Beranda / Romansa / PAWANG HATI SANG TUAN MUDA / BAB. 6 Keinginan Terselubung Rayner

Share

BAB. 6 Keinginan Terselubung Rayner

last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-30 22:28:33

Jet pribadi milik Tuan Zay Brett akhirnya perlahan menuruni langit Dubai, mendarat dengan mulus di salah satu landasan di bandara internasional yang megah. Cahaya lampu yang gemerlap di Kota Dubai terlihat berkilauan dari jendela pesawat, menandakan kedatangan mereka di pusat salah satu kota termaju di dunia. Di dalam kabin yang mewah, Rayner yang duduk di samping istrinya, Deborah, yang tampak tak sabar.

“Yeah, akhirnya kita sudah sampai di Dubai!” seru Rayner dengan antusias.

Raynard, saudara kembarnya, yang duduk tak jauh darinya hanya bisa tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Rayner yang tak pernah berubah sejak kecil.

“Kita cuma transit, Rayner,” ucap Raynard, mencoba mengingatkan adiknya.

“What? Hanya sekedar untuk transit? Tentu saja itu tidak boleh terjadi!” seru Rayner sambil tersenyum penuh misteri.

Rayner pun pura-pura tak mendengarkan apa sedang dikatakan oleh kakak kembarnya, Raynard. Karena dia sudah punya rencana sendiri di kepalanya.

“Mommy,” panggil Rayner manja kepada ibunya, Nyonya Olivia, yang duduk di seberangnya.

“Iya, Rey. Ada apa?” tanya Mommy Olivia lembut kepada putra bungsunya.

“Begini, Mom. Ada yang ingin aku sampaikan tentang sesuatu, nih.” seru Rayner lagi semakin bersikap manja kepada ibunya, layaknya anak kecil yang sedang menginginkan mainan baru kepada orang tuanya.

“Iya, Rey. Katakan saja, kamu mau apa dari Mommy?” ucap Nyonya Olivia, semakin penasaran.

Rayner pun semakin bersemangat karena respon baik dari ibunya. Pria tampan itu pun segera berkata,

“Begini, Mom. Bagaimana kalau kita tinggal di Dubai beberapa hari ke depan? Aku mau ajak Deborah jalan-jalan, kita berdua juga bisa sambil honeymoon di sini.”

Nyonya Olivia menoleh ke arah putra bungsunya, sambil tertawa pelan melihat wajah memelas dayi Rayner.

“He-he-he. Ide yang sangat bagus, Rey. Tapi sepertinya Daddy-mu pasti sudah memiliki jadwal meeting yang sangat padat di Jakarta sana. Jadi kita ita cuma berhenti sebentar di sini untuk mengisi bahan bakar saja.”

“Yah …. Mommy!” serunya kecewa.

Namun Rayner tak menyerah. Dia pun segera mencondongkan tubuhnya sedikit mendekati ibunya. Lalu berkata lagi,

“Mommy, please .... Coba rayu Daddy, ya? Kita tiga hari saja di sini. Aku janji, nggak akan lama. Setiap orang juga bisa istirahat sebentar dari perjalanan panjang ini.”

Deborah yang duduk di samping Rayner hanya tersipu malu mendengar rengekan suaminya. Dia sebenarnya tak keberatan dengan ide Rayner, tapi caranya membujuk orang tuanya selalu penuh drama. Sang istri hanya bisa menunduk, berharap tak menjadi pusat perhatian.

Raynard, yang mengamati dari kejauhan, kembali menggeleng-gelengkan kepala. “Rayner? Apakah ini beneran adalah Rayner? Baru kali ini aku lihat kamu begitu gigih buat merengek,” sindir Raynard kepada adik kembarnya.

Rayner pun menatap Raynard dengan senyum lebar.

“Ya jelas, dong! Aku adalah Rayner Brett! Sekarang Aku dan Deborah sedang dalam misi penting!”

Nyonya Olivia mengernyit, penasaran.

“Misi penting apa?”

Rayner menoleh pada kedua orang tuanya dengan ekspresi serius, lalu berbicara dengan nada yang sedikit lebih rendah, seolah-olah ingin membuat pernyataan penting.

“Mommy, Daddy, asal kalian tahu, Aku dan Deborah sedang bekerja keras untuk mewujudkan keinginan Mommy dan Daddy.”

Deborah merasa wajahnya mulai memanas. Dia memang tahu apa yang akan diucapkan oleh Rayner, dan dirinya semakin malu.

