One Two Three and Action

One Two Three and Action

last updateLast Updated : 2026-09-04
By:  Adelia17Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel12goodnovel
Not enough ratings
15Chapters
8views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Emiko dituduh membunuh seseorang dan satu-satunya pria yang membelanya adalah orang yang paling dia benci sejak SMA. Zayn, pria populer yang dulu selalu dia anggap tukang pamer, sekarang menjadi satu-satunya harapan. Di tengah kebencian yang sudah ada sejak lama, salah paham, dan rahasia berdarah, perasaan yang tidak seharusnya ada mulai tumbuh. Namun, setiap langkah mendekat selalu dibayar dengan jarak dan luka. Jika cinta saja dianggap kesalahan, apakah mereka masih pantas memperjuangkannya?

View More

Chapter 1

Adegan Mesra

Di sebuah lorong hotel bintang lima yang ada di Jakarta Pusat. Lebih tepatnya di lantai dua puluh.

Seorang pemuda dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku berpadu celana jin hitam berjalan seraya memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Sesekali dia melirik dari balik kacamata hitamnya ke arah orang-orang yang memandang kagum ke arahnya.

“Hei! Apa kamu yang bernama Zayn?” Seorang perempuan tiba-tiba sudah berdiri di hadapan laki-laki itu.

“Ya,” sahut Zayn dengan pandangan lurus ke arah name tag yang melingkar di leher perempuan itu.

“Oh! Astaga! Kamu benar-benar pahatan yang sangat sempurna! Aku rasa wajahmu yang mulus itu tidak memerlukan riasan lagi. Silakan masuk ke kamar nomor dua dari yang paling ujung dan lepaskan kemejamu!” ujar seorang perempuan yang praktis berjinjit sambil mencondongkan wajah ke arah telinga Zayn, “sesuai jadwal, hari ini kita hanya akan melakukan adegan dewasa.”

Dengan raut wajah dingin, Zayn kembali melangkah mengikuti instruksi. Namun, sebelum masuk ke dalam kamar nomor dua, dia sempat mendengar suara dari sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Itu kamar yang paling ujung.

“Ooohhh … mmm …,” desah seorang wanita.

“Tidak perlu malu! Buka kedua kakimu lebih lebar! Lagi pula milikmu sudah basah. Aku hanya perlu memberikan sentuhan akhir.” Suara bariton terdengar samar.

“Ini pertama kalinya bagiku. Tolong lakukan perlahan! Ohhh … aaahh ….”

Zayn merasa geli mendengar suara penuh gairah itu sehingga dia memilih untuk buru-buru masuk ke dalam kamar dan langsung melakukan instruksi seseorang yang di name tag-nya bertuliskan nama Vika.

Tidak membutuhkan waktu lama.

“Kamu?!” pekik Emiko dengan mata membola. Anak dari pasangan Felix Royce dan Kirani Benz itu sangat terkejut ketika melihat Zayn, seorang pria yang sangat menyebalkan tiba-tiba muncul.

Ya, laki-laki itu menyebalkan, setidaknya menurut pendapat Emiko. Sebaliknya, kenangan yang dimiliki Zayn tentang gadis itu juga tidak terlalu baik.

“Adegan apa yang harus aku lakukan dengan gadis ini?” tanya Zayn dengan tatapan tajam ke arah Emiko.

“Berbaringlah di sisinya dan kalian harus bermesraan!” jawab Roy.

“Bermesraan bagaimana maksudnya?” tanya Emiko gugup.

Tidak ada seorang pun yang memberi jawab.

Aroma kayu yang memberikan kesan sosok berkarakter dan misterius menguar seiring pergerakan Zayn masuk ke dalam selimut membuat Emiko semakin berdebar-debar. Ditambah, penampilan laki-laki itu dengan celana panjang jin berwarna hitam tanpa baju atasan, menunjukkan perut bak roti sobek, sungguh membuat gadis itu ingin pura-pura pingsan rasanya.

“Ah, hampir saja aku lupa! Ingat! Kalian harus melakukannya seolah-olah ini semua nyata. Pemeran utama pria! Bila perlu, kamu diizinkan untuk meremas dada dan mengusap puncak bukit kembarnya sampai dia mendesah kuat-kuat,” perintah Roy seraya menunjuk ke arah Emiko dengan dagunya.

“Baik! Aku mengerti,” sahut Zayn masih menatap Emiko lekat. Seolah-olah lelaki itu siap menerkamnya.

“Jangan berani-berani menyentuhku!” Emiko mengancam ketakutan.

“Pemeran utama wanita!” bentak Roy membuat seisi kamar tiba-tiba hening, “mendesahlah sekuatnya sampai kami menginginkanmu!”

Emiko hanya mengerucutkan bibir dan menahan debaran di dadanya. Gadis itu tidak menyangka peran yang harus dilakukannya itu sangat sulit. Oh, tidak hanya sulit! Itu bahkan mustahil untuk dilakukan.

Sampai samua orang menginginkannya? Emiko membatin. Dia hanya ingin pulang sekarang.

Seandainya saja, gadis itu bisa dengan tegas menolak permintaan seorang klien untuk menggantikan perannya. Seandainya saja, dia tidak merasa selalu bisa melakukan apa saja. Pasti kerumitan di dalam batinnya sekarang tidak perlu terjadi.

“Kalian semua! Bersiap!” teriak Roy melangkah menuju ke posisinya sembari memberi kesempatan pada semua orang untuk menyelesaikan persiapan mereka.

