MasukAnya feels trapped in a world she doesn’t understand. Kidnapped by a mysterious man known only as The Watcher, she is pulled into a dark reality where her mind is twisted, and her identity begins to unravel. As he manipulates her thoughts, blurring the lines between fear and desire, Anya finds herself caught in a dangerous game of submission. The Watcher believes he is saving her, but his love is a sick obsession, filled with psychological torment. As Anya fights against his control, she realizes that the true horror lies not just in her captivity but in the way he haunts her mind, pushing her deeper into madness. Can she escape his grasp before she loses herself completely, or will she surrender to the darkness that calls to her? In this chilling tale of manipulation and madness, nothing is what it seems, and the line between love and control is terrifyingly thin.
Lihat lebih banyak"William, Aku ingin bercerai. "
Emely menatap suaminya cukup dalam. Keringat dingin membasahi dahinya. Cintanya selama lima tahun lamanya untuk pria di hadapannya itu tidak pernah terbalaskan. Suka duka dalam rumah tangganya sudah ia rasakan. Kini ia menyerah. Wiliam sedang memainkan ponselnya- berhenti sejenak kemudian menoleh kepada wanita yang sudah bersama dengan dirinya selama lima tahun lamanya. Dia tidak menganggap ucapan itu serius.William kembali menatap ponselnya dan mengabaikan ucapan istrinya. Sesekali senyum terlihat di bibirnya. Emily yang tidak mendapatkan respon dari suaminya tersenyum getir.Dia jelas tahu dengan siapa suaminya bertukar pesan. Tangannya gemetar memegang ujung gaun-nya. Perlahan-lahan dia melangkah keluar. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia sudah mengambil keputusan. Langkahnya begitu pelan. Pikirannya berkecamuk. Dadanya seperti tersayat. Dia semakin yakin dengan keputusannya. "Apa aku sama sekali tidak pernah ada di pikiran mu?" Emely menahan buliran bening di pelupuk matanya. "Walau sebentar?" *** Dua hari yang lalu,William mengatakan jika dia pergi untuk melakukan perjalanan bisnis.Tapi Emily jelas tahu jika suaminya bukan hanya melakukan perjalanan bisnis tapi dia menemui wanitanya. *** Pernikahan yang Emily jalani selama lima tahun lamanya tidak membuat William mencintainya.Pria itu tetap saja bersikap dingin kepada dirinya dan hatinya tetap milik wanita lain.Setidaknya itulah yang Emily yakini sampai sekarang. "Nyonya." Emely menghentikan langkahnya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi ceria ketika mendengar suara lembut kepala pelayan mansion. Wanita itu tidak ingin menunjukkan kesedihannya kepada siapa pun termasuk dengan Wiliam yang merupakan suaminya. "Ada apa bibi?" Emely tersenyum. "Nyonya Isabella dan tuan Carter akan datang nanti siang. Apa tuan William tidak memberi tahu anda?" Sorot mata wanita paruh baya itu begitu sendu." Nyonya, harus kuat. Percayalah tuan akan melihat nyonya suatu saat nanti." Wanita berusia 50 tahun itu mendekat. Wanita paruh baya itu memegang tangan Emely dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Dia menyadari kesedihan yang di rasakan oleh Emely meskipun wanita itu selalu berusaha menyembunyikannya tapi wanita itu menyadarinya. Dia juga melihat bagaimana perlakuan tuannya selama ini. "Terimah kasih bibi Elsa. Aku sudah berusaha menyembunyikannya tapi sepertinya bibi tetap saja mengetahuinya. Aku sudah menyerah bibi, aku sudah memutuskan untuk melepaskan William." Emely memaksakan diri tersenyum. Emely memeluk bibi Elsa selama beberapa menit dan melerai pelukannya kemudian berjalan keluar dari mansion. Bibi Elsa mengelus dada. "Nyonya dan tuan adalah pasangan yang begitu serasi tapi tetap saja masa lalu tuan adalah pemenangnya. Meski wanita itu tidak baik tapi tuan tidak bisa melihatnya." Gumam bibi Elsa menatap kepergian Emely. Di depan mansion, Emely menghentikan langkahnya yang hendak menuju ke taman. Wanita itu menatap mobil yang baru saja berhenti tepat di hadapannya. Emely tersenyum dan mendekat ke arah mobil tersebut meski dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu pintu mobil terbuka, raut wajah Emely berubah. "Kenapa ada wanita itu?" Batin Emely merasakan sedih di dalam hatinya. Matanya tampak berkaca-kaca memandang wajah wanita yang sedang duduk di samping mamah mertuanya. "Kamu tidak senang melihat mamah?" Isabella membuka pintu mobil cukup keras. Dia turun dari mobil dengan menunjukkan ekspresi kesalnya di hadapan menantu yang tidak pernah ia sukai. Emely terkejut dengan suara pintu yang cukup keras. "Bukan begitu mah. Emely jelas senang melihat mamah datang." Jawab Emely mulai tersenyum. Meski perasaanya mulai tidak tenang. Dia tetap berusaha bersikap tenang. "Cieh, dasar munafik."Gumam