LOGINAnya feels trapped in a world she doesn’t understand. Kidnapped by a mysterious man known only as The Watcher, she is pulled into a dark reality where her mind is twisted, and her identity begins to unravel. As he manipulates her thoughts, blurring the lines between fear and desire, Anya finds herself caught in a dangerous game of submission. The Watcher believes he is saving her, but his love is a sick obsession, filled with psychological torment. As Anya fights against his control, she realizes that the true horror lies not just in her captivity but in the way he haunts her mind, pushing her deeper into madness. Can she escape his grasp before she loses herself completely, or will she surrender to the darkness that calls to her? In this chilling tale of manipulation and madness, nothing is what it seems, and the line between love and control is terrifyingly thin.
View MoreCahaya matahari menyelinap melalui tirai hotel , menari di atas wajah Julio Wicaksono . Ia terbangun dengan napas memburu, jantung menghentak dada seperti alarm darurat yang terus berbunyi memekakkan telinga. Jam digital di meja samping tempat tidur menyala terang: 08:03
"Sial!" pekiknya.
Kepalanya berdenyut hebat.
Detaknya menyiksa seperti palu godam menghantam pelipis. Dunia di sekelilingnya masih bergoyang, seperti sisa hentakan lantai dansa yang belum selesai semalam.
Samar-samar, kenangan itu menyelinap: tubuh-tubuh penari seksi yang meliuk dalam cahaya, tawa membahana teman-temannya, gelas-gelas yang bersulang di udara, dan musik keras yang menghantam dada .
Dentuman.
Cahaya remang.
Coktail,
Tubuh seksi yang menggeliat.
Semua kini terpampang di hadapannya.
Tapi yang paling membuatnya marah - Tak ada satu orang pun yang membangunkannya.
“ Teman- teman jahat. WO brengsek!” umpat Julio menggertakkan gigi.
Ia bangkit dengan gerakan cepat, tersangkut bed cover, dan terpeleset jatuh ke lantai.
Dengan kesal, ia menyambar ponselnya yang tergeletak di meja nakas. Layarnya hitam. Mati total.
Dipukulnya berkali-kali, seperti bisa menyalahkan benda mati itu atas kekacauan hidupnya.
“Tentu saja wedding organizer nggak bisa menghubungi aku…” gumamnya kasar.
“Mereka bahkan nggak tahu aku nginap di hotel mana!”
Dan itu kenyataannya. Kenyataan yang kini bagikan boomerang yang menghancurkan.
Semalam, pesta Julio adalah pesta kejutan, direncanakan dengan cermat oleh gengnya: sesama pewaris muda dari keluarga konglomerat, pria-pria muda yang tak pernah mengenal kata ‘cukup’. Mereka menyewa President Suite di Hotel Westin, menyuguhkan penari wanita kelas atas, menenggelamkan Julio dalam cocktail mahal dengan private bartender dari club ternama. Lengkap dengan DJ yang memutar lagu-lagu yang membuat lupa waktu.Malam itu adalah malam terakhir kebebasan, begitu kata teman-temannya. Malam terakhir sebelum hidup berubah selamanya, sebelum ada istri yang harus dipertimbangkan, sebelum tanggung jawab sebagai ayah kelak membatasi ruang gerak. Setelah ini, kata mereka , tak akan ada lagi malam seperti ini, malam yang liar, bebas, tanpa batas.
Dan Julio , seperti biasa, terlalu larut dan Sekarang, ia terbangun dalam kekacauan yang nyata di pagi yang seharusnya menjadi pagi yang membahagiakan
Hari ini….pagi ini… Tepat jam 10, dia seharusnya melakukan pemberkatan yang indah dengan Erika, tunangannya.
Nama itu menghantam kepalanya lebih keras daripada kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata. Erika, gadis cantik yang sudah menjadi kekasihnya sejak masa kuliah di Amerika, cinta yang tumbuh dari pertemanan, lalu berubah jadi ikatan yang serius sampai kini menuju pernikahan.