“Setelah bertahun-tahun lamanya, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi. Hm, dengan penampilan yang sedikit aneh,” ujar Zayn memelankan suaranya di ujung kalimat.

“Aneh?” Emiko mengulangi seraya tertawa sumbang membenarkan. Penampilan mereka saat ini memang kurang pantas untuk sebuah reuni.

“Apa kamu tahu? Aku bahkan bertanya-tanya, kelebihan apa yang membuat mereka menerimamu sebagai artis?” Zayn bertanya.

“Ya, silakan hina aku sepuasmu! Aku bahkan tidak tahu kalau kamu sudah menjadi artis,” lirih Emiko masih belum bisa menguasai dirinya.

Zayn hanya menyeringai puas melihat bulir keringat yang membasahi kening gadis itu.

“Berapa upah yang kamu hasilkan dengan membiarkan tubuhmu disentuh oleh banyak pria?” tanya Zayn.

“Apa kamu petugas pajak?” ketus Emiko menyindir.

“Tidak perlu marah! Aku tidak benar-benar ingin tahu,” jawab Zayn sambil memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

“Ha! Kamu tidak berubah. Selalu saja menyebalkan,” sungut Emiko.

“Semua orang! Apa kalian sudah siap? Aku sudah menunggu terlalu lama!” seru Roy angkuh.

Sang sutradara berwajah menyeramkan itu tidak berhenti memainkan pematik api di tangannya hingga tanpa sengaja Zayn melihat sesuatu yang tajam terpasang di dalamnya.

Benda apa itu? Batin Zayn bertanya-tanya.

“Apa kalian sudah siap?” tanya Kaila, asisten sutradara, seraya membenarkan letak selimut.

“Ya, kami sudah siap,” jawab Zayn kembali beralih menatap Emiko.

Kaila memberi tanda pada juru kamera agar mereka semua mempercepat persiapannya. Dia lantas segera duduk di sebelah Roy untuk melihat adegan dari jarak tertentu.

Walaupun netranya menatap lurus ke arah Emiko yang berusaha menghindari pandangannya, tetapi sudut matanya dapat menangkap kemesraan Roy dengan Kaila. Bahkan sutradara galak itu diam-diam menyusupkan tangannya ke dalam kaos sang asisten yang kebesaran.

Setelah tangannya puas memainkan ujung bukit kembar milik Kaila, Roy tiba-tiba berteriak, “Kita mulai sekarang!”

Mendengar aba-aba itu, Zayn secara otomatis menarik tubuh Emiko agar mendekat ke arahnya.

“Apa kamu tidak memakai bra?” tanya Zayn membuat Emiko terbelalak.

“Aku mengenakan strapless bra,” jawab Emiko nyaris berbisik.

“Ah, sayang sekali ….”

“Apa maksudmu sayang sekali? Bersikaplah sopan, Zayn!” geram Emiko membuat Zayn menyeringai penuh kemenangan.

Sungguh laki-laki itu ingin merendahkan Emiko yang menurutnya selalu ingin mencari perhatian.

“Pemeran utama pria dan wanita! Apa kalian mendengarku?!” teriak Roy.

“Ya, mulai saja!” jawab Zayn tenang.

“One, two, three, and … action!” seru Roy.

Zayn bergerak perlahan sambil menaikkan tubuhnya hingga terlihat memunggungi kamera. Dia lantas memajukan wajahnya seolah-olah hendak mencium, membuat gadis itu dengan cepat mendorong tubuh lelaki di sampingnya.

“Cut!” pekik Roy marah, “apa yang kalian lakukan?!”

“Zayn! Sudah kukatakan, jangan menyentuhku!” bisik Emiko penuh penekanan. Dia benar-benar tidak bisa melakukan adegan mesra bersama seorang laki-laki asing.

“Apa ada cara bermesraan tanpa bersentuhan?” tanya Zayn memasang raut wajah polos.

“Tidak begitu caranya!” jawab Emiko masih berbisik.

“Pemeran utama laki-laki! Apa kamu bisa melakukan yang aku perintahkan?” bentak Roy tidak sabar, “buat wanita disampingmu mendesah!”

“Ya, aku sedang mengusahakannya,” jawab Zayn seraya memandang gadis di hadapannya dengan seringai penuh kemenangan.

Perbincangan di antara kedua lelaki itu membuat Emiko merasa sesak dan tidak berdaya.

“Ok! Kita ulang! One, two, three, and … action!” seru Roy.

“Lingkarkan tanganmu di leherku!” perintah Zayn pelan.

Emiko merutuki dirinya yang patuh begitu saja dengan perintah lelaki itu.

Kali ini Zayn berusaha melakukannya secara alami, seolah-olah gadis itu seseorang yang sangat diinginkannya. Pun dia kembali menyentuh lembut tubuh Emiko.

“Oohhh … mmm …!” desah Emiko. Tak lupa gadis itu juga memasang raut wajah yang mendukung aktingnya.

Dari jarak sedekat itu, Zayn dapat melihat betapa mulus wajah putih Emiko dan ekspresinya sungguh menggemaskan. Hingga tanpa sadar laki-laki itu menautkan bibirnya dengan bibir gadis yang sedang mendesah di bawahnya.

Kegugupan Emiko mencair, perlahan dia mengikuti ritme permainan Zayn yang membuatnya mabuk bukan main. Sungguh, Emiko merasa pria bertubuh kekar itu tidak baik untuk kondisi jantungnya.

Selimut gairah menutupi Emiko dan Zayn. Sementara di kamar tepat disamping mereka rupanya telah terjadi sesuatu. Seseorang terkapar tak bernyawa.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
15 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status