Mag-log in"What the fuck—” I started. He looked up at me. His lips were wet, swollen. He licked them slowly, like he was savoring the taste. “Keep your hands where I left them,” he said. My jaw clenched. My knuckles went white against the bedsheets. I didn’t speak. I just watched him. He lowered his mouth again, slower this time. His tongue circled the tip, then slid down the side. I felt every second of it. Every inch. He paused halfway down and looked up at me again. “You like this too much.” My throat tightened. I didn’t answer. “Bet you’ve never let anyone make you beg.” *** Callum Kesington isn’t just a billionaire CEO. He doesn’t believe in love. He believes in control and power.But when his estranged brother resurfaces through a cryptic call, dragging him into a trail of files, threats, and old betrayals, everything he's built starts to crack. Remy Beckett, a rising star in the culinary world, is no strang to love but one man has him unraveled. A single dinner at Remy’s restaurant ignites an attraction that shakes Callum’s carefully guarded world. He’s never wanted a man before. Never craved the scrape of stubble against his skin or the heat of rough hands pinning him down. But Remy? He’s all Callum can think about. A shadowy attack leaves Remy bleeding in Callum’s arms, and suddenly, this isn’t about desire. It's about survival. Someone wants Remy dead, and Callum’s brother is at the center of it. Now, Callum must confront the ruthless empire he built, the family who betrayed him, and the truth he’s been denying.
view moreNarendra menggedor daun pintu apartemennya, setelah sebelumnya ia melihat lampu menyala. Terlebih, ia tak bisa membuka pintu tersebut menggunakan password yang biasa dipakai. Oleh karena itu, dirinya yakin bahwa ada orang di dalam.
"Woy, buka! Siapa yang berani masuk rumah orang tanpa izin?" teriaknya sembari terus menggedor pintu
Selang beberapa detik, pintu terbuka dan menampakkan sosok perempuan yang sangat dikena Narendra.
"Kak Anin?"
"Kamu nggak bisa ketuk pelan-pelan?" tanya Anindya santai.
"Apa katamu? Ketuk pintu pelan-pelan setelah kakak masuk ke dalam tanpa izinku dan mengubah paswordnya?"
Anindya terkekeh. "Izinmu?memangnya kamu pemilik apartemen ini? Justru pemilik apartemen ini yang menyuruhku dan suami tinggal di sini, serta mengubah password akses masuk."
Narendra mengusap kasar rambutnya. "Ah! Papa benar-benar melaksanakan ancamannya. Sial!"
"Urusanmu sama kakak sudah selesai, kan? Jadi, silakan selesaikan urusanmu dengan Papa. Kakak mau melanjutkan pertempuran yang tertunda karenamu."
Narendra yang sedang kalut mendadak polos mendengar kata-kata itu. Setelah suami Anindya muncul, barulah ia paham.
"Sudah, kan, Ren? Kami mau lanjut lagi," ujar pria bernama Riko itu.
Narendra membalikkan badan dan berlalu tanpa suara. Ia turun ke pelataran parkir menggunakan lift. Namun, ia tak menemukan mobilnya di area parkir yang sedang lengang itu. Dering gawai Narendra seakan-akan menjawab kegundahannya.
"Pulang ke rumah saja dan pakai taksi. Mulai detik ini, belajar hidup apa adanya tanpa fasilitas mewah lagi jika kamu memang sudah tak butuh Papa lagi," ucap seorang pria dari seberang gawai.
Narendra mengusap kasar wajahnya. "Oke, baiklah! Sekarang juga aku akan menikahi wanita itu."
Gelak tawa pria bernama Sadewo Handoko itu membahana di membran tipani Narendra. "Anak malas dan manja sepertimu memang akan melakukan apa saja demi harta."
"Besok, kita bicara di rumah. Aku juga punya satu permintaan mengenai pernikahan itu," jawabnya seraya melangkah menuju gerbang.
"Baiklah, besok Papa tunggu."
Usai mengakhiri panggilan suara, Narendra masih berkutat pada gawai. Dirinya menghubungi seorang wanita. "Tolong jemput aku di apartemen! Aku tak mau ada penolakan!" tegasnya yang sudah sampai ambang gerbang.
'Ah, semua ini gara-gara wanita sialan itu! Dia yang hamil, aku yang repot. Aku saja selalu mengingatkan setiap wanita yang tidur denganku untuk minum kontrasepsi pil terlebih dulu supaya tak hamil. Sekarang malah harus menikahi wanita hamil. Awas saja dia! Akan kubuat dia mengugat cerai secepatnya'. Narendra bersenandika.
Lima menit menunggu, pajero sport violet berhenti di depannya. Gegas dirinya melangkah menuju mobil dan mengambil posisi di samping pengemudi, sebelum yang punya mobil turun dan menyuruhnya menyetir.