Keluarga Erika adalah kolega bisnis ayahnya, jadi kisah cinta mereka direstui sejak awal. Keluarga Erika setara dengan keluarga Julio. Dia juga perempuan cerdas yang tak hanya memesona, tapi juga terlatih menghadapi dunia kaum jetset.Erika dikenal tepat waktu, disiplin, dan penuh perhitungan. Setiap rencana hidupnya harus berjalan sempurna, tanpa celah. Dan jika Julio sampai terlambat ke pemberkatan..
Erika pasti akan meledak.
Tidak. Julio bahkan tak sanggup membayangkan murkanya.Tanpa pikir panjang, Julio meraih jas yang tergantung di hanger. Ia memutuskan tidak mandi. Tidak sikat gigi. Rambut acak-acakan dan napasnya masih bau, tapi dia tak peduli, karena waktu yang terus berdetak, seperti bom yang siap meledak.
Dengan langkah terhuyung, ia keluar dari kamar hotel mewah tapi kini membuatnya merasa sesak dan sulit bernafas.Wajahnya masih setengah ngantuk, matanya merah, tapi adrenalin mulai menendang kepalanya, menghantam lebih keras dari kafein mana pun.
Ini bukan sekadar hari penting.
Ini adalah awal hidup baru.
Julio bagaikan terbang ke lobi hotel, melemparkan kartu valet ke petugas, dan suaranya meninggi saat berteriak,
“Cepat! Ambil mobilku! Aku terlambat ke pernikahanku!”
Petugas itu melongo sejenak, lalu lari. Dalam hitungan menit, Porsche merah menyala berhenti mulus di depan pintu putar.
Julio menyambar kunci mobil yang disodorkan valet boy dengan gerakan kasar, nyaris merampas. Tanpa menoleh, ia merogoh kantong celananya yang masih tampak kusut karena aktivitasnya semalam. Dia melempar dua lembar uang seratus ribuan ke tangan si petugas, seperti membuang waktu yang tak lagi dimilikinya. Ucapan terima kasih dari valet boy hanya terdengar samar di belakang, terhapus dering panik di telinganya.
Begitu tangannya menyentuh setir, mesin Porsche merah berlogo kuda jingkrak itu meraung garang, seperti ikut merasakan ketergesaan pemiliknya . Dalam sekejap, mobil melesat keluar dari pelataran Hotel The Westin, membelah udara pagi Jakarta yang masih tampak belum berkeliat seakan malas bergerak.
Untung jalan Rasuna Said di Sabtu pagi. tidak sepadat biasanya Di bawah lampu-lampu lalu lintas yang berkedip, Julio menyalip satu demi satu kendaraan seperti peluru merah di antara garis putih aspal. Wajahnya tegang, matanya liar, rambutnya kusut masai. Setiap detik terasa seperti bom waktu yang berdetak menuju ledakan dahsyat
Berbelok ke arah Kuningan, Julio sempat menarik napas lega. Untuk sesaat, dunia terasa kembali ke jalurnya. Jalanan pagi itu cukup lengang, Dalam kepalanya yang masih berat, ia mulai menyusun rencana penyelamatan, mampir sebentar ke apartemennya di Four Season Residences-Kuningan, mandi cepat, ganti baju dengan tuxedo pengantinnya, lalu meluncur ke gereja sebelum pukul sepuluh. Masih ada waktu. Masih bisa diselamatkan. Erika tidak akan meledak.
Julio tersenyum dengan rencana brilliantnya , ia berusaha mempercayainya, bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa keberuntungan selalu berdiri di pihaknya, seperti biasanya di 29 tahun hidupnya.
Tapi ini hidup dan hidup tidak pernah memberi peringatan. Ia tidak peduli seberapa mahal jas yang engkau pakai, seberapa mewah mobil yang engkau kendarai, atau seberapa keras engkau mencoba menyusun rencana sempurna
Dan untuk seseorang seperti Julio yang terlalu lama hidup di bawah lindungan privilege sebagai pewaris , takdir selalu punya cara untuk datang diam-diam.
