Share

Bulan Madu

Author: Adelia17
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-07 21:01:28

“Sebentar … kamu jangan marah dulu!” ujar Zayn meraih kain berenda yang tampak tidak beraturan itu, seraya berusaha mengaturnya, “aku tidak paham, ini sebenarnya untuk apa?”

Melihat raut wajah kebingungan suaminya, Emiko tiba-tiba memicing. “Apa kamu benar-benar tidak tahu?” tanyanya.

Zayn mengalungkan kain berenda itu di lehernya, lalu memandang istrinya dan bertanya, “Apa begini cara pakainya?”

Emiko tertawa terbahak-bahak melihat suaminya berbalut kain berenda warna merah menyala. “Bukan beg
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • One Two Three and Action   Ketika Zayn Turun Tangan

    “Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara

  • One Two Three and Action   Kalian Ketahuan!

    Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk

  • One Two Three and Action   Emosi Eleni yang Terpendam

    Cukup lama Emiko dan Eleni terdiam dengan pikiran masing-masing hingga istri Zayn kembali bertanya, “Bagaimana dengan Brian? Apa kamu mengenal latar belakang keluarganya?”“Tidak,” jawab Eleni pelan.Emiko mengernyit. “Bagaimana hubungan kalian sejauh ini? Apa laki-laki itu terlihat serius denganmu? Bagaimana pun, bila seseorang merasa yakin dengan pilihannya, maka dia akan bergegas menemui kedua keluarga,” tanyanya.“Iya, kamu benar. Awalnya, memang aku tidak terlalu peduli dengan keluarga karena hubungan kami terasa seperti hanya di permukaan saja. Akan tetapi, aku pernah sekadar iseng menanyakan tentang adik atau kakaknya ….” Eleni diam memikirkan sesuatu tanpa menyelesaikan kalimatnya.“Bagaimana respons Brian?” tanya Emiko memecah keheningan.“Dia enggan memberi tahu aku,” jawab Eleni seraya mengangkat satu bahunya, pertanda gadis itu juga tidak mengerti dengan sikap Brian.“Apa kamu tidak tahu tempat tinggalnya, pekerjaannya, atau hal-hal dasar lain tentang dirinya?” tanya Emiko

  • One Two Three and Action   Eleni dan Masa Lalu

    Beberapa saat lamanya, Eleni hanya diam dan menatap Emiko lurus.“Apa kamu bisa menjaga rahasia?” tanya Eleni memecah keheningan.“Kamu datang ke kantor ini, artinya kamu memiliki hak yang sama seperti klien yang lain. Kamu bebas bercerita tanpa perlu merasa khawatir rahasiamu terbongkar. Kamu dapat memercayai aku,” jawab Emiko mengedipkan sebelah matanya dengan senyum mengembang.“Eee, apa aku harus membayar? Ah! Aku lupa … kamu benar! Berapa tarif …?”“Ssshh! Tolong belikan aku sup kepala ikan salmon di restoran Jepang favorit kita saja sebagai pembayarannya! Bagaimana?” potong Emiko mengulurkan tangan untuk bersalaman. Pun dia berbicara dengan nada suara nyaris berbisik seolah-olah tidak ingin seorang pun mendengar kesepakatan mereka.“Deal!” sahut Eleni menyambut uluran tangan Emiko dengan senyum merekah.“Jadi, siapa kekasihmu?” tanya Emiko penasaran.“Apa kamu juga bisa berjanji untuk tidak menceritakannya pada Zayn?” Eleni masih saja bertanya untuk memastikan.“Kalau itu yang k

  • One Two Three and Action   Cerita Eleni

    “Makan siang sudah siap, Non,” ujar Bik Sumi memberi tahu.“Terima kasih, Bik,” ucap Emiko yang sedikit terkejut karena dia baru saja memikirkan Eleni.“Aromanya saja sudah membuatku lapar dan sekaligus bersemangat. Makan, yuk!” Eleni berkata seraya bangkit dari tempat duduk dan menarik lengan Oma Rosa.Ketika mereka bertiga melangkah menuju ke ruang makan, terdengar suara seseorang yang sedang menekan kata sandi di pintu utamaOma Rosa praktis menghentikan langkah dan melihat ke arah Emiko dengan raut wajah bertanya-tanya. Namun, itu hanya berlangsung sebentar karena Zayn sudah melangkah masuk.“Halo, Oma!” sapa Zayn.“Hei! Apa kamu sudah selesai bekerja?” tanya Oma Rosa.“Aku hanya bertemu seorang klien untuk menandatangani kontrak kerja dan mengajaknya minum kopi,” jawab Zayn menghampiri Emiko dan mencium bibirnya sekilas tanpa canggung.Oma Rosa yang sudah terbiasa dengan sikap mesra cucunya itu diam-diam merasa bersyukur. Beliau memang berharap, Zayn dapat memberikan kebahagiaan

  • One Two Three and Action   Menghibur Emiko

    “Aku bersyukur, Oma Rosa dapat menerimaku apa adanya,” ujar Emiko.“Kamu hanya beruntung. Firasat beliau kebetulan bagus saat melihatmu,” sahut Zayn bercanda.“Ck! Firasat berkaitan dengan aura seseorang. Aku tidak mungkin mengganti auraku dalam sekejap demi membuat Oma Rosa memiliki firasat yang baik tentang aku,” ujar Emiko membela diri.Zayn tertawa kecil seraya mengangkat tangan kirinya untuk merangkul Emiko.“Aku hanya ingin menggodamu. Duniaku terasa sangat sepi ketika kamu hanya diam dan bersedih,” sahut Zayn.“Maaf. Aku benar-benar tidak menyangka akan kehilangan Papa dan Mama secepat ini. Bagaimanapun, aku yang belum punya banyak pengalaman masih membutuhkan nasihat Mama. Akan tetapi, kalau dipikir-pikir, Mama sekarang sudah bahagia karena bisa bertemu Papa dan tidak akan kesepian lagi di sana,” ujar Emiko kembali menitikkan air mata.“Tuhan tidak akan mencobai lebih dari kekuatan umatNya. Bila Papa dan Mama dipanggil, maka artinya kamu sanggup menjalani hidupmu. Mungkin Tuha

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status