LOGINAddie has been blessed with one of the five gifts from the moon goddess, however it doesn't seem like a blessing. It is a gift that follows a bloodline and only gets passed along when the one holding the gift dies. Left with no family and hunted for her gift, Addie has learned how to survive without a pack and without friends, packing up and moving on when someone gets too close. In a small town in Idaho, someone has figured out her secret and Addie is ready to go on the run again until she is given a choice, cooperate or watch her one friend die. Choosing the life of her friend, Addie becomes a prisoner, bred for her gift and her bloodline. Will she escape and find her true mate?
View More“Tuan, jangan bilang Anda … terangsang?”
Napas pria itu terdengar lebih berat, membuat Reina merasa puas. Dilingkarkannya lengan ke leher si pria sebelum bibirnya menangkup milik pria itu dan berciuman panas. Sosok dingin yang mati-matian digodanya sejak tadi akhirnya luluh juga.
Puas karena sudah sukses, Reina menarik diri.
Namun—
Belum sempat mengambil satu langkah pun, pergelangan tangan Reina tiba-tiba ditangkap dengan kuat. Tubuhnya ditarik keras hingga punggungnya menghantam dinding di belakangnya.
“Akh!” Reina meringis. Matanya terpejam sejenak, menahan sakit.
Saat membuka mata, ia menyadari tubuhnya kembali terkurung di bawah naungan pria itu. Hawa panas dari tubuhnya membungkusnya rapat, menutup semua celah untuk kabur.
“Kamu mau ke mana, Gadis Nakal?” Suara desisan rendah yang disertai desahan panas dari pria itu tiba-tiba menggema di telinganya. “Apa kamu tidak pernah diajarkan untuk memadamkan api setelah menyalakannya?”
***
Beberapa jam sebelumnya ….
Hari Valentine seharusnya menjadi hari penuh cinta untuk pasangan di seluruh belahan dunia.
Namun, tidak bagi Reina Wynn. Pagi itu justru menjadi titik paling pahit sekaligus titik balik dalam hidupnya.
Alih-alih mendapatkan kejutan manis dari sang kekasih, Kelvin Rowen justru mengirimkan pesan undangan ke grup angkatan sekolahnya.
Undangan pertunangan dengan Freya, musuh bebuyutan Reina semasa sekolah.
“Kenapa … Freya?” gumam Reina, tak habis pikir. Dibacanya undangan itu sekali lagi dengan dada yang makin sesak.
[Malam ini jam 7 di The Grand Veldric Hotel, kalian semua harus hadir di acara pertunanganku ya!]
Jari-jari Reina bergetar. Ia menggigit bibirnya dengan kuat, memaksa otaknya mencari alasan, apa pun yang bisa menyelamatkan hatinya.
“Lelucon,” pikir Reina. “Semua ini pasti hanya lelucon.”
Mungkin Kelvin sedang mengerjainya. Siapa tahu pria itu sedang merencanakan kejutan besar.
Bukankah mereka masih sepasang kekasih? Beberapa hari lalu, pria itu masih memanggilnya sayang.
Namun, semua harapan dan berbagai kemungkinan yang muncul segera lenyap ketika ia membaca pesan ucapan terima kasih yang dikirimkan Freya atas doa restu yang ditujukan kepadanya dan Kelvin.
Pesan demi pesan terus berdatangan, seolah tidak ada satu pun dari mereka yang mengingat kehadirannya di grup itu atau mungkin … mereka memang tidak peduli..
Reina tersenyum getir. Diremasnya ponsel di tangan dengan erat, sementara tangannya yang lain menyeka air mata yang telah mengaburkan pandangannya, lalu mencoba menghubungi Kelvin untuk menuntut penjelasan darinya.
Namun, nomor pria itu sama sekali tidak dapat dihubungi dan pesan yang ia kirimkan gagal terkirim berulang kali.
Tenggorokan Reina seketika terasa perih saat ia menelan salivanya. ‘Dia … memblokirku?’
Padahal dua hari lalu, Kelvin masih mengirim pesan manis, mengabarkan bahwa ia akan pulang dan mengajak Reina merayakan Valentine bersama. Bahkan pria itu juga sempat menyelipkan kalimat kerinduannya yang masih terpampang di layar ponselnya saat ini.