Isabella yang masih terdengar jelas di telinga Emely. Emely memegang tangannya yang sedari tadi gemetar dengan hati yang hancur. "Joana turunlah sayang." Isabella tersenyum. Nada bicara yang terdengar begitu lembut selalu terdengar jika itu Joana. Tapi jika dirinya, wanita paruh baya itu sama sekali tidak pernah bersikap lembut kepada dirinya. Dia sudah menjadi menantu di keluarga Carter selama lima tahun lamanya tapi tetap saja dia mendapatkan perlakuan yang buruk. Jika itu dulu, Emely akan berusaha untuk meluluhkan hati mertuanya tapi sekarang dia tidak ingin melakukan hal itu. Dia sudah menjadi wanita yang begitu penurut dan tidak pernah menunjukkan kemarahannya tapi tetap saja, suaminya tidak pernah melihatnya sebagai wanita. Kini Emely sudah bertekad untuk melepaskan laki-laki yang sudah menikah dengannya selama lima tahun lamanya. Meski dia harus mengubur perasaanya. "Hallo Emely, kita berjumpa lagi." Wanita yang bernama Joana itu tersenyum tipis memandang ke arah dirinya. Emely membalas senyuman Joana. Pandangannya tertujju kepada wanita yang sedang mengenakan dres selutut dengan body yang begitu di impikan oleh semua wanita. Jika di bandingkan dirinya yang sedikit kurus dan tidak terbentuk, sangat beda jauh. Emely hanya tersenyum kecil dan kembali menatap wajah wanita cantik di hadapannya. Terlihat jelas jika dia sering melakukan perawatan wajah. Sedangkan dirinya sibuk bekerja dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Rasa minder semakin menggorogoti hatinya. "Bagaimana kabar mu nak? Kita sudah tidak bertemu selama tiga bulan, kamu terlihat tirus." Perhatian Emely teralihkan dengan kehadiran ayah mertuanya. Pria paruh baya itu mendekat dan memeluk menantu kesayangannya. Pria paruh baya itu adalah satu-satunya orang yang menyayangi Emely. Emely kembali merasa tenang ketika merasakan pelukan sosok ayah yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Emely membalas pelukan ayah mertuanya. Dia tidak akan pernah lupa dengan kebaikan pria paruh baya di hadapannya itu yang memperlakukan dirinya seperti putrinya sendiri. "Terimah kasih ayah, Emely kira ayah akan datang nanti siang." Emely menatap ayah mertuanya. Meski dia sudah melepaskan Wiliam, dia tidak akan pernah lupa dengan kebaikan ayah mertuanya. "Mamah mu yang ingin segera datang. Katanya dia sudah sangat merindukan Wiliam." Jawab Carter tersenyum kecil. Bagi Emely tidak akan ada yang berubah meski dia sudah bercerai dengan William. Pikirannya saat ini bagaimana dia mengatakan hal itu kepada ayah mertuanya jika dia akan bercerai dengan putranya. Emely mempersilahkan ayah mertuanya masuk ke dalam sebagaimana dia melakukannya selama lima tahun pernikahannya dengan Wiliam. Dia selalu melayani mertuanya dengan sangat baik tapi kali ini dia memilih untuk duduk bersama dengan mereka. Isabella yang melihat hal itu terlihat tidak senang. Sorot matanya terlihat jelas jika dia sedang kesal kepada menantunya. "Emely apa yang kamu lakukan?" Nada bicara Isabella terdengar begitu kesal. Emely tersenyum meski dia menyadari kekesalan mamah mertuanya. "Tenang saja mah, pelayan sudah menyiapkan semuanya." Emely masih bersikap tenang di hadapan mertuanya dan di hadapan wanita yang di cintai suaminya. "Apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah melupakan tugasmu? Sebaiknya segera ke dapur." Sorot mata Isabella semakin tajam. Emely tetap tersenyum meski dia menyadari kekesalan mertuanya. "Tidak mah tapi aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Begitu banyak pelayan di sini." Isabella mengepalkan tangannya, dadanya naik turun karena kesal. Baru kali ini dia melihat Emely menolak apa yang di perintahkan olehnya. Selama ini dia begitu penurut tapi kali ini dia mulai melakukan penolakan. Isabella jelas tidak terima sikap Emely seperti itu. Joana sendiri tidak mengatakan apa- apa tapi dia terlihat menikmati apa yang sedang terjadi saat ini. Senyum terlihat di bibir Joana. "Emely, mamah bilang ke dapur. Apa kamu harus membantah mamah di hadapan Joana?" Isabella mulai meninggikan suaranya. Tangan Emely mulai gemetar. Dia tidak menyangka jika mamah mertuanya akan membentaknya di depan Joana. "Apa yang sedang terjadi?" Semua mata memandang ke arah sumber suara itu.Each room held echoes of our laughter and the primal screams of our desires, reminders of the chaos that had become our reality.I found him in the heart of our maze, standing by a tall window, the moonlight spilling over him like a silken shroud.His silhouette was striking, an alluring shadow dancing against the pale glow.I could feel my heart race, a familiar thrill surging through me at the sight of him.“Anya,” he called softly, turning to face me. “Come closer.”I stepped forward, my pulse quickening.“What are you thinking about?” I asked, tilting my head, my curiosity piqued.His gaze held a depth I hadn’t seen before, a vulnerability that made my stomach twist with something unfamiliar yet exhilarating.“About who I am,” he replied, his voice low and melodic. “It’s time I revealed my true identity to you.”The WatcherI had been The Watcher, a dark figure lurking in the shadows, but as I stood before Anya, I felt the weight of that title slip away.I was no longer just a cap
