MasukJeslyn had been arranged to marry Jefran, and they held an engagement ceremony. However, shortly after the engagement, Jeslyn discovered that Jefran had a secret lover behind her back. At first, Jeslyn had hoped their relationship would grow into a beautiful love story. But instead, all she received was heartbreak. Things took an unexpected turn when Jeslyn accidentally got entangled with her brother-in-law, Leonel—a notorious troublemaker known for his ruthlessness. Strangely, ever since that night, Leonel began interfering in Jeslyn’s life. He meddled in all her affairs and always showed up as a hero whenever she was in trouble. Soon, Jeslyn began to feel a spark she knew she shouldn’t have for her brother-in-law. Will Jeslyn be able to break free from Leonel’s grasp and find true happiness?
Lihat lebih banyak“Seratus juta! Saya lepas seratus juta!” seru seorang pria paruh baya lantang, menyebut harga untuk Kalea—putrinya yang kini menggigil ketakutan di belakang punggungnya.
Dion sudah gelap mata. Tumpukan utang akibat keranjingan judi online semakin mencekik. Semua jalan sudah buntu. Dia tak lagi tahu harus bagaimana menyelesaikan jeratan setan itu.
Segala yang dimilikinya telah habis. Rumah tergadai, harta benda ludes, pekerjaan pun hilang. Satu-satunya cara yang terlintas di pikirannya hanyalah mengorbankan Kalea. Putrinya sendiri.
“Bagaimana, Bos?”
Seorang pengawal berbadan besar yang berdiri di depan Dion menoleh pada tuannya. Dia sedikit membungkuk penuh hormat pada pria jangkung yang duduk bersilang kaki di kursi bersandaran tinggi.
Pria bertampang dingin itu tak segera menjawab. Matanya yang tajam melirik Kalea, yang terus berusaha menyembunyikan diri di balik tubuh ayahnya.
“Apa kelebihan putrimu, sampai berani-beraninya kamu datang padaku?” tanyanya dengan suara rendah namun menekan.
“Putri saya cantik, Tuan. Sangat cantik! Dan saya jamin seratus persen, Kalea masih segelan. Dia belum pernah disentuh lelaki mana pun. Masih suci. Pacaran saja belum pernah. Bonusnya, dia masih segar, masih muda, baru saja lulus SMA tahun ini. Dia pasti bisa memuaskan Anda.” Dion buru-buru menjelaskan, lalu menarik Kalea dan mendorongnya ke hadapan pria itu.
Dion tak ingin kesempatan ini hilang. Dia sudah bersusah payah menggunakan berbagai cara agar bisa bertemu langsung dengan pengusaha muda kaya raya bernama Hamish ini.
Baginya, tak ada orang yang lebih cocok untuk membeli Kalea selain Hamish. Bukan hanya karena uangnya tak berseri, tapi juga karena kegemarannya mengoleksi perempuan sudah terdengar ke mana-mana.
Kabar yang beredar, Hamish memiliki kediaman khusus berisi wanita-wanita simpanannya. Dion ingin Kalea menjadi salah satunya, agar kelak putrinya itu bisa berguna sebagai mesin uang.
“Aku tak yakin….” Hamish bersedekap, menilai Kalea. Gadis itu gemetar dengan pakaian sangat terbuka. Crop top tanpa lengan dan celana super mini, mengekspos kulit putih bersihnya.
Riasannya begitu mencolok. Bibirnya dilapisi lipstik merah terang, bedak tebal menutupi wajahnya, ditambah pemerah pipi yang tampak seperti bekas tamparan.
Hamish mendengkus. Senyum sinis muncul di bibirnya. Gadis di depannya jelas bukan seleranya.
Baginya, Kalea masih terlalu hijau. Apalagi usianya terlalu jauh dibanding dirinya yang sudah tiga puluh lima tahun.
Melihat ekspresi Hamish, sang pengawal langsung menyimpulkan.
“Pergilah! Bosku tidak suka anakmu!”
“Apa?” Dion terperangah.
“T-tapi… oh, Tuan! Lihatlah sekali lagi. Kalea cantik, tubuhnya bagus. Lihatlah!” Dion menarik tangan Kalea, berusaha melucuti pakaian putrinya.
“Jangan, Bapak! Jangan!” Kalea meronta dan menangis keras. Tapi Dion sudah tumpul rasa kemanusiaannya. Dia tak peduli, tak punya iba sedikit pun.
“Sudah kubilang! Berpakaian yang benar! Yang seksi! Tunjukkan tubuhmu pada Tuan Hamish!” Dion menggeram, memaksa melepaskan pakaian putrinya.
“Jangan, Pak!” Kalea meronta, terus melawan, hingga tanpa sengaja tangannya menampar wajah sang ayah.
“Kurang ajar kamu, Kalea!” Dion murka. Dia mendorong Kalea hingga jatuh tersungkur, lalu mengepalkan tangannya hendak memukul.