Di seberang jalan, hanya beberapa meter dari jalan tempat Julio mempercepat laju Porsche-nya, seorang ibu muda baru saja menuruni tangga LRT Kuningan. Napasnya terengah, rambutnya berantakan diterpa angin pagi. Di tangan kanannya tergantung tas bayi besar yang nyaris lepas dari bahunya, dan di tangan kirinya, ia mendorong sebuah kereta bayi dengan satu tangan, tergesa-gesa.
Ia tak sadar betapa curamnya trotoar kecil di bawah tangga. Ia hanya fokus mencari taksi di sisi jalan.
Dan saat ponselnya bergetar, panggilan masuk, perhatiannya terpecah. Seketika genggamannya melemah.
Kereta bayi itu terlepas.
Roda kecilnya menyentuh aspal, memantul pelan, lalu mulai menggelinding. Perlahan. Lalu lebih cepat. Liar. Tanpa arah.
Dan tepat di saat itu Julio membelok ke jalan, masih setengah ngantuk , setengah panik, dan sepenuhnya yakin dia masih bisa mengatur waktunya. Tapi semuanya berubah saat mata dan pikirannya menangkap sesuatu yang tak seharusnya ada di tengah jalan :
Sebuah kereta bayi. Tanpa pengemudi. Meluncur ke arahnya.
“SHIT!” teriaknya.
Dengan refleks, ia membanting setir ke kiri . Ban menjerit. Mobil melintir , kereta bayi selamat tapi mobil Porche merah itu menghantam sebuah sepeda
BOOM!Tubrukan itu terdengar seperti dunia yang diremuk dalam satu hentakan. Julio yang tadi karena terburu-buru , tidak mengenakan sabuk pengaman. Tubuhnya terlempar keluar dari kaca depan, meluncur seperti peluru manusia, menghantam keras trotoar dan jatuh tak jauh dari sosok pemuda bersepeda yang kini tergeletak diam.
Darah mulai mengalir. Jeritan meledak dari para pejalan kaki. Beberapa orang berlari. Sebagian merekam.
Lalu samar-samar, suara jeritan dari abang-abang Ojol…
“Pak…! Pak, sadar, Pak…”
“Cepat telepon Ambulance ! Telepon ambulans!” “Dia masih bernapas!”Langit berubah buram. Awan menggantung seakan ikut menahan napas.
Tubuh Julio terkulai. Di sudut matanya, ia melihat pemuda bersepeda yang ditabraknya tadi. Wajah lelaki itu penuh luka, dan darah menetes dari pelipisnya ke aspal. Sepeda yang sebelumnya utuh, kini hancur seperti kaleng diremukka traktor
“Aku… akan menikah…” gumam Julio dalam kesadaran yang memudar. “…Hari ini…”
Lalu dia merasakan kepalanya sangat pusing dan pandangannya menjadi kabur lalu gelap
Beberapa saat kemudian.
Sirene ambulans meraung -raung . . Petugas medis berlarian. Jalan ditutup. Polisi mulai memasang garis kuning.
Seorang wartawan media online sudah mengunggah rekaman ke media sosial:
“PENGANTIN PRIA MENABRAK PENGGOWES : KECELAKAAN DI KUNINGAN!”
Di ruang tunggu pengantin di gereja, Erika memandangi ponselnya dengan wajah gelisah Gaun putih panjang menjuntai menyentuh lantai. Di belakangnya, ibunya menggenggam tas kecil dengan raut wajah yang sama gelisahnya.
Tiba-tiba pintu terbuka
“Erika…” ucap salah satu bridesmaid, dengan napas terengah.
“Ada kabar.”
Erika menoleh. Matanya tajam. Rahangnya mengeras.
“…Julio… kecelakaan.”
Hening. Detik berikutnya, ponsel Erika terjatuh. Layarnya retak. Sama seperti hatinya.