“Apa maksudmu, Rayner?” tanya Tuan Zay Brett, yang duduk di dekat Nyonya Olivia, yang akhirnya tertarik pada percakapan putra bungsunya.

Rayner menarik napas dalam-dalam, sebelum menjawab pertanyaan ayahnya dengan nada penuh kemenangan.

“Aku dan istriku sedang berusaha memberikan Mommy dan Daddy, cucu!”

Deborah langsung tertunduk, wajahnya semakin memerah. Dia tidak tahu harus berkata apa. Berbicara tentang rencana keluarga di depan orang tuanya saja sudah membuatnya gugup, apalagi di depan Raynard, sahabatnya, yang kini juga menjadi saudara iparnya. Dia bisa merasakan tatapan mata semua orang di ruangan itu tertuju padanya.

Raynard tertawa pelan, tidak bisa menahan dirinya.

“He-he-he! Kamu memang selalu dramatis, Rayner,” tukasnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Nyonya Olivia tampak terkejut sesaat, lalu tertawa lembut.

“Rayner, kamu memang selalu tahu bagaimana membuat Mommy tersenyum.”

Rayner semakin bersemangat. “Jadi bagaimana, Mommy? Cuma tiga hari saja kok, kita berada di sini. Kita bisa istirahat, jalan-jalan, menikmati pemandangan Kota Dubai. Dan siapa tahu ... cucu yang diidam-idamkan tersebut bisa datang lebih cepat kalau kita ada di sini!” ujarnya sambil melirik ke arah Deborah yang semakin menunduk malu.

Melihat kegigihan Rayner, Nyonya Olivia mulai luluh. Dia pun menoleh pada suaminya. “Darling, bagaimana menurutmu? Mungkin kita bisa beristirahat sebentar. Sudah lama juga kita tidak liburan keluarga.”

Tuan Zay Brett terdiam sejenak, merenungkan permintaan itu. Dia tahu betapa Rayner selalu ingin punya waktu bersama keluarganya, dan meski jadwalnya padat, sepertinya sang ayah tak bisa menolak permintaan sederhana seperti ini.

“Hmm, baiklah,” jawab Tuan Zay akhirnya.

“Daddy akan menghubungi Aspri yang ada di Jakarta agar menunda beberapa pertemuan dengan klien. Tapi ingat, hanya tiga hari, tidak boleh lebih.”

Rayner langsung melonjak senang.

“Yes! Terima kasih, Mommy! Daddy, memang yang terbaik!” serunya dengan penuh semangat, sebelum memeluk ibunya erat-erat.

Deborah hanya bisa tersenyum malu, sementara Raynard menghela napas panjang, jelas-jelas terhibur oleh tingkah laku adik kembarnya.

“Rayner, kamu benar-benar tahu cara mendapatkan apa yang kamu inginkan,” seru Raynard sambil menepuk bahu adiknya.

“Yah, kalau untuk hal yang penting seperti ini, aku pasti akan berusaha!” balas Rayner dengan senyum penuh kemenangan.

“Sekarang, Deborah dan aku bisa menikmati bulan madu yang sempurna di Dubai, dan kita semua juga bisa menikmati waktu bersama-sama.”

Deborah tersipu lagi mendengar kata “bulan madu” yang terus diulang-ulang Rayner. Dia sebenarnya senang bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama suaminya, tapi dirinya juga tak bisa mengabaikan rasa malunya setiap kali Rayner berbicara tentang hal-hal pribadi di depan keluarganya.

“Deborah, Sayangku. Kamu nggak apa-apa kan kalau kita tinggal di sini sebentar?” tanya Rayner dengan lembut, mencoba memastikan istrinya setuju.

Deborah mengangguk pelan, masih merasa canggung.

“I .. itu terserah kamu, Rayner. Aku ikut saja.”

Rayner tersenyum puas.

“Yes Baby! Ini akan jadi liburan keluarga yang sangat luar biasa!”

Tuan Zay Brett pun terlihat dengan segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon asistennya yang ada di Jakarta. “Halo, bisa tolong reschedule meeting dengan klien dalam tiga hari ini, Ya! Kami akan berada di Dubai sedikit lebih lama. Terima kasih.”

Setelah menutup telepon, Tuan Zay menatap anggota keluarganya. Lalu berkata,

“Baiklah, semuanya. Kita akan berada di sini selama tiga hari. Kalian bisa menikmati waktu santai kalian. Tapi setelah itu, kita harus kembali ke rutinitas yang telah menunggu di Jakarta.”