“Ampun, Pak! Jangan!” Kalea memohon dengan air mata bercucuran. Tubuhnya gemetar melihat tangan ayahnya yang siap menghantam.
Tepat sebelum tangan itu mendarat ke tubuhnya, Hamish tiba-tiba saja bersuara. “Berhenti!”
Tangan Dion langsung menggantung di udara.
“Berani-beraninya membuat keributan di tempatku. Kau kira siapa dirimu?” Hamish menggeretakkan gigi.
“A-ampun, Tuan!” Dion tersadar, lalu bersimpuh meminta maaf.
Hamish menghela napas kasar. Tatapannya berpindah ke Kalea yang menangis tersedu, memeluk dirinya sendiri.
“Jordi!” Hamish menoleh pada pengawal pribadinya, lalu memberikan kode lewat anggukan kepala.
Jordi mengangguk, lalu keluar. Tak sampai lima menit, dia kembali membawa sebuah paper bag cokelat. Saat Hamish mengayunkan dagunya, Jordi pun melemparkan paper bag cokelat itu ke lantai, tepat di hadapan Dion.
Bergepok-gepok uang di dalamnya pun terburai.
“Aku beli dia. Seratus lima puluh juta.”
Melihat itu, Dion tersenyum semringah. Wajahnya langsung berseri-seri saat dirinya berlutut dan mulai mengumpulkan uang yang berhamburan di lantai itu.
Saat Dion selesai mendapatkan uangnya, Hamish pun berkata, “Pergi, dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Anakmu sudah jadi milikku. Jangan sekali pun mencarinya, atau kau akan menanggung akibatnya.”
“Hah? Ah! B-baik, Tuan! Baik!” balas Dion seraya cepat-cepat pergi. Tanpa menoleh, dia meninggalkan Kalea yang menangis gemetar.
Kalea beringsut. Wajahnya pucat saat Hamish berdiri menjulang di depannya. Dengan tangan gemetar, dia berusaha menarik celana pendeknya lebih ke bawah, sementara tangan lain menutupi bagian atas tubuhnya.
“A-ampun, Tuan,” ucapnya lirih ketika Hamish berjongkok dan menatapnya dengan begitu lekat.
Gadis itu memejam. Air mata jatuh membasahi pipinya. Dia sangat takut.
“Siapa namamu?” tanya Hamish.
“K-Kalea,” jawabnya terbata. Lidahnya kelu saking tak sanggupnya berhadapan dengan Hamish.
“Berapa usiamu?”
“D-delapan belas.”
Hamish menatapnya dalam. Dari dekat, dia melihat lebam samar di balik bedak tebal Kalea, juga di beberapa bagian tubuh.
“Jangan menangis, Lea.”
Kalea tertegun mendengar panggilan yang Hamish gunakan untuknya.
Lea... ah, dia sangat merindukan panggilan itu.
Sejak ibunya meninggal, tak ada lagi yang memanggilnya begitu.
Perlahan, Kalea membuka mata, memberanikan diri menatap Hamish. Dan di saat itulah, dia terpana. Baru kali ini dia melihat wajah pria itu dengan jelas. Kontur tegas, hidung mancung, dan sepasang iris cokelat terang.
Jadi, dia yang bernama Tuan Hamish….
Pria itu tampan dan berkarisma. Tak heran banyak wanita rela menyerahkan diri padanya.
“Jangan takut. Aku bukan monster.” Hamish menatap tubuh Kalea yang masih gemetar. Dia melepas jasnya, lalu menyodorkannya.
“Pakailah. Tutupi tubuhmu.”
Dengan takut-takut, Kalea menerima jas itu, lalu memakainya. Aroma parfum maskulin dengan sentuhan woody dan musk langsung menyergap inderanya.
“Aku ada meeting jam dua dengan orang pertambangan. Panggil asistenku dan siapkan mobil,” perintah Hamish.
“Baik, Tuan,” jawab Jordi sambil mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
“Oh iya, Tuan…”
“Apa?” Hamish menoleh singkat.
“Kalea. Maksud saya, Nona Kalea… Anda akan tempatkan di kediaman yang mana?”
“Di dapur.”
“D-dapur?” Jordi terkejut.
“Ya. Suruh saja dia jadi tukang cuci piring, atau apa pun terserah.”
“Bukan untuk dijadikan wanita…?” Ucapan Jordi menggantung.
Hamish berdecak pelan.
“Aku tak berminat. Dia terlalu muda. Terlalu polos. Aku membayarnya hanya karena kemanusiaan. Kalau tidak, ayahnya pasti tetap menjualnya, dan mungkin hidupnya akan berakhir jauh lebih buruk.”
Jordi terdiam, lalu mengangguk paham. Diam-diam dia melirik majikannya, menyimpan rasa heran. Tak pernah disangka, di balik sikap dingin itu, Hamish masih menyimpan secuil rasa iba pada orang asing.
Hal ini pun membuat Jordi bertanya-tanya, apa… hubungan Kalea dan Hamish hanya akan berhenti sebatas majikan dan pelayan saja?