Bagaimana bisa pria itu tiba-tiba bertunangan dengan wanita lain!?
Akan tetapi, berapa kali pun disangkal, pesta pertunangan itu benar-benar ada.
Reina memandang deretan papan ucapan selamat di samping pintu aula. Semuanya mengucapkan selamat pada Kelvin Rowen dan Freya Nolan–pasangan yang berbahagia.
“Eh, bukankah itu Reina? Mantan Kelvin? Untuk apa dia di sini?”
“Memang dia diundang?”
“Diundang atau tidak, kalau aku sih tidak akan datang. Setidaknya aku masih punya malu.”
Mengabaikan tatapan dan ucapan penuh cemooh itu, Reina melangkah masuk. Lurus ke arah Kelvin di pelaminan depan.
Pria itu berdiri bersama Freya yang menggelayut manja lengan pria itu, seolah sengaja memamerkan kemesraannya. Keduanya tampak serasi dalam balutan busana pasangan yang senada.
Mata Reina terasa sangat panas, tetapi ia berusaha untuk menahan air matanya agar tidak merembes di hadapan mereka.
“Reina, ternyata kamu datang. Terima kasih sudah meluangkan waktumu,” ucap Freya dengan senyum manis yang terasa menusuk mata Reina.
Namun, Reina tidak menanggapi. Mata hazelnya hanya tertuju pada Kelvin.
“Kenapa?” Satu kata itu meluncur dari bibir Reina.
Kelvin mengangkat alis, lalu mendengus pendek. “Apanya yang kenapa?” balasnya dengan suara yang terdengar dingin. “Anggap saja aku bosan.”
Reina terperangah. Tepat di saat ia ingin membalasnya, Rebecca Curtiz, ibu Kelvin muncul di hadapannya.
“Reina?” Rebecca menatapnya dengan sinis. “Kamu masih punya muka datang ke sini?”
Reina tidak menjawab. Ia sudah terbiasa menerima perlakuan seperti ini dari wanita itu, tetapi biasanya Kelvin akan membelanya. Akan tetapi, kali ini … pria itu hanya berdiam diri.
Seolah tidak melihat ataupun mendengar apa pun, Kelvin mengajak Freya untuk menyapa para tamu mereka.
Melihat Reina yang terpaku menatap kepergian keduanya, Rebecca mendengus sinis. “Simpan niat busukmu untuk mendekati putraku, Reina. Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menyamai Freya. Anak dari keluarga miskin sepertimu sama sekali tidak pantas menjadi menantu keluarga Rowen,” desisnya dengan sinis, lalu pergi dari hadapannya.
Reina masih mematung seperti seseorang yang kehilangan jiwa hingga akhirnya tangannya menyambar segelas whiskey dari baki pelayan yang lewat. Ia langsung meneguknya hingga tandas.
Ternyata satu gelas tetap tidak cukup menghapus rasa perih yang berdenyut di dadanya. Reina kembali meneguk beberapa gelas lain yang tersaji di atas stan minuman.
“Cukup minumnya, Na. Kamu sudah mabuk.” Sahabatnya, Cinthia Willow menegurnya.
Namun, Reina tidak peduli.
Cinthia pun berdecak. “Percuma juga kamu menangisinya, Na. Lebih baik kamu cari pria lajang di sini. Masih banyak yang kaya dan lebih baik dari si Kelvin sialan itu.”
Reina tersenyum mencibir. "Kamu punya calon?"
Cinthia menggeleng. "Tapi, adiknya Tante Rebecca itu mungkin punya."
Cinthia menunjuk ke arah sekumpulan pria. "Aku dengar dia masih lajang dan lebih kaya daripada keluarga Rowen. Kenapa kamu tidak coba mendekatinya saja? Mana tahu dia membantumu dan kamu bisa memanfaatkannya untuk membalas Kelvin."
Pandangan Reina mengikuti arah telunjuk Cinthia. Ia menyipitkan mata, berusaha fokus di tengah pandangan yang mulai buram. “Yang pakai jas abu-abu gelap itu?” gumamnya.
