One Night With The Kingpin CEO

One Night With The Kingpin CEO

last updateLast Updated : 2024-09-15
By:  VictoryAnne ViceCompleted
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
3 ratings. 3 reviews
118Chapters
5.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

On the night that Charlotte Slate was betrayed by her husband Andy, she has a one-night stand with a mysterious stranger. Little did she know, her one-night stand was none other than billionaire CEO Micah McKaine, also known as Kingpin Kane, the most dangerous man on the West Coast. When Charlotte becomes an exotic dancer to make ends meet, a twist of fate brings these two back together as their paths cross unexpectedly under the stage lights. When Micah sees her perform for the first time, his passion is rekindled and he is even more determined than ever to make her his--especially when he learns that she is the wife of double-crossing protege Andy, Micah devises a plan involving her to take down a common enemy. Can Micah convince this “good girl” to be his avenging angel? _____ "Charlotte," he whispers into my hair as he holds me close. "Please just let me hold you. Just this once. I know you aren't free to love me, but I want something more to remember before we need to play it safe. Please, cher." "Oh Micah," I melt into him, needing his touch just as much as he needs mine. "We can't do this." What starts as a gentle embrace starts to become something else as he pulls my head back to stare directly into my eyes. Bringing his head down slowly, his lips hover above mine, not quite touching. "Is that so?" He licks my lips and I feel my core release, wet and ready for so much more. This man that just a moment ago induced so much fear in me, is igniting my passion beyond reason. "Give me one good reason why I should kiss you right now and have my way with you in the back of this car."

View More

Chapter 1

Just One Night

Aku tenggelam dalam tumpukan data yang begitu rumit ketika profesor telepon.

“Frida, selamat yah!” Suaranya bergetar penuh antusias.

“Proyek Penida, riset kelas atas, laboratoriummu sendiri dengan pendanaan penuh, semuanya jadi punya kamu!”

Tanganku terhenti. Jemariku membeku di atas keyboard.

“Ini kesempatan emas, Frida,” lanjut profesor itu dengan nada suara yang melunak.

“Tapi kamu tahu artinya, kan. Kamu harus tinggalkan Kota Cellini.”

Tinggalkan Kota Cellini. Tinggalkan kota yang sudah tiga tahun aku anggap sebagai rumahku.

Tinggalkan Gavin Kalil.

“Oke.” Aku dengar suaraku sendiri jawab, rasanya begitu jauh.

“Aku akan pamitan dulu.”

Aku kembali ke vila itu. Aku ingin habiskan satu malam terakhir bersama Gavin.

Aku melangkah masuk melalui pintu utama. Para staf tampak sibuk mondar-mandir.

Mereka sedang sibuk siapkan sebuah pesta.

Gavin berdiri di tengah aula, kasih perintah seperti seorang jenderal.

“Menara sampanye-nya di sebelah kanan, bukan kiri!” Suaranya dingin, nggak terbantahkan.

“Malam ini nggak boleh sampai ada salah.”

Dia lihat aku. Tatapannya langsung membeku.

“Kamu sudah balik?”

“Gavin, aku punya kabar baik ….”

“Apa pun itu, nanti tunggu dulu.” Gavin potong aku. Tatapannya menembusku tanpa ampun.

“Malam ini penting. Jangan sampai bikin kacau itu.”

Bikin kacau?

Aku menatapnya, tertegun. Lalu aku sadar. Tentu saja. Hari ini adalah hari jadi kita yang kelima.

Pasti ini makan malam kejutan untuk kita.

Aku pikirkan itu. Dan aku juga kepikiran kalau aku akan segera tinggalkan dia.

Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku.

“Aku ngerti.” Aku paksakan senyumanku.

“Aku akan ambil hadiahku.”

Ini … bisa jadi perpisahanku.

Aku cepat-cepat ke gudang anggur. Ambil botol anggur yang selama ini aku simpan. Romanée-Conti 1990.

Sebotol anggur senilai 3,2 miliar. Hal paling berharga yang bisa aku kasih.

