiar. Apakah pernah bertemu sebelumnya? Tanyanya dalam hati.
"Ingin makan di sini atau di kantor?" Tanya Tia.
"Di sini saja. Kita ke situ sambil gosip." Tunjuk Putri ke arah salah satu kursi di dekat kaca.
"Ayo Naomi!" Ajak Tia.
Pria tersebut sempat menoleh ketika nama Naomi dipanggil.
"Ya!"
Putri sedikit menyeret Naomi, permintaan segera duduk. Mereka berdua mendekatkan kepala seolah ada yang ingin dikatakan secara rahasia. Naomi pun bergerak melakukan hal yang sama.
"Pria itu, aku dengar dia baru naik pangkat di divisi lain. Gosipnya, dia anak titipan." Putri sedikit berbisik.
Naomi pun melihat ke arah pria itu lagi.
"Siapa namanya?" Tanya Naomi penasaran.
"Rahaal. Nama belakangnya Rianon."
Naomi terlihat mengangguk sambil menyuap cheese cake. Sebenarnya itu bukan nama asing di dunia bisnis. Beberapa perusahaan besar dipimpin seseorang bernama Rianon.
Ponsel Naomi bergetar. Dia melirik sedikit ke layar ponsel. Sebuah pesan yang menautkan link. Naomi menyentuh link itu lalu diarahkan ke sebuah web. Undangan konferensi dan seminar. Tertulis Sabtu siang. Dia pun keluar dari web itu dan kembali ke pesan.
Acara ini cocok untukmu belajar. Aku sudah mendaftarkan namamu. Jadi, berangkatlah.
Naomi lalu menatap kepada dua temannya.
"Ada seminar dari perusahaan Eco Flavor. Apakah kalian ikut?"
"Kami tidak pernah ikut acara seperti itu. Lebih baik istirahat di rumah." Ujar Putri.
"Aku juga. Hari libur itu untuk healing." Tambah Tia.
Usai dari toilet,Naomi tidak tahu apakah harus segera kembali ke booth atau dia harus jalan-jalan di sekitar mall. Saat sedang berjalan santai, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah butik parfum premium. Dan di sanalah ia melihat seseorang yang dikenalnya. Rahaal.Naomi otomatis melambat. Bukan karena ingin menguping. Hanya saja cukup mengejutkan rupanya keperluan lain ituy adalah membeli parfum. Apalagi di atas meja kasir sudah ada beberapa kotak parfum.Satu. Dua. Tiga. Empat. Naomi mengernyit. Sebanyak itu? Seolah sedang menimbun stok. Aneh. Namun sebelum rasa penasarannya berubah menjadi tindakan yang lebih memalukan, Naomi segera pergi dari sana.Ketika kembali, suasana di area booth jauh lebih tenang. Yang ada hanya Claudia yang duduk di kursi dekat meja display sambil memainkan ponselnya. Naomi menghampiri lalu duduk di kursi sebelahnya."Mareeq ke mana?" tanya Naomi.Claudia mengangkat kepala. "Pergi sebentar.""Ke mana?"
Mareeq keluar dari ruangannya dan berjalan ke depan meja Naomi."Naomi, ikut aku ke area bazar, ya. Aku mau lihat persiapan booth." ujar Mareeq.Naomi yang sedang memeriksa dokumen langsung mengangguk. "Baik."Belum sempat berdiri, Claudia yang mendengar percakapan itu segera menoleh. Mareeq lalu menatap ke arah Claudia."Claudia juga ikut." ucap Mareeq tegas.Claudia tersenyum lega. Mareeq masih mengajaknya untuk ikut dalam pekerjaannya. Claudia menganggap Mareeq masih mengandalkannya."Booth kita di Hall B, dekat pintu samping. Katanya backdrop-nya sudah dipasang," katanya.Claudia langsung mengangguk semangat. "Bagus. Aku mau lihat apakah warna backdrop-nya sesuai desain yang kita kirim atau tidak."Sejujurnya Naomi tidak terlalu antusias melihat booth. Bekerja bersama Claudia kadang membuatnya lelah. Dia harus menahan diri dengan Mareeq. Terkadang ada hal-hal yang dilakukan Claudia seperti menyerangnya secara halus.
Hari Senin selalu datang terlalu cepat. Rasanya baru kemarin kejadian menangkap buket bunga. Lalu, Naomi duduk di bangku taman sambil makan siomay bersama Killa. Sekarang ia sudah kembali berada di depan layar komputer dengan daftar pekerjaan yang terasa tidak ada habisnya.Pagi itu suasana kantor jauh lebih sibuk dari biasanya. Beberapa proyek sedang berjalan bersamaan dan semua orang terlihat bergerak cepat sejak jam kerja dimulai. Tim pemasaran terlihat mondar-mandir sejak pagi.Naomi baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat dua orang berjalan melewati koridor. Bahkan Flora yang biasanya masih sempat bergosip sebelum jam sembilan kini terlihat serius menatap layar monitornya.Naomi selesai dari meeting ketika melihat dua sosok yang cukup dikenalnya. Leon dan Maya. Mereka berjalan berdampingan dari arah lift. Maya sedang menjelaskan sesuatu sambil menunjuk di beberapa dokumen. Leon mendengarkan sambil sesekali mengangguk.Naomi memperlambat la
Minggu pagi. Naomi membuka mata perlahan saat sinar matahari masuk melalui celah tirai kamarnya. Ia berguling ke samping. Lalu matanya tertuju pada sesuatu yang berdiri di atas meja. Buket bunga.Buket yang kemarin diberikan Mareeq setelah insiden lempar bunga yang memalukan itu. Naomi menatapnya beberapa detik. Kemudian menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya."Kenapa aku bawa pulang sih..."Meski begitu, ia tidak memindahkannya. Buket itu tetap berada di sana.Beberapa saat kemudian Naomi sudah bersiap pergi. Hari ini ia berencana mengunjungi rumahnya. Meski semalam kakaknya sudah memberi tahu bahwa pagi hari ia akan pergi ke gym terlebih dahulu. Artinya saat Naomi sampai nanti, rumah kemungkinan masih kosong.Naomi tetap berangkat karena hari Minggunya tidak ada rencana lain. Dia berencana bermalas-malasan dengan kakaknya. Ia pun memesan ojek mobil.Perjalanan berlangsung lancar hingga kendaraan memasuki area dekat kompleks peru
Pagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.Di de
Tiba-tiba Mareeq menyalakan lampu sein dan membelokkan mobil ke sebuah pom bensin yang masih terang di tengah malam.Naomi menoleh sedikit. “Kamu ingin beli bensin?”Mareeq menggeleng. “Kamu ingin cuci muka agar lebih segar?” Mareeq menawari.Naomi mel
Sore mulai turun perlahan di taman hiburan. Matahari tidak lagi seterang siang tadi, dan cahaya hangatnya membuat seluruh tempat itu terlihat lebih lembut. Lampu-lampu kecil yang tergantung di sepanjang jalan setapak satu per satu mulai menyala.Freya masih menggandeng tangan Mareeq, tanga
Perahu angsa akhirnya kembali ke dermaga setelah hampir dua puluh menit berkeliling danau. Freya turun lebih dulu dengan langkah ringan, masih memegang tangan Mareeq.“Aku lapar,” katanya tiba-tiba.Raya tertawa kecil. “Tadi katanya masih kuat.”Freya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.