Alih-alih menjawab, Cinthia malah menepuk pundaknya. “Kamu tunggu di sini ya, Na. Aku pergi sebentar,” ujarnya karena melihat salah seorang kenalannya di tengah aula tersebut.
Reina mendengus. Namun, saat melihat pria yang dimaksudnya tadi keluar dari kerumunan, bibirnya menyungging tipis.
Dengan langkah sempoyongan, ia berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di depan pria itu. Gadis itu harus mendongakkan kepalanya karena perbedaan tinggi mereka yang sangat mencolok.
Melihat senyuman bodoh khas orang mabuk yang terukir di bibir Reina, pria pemilik mata elang itu mengernyit. Satu alisnya menukik naik. “Nona─”
Belum sempat sang pria menyelesaikan kalimat, Reina─dengan sengaja─menyiram whiskey ke jas mahalnya!
ADDIETwo months later, on the day of the full moon and summer solstice, I was dressed in a sapphire blue gown that was fitted on the top and billowed to the ground in shimmery waves. A laughing Emily was trying to help me with my makeup. Her growing belly was in the way, and Gracie was crawling around getting underfoot. Undeterred, Emily tried to add another swipe of mascara to my already heavy lashes. “Come on, Addie! It will make your eyes pop!”I laughed back at her. “My eyes will look like spiders if you put another coat on my lashes!” Tonight was the night of my Luna ceremony. Wolves from many of our cooperating packs were in attendance as well as all of the pack members from our pack. We had invited the Council members and were surprised when most of them accepted. Matthew and Jessie were also going to be there bringing their newborn pup with them. I knew that James had already spent time snuggling their baby boy and getting his fill of the newborn smells. I had bee
ADDIEAfter the excitement of everything, the next few months felt almost boring by comparison. We were busy, that was for sure. My Luna Ceremony had been postponed and we were beginning the planning again. We were also actively involved in helping Matt and Jessie build a new Packhouse before their pup arrived. The old packhouse was being turned into a youth center and dormitory for the continuing education prospects that Jessie wanted to bring to her Pack. In the days of Alpha Cole, it was decreed by the Alpha what the profession of the wolves coming of age would be. Jessie wanted to give them choices and equal opportunities. I was excited to be a part of that.Three weeks after we returned from our latest mishap in the city, Emily asked if we could have lunch in the village. I agreed, knowing something was up.“Do you want me to bring James?” I asked. “No,” she said, a sly look on her face. I agreed, letting her keep her secret for now. I would know soon enough.I met Jam
ADDIE I got into the car and looked James over, satisfied that he only had a few bumps and bruises but nothing was seriously hurt. I could smell the wolfsbane on his breath and knew he had been dosed but I could tell that it was slowly leaving his body. How is he? I asked Talia. Scout is weak but recovering. He will be fine, she answered. I gave a sigh of relief. Toby got into the driver’s seat and turned the SUV over, backing out of the drive. “Where to, Luna?” he asked. “Aren’t we waiting for the other warriors?” I asked, turning back to look at the house. He shook his head. “No, they need to do some cleanup. They are going to need to call the council for help. Vanessa went rogue and there is a lot that will have to be done to minimize exposure to the human world.” He had a look of disgust on his face. "First and foremost, they will have to figure out what to do about two human bodies. Old man and woman. They didn't even have a chance against her." I nodded, suddenl
ADDIE POVI walked out of the conference room with Roman and the other guard chasing after me, pulling along a reluctant Brad. Toby came, too, lips pressed together. I recognized the look. He hated the idea and wanted to set up a counterattack at the park at midnight, but he also recognized that my plan might work. It was fueled by pure rage on my part, but I was positive I would get James back.Alice had called ahead and worked her magic so by the time I made it to the front doors, a valet was there with a set of keys and an SUV was sitting in the drive up. I caught the keys as they were tossed to me and the warriors dove into the back seat, shoving Brad between them. Toby jumped into the passenger seat, buckling up as I started driving away.“What’s the plan, Luna?” Roman asked tentatively from the back seat. Toby glanced back at him but said nothing. “I know the area. It’s estates. I’ll find a spot to pull over and drop you and Brad off. We’ll meet up at the house, but I
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore