Mag-log inReese gets rejected by her mate on her eighteenth birthday. She vows not to let the rejection rule her but her father has other ideas. Being rejected is a shame, one he intends to rectify when he agrees to the arranged marriage proposed by Alpha Troy Madden.Reese goes out with a plan. A one night stand to prove she can play the game as well as her playboy fiancé. Things don't go exactly according to plan and Reese soon finds herself in Black Claw territory.Troy Madden is not what she expected. He had intended to marry her to save his pack, but now she might just save him as well.Will Reese allow her heart to heal and give Troy what he needs or will she harden her heart after many truths are revealed?
view moreDi sebuah goa yang tak diketahui lokasi pastinya, seorang pria tampak terikat pada kedua tangannya oleh rantai yang diselimuti api merah menyala. Panasnya begitu kuat hingga batu di sekelilingnya meleleh.
Pria itu bernama Liu Kai, ia merupakan seorang ahli bela diri yang berhasil mencapai puncak kejayaan dengan menjadi pendekar terkuat di seluruh daratan. Namun kini, sang legenda hanya bisa menunduk tak berdaya, tubuhnya terikat dan auranya nyaris lenyap. Perlahan, matanya terbuka. Pandangannya kabur, samar-samar ia melihat empat orang tengah berdiri di hadapannya dengan senyum kemenangan di wajah mereka. Saat pandangannya telah kembali pulih, ia bisa melihat dengan jelas, ia segera mengenali sosok yang amat dibencinya. "Fangzheng! Keparat! Bagaimana kau bisa selamat dari ledakan kematian yang ku buat?!" Liu Kai mencoba menggerakkan tangannya berusaha melepaskan diri, namun kedua tangannya nyaris tak dapat bergerak. Fangzheng, seorang pendekar aliran hitam dan orang terkuat nomor dua di daratan, terkekeh sombong. Dulu, Fangzheng pernah berhadapan dengan Liu Kai dan kalah telak dalam duel yang mengguncang dunia, namun entah bagaimana ia berhasil lolos dari teknik kematian terkuat milik Liu Kai. Liu Kai kemudian menatap rantai yang membelenggu kedua tangannya. Rantai diselimuti api berwarna merah yang tampak hidup, seperti mahluk buas yang terus melahap energinya. "Segel Api Neraka?!" gumamnya lirih. Fangzheng menyeringai. "Benar! Jangan buang-buang tenagamu! Sebab kau tak akan pernah bisa melepaskan diri dari segel terkuat itu! Hahaha!" Tawa Fangzheng menggema, diikuti ketiga rekannya, yang juga merupakan para Pemimpin Sekte Aliran Hitam. Liu Kai membuka lebar kedua matanya, mengabaikan tawa dan cemoohan keempat orang itu, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat penting. "Huilin! Di mana Huilin?! Apa yang kalian lakukan pada istriku?!" Fangzheng menatap Kai dengan senyum licik. "Istrimu? Apakah kau yakin? Baiklah akan ku panggilkan dia.” Ia menoleh ke arah pintu goa dan berseru. “Huilin! Masuklah!" Langkah ringan terdengar mendekat. Dari balik kegelapan, muncul seorang wanita berparas menawan, berpakaian indah dan berwajah lembut. Ia berjalan pelan lalu berdiri di hadapan Liu Kai. Liu Kai menatap gadis itu dengan mata berbinar. "Sayang... Syukurlah kau selamat..." Ekspresi wajah gadis itu perlahan berubah. Tatapannya dingin, senyum tipis di bibirnya berubah menjadi tawa lantang. "Hahaha! Sayang? Sungguh menyedihkan! Akulah orang yang menjebakmu, membuatmu tak sadarkan diri hingga kau bisa dengan mudahnya tersegel di sini." Liu Kai masih tidak mempercayai hal yang ia dengar, ia masih meyakini bahwa gadis yang ia lihat sekarang ini bukanlah istri yang dicintainya. "Huilin... Sayang... Kau-" "Berhenti memanggilku sayang!” potongnya dengan tajam. “Kau pikir aku benar-benar mencintaimu?! Aku hanya menjebakmu dengan pura-pura membutuhkan bantuan dan mendekatimu!” Huilin lalu mencibir. "Aku tak menyangka seorang pendekar yang dijuluki Dewa Kematian bisa lemah hanya karena cinta!” Ia memandang Kai dengan jijik. “Sudahlah! Apapun itu rencana kami akhirnya berhasil! Kami akan menyingkirkan kau dari dunia ini dan kembali menguasai dunia! Hahaha!" "Huilin..." Liu Kai berbicara dengan lirih, untuk yang pertama kali dalam hidupnya ia meneteskan air matanya. Wanita yang selama ini dicintainya dan yang paling ia percayai ternyata mengkhianatinya sekejam ini. Liu Kai menutup matanya, mencoba menahan air matanya yang terus menerus menetes. Ia mulai merasa bahwa dunia ini sangat tidak adil, baru saja ia mendapatkan kebahagiaan, semua itu langsung direnggut dengan kejam dari dirinya. Liu Kai lalu menatap kosong ke tanah, dan pikirannya melayang pada hari sebelum semua ini terjadi. ** Sehari Sebelumnya. Sepasang kekasih tampak sedang menikmati masa-masa indah mereka di sebuah padang rumput yang hijau. Mereka berdua tengah berbaring sambil berpegangan tangan menikmati keindahan langit malam yang dihiasi dengan