Dengan alis tertaut, Jordi membatin, ‘Rasanya … tidak akan sesederhana itu ….’
During the journey, Jeslyn occasionally glanced at Leonel, who was focused on driving.“Thank you for saving me,” Jeslyn finally spoke after a long silence.“Why were you out alone at night?” Leonel asked. “Were you trying to get yourself killed?” Though his question sounded sarcastic, Jeslyn knew he was genuinely worried about her.Jeslyn lowered her head, fingers clutching the edge of Leonel’s coat that now wrapped around her. She bit her lip, trying to hold back the sobs that still lingered.“I… I just needed some time alone,” she whispered. “I didn’t expect them to appear out of nowhere.”Leonel glanced at her briefly, his eyes cold. “Do you think this world is safe for you? Everyone knows who you are, Jeslyn. That means anyone could make you their target.”Jeslyn fell silent, her heart growing heavier. Leonel’s words sounded harsh, but she knew they were a real expression of concern.“If I had been even a minute late—” Leonel exhaled deeply, hands gripping the steering wheel. “I
The black armored car was waiting, the engine growling softly. Blade swiftly opened the rear door, while Marvel signaled to two other escort vehicles to be ready to follow.Leonel stepped into the car, sitting upright with a dark expression. His hands clenched on his knees, containing the storm of anger within him. “If Jeslyn gets even the slightest scratch, I will destroy every single one of them!”Blade sat in the front, glancing briefly through the rearview mirror. “Sir, we can take an alternate route to get ahead of them. The reconnaissance team has tracked the positions of the vehicles tailing her. They’re moving slowly, waiting for the right moment.”“There’s no moment for them. I will decide the outcome of this game,” Leonel said coldly.The car sped through the dark night. Snow swirled in the wind, and streetlights flashed by in rapid streaks.Meanwhile, inside Jeslyn’s car, she sat alone in the back seat, staring out the window. Her eyes were weary, her lips tightly pressed t
“Marvel, have you investigated Varga and Arwin Holt?” Leonel asked, sitting in his large, imposing chair.“Yes, Sir,” Marvel replied.“What are the results?” Leonel inquired.“I couldn’t find those identities. However, there is a name of one of Jordan Valchev’s men with that alias,” Marvel explained.Leonel narrowed his eyes, his fingers tapping lightly on the armrest of his chair. A cold glint flickered in his gaze, signaling the rapid pace of his thoughts.“I see,” Leonel muttered softly. “Jordan is trying to infiltrate under an alias.”Marvel bowed slightly, then added, “It seems that the names Varga and Arwin Holt are being used as shields, Sir. Their true identities remain tightly hidden. However, there are records of fund movements leading to Valchev’s network. That cannot be a coincidence.”Leonel snorted coldly. “Jordan always operates from the shadows. He thinks I won’t notice. William and Dimitri clearly did this with Jordan’s help. They think I’m stupid!” His gaze fixed on
Leonel’s steps halted at the edge of the door leading to the rooftop. His gaze froze as he saw Jeslyn crying in Jefran’s embrace. His breath caught, as if a harsh hand were choking his throat. His heart felt both crushed and burned by jealousy and pain.Jeslyn didn’t notice his presence, nor did Jefran. Only the faint shadow of Leonel’s figure was illuminated by the rooftop lights.“So this is… the truth?” Leonel thought. His eyes burned red—not just from the cold snow but from the pain spreading rapidly through his chest.“I love Jefran.” Jeslyn’s words echoed in his mind again, like a knife piercing directly into his heart.He clenched his fists so tightly that his knuckles turned white. “Jeslyn…” he whispered softly. “I’ve been waiting for you all this time. My feelings for you never changed—the woman who gave me warm chocolate, who gave me warmth when I was lost and confused,” Leonel thought bitterly.“Why? Can’t you love me?” he asked himself, unaware that tears were forming in h
“Hey, Jes?” Jefran greeted as he arrived at Jeslyn’s apartment.“Jefran? What are you doing here?” Jeslyn asked in surprise, startled to see him standing at her door.“I’m here to pick you up, of course. Your car’s still at the office, so I came to get you,” he explained.“I could’ve gone on my own
“I’ve already waited far too long for you,” Leonel murmured, closing his eyes.In that instant, old memories surged back, dragging him ten years into the past.At the time, Leonel had just returned from a long journey. He was exhausted, disheveled, and burdened with wounds no one could see. Once ag
“Why did you bring me here, Jefran?” Jeslyn asked as they stood on the rooftop of the towering Clovies company building. The night sky was cold, and snowflakes fell gently to the ground.“There’s something I want to discuss with you, Jeslyn,” Jefran said, his gaze fixed on her.“What is it?” Jeslyn
“So, she’s the woman you like, Leo? Your cousin’s fiancée?” Clarissa asked, turning to Leonel.Clarissa gazed at him with a look of satisfaction, as if she had discovered the greatest weakness she could exploit anytime. Her tone sounded light, yet it was laced with a poisonous sweetness.Leonel tur
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.