"Pikiranku sedang kacau dan akan membahayakan jika menyetir." Narendra bersuara terlebih dahulu sebelum gadis di sampingnya bertanya.
"Jangan bilang kalau kamu tak diizinkan papamu tinggal di apartemen itu dan mobilmu juga diambil beliau?"
Narendra, hanya menjawab dengan menampakkan ekspresi senderut di wajah tampannya, sedangkan gadis bernama Felicia itu paham dengan air muka yang ditunjukkan sang kekasih.
Setelah itu, tercipta keheningan di antara mereka sampai dua puluh menit kemudian, mobil tiba di pelataran parkir apartemen Felicia. Gegas sepasang kekasih itu melangkah ke lantai lima, menggunakan lift. Begitu tiba di rumah apartemen sederhana itu, Narendra lekas merebahkan raga di sofa bed marun yang ada di depan televisi, sementara Felicia melangkah menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa minuman beralkohol, setelah sebelumnya melepas higheels terlebih dulu. Beberapa detik kemudian, gadis bermata sipit itu menemui Narendra dengan membawa nampan berisi dua botol minuman berakohol dan dua gelas berkaki tinggi.
"Mungkin, kamu butuh ini, Sayang?"
Narendra mendongakkan wajahnya menatap sang kekasih yang sedang membungkuk meletakkan nampan di meja. Lelaki itu segera merengkuh tubuh ramping, tetapi sintal itu ke pelukannya. "Aku butuh kamu, Sayang," bisiknya lirih.
"Ayolah, kita minum dulu agar lebih seru," ajak gadis yang sengaja dua kancing bagian atas kemeja cokelat susunya.
"Baiklah, bidadariku!"
Setelah habis tiga gelas alkohol, bhama semakin menguasai Narendra, pun Felicia.
Narendra kerap menjadikan Felicia tempat pelampiasan syahwatnya kala pikirannya sedang kalut. Sang kekasih pun bersedia sebab lelaki itu sangat royal padanyaKedua insan itu melanjutkan permainan di kamar. Satu jam setengah mereka bercumbana, membuat keduanya kelelahan dan tertidur sampai pagi.
Narendra mengerjapkan netra kala cahaya baskara yang menembus jendela mengetuk kelopak matanya. Ternyata, Felicia sudah bangun dan membuka gordyn.
"Apa rencanamu hari ini, Sayang? Bagaimana caramu membujuk Papa agar mengembalikan semua fasilitas? "
Narendra mengubah posisi tidurnya menjadi duduk bersila di katil dengan selimut menutupi area perut sampai kaki. "Hanya ada satu cara, yaitu menuruti keinginannya." lelaki itu meraih celana panjangnya di lantai, kemudian berdiri, lalu mengenakannya.
Tampak raut wajah Felicia senderut. Narendra menghampiri gadis yang sedang duduk di depan meja rias itu. Ia memeluk lembut gadis berkaus ketat warna salem itu dari balik punggungnya.
"Jangan cemberut gitu, Sayang," ucapnya seraya memberi kecupan lembut pada pipi mulus Felicia. "Aku, sih, maunya kita tetap berhubungan meskipun aku sudah menikah. Lagi pula, aku menikahi dia, hanya untuk memperjelas status anaknya saja. Nggak apalah, aku sumbangkan namaku sebagai bapak dari bayi itu di akta lahirnya supaya gampang segala urusan administrasinya ketika dewasa nanti."
"Jadi, maksudmu, pernikahan kalian, hanya sekadar status saja, kan? Tak ada cinta di dalamnya?"
Narendra menuntun tubuh ramping Felicia agar memutar menghadapnya. "Mana bisa aku mencintainya, sedangkan melihatnya saja belum pernah. Kalaupun nanti sudah melihat, tak mungkin semudah itu aku jatuh cinta, Sayang."
"Benar, ya! Awas, kalau sampai kamu jatuh cinta padanya!"
"Tentu tidak, Sayang." Narendra mengecup bibir ranum di hadapannya. "Kalau begitu, aku pulang, ya, Beib."
Felicia mengangguk sembari mengulas senyum.
***
"Jadi, apa permintaanmu?" tanya Papa setelah mendengar langsung Narendra setuju dengan permintaannya."Aku tak mau ada yang tahu tentang pernikahanku. Aku sedang kuliah, Pa. Apa kata orang kalau tahu aku yang masih mahasiswa sudah menikah?Orang pasti berpikir kami hidup dari harta Papa karena tak banyak yang tahu kalau aku sudah bekerja di perusahaan Papa."
"Jelas orang tak tahu kalau kamu bekerja. Kamu itu status saja CEO, tapi tak pernah ke kantor, apalagi mengurus pekerjaan," sahut Papa kesal. "Ya sudah, Papa juga tak mau banyak orang yang tahu karena mereka akan berpikir kamu yang meghamili Anyelir dan itu tentu saja akan mencoreng muka Papa. Jadi, peenikahan kamu ini memang dirahasiakan."