bulan purnama serta ratusan bintang yang bersinar terang. Mereka adalah Liu Kai dan Huilin, pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan pada hari itu. Liu Kai, 23 tahun, wajahnya cukup tampan, dengan alis yang tebal, dagu yang lancip serta rambut hitam lurus, sedangkan istrinya bernama Huilin, 21 tahun, memiliki paras yang cantik serta bentuk tubuh yang padat dan berisi. "Huilin, sekarang kita telah resmi menjadi sepasang suami istri, jantungku berdebar kencang saat membayangkan bagaimana jadinya malam pertama kita..." Liu Kai menatap istrinya dengan senyum menggoda. Huilin tertawa kecil, wajahnya memerah. "Hihi, tidak perlu buru-buru, malam masih panjang." Liu Kai kemudian memposisikan tubuhnya di atas tubuh Huilin dengan bertumpu pada kedua tangannya. Wajah kedua insan tersebut hanya berjarak sejengkal, kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. "Kau sangat cantik, aku tidak menyangka akan jatuh cinta padamu saat pandangan pertama." Kai membelai lembut wajah Huilin sambil menatapnya penuh arti. "Aku juga merasa sangat beruntung saat kau menyelamatkan diriku. Aku juga mencintaimu." Huilin menatap lekat kedua bola mata Kai. "Aku sangat bahagia bisa bertemu dan memilikimu." Liu Kai menutup matanya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Huilin bersiap untuk mencium istrinya. Huilin meletakkan jari telunjuknya pada ujung bibir Kai. "Ssshh... Tahan dulu, aku ingin kita melakukannya di ranjang." Huilin mencubit mesra pinggang Kai. Kai tampak riang dan sedikit tersipu. "Baiklah, kalau begitu kita langsung saja pulang ke rumah!" "Kau ini!" Huilin tertawa kecil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mereka berdua kemudian meninggalkan padang rumput, lalu melangkah menuju kediamannya sambil berpegangan tangan dan tertawa bahagia. Sesampainya di rumah, Kai langsung menggendong Huilin menuju kamarnya dan langsung merebahkan Huilin di kasur. "Kau sungguh tidak sabaran sayang." Huilin tertawa kecil, lalu turun dari ranjang, "Mau ke mana?" tanya Kai yang penasaran. "Aku akan menyiapkanmu sup ayam ginseng terlebih dahulu, agar malam pertama kita berlangsung lama dan sama-sama mencapai puncak kepuasan." Huilin menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil menatap Kai dengan genitnya. "Ide bagus! Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu." Kai tampak girang, ia berjalan menuju kamar mandi sambil bersenandung. Begitu pintu kamar mandi ditutup, senyum di wajah Huilin memudar. "Malam pertama apa! Kau sungguh menjijikkan." Huilin kemudian berlalu menuju dapur dan membuatkan sup ayam ginseng, Ia diam-diam mengambil dua botol kecil dari balik jubah, lalu menuangkannya ke dalam sup. Cairan itu menimbulkan asap tipis sebelum menghilang. *** Kembali ke Goa… "A-aku kira hubungan kita Istimewa… Huilin, aku benar-benar mencintaimu." Kai berbicara dengan lirih sambil menatap Huilin dengan penuh arti. "Istimewa?” ejek Huilin. “Dalam mimpimu! Pria yang kucintai hanyalah Fangzheng seorang!" Ia lalu melangkah mendekati Fangzheng dan mencium bibirnya dengan penuh gairah di depan Liu Kai. “KAUUU!!!” Liu Kai meraung. Seluruh gua bergetar hebat, batu runtuh dari langit-langit, dan api Segel Neraka berkobar semakin besar. Energi spiritualnya meluap, meski tubuhnya penuh luka Ekspresi wajah Fangzheng memburuk. "Cepat bunuh dia!!" Tiga pendekar hitam langsung menyerang dengan teknik pamungkas mereka. Serangan demi serangan menghantam tubuh Liu Kai tanpa ampun. Darah bercucuran, tapi ia tetap berdiri tegak. Setelah tubuh Kai dipenuhi oleh luka, baik luka dalam maupun luka luar, Fangzheng mendekati Kai. "Matilah! Dan membusuklah kau di neraka!" Fangzheng kemudian menusuk leher Kai dengan pedang miliknya. Pedangnya menembus leher Kai. Tubuh sang Legenda Agung bergetar hebat. Ia menatap Huilin untuk terakhir kalinya dengan mata yang bukan menyimpan kebencian, melainkan kesedihan yang tak terucap. “Aku… Berjanji… Akan membunuh kalian… Semua… Di kehidupan selanjutnya…” Matanya perlahan tertutup. Tubuhnya membeku, masih berdiri dalam diam, sebelum akhirnya api neraka melahapnya sepenuhnya. Dewa Kematian pun gugur. Namun janjinya menggema hingga menembus Alam Baka. .Reese’s POVWhen the air fryer pinged, she pulled the drawer open and turned the basket over onto a bowl. She started grinding up the dried petals. Russo just watched her as she kept it up until the petals were ground into a fine powder.She mixed it with a little water and mixed it until it was a smooth paste. She didn’t let up or rest once, she just kept on working. After an hour, she was finally happy and she sat down on the swivel chair and wiped her forehead with her arm.“What now?” Russo asked her.“Now we administer it and wait. I should’ve known sooner, Russo, so many people died because I couldn’t figure this out,” Reese said.“Let’s go see if it works,” Russo said and stood up.He carried the tray with the small bowls Reese had separated the paste into and they headed back to the infirmary. It was nine pm and the streets were quiet as Reese power walked to the building in front of them.She headed straight for Troy’s room and Russo placed the tray down on the trolley table