Each room held echoes of our laughter and the primal screams of our desires, reminders of the chaos that had become our reality.I found him in the heart of our maze, standing by a tall window, the moonlight spilling over him like a silken shroud.His silhouette was striking, an alluring shadow dancing against the pale glow.I could feel my heart race, a familiar thrill surging through me at the sight of him.“Anya,” he called softly, turning to face me. “Come closer.”I stepped forward, my pulse quickening.“What are you thinking about?” I asked, tilting my head, my curiosity piqued.His gaze held a depth I hadn’t seen before, a vulnerability that made my stomach twist with something unfamiliar yet exhilarating.“About who I am,” he replied, his voice low and melodic. “It’s time I revealed my true identity to you.”The WatcherI had been The Watcher, a dark figure lurking in the shadows, but as I stood before Anya, I felt the weight of that title slip away.I was no longer just a cap
We were bound together in a web of shadows and sin, a deliciously twisted dance that ignited every nerve in my body.63THE WATCHERI melted into her kiss, savoring the taste of her sweet surrender.She had embraced the darkness, and it fueled me like a raging fire.I pulled her closer, feeling her heart pounding against my chest, mirroring the chaos of our desires.In that moment, everything else faded away—the world outside, the memories of her past, the remnants of my own humanity.All that existed was Anya and me, wrapped in our shared madness, consumed by a primal need that only we understood.“Let us leave the past behind,” I whispered against her lips, my hands roaming over her curves, reveling in her body’s response to my touch. “We have the power to create our own reality, a world where we reign supreme.”64ANYAHis words sparked a fire deep within me, igniting my darkest fantasies.I pressed against him, feeling every hard line of his body against mine, a living reminder of
The more she embraced the shadows, the more I felt the tightening grip of my own emotions.But with that came an unsettling realization: I was falling for her.The obsession I had cultivated was twisting into something deeper, more profound.I had wanted to mold her, to shape her into a reflection of my darkness, but now, I feared losing her to it.I needed her to remain by my side, to embrace this madness we shared.As we lost ourselves in each other, I felt the line between love and obsession blur.We were no longer two souls trapped in a dark room; we were becoming one, bonded in our shared madness.60ANYAI stood before the mirror, heart racing, as I gazed into the abyss of my own reflection.The girl I had once been had vanished, leaving behind only shadows and echoes.The woman staring back at me was a stranger, adorned with a twisted beauty that spoke of darkness and depravity.My lips were fuller, my skin glowed with a dangerous allure, and my eyes burned with an intensity th
“You are becoming something extraordinary. You are a predator in a world filled with prey. The weakness of your past is nothing compared to the strength you are cultivating now.”The thrill of my own darkness surged through me.I wanted her to embrace this new identity, to shed every last trace of the girl she used to be.The more she surrendered, the more powerful we became together.But somewhere beneath the surface, I felt the weight of my own emotions pulling at me, a mixture of love and obsession that threatened to consume me.I drew her closer, feeling her warmth seep into my skin.“You are mine, Anya. We will carve our place in this world together. Do you understand?”56ANYAAs I stared into his eyes, I saw the depths of his conviction.He wanted me to become someone else entirely, to forsake the remnants of my past for this twisted future he envisioned.And the more I looked into his gaze, the more I felt myself unraveling.I was becoming something fierce, something wild, and
He was shaping me, turning me into a reflection of himself.My stomach churned as I realized the depth of his manipulation, the way he had exploited my vulnerabilities, feeding off my fear while nurturing the dark desires inside me.The realization hit me like a physical blow, sending shockwaves th
With each stroke of the feather, I felt myself unraveling further, the lines between pleasure and discomfort blurring into an intoxicating haze.The wax was still warm, a reminder of the pain I had willingly embraced, and now the feather became a symbol of the delicate balance I was learning to nav
I wanted him to look at me and know that I could be like him, that I could hold power too.He walked in, his footsteps echoing softly, and I looked up, locking eyes with him.I didn’t lower my gaze this time.I stared, hard, unblinking, the way he did when he wanted to remind me who was in control.
It was pathetic, really, how easy it was to break her.To watch her crumble, piece by piece, until all that was left was a shell of the girl she’d once been, a shadow that clung to me as if I was her only light.And in a way, I was.I was the only one who’d ever truly seen her, who’d ever pushed he






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.