Share

Cerita Eleni

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-10-17 11:42:30

“Makan siang sudah siap, Non,” ujar Bik Sumi memberi tahu.

“Terima kasih, Bik,” ucap Emiko yang sedikit terkejut karena dia baru saja memikirkan Eleni.

“Aromanya saja sudah membuatku lapar dan sekaligus bersemangat. Makan, yuk!” Eleni berkata seraya bangkit dari tempat duduk dan menarik lengan Oma Rosa.

Ketika mereka bertiga melangkah menuju ke ruang makan, terdengar suara seseorang yang sedang menekan kata sandi di pintu utama

Oma Rosa praktis menghentikan langkah dan melihat ke arah Emiko den
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Emosi Eleni yang Terpendam

    Cukup lama Emiko dan Eleni terdiam dengan pikiran masing-masing hingga istri Zayn kembali bertanya, “Bagaimana dengan Brian? Apa kamu mengenal latar belakang keluarganya?”“Tidak,” jawab Eleni pelan.Emiko mengernyit. “Bagaimana hubungan kalian sejauh ini? Apa laki-laki itu terlihat serius denganmu? Bagaimana pun, bila seseorang merasa yakin dengan pilihannya, maka dia akan bergegas menemui kedua keluarga,” tanyanya.“Iya, kamu benar. Awalnya, memang aku tidak terlalu peduli dengan keluarga karena hubungan kami terasa seperti hanya di permukaan saja. Akan tetapi, aku pernah sekadar iseng menanyakan tentang adik atau kakaknya ….” Eleni diam memikirkan sesuatu tanpa menyelesaikan kalimatnya.“Bagaimana respons Brian?” tanya Emiko memecah keheningan.“Dia enggan memberi tahu aku,” jawab Eleni seraya mengangkat satu bahunya, pertanda gadis itu juga tidak mengerti dengan sikap Brian.“Apa kamu tidak tahu tempat tinggalnya, pekerjaannya, atau hal-hal dasar lain tentang dirinya?” tanya Emiko

  • One Two Three and Action   Eleni dan Masa Lalu

    Beberapa saat lamanya, Eleni hanya diam dan menatap Emiko lurus.“Apa kamu bisa menjaga rahasia?” tanya Eleni memecah keheningan.“Kamu datang ke kantor ini, artinya kamu memiliki hak yang sama seperti klien yang lain. Kamu bebas bercerita tanpa perlu merasa khawatir rahasiamu terbongkar. Kamu dapat memercayai aku,” jawab Emiko mengedipkan sebelah matanya dengan senyum mengembang.“Eee, apa aku harus membayar? Ah! Aku lupa … kamu benar! Berapa tarif …?”“Ssshh! Tolong belikan aku sup kepala ikan salmon di restoran Jepang favorit kita saja sebagai pembayarannya! Bagaimana?” potong Emiko mengulurkan tangan untuk bersalaman. Pun dia berbicara dengan nada suara nyaris berbisik seolah-olah tidak ingin seorang pun mendengar kesepakatan mereka.“Deal!” sahut Eleni menyambut uluran tangan Emiko dengan senyum merekah.“Jadi, siapa kekasihmu?” tanya Emiko penasaran.“Apa kamu juga bisa berjanji untuk tidak menceritakannya pada Zayn?” Eleni masih saja bertanya untuk memastikan.“Kalau itu yang k

  • One Two Three and Action   Cerita Eleni

    “Makan siang sudah siap, Non,” ujar Bik Sumi memberi tahu.“Terima kasih, Bik,” ucap Emiko yang sedikit terkejut karena dia baru saja memikirkan Eleni.“Aromanya saja sudah membuatku lapar dan sekaligus bersemangat. Makan, yuk!” Eleni berkata seraya bangkit dari tempat duduk dan menarik lengan Oma Rosa.Ketika mereka bertiga melangkah menuju ke ruang makan, terdengar suara seseorang yang sedang menekan kata sandi di pintu utamaOma Rosa praktis menghentikan langkah dan melihat ke arah Emiko dengan raut wajah bertanya-tanya. Namun, itu hanya berlangsung sebentar karena Zayn sudah melangkah masuk.“Halo, Oma!” sapa Zayn.“Hei! Apa kamu sudah selesai bekerja?” tanya Oma Rosa.“Aku hanya bertemu seorang klien untuk menandatangani kontrak kerja dan mengajaknya minum kopi,” jawab Zayn menghampiri Emiko dan mencium bibirnya sekilas tanpa canggung.Oma Rosa yang sudah terbiasa dengan sikap mesra cucunya itu diam-diam merasa bersyukur. Beliau memang berharap, Zayn dapat memberikan kebahagiaan