"Lagi pula, kenapa harus ditolong, sih, Pa? Biarkan saja dia menanggung susahnya sendiri."
"Nanti kamu akan tahu. Yang jelas, Papa punya hutang budi pada keluarga Anyelir." Papa mengatur napas sesaat. "Lagi pula, Papa, kan, sudah katakan sebelumnya bahwa pernikahan kalian, hanya sampai bayi Anyelir berusia satu tahun. Setelah itu, kamu bisa bebas lagi."
"Baiklah, kalau begitu. Kapan pernikahan dilaksanakan?" tanya Narendra.
"Minggu depan. Nanti malam, kita ke tempat Anyelir. Kamu belum pernah bertemu dengannya, kan?"
"Baiklah!"
Sesungguhnya, beberapa pertanyaan menyeruak di relung. Apa yang dilakukan ayah Anyelir sehingga Papa merasa sampai berhutang budi padanya. Kenapa Papa memberi waktu sampai bayi Anyelir berusia satu tahun? Kenapa tak sebulan setelah bayinya lahir saja?
Akan tetapi, semua pertanyaan itu, hanya bercokol di koroh. Ia tak ingin berdebat karena tak mau menjadi miskin, hanya karena menolak keinginan Papa.
Remy's POVThe thought of reopening my diner actually made my chest feel lighter.I’d been cooped up in Callum’s house for too long—hovering between healing and losing my damn mind. Every day blurred into the next. I was tired of pretending the silence didn’t eat at me.Getting back into the kitchen? Back behind the counter with the familiar clatter of plates, the hiss of the grill, the smell of strong coffee? That was something that felt like mine. And after everything that had happened, I needed something to feel like mine again.A rhythmic thudding led me down the hallway.I paused at the doorway of the home gym and watched Callum. He was shirtless, sweat slicking his chest, fists hammering the heavy bag. His movements were sharp, purposeful—coiled power beneath controlled fury.I leaned against the doorway, arms crossed. “You trying to knock a hole through the bag or work out some trauma?”He threw one last punch before catching the bag and breathing through his nose. “Little of
Remy's POV I stood in Callum’s oversized, way-too-pristine kitchen wearing nothing but boxers and his shirt from last night. My hair was still damp from the shower. My stitches pulled slightly if I moved too fast, so I moved slow.I was craving pancakes. Callum didn’t seem like the type to own a pancake mix, but I found some hidden like contraband at the back of a cabinet. Fancy imported shit, too. Of course.I was halfway through whisking the batter when I heard his footsteps.“You’re up early.” His voice came low, still rough from sleep.“I couldn’t sleep well,” I said without turning to him. “Figured I’d cook. Might as well earn my keep.”His footsteps moved closer. I didn’t have to look to know he was standing behind me now, watching the slow whisk of batter, the easy stretch of my arms. His hand landed on my waist, fingers spreading with that same steady possessiveness he always carried, like touching me grounded something loose inside him.“You shouldn’t be on your feet too lon
Callum's POV I took a long drag of the cigarette while watching the ripples in the pool from my balcony. I had been out here too long that the night had grown thick and heavy.My thoughts swirled in different directions. Honestly, I didn't understand why Remy lashed out. It felt like we were together. Official or not. I wasn’t fucking anyone else. I didn’t want anyone else. I gave him everything I had. Didn’t I?But fuck me. I've never had anything close to that in my entire life. The sex? God. Insane wasn’t even the word. Terrific? Fantastic? I wasn’t sure what word fit. None of them sounded big enough for it. I wasn’t even sure if English had a term that could measure the way I felt after having him beneath me.The way he fucking begged. How he looked ruined and smug all at once. I still hadn’t gotten the image out of my head. Probably never would.I flicked ash over the balcony rail, watching it scatter down into nothing.But Ethan’s face wouldn’t leave my head either. That smug,
Remy's POVWe had laid down on the bed but I wasn't even fully asleep. Just resting.My body was still tingling, my thighs sore in that perfect way. Callum’s arm was around me again, heavy and warm, and I was somewhere between bliss and disbelief. His breathing was even. He’d drifted off fast after everything. His hand had never left my waist.My legs were still sticky, my hole felt ruined. I was proud of that.I should’ve gotten up. Cleaned up. Or just did something to not look like I just got absolutely railed by a man who claimed he’d never done it before. But he’d outdone himself. And it felt too good to move.A knock came fast, sharp. The door creaked open before we could respond."Sir, I brought up some fruit—"The chef’s voice froze. So did I.The tray in her hands wobbled. A pause.I realized, far too late, the blanket had slipped down to my hip, baring more than enough to leave nothing to the imagination. My legs were open. Wrecked. My inner thighs probably looked wrecked. H






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu