FAZER LOGIN“Makan siang sudah siap, Non,” ujar Bik Sumi memberi tahu.“Terima kasih, Bik,” ucap Emiko yang sedikit terkejut karena dia baru saja memikirkan Eleni.“Aromanya saja sudah membuatku lapar dan sekaligus bersemangat. Makan, yuk!” Eleni berkata seraya bangkit dari tempat duduk dan menarik lengan Oma Rosa.Ketika mereka bertiga melangkah menuju ke ruang makan, terdengar suara seseorang yang sedang menekan kata sandi di pintu utamaOma Rosa praktis menghentikan langkah dan melihat ke arah Emiko dengan raut wajah bertanya-tanya. Namun, itu hanya berlangsung sebentar karena Zayn sudah melangkah masuk.“Halo, Oma!” sapa Zayn.“Hei! Apa kamu sudah selesai bekerja?” tanya Oma Rosa.“Aku hanya bertemu seorang klien untuk menandatangani kontrak kerja dan mengajaknya minum kopi,” jawab Zayn menghampiri Emiko dan mencium bibirnya sekilas tanpa canggung.Oma Rosa yang sudah terbiasa dengan sikap mesra cucunya itu diam-diam merasa bersyukur. Beliau memang berharap, Zayn dapat memberikan kebahagiaan
“Aku bersyukur, Oma Rosa dapat menerimaku apa adanya,” ujar Emiko.“Kamu hanya beruntung. Firasat beliau kebetulan bagus saat melihatmu,” sahut Zayn bercanda.“Ck! Firasat berkaitan dengan aura seseorang. Aku tidak mungkin mengganti auraku dalam sekejap demi membuat Oma Rosa memiliki firasat yang baik tentang aku,” ujar Emiko membela diri.Zayn tertawa kecil seraya mengangkat tangan kirinya untuk merangkul Emiko.“Aku hanya ingin menggodamu. Duniaku terasa sangat sepi ketika kamu hanya diam dan bersedih,” sahut Zayn.“Maaf. Aku benar-benar tidak menyangka akan kehilangan Papa dan Mama secepat ini. Bagaimanapun, aku yang belum punya banyak pengalaman masih membutuhkan nasihat Mama. Akan tetapi, kalau dipikir-pikir, Mama sekarang sudah bahagia karena bisa bertemu Papa dan tidak akan kesepian lagi di sana,” ujar Emiko kembali menitikkan air mata.“Tuhan tidak akan mencobai lebih dari kekuatan umatNya. Bila Papa dan Mama dipanggil, maka artinya kamu sanggup menjalani hidupmu. Mungkin Tuha
Acara pemakaman Kirani berlangsung dengan sangat baik. Cuaca mendung tanpa hujan disertai angin sepoi-sepoi, seakan ingin memberi tahu Emiko bahwa semesta turut merasa kehilangan sosok wanita hebat yang semasa hidupnya telah melakukan perannya dengan baik.Satu per satu teman, rekan kerja, dan klien yang meluangkan waktu untuk datang memberikan ucapan belasungkawa pada Zayn dan Emiko. Pun mereka langsung pamit untuk melanjutkan aktivitas.Kini hanya ada Zayn yang masih setia memeluk Emiko, ditemani oleh Oma Rosa, Cakra, Calia, Eleni, Juli, Nathan, Davina, dan Bik Sumi.Sebenarnya masih ada Pak Adi, seseorang yang selalu diandalkan oleh Kirani untuk antar jemput saat hendak bepergian. Namun, pria paruh baya itu masih mondar mandir untuk memasukkan makanan ringan dan minuman ke dalam mobil.Baru semalam Juli, Nathan, dan Davina datang untuk memberikan dukungan pada Emiko. Pun mereka tidak bisa berlama-lama karena rumah di Bali sedang ada perbaikan dan harus ada yang mengawasi. Selain it
“Mama! Aku harus bagaimana sekarang?” ujar Emiko terisak sambil memeluk erat Kirani yang berbaring tenang tanpa detak jantung.Suasana terasa hening. Para perawat melepas semua peralatan di tubuh wanita paruh baya itu dengan perlahan dan sebisa mungkin tanpa suara. Pun Oma Rosa dan Bik Sumi hanya berdiri di belakang Zayn yang setia mengusap-usap pelan punggung istrinya.Hanya Emiko yang masih terus menangis sembari mengungkapkan isi hatinya.Tidak tahu sudah berapa lama situasi menyedihkan itu berlangsung. Hingga seorang perawat datang menghampiri dengan hati-hati untuk memberi tahu bahwa pasien harus dibersihkan dan dipindahkan ke ruangan khusus.“Baik, Suster,” sahut Zayn.Oma Rosa beralih ke samping Emiko. Beliau lantas berkata, “Kirani, selama Tuhan masih memberiku napas kehidupan, aku berjanji akan mendampingi cucu menantuku yang cantik ini dengan baik. Pergilah dengan damai dan jagalah putrimu ini dari atas sana!”Bukannya menjadi lebih tenang, Emiko kembali menangis sesenggukan
Emiko yang masih merasa seperti sedang bermimpi hanya termenung ketika sambungan telepon telah terputus.“Bestie! Woy! My bestie! Hello!” Anna melambai-lambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah Emiko.“An, baru saja aku menerima telepon dari Bik Sumi yang mengatakan kalau Mama masuk rumah sakit. Apa aku sedang bermimpi?” tanya Emiko lemas.“Iya, aku mendengarmu mengulangi perkataan Bik Sumi. Lalu, mengapa kamu masih duduk di situ? Bergegaslah menyusul!” seru Anna membantu Emiko memasukkan ponsel dan dompet yang masih berada di atas meja ke dalam tas. Dia lantas mendorong sahabatnya agar lekas bangkit dari tempat duduk.“Tapi ….”“Lupakan pekerjaan! Itu urusanku! Pergilah! Eh … tidak tidak … sebaiknya Wanda yang mengantarmu!”“Kamu sendirian ….”“Tutup saja pintu utama kantor! Aku hanya akan menerima satu klien saja hari ini dan menyusulmu nanti ….”“Tidak tidak ….”“Berhentilah memikirkan pekerjaan! Pergilah! Tante Kirani lebih membutuhkanmu.”Merasa bingung dengan kabar buruk
Semakin malam, suara kembang api terdengar sangat ramai dari berbagai arah. Langit yang gelap juga tampak bercahaya sangat indah.Kini Oma Rosa, Cakra, Calia, Kirani, Zayn, Emiko, dan Eleni bersama beberapa asisten rumah tangga sedang berkumpul di halaman belakang rumah untuk bermain kembang api.Ralat! Hanya Zayn, Emiko, dan Eleni saja yang heboh ingin bermain kembang api. Mereka bahkan sudah menyiapkan begitu banyak macam kembang api.“Apa Tante Kirani mau ikut main kembang api?” tanya Eleni membuyarkan lamunan wanita paruh baya itu.“Ah, tidak tidak … kalian saja yang bermain,” jawab Kirani dengan senyum mengembang.“Mama! Tolong ambil gambarku!” Emiko memberikan ponsel pada Kirani, membuat wanita paruh baya itu terpaksa berdiri untuk mengambil posisi. Sedangkan putrinya sudah tersenyum lebar dengan kedua tangan memegang kembang api dan berdiri di samping Zayn.Tidak hanya satu kali, tetapi ada beberapa gaya yang dilakukan oleh Zayn dan Emiko.“Kami sudah cukup! Sekarang giliran ak