  • One Two Three and Action   Menghibur Emiko

    “Aku bersyukur, Oma Rosa dapat menerimaku apa adanya,” ujar Emiko.“Kamu hanya beruntung. Firasat beliau kebetulan bagus saat melihatmu,” sahut Zayn bercanda.“Ck! Firasat berkaitan dengan aura seseorang. Aku tidak mungkin mengganti auraku dalam sekejap demi membuat Oma Rosa memiliki firasat yang baik tentang aku,” ujar Emiko membela diri.Zayn tertawa kecil seraya mengangkat tangan kirinya untuk merangkul Emiko.“Aku hanya ingin menggodamu. Duniaku terasa sangat sepi ketika kamu hanya diam dan bersedih,” sahut Zayn.“Maaf. Aku benar-benar tidak menyangka akan kehilangan Papa dan Mama secepat ini. Bagaimanapun, aku yang belum punya banyak pengalaman masih membutuhkan nasihat Mama. Akan tetapi, kalau dipikir-pikir, Mama sekarang sudah bahagia karena bisa bertemu Papa dan tidak akan kesepian lagi di sana,” ujar Emiko kembali menitikkan air mata.“Tuhan tidak akan mencobai lebih dari kekuatan umatNya. Bila Papa dan Mama dipanggil, maka artinya kamu sanggup menjalani hidupmu. Mungkin Tuha

  • One Two Three and Action   Hanya Kamu

    Acara pemakaman Kirani berlangsung dengan sangat baik. Cuaca mendung tanpa hujan disertai angin sepoi-sepoi, seakan ingin memberi tahu Emiko bahwa semesta turut merasa kehilangan sosok wanita hebat yang semasa hidupnya telah melakukan perannya dengan baik.Satu per satu teman, rekan kerja, dan klien yang meluangkan waktu untuk datang memberikan ucapan belasungkawa pada Zayn dan Emiko. Pun mereka langsung pamit untuk melanjutkan aktivitas.Kini hanya ada Zayn yang masih setia memeluk Emiko, ditemani oleh Oma Rosa, Cakra, Calia, Eleni, Juli, Nathan, Davina, dan Bik Sumi.Sebenarnya masih ada Pak Adi, seseorang yang selalu diandalkan oleh Kirani untuk antar jemput saat hendak bepergian. Namun, pria paruh baya itu masih mondar mandir untuk memasukkan makanan ringan dan minuman ke dalam mobil.Baru semalam Juli, Nathan, dan Davina datang untuk memberikan dukungan pada Emiko. Pun mereka tidak bisa berlama-lama karena rumah di Bali sedang ada perbaikan dan harus ada yang mengawasi. Selain it

  • One Two Three and Action   Air Mata Emiko

    “Mama! Aku harus bagaimana sekarang?” ujar Emiko terisak sambil memeluk erat Kirani yang berbaring tenang tanpa detak jantung.Suasana terasa hening. Para perawat melepas semua peralatan di tubuh wanita paruh baya itu dengan perlahan dan sebisa mungkin tanpa suara. Pun Oma Rosa dan Bik Sumi hanya berdiri di belakang Zayn yang setia mengusap-usap pelan punggung istrinya.Hanya Emiko yang masih terus menangis sembari mengungkapkan isi hatinya.Tidak tahu sudah berapa lama situasi menyedihkan itu berlangsung. Hingga seorang perawat datang menghampiri dengan hati-hati untuk memberi tahu bahwa pasien harus dibersihkan dan dipindahkan ke ruangan khusus.“Baik, Suster,” sahut Zayn.Oma Rosa beralih ke samping Emiko. Beliau lantas berkata, “Kirani, selama Tuhan masih memberiku napas kehidupan, aku berjanji akan mendampingi cucu menantuku yang cantik ini dengan baik. Pergilah dengan damai dan jagalah putrimu ini dari atas sana!”Bukannya menjadi lebih tenang, Emiko kembali menangis sesenggukan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status