Reese’s POVFor a few moments outside of Troy’s room, Reese couldn’t move or breathe. She wasn’t sure what it was but she was certain that maybe their baby had something to do with Troy wanting to get better. It was one of the biggest blessings for an Alpha, a son to take over from him.“Let’s get you back, Reese. It’s been a long day for you,” Russo said.“I want to check in on Max as well. He has no family here and Troy would want me to,” Reese said softly.“A quick check in, you need to go rest, this emotional rollercoaster isn’t good for the baby,” Russo said.Reese gave him a small smile and nodded her head. She did feel tired and the constant hope and worry were wreaking havoc with her system. She wanted to take a long, hot bath and sleep. Every night she had the same hope, that Troy would magically be awake the next morning.Russo led her just three doors further and opened the door. Max lay alone in the room, looking much the same as Troy had. His oxygen had lowered to 39% and
Reese’s POVNothing changed over the course of the next week and Reese felt like there was nothing more she could do to help. She’d exhausted all her options and every mix she could think of had no effect on the patients.Her stomach had gotten a lot bigger over the last two weeks and she’d felt her baby move. Dr Tyrell came up to the Alpha Suite, after Russo had made sure that he was completely sanitized, to do ultrasounds and check on her.They had over fifty people in the hospital now as the flu spread and Reese cried herself to sleep every night. She was the key, so why wasn’t she finding it? She was pissed off at the world and her biggest fear was that Troy would die.Russo had limited her to one visit a week and she was due to go see Troy again after lunch. News had spread and the whole pack knew that Troy and King Maximilian were in isolation rooms and that they were stable for the moment but incapacitated.Drake hardly seemed to leave the office and a conversation with Emily h
Reese’s POVThe combinations she’d been working on had kept Max from deteriorating further but it wasn’t healing him. It kept him in a sort of limbo and Reese was grateful for that at least. It gave her some time and she spent every free hour in the lab.Reese pushed herself away from the microscope and her hand rubbed over her chest. Russo was at her side instantaneously, his hand at the small of her back.“What’s wrong, Reese?”“I don’t know. It’s a weird sensation …” Reese turned wide eyes towards Russo. “It’s not me, it’s Troy, something’s wrong with Troy!”Reese was physically lifted from the floor as her legs automatically started moving towards the door. “No, Reese! I can’t let you expose yourself!”“Russo! Put me down immediately!” Her nails clawed at Russo’s arms but he held firm.“Not a chance, Reese! You are my first priority. Troy’s in good hands!”A scream tore from Reese’s throat and her body sagged against Russo’s. He didn’t let go of her, he just tightened his arms and
Reese’s POV“I’m okay, Reese, I promise. It’s just a cough and you know Tyrell. He’s going to monitor me and everything will be fine,” Troy said.“I’m coming to see you,” Reese said.“No! You are not coming anywhere near this infirmary. I’ve given Tyrell permission to intubate me the moment I collapse.
Troy’s POVTroy ran down the hall when he reached the other side of the floor and the door opened as he neared. Max was sitting on the couch, fully alert now with an oxygen mask over his face. He was a little pale and his hands shook but otherwise he looked okay.Max pulled the mask away from his face
Reese’s POVRusso dressed Reese in a rainsuit with a mask, a plastic shield over the mask and a hairnet. She had to wear medical grade gloves and make her way to the lab in the mornings. She tried to stifle her laughter as Russo trudged behind her, the plastic of his own rainsuit squeaking with each
Troy’s POVDrake was still laughing as they walked past the packhouse and headed towards the prison building and the dungeon where Amber was being kept. It had been a few days and Troy knew he had to make a decision.Max had already talked to her and he was pissed off. He liked Reese and Troy was one






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu