LOGINI am a firefighter. A beam crashes onto me in the middle of a burning building. At the same time, my oxygen is about to run out. I writhe and struggle as much as I can to reach for my backup oxygen canister, only to feel my fingers brushing over a bottle of water instead. When I turn around, I see my wife, Leah Sawyer, giving the last backup oxygen canister to her new mentee, Roderick Wyndham. I begin calling out to her via a walkie-talkie. "Leah, I'm being pinned down right now, and my oxygen's running out! Where is the oxygen canister?" As Leah shields Roderick behind her, she replies impatiently, "I've already given it to Roderick. It's his first time inside a burning building, so he's frightened. Having an extra canister on him gives him a sense of security. "You're already a veteran firefighter, so you can just think up a way to resolve your situation. Don't go around wasting precious resources." I can feel thick smoke infiltrating my lungs at that moment. Feelings of asphyxiation soon overwhelm me. "My leg is broken, so I can't move at all! Without oxygen, I won't be able to hold out till I get rescued!" But Leah merely chortles in response. "Stop playing the pity card! Every time we're out on a mission, you're always the cowardly one who's terrified of dying! You have zero sense of dedication at all! I shouldn't have let you join the firefighting squad, to begin with! "What's the use of you clinging to the equipment? Giving it to the newbies is the best way of maximizing its value!" I can only smile bitterly in response. Using what's left of my strength, I switch to a public channel and begin reporting to the command center. "For the record, Captain Leah Sawyer deliberately tampered with the essential rescue equipment in order to protect Roderick Wyndham, causing me, a fellow firefighter, to be trapped in a deadly situation. "I hereby request the immediate activation of the Firefighter Emergency Evacuation Act. Also, I formally charge Leah with gross negligence and attempted homicide."
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNG"Now, everyone, run ten laps around the field to warm up!"The recruits paused for a second, then erupted into thunderous applause.Watching Queenie with her face shining under the sunlight, my heart that had long been frozen began to thaw little by little.With her here, everything didn't seem as difficult anymore.…Queenie's arrival breathed new life into the dull academy.She was both professional and witty, and the recruits quickly bonded with her.Here, she explained emergency first-aid and battlefield psychology in the simplest, most understandable way.While I was teaching, she would stand by quietly, handing me water when my throat went dry, or steadying me when I wobbled due to the pain in my leg.With her help, my teaching went smoother.We worked more in sync with each passing day. Sometimes a single look was enough for us to understand each other.Our other coworkers at the academy joked that we were like a perfect couple. I just smiled, neither denying nor conf
Queenie was right. Why was I so focused on being negative about things?In another way, I could still make a difference in the career I loved.I looked at her and nodded seriously."Feeling better?" She grinned, her smile like the warm sunshine."Good. Let's go for a walk. The weather's nice today. I'll push you outside."That afternoon, she wheeled me around the hospital gardens for a long time. We talked about a lot of things.I learned that her grandfather had been a firefighter too, and he had died during a rescue mission.That was why she became a doctor and had such a deep concern for everything related to firefighting."I joined the rescue team because of you," she suddenly said.I was taken aback."I saw your story about how you were betrayed by your wife and nearly died in the fire. I wanted to see for myself what kind of man you are."She made a face. "Now, it seems you're not all that great. You're just a fool."Her words made me laugh, and it was the first tim
At the end of the letter, Leah begged for my forgiveness, asking me to visit her once.I finished reading it with a vacant expression, then tore it into shreds in front of Queenie.Forgive her?She nearly got me killed under her so-called "value maximization", and now she wanted me to forgive her?What a joke.Queenie watched me tear up the letter, saying nothing. She silently collected the scraps and tossed them in the trash.She muttered, "Good call. Some people aren't worth forgiving."I looked at her, a warm feeling rising in my chest.She always seemed to understand what I was thinking."Don't look at me like that. I just feel sorry for you," she said, slightly flustered, her ears reddening. I smiled and wrote on the board. "You don't have to anymore."Because I had her now.I didn't write that, but it was tucked away in my heart.…The trial for Leah and Roderick began soon after.With the irrefutable evidence and the severe public backlash, the court delivered it
Leah and Roderick's faces kept flashing before me, their mocking and indifferent expressions stabbing deep into my heart.It was Queenie's voice that pulled me out of the nightmare."Wake up, Cedric. It's time for your dressing change."I opened my eyes and met her clear gaze.Sunlight filtered through the window, casting a soft glow around her.She was carefully unwrapping the bandages on my leg, tending to the gruesome wounds.Her movements were professional and gentle, but the pain still made me grunt in discomfort."It's normal to feel pain, as it means your nerves are still working," she said without looking up.I reached for the writing board. "Thank you."I had written these two words more times than I could count.During my time in the hospital, she had handled nearly all of my treatment.Not only that, but she would also chat with me about trivial things, distracting me from my pain and easing my anxiety.She was like a ray of light, shining through my world, which












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.