“Setuju!” jawab Rayner dengan senang.

“Kita bisa mulai dengan menjelajahi pusat kota besok pagi!”

Raynard, meskipun tak pernah sepenuhnya setuju dengan Rayner, ikut tersenyum melihat semangat adiknya.

“Ya, mungkin ini saat yang tepat untuk sedikit bersantai.”

Deborah, meski masih merasa malu, mulai terbawa suasana kegembiraan.

“Aku rasa ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan,” ucapnya pelan.

Rayner punmerangkul istrinya dengan lembut.

“Benar, Sayangku. Ini pasti akan menjadi momen yang indah untuk kita berdua, Deborah.”

Dengan keputusan itu, suasana dalam pesawat menjadi lebih ringan. Keluarga Brett akhirnya siap menikmati waktu mereka di Dubai. Meski awalnya hanya transit, Rayner berhasil mengubahnya menjadi kesempatan istimewa untuk bersantai bersama keluarga dan menikmati momen-momen berharga bersama Deborah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PAWANG HATI SANG TUAN MUDA   BAB. 106 Akhir Bahagia

    Tiga tahun kemudian.Langit sore di kawasan Pantai Indah Kapuk membentang dalam nuansa biru-keemasan, ditemani semilir angin laut yang menyegarkan. Di sebuah restoran mewah tepi pantai bernama Azure Coast, keluarga besar Rayner dan Deborah telah berkumpul untuk merayakan ulang tahun ketiga si kembar kesayangan mereka, Raley dan Riley.Area restoran bagian luar telah dihias indah dengan tema laut. Ada balon-balon biru, dekorasi kerang dan bintang laut, serta backdrop besar bertuliskan,Happy 3rd Birthday Raley and Riley,With Love from Mommy and Daddy.Di tengah taman, dua kursi kecil berwarna biru dan hijau disiapkan khusus untuk si kembar, lengkap dengan mahkota ulang tahun. Musik ceria anak-anak mengalun lembut, menciptakan suasana riang namun tetap elegan.“Raley, Riley, ayo duduk dulu Sayang,” ajak Deborah, yang mengenakan gaun putih bermotif ombak. Wajahnya berseri-seri.“Kuenya mau dipotong sebentar lagi,” tambah Rayner, mengangkat Riley dan mendudukkannya di kursi kecil.Tak la

  • PAWANG HATI SANG TUAN MUDA   BAB. 105 Persiapan Kelahiran

    Deborah hanya mengangguk pelan, sementara anestesi spinal mulai diberikan. Perlahan, rasa baal menjalar dari pinggang ke bawah.Rayner duduk di samping kepala Deborah, menggenggam tangan suaminya kuat-kuat. Dia berbisik, “Aku di sini, Sayang. Tarik napas, sebentar lagi kita akan dengar suara tangisan mereka.”Beberapa menit berlalu. Suasana ruang operasi begitu tenang namun tegang. Lalu,tangisan nyaring pertama mulai terdengar.Deborah langsung berkaca-kaca. “Itu Raley atau Riley?”“Anak pertama, laki-laki, sehat,” ujar perawat sambil mengangkat bayi mungil berlumuran air ketuban dan darah ke hadapan orang tuanya.Rayner nyaris tak berkedip. Air matanya menggenang. “Ya Tuhan, Baby Raley sungguh sempurna.”Tak lama kemudian,tangisan kedua menyusul, sama nyaring dan kuat.“Anak kedua, laki-laki juga, sehat,” ujar dokter sambil tersenyum.Deborah tak bisa menahan air matanya. “Mereka, Raley dan Riley benar-benar di sini.”Rayner mencium dahi Deborah dengan lembut.“Raley dan Riley,

  • PAWANG HATI SANG TUAN MUDA   BAB. 104 Acara Tujuh Bulanan

    Ballroom lantai dua Hotel Marvelle di Jakarta Selatan tampak gemerlap malam itu. Ratusan lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat ke seluruh penjuru ruangan. Meja-meja bulat tertata rapi, dihiasi taplak putih elegan dan buket bunga melati serta mawar biru di tengahnya. Suasana elegan berpadu dengan tradisi nusantara terasa kuat di ruangan itu.Di sisi panggung, Rayner dan Deborah berdiri berdampingan dengan senyum bahagia. Deborah mengenakan kebaya berwarna biru muda dengan payet keemasan, yang menyesuaikan bentuk tubuhnya yang sedang hamil tujuh bulan. Perutnya yang membuncit dibalut dengan selendang batik khas Solo. Sementara Rayner tampil gagah dengan jas modern berwarna abu-abu tua, lengkap dengan ikat kepala batik senada.Para tamu, yang terdiri dari keluarga dan sahabat dekat, duduk rapi, menatap pasangan itu dengan penuh haru dan antusias.MC acara, seorang wanita muda berbusana modern kebaya, berdiri di tengah panggung. “Selamat malam, semuanya! Terima kasih sudah hadir