Saat ambil itu, selembar kuitansi jatuh ke lantai. Pesanan dari Butik Chanel.

Gaun malam seharga 800 juta rupiah. Gaun yang pernah aku lihat di pelelangan. Gaun yang aku mau.

Jantungku kembali berdegup kencang.

‘Dia … siapkan semua kejutan ini?’

Mungkin malam ini akan beda. Mungkin dia akan lihat aku lagi. Cinta aku lagi. Seperti sebelum Eliza Marzani datang.

Aku bawa botol itu kembali ke aula. Gavin sedang periksa susunan meja.

“Gavin.” Aku mendekat. Dengan hati-hati, aku serahkan botol itu ke dia.

Dia terima anggur itu. Sekilas ada rasa terkejut di matanya.

“Romanée-Conti,” gumamnya sambil baca labelnya.

“1990.”

“Iya.” Suaraku bergetar. “Untuk kita.”

Dia lirik ke arahku. Nggak bicara apa-apa. Hanya mengangguk.

Para tamu mulai berdatangan.

Aku ganti pakaian dengan gaun sutra ungu terbaikku. Hatiku penuh harapan.

Aku pun jalan menuju ruang makan. Namun langkahku terhenti di ambang pintu.

Tempat dudukku ada di ujung meja yang paling jauh. Jauh dari posisi utama.

Gavin duduk di kepala meja. Eliza ada di sebelah kanannya.

Eliza pakai gaun sutra hitam. Terlihat seperti nyonya rumah yang sesungguhnya.

Sementara aku terjepit di antara dua anak buahnya. Seperti tamu yang nggak penting.

“Hadirin sekalian.” Gavin berdiri sambil angkat gelasnya.

“Kita berkumpul malam ini untuk sebuah kesempatan istimewa.”

Jantungku berdetak kencang.

‘Dia bakal bilang apa?’

“Tiga tahun lalu ....” lanjutnya, suaranya rendah dan khidmat.

“Aku kehilangan adikku. Dia meninggal saat lindungi aku. Malam ini adalah perayaan hari jadi pernikahannya dengan Eliza.”

Kata-kata itu menghantamku. Harapanku hancur berkeping-keping.

Perayaan hari jadi pernikahan .... Tapi, bukan milik kita. Milik mereka.

“Eliza telah terlalu banyak menderita untuk keluarga ini.” Gavin menoleh ke dia.

Tatapannya melembut, kelembutan yang hanya dia berikan ke wanita itu.

“Sudah waktunya dia dapatkan perhatian yang layak.”

Gavin ambil sebuah kotak Chanel dari belakangnya. Gaun senilai 800 juta itu.

“Ini untukmu, Eliza.” Gavin serahkan itu.

“Kamu pantas dapat yang terbaik.”

Eliza terima itu. Matanya berkaca-kaca.

“Gavin, aku nggak tahu harus bilang apa. Kamu sudah berbuat begitu banyak untuk aku.”

“Ini baru permulaan.” Gavin usap punggung tangannya dengan lembut.

“Aku bakal pastikan kamu nggak akan pernah terluka lagi.”

Ruangan itu dipenuhi tepuk tangan.

Aku duduk di sudutku. Dunia terasa berputar.

Setiap saraf dalam tubuhku berteriak. Ini salah. Ini kejam.

Aku coba kendalikan ekspresiku. Tapi malah gagal.

Tatapan tajam Gavin mengarah ke tempatku.

Mata itu dulu penuh cinta untuk aku. Kini malah dingin seperti es. Penuh ejekan.

“Kenapa, Frida? Cemburu? Aku cuma lagi hibur istri adikku yang sudah meninggal. Dia mati demi aku, ingat kan?”
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

VictoryAnne Vice
VictoryAnne Vice
This book is now complete! I hope you enjoy the story!
2024-09-16 08:35:32
0
0
Nuzhat Meerani
Nuzhat Meerani
is this book complete??
2024-07-31 22:38:06
1
2
Zoya Aditya
Zoya Aditya
the story is good and amazing so far
2024-05-04 17:31:13
2
2
118 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status