We were bound together in a web of shadows and sin, a deliciously twisted dance that ignited every nerve in my body.63THE WATCHERI melted into her kiss, savoring the taste of her sweet surrender.She had embraced the darkness, and it fueled me like a raging fire.I pulled her closer, feeling her heart pounding against my chest, mirroring the chaos of our desires.In that moment, everything else faded away—the world outside, the memories of her past, the remnants of my own humanity.All that existed was Anya and me, wrapped in our shared madness, consumed by a primal need that only we understood.“Let us leave the past behind,” I whispered against her lips, my hands roaming over her curves, reveling in her body’s response to my touch. “We have the power to create our own reality, a world where we reign supreme.”64ANYAHis words sparked a fire deep within me, igniting my darkest fantasies.I pressed against him, feeling every hard line of his body against mine, a living reminder of
The more she embraced the shadows, the more I felt the tightening grip of my own emotions.But with that came an unsettling realization: I was falling for her.The obsession I had cultivated was twisting into something deeper, more profound.I had wanted to mold her, to shape her into a reflection of my darkness, but now, I feared losing her to it.I needed her to remain by my side, to embrace this madness we shared.As we lost ourselves in each other, I felt the line between love and obsession blur.We were no longer two souls trapped in a dark room; we were becoming one, bonded in our shared madness.60ANYAI stood before the mirror, heart racing, as I gazed into the abyss of my own reflection.The girl I had once been had vanished, leaving behind only shadows and echoes.The woman staring back at me was a stranger, adorned with a twisted beauty that spoke of darkness and depravity.My lips were fuller, my skin glowed with a dangerous allure, and my eyes burned with an intensity th
“You are becoming something extraordinary. You are a predator in a world filled with prey. The weakness of your past is nothing compared to the strength you are cultivating now.”The thrill of my own darkness surged through me.I wanted her to embrace this new identity, to shed every last trace of the girl she used to be.The more she surrendered, the more powerful we became together.But somewhere beneath the surface, I felt the weight of my own emotions pulling at me, a mixture of love and obsession that threatened to consume me.I drew her closer, feeling her warmth seep into my skin.“You are mine, Anya. We will carve our place in this world together. Do you understand?”56ANYAAs I stared into his eyes, I saw the depths of his conviction.He wanted me to become someone else entirely, to forsake the remnants of my past for this twisted future he envisioned.And the more I looked into his gaze, the more I felt myself unraveling.I was becoming something fierce, something wild, and
She was used to my voice, conditioned to respond to it.I had watched her break, piece by piece, and it had been more beautiful than I could have imagined.But the real beauty was still to come.27ANYAI sat in the corner, staring at the blank walls, feeling the weight of his presence all around m
21ANYAI was losing it.I could feel it slipping away, my grip on reality.It was like trying to hold water in my hands—it kept slipping through my fingers, no matter how hard I tried to hold on.The dreams, the whispers, the constant feeling of being watched—it was all too much.I didn’t know wha
She didn’t realize it yet, but her resistance was futile.I had already won.The silence had broken her more than she knew.The cracks were there, widening with every word I spoke.Soon, there would be nothing left but submission.I had been watching her long before the abduction.Studying her, lea
The pressure built in my chest, tightening until I thought I might scream again.But I couldn’t.Screaming was useless here.I started to wonder if this was what he wanted.Whoever had taken me, they were playing with me, waiting for me to break.The silence wasn’t an accident.It was deliberate.H












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.