  • PAWANG HATI SANG TUAN MUDA   BAB. 103 Hasil USG Yang Mendebarkan

    Sudah empat bulan berlalu sejak Deborah dan Rayner kembali dari bulan madu mereka keliling Texas. Dalam bulan pertama setelah bulan madu, kebahagiaan seolah tidak ada habisnya. Dan kebahagiaan itu kian memuncak saat Deborah menyampaikan kabar mengejutkan kepada sang suami, dirinya positif hamil.Rayner yang saat itu baru pulang dari kantor langsung memeluk istrinya erat-erat begitu melihat hasil test pack di tangannya."Ini nyata, Deb? Kamu beneran hamil?" tanya Rayner dengan mata berbinar.Deborah mengangguk sambil menahan tangis haru. “Iya, Rey. Kita akan jadi orang tua.”Kini usia kandungan Deborah telah memasuki bulan keempat, dan sesuai jadwal, hari ini adalah saatnya melakukan pemeriksaan USG lanjutan. Namun, karena Rayner sedang terikat rapat penting di perusahaannya, dia mempercayakan Deborah untuk ditemani oleh kakak iparnya, Rebecca istri dari Raynard.Pagi itu, Rebecca sudah menunggu di depan rumah Rayner dan Deborah dengan mobilnya.“Deborah! Ayo, jangan lama-lama, kita h

  • PAWANG HATI SANG TUAN MUDA   BAB. 102 Perjalanan Tanpa Akhir

    Pagi itu, langit Texas tampak cerah tanpa awan. Rayner membuka jendela kamar hotel dan menghirup udara laut yang asin dan segar. Suara burung camar terdengar samar dari kejauhan, bersamaan dengan deburan ombak yang memanggil-manggil.Deborah muncul dari balik pintu kamar mandi, mengenakan summer dress berwarna putih dengan topi jerami.“Selamat pagi, Mr. Traveler,” sapanya ceria sambil merentangkan tangan. “Kamu siap untuk berkunjung ke surga tropis kita hari ini?”Rayner menoleh, tersenyum kagum melihat penampilan Deborah. “Kalau surga itu berwujud manusia, kayaknya udah berdiri di depanku deh.”Deborah tertawa pelan dan mencubit lengan suaminya.“He-he-he. Gombalnya udah mulai dari pagi, ya?”Sekitar satu jam kemudian, pasangan itu akhirnya tiba di South Padre Island. Hamparan pantai pasir putih menyambut mereka dengan ombak biru kehijauan yang berkilau diterpa matahari. Beberapa pengunjung terlihat berjemur, bermain jet ski, dan berselancar di kejauhan.Deborah berdiri mematung s

  • PAWANG HATI SANG TUAN MUDA   BAB. 101 Perjalanan Penuh Kemesraan

    Pagi di San Antonio berlalu dengan cepat. Sinar matahari hangat menerobos jendela kamar hotel Emma, menyinari wajah Deborah yang masih terlelap. Di sisi ranjang, Rayner duduk diam sambil menatap istrinya dengan senyum tipis.Deborah membuka matanya perlahan. Dia melihat Rayner yang mengenakan kaus putih dan duduk sambil menyeruput kopi."Pagi Sayang," ucapnya dengan suara serak.Rayner menoleh cepat. "Pagi, Cintaku. Tidur nyenyak?"Deborah mengangguk, lalu duduk dan menarik selimut menutupi bahunya. "Rasanya belum mau beranjak dari tempat ini."Rayner tertawa pelan. "He-he-he. Aku juga. Tapi … kita udah janji jalan-jalan ke Dallas, kan?"Deborah tersenyum. "Betul juga. Aku sungguh tak sabar."Beberapa jam kemudian, pasangan itu sudah berada di dalam mobil sewaan menuju Dallas. Jalan tol terbentang lurus, pemandangan berganti dari pepohonan ke gedung-gedung tinggi seiring mobil mendekati pusat kota."Rey, kita ke mana dulu?" tanya Deborah sambil membuka peta wisata di ponselnya.Rayne

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status