Início / Fantasi / PENGUASA ELEMEN MUTLAK / 6. Masuk Ke Akademi Sihir

Compartilhar

6. Masuk Ke Akademi Sihir

Autor: Yarniati
last update Data de publicação: 2026-06-25 17:09:48

Berita tentang pertarungan di alun-alun Kota Aras bukan hanya sekadar menjadi bahan pembicaraan warga desa, tetapi telah terbang jauh hingga ke telinga pihak berwenang di ibu kota. Di dunia di mana kekuatan elemen adalah segalanya, kemampuan seseorang yang mampu menekuk lawan yang lebih kuat dengan cara yang tidak terduga selalu menarik perhatian. Terutama ketika orang itu dulunya dikenal sebagai "sampah" yang tidak memiliki bakat apa pun.

Beberapa hari setelah kemenangannya. Sebuah kereta kencana mewah berwarna emas putih memasuki gerbang Kota Aras. Membawa serta utusan resmi dari Kerajaan. Tujuannya hanya satu yaitu menemui Kaelen Voss.

Di hadapan seluruh warga kota yang kembali berkumpul penasaran. Utusan itu menyerahkan sebuah gulungan bersegel emas ke tangan Kaelen. Isinya adalah surat rekomendasi langsung dari Dewan Penasihat Kerajaan yang menyatakan bahwa Kaelen diterima secara istimewa di Akademi Sihir Kerajaan. Tempat pendidikan paling bergengsi. Tempat berkumpul para pemuda berbakat dari seluruh penjuru benua. Tempat di mana masa depan para penguasa dan pelindung dunia ditempa.

Bagi siapa pun, ini adalah kehormatan terbesar yang bisa didapatkan. Banyak anak bangsawan menghabiskan bertahun-tahun belajar dan mengeluarkan harta berlimpah hanya untuk bisa mendaftar.

Namun Kaelen mendapatkannya secara cuma-cuma dan istimewa hanya berkat satu kali pertunjukan kekuatan.

Namun bagi Kaelen, surat ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.

"Akademi Sihir Kerajaan," batinnya sambil menggenggam gulungan itu erat. Dia teringat isi buku harian leluhurnya, Elzar Voss. Akademi ini didirikan ribuan tahun yang lalu. Tepat setelah kekalahan Sang Penguasa Elemen Terakhir oleh para keturunan pengkhianat itu sendiri. Di situlah ajaran-ajaran sesat dan sejarah yang dipelintir diajarkan. Di situlah kekuatan-kekuatan yang mewarisi kebencian terhadap nama Voss berkumpul.

"Tempat itu adalah sarang musuhku. Tapi juga pusat segala pengetahuan dan kekuatan," pikir Kaelen dengan sorot mata tajam. "Di sana aku akan menemukan lebih banyak rahasia. Lebih banyak elemen untuk diserap, dan lebih banyak musuh untuk kutaklukkan. Jika aku ingin mengembalikan kejayaan keluargaku, aku harus pergi ke jantung kekuasaan itu sendiri."

Tanpa ragu lagi, Kaelen menerima tawaran itu. Dia mengemas sedikit barang miliknya, termasuk buku harian Elzar yang disembunyikannya rapat di dada bagian dalam, lalu meninggalkan gubuk tua tempat dia dibesarkan. Meninggalkan Kota Aras yang penuh dengan kenangan pahit itu.

Perpisahannya dengan warga kota terasa berbeda kali ini. Tidak ada lagi tatapan merendahkan atau bisikan ejekan. Yang ada hanyalah rasa takut, kagum, dan penasaran saat sosok kurus itu naik ke kereta mewah dan menghilang di balik debu jalanan.

Perjalanan memakan waktu beberapa hari hingga akhirnya menara-menara tinggi dan bangunan megah Akademi Sihir Kerajaan mulai terlihat di kejauhan. Akademi itu berdiri di atas dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan hijau. Dikelilingi tembok raksasa yang diukir dengan lambang-lambang elemen yang memancarkan aura kemegahan dan kekuatan yang menekan siapa pun yang mendekat.

Saat Kaelen melangkah melewati gerbang utama, dia seolah masuk ke dunia yang sama sekali berbeda. Di sini, setiap langkah terasa berat karena kepadatan energi alam yang melimpah. Para siswa yang berlalu-lalang mengenakan jubah berwarna berbeda sesuai elemen utama mereka. Merah untuk Api, Biru untuk Air, Hijau muda untuk Angin, Cokelat untuk Tanah, dan Kuning untuk Petir. Udara di sekitar mereka bergetar, menunjukkan betapa kuatnya energi yang mengalir di tubuh para pemuda ini.

Namun begitu Kaelen melangkah masuk dengan pakaian sederhana dan lusuh yang sama seperti biasanya. Tatapan-tatapan sinis dan merendahkan langsung tertuju padanya. Meski dia masuk lewat pintu utama. Penampilannya sangat kontras dengan kemewahan dan keanggunan yang menjadi ciri khas tempat ini.

"Lihat itu, ada apa pemuda kumuh di sini?"

"Dasar rakyat jelata. Mungkin salah masuk gerbang."

"Lihat lencananya. Oh, dia penerima rekomendasi khusus. Hah? Rekomendasi dari desa terpencil? Pasti hanya kasus belas kasihan."

Bisikan-bisikan itu masuk ke telinga Kaelen, namun dia mengabaikannya sepenuhnya. Dia sudah terbiasa dengan tatapan seperti ini. Bahkan, di dalam hatinya dia tertawa dingin. "Teruslah menertawakan pakaianku. Nanti kalian akan berlutut di bawah kakiku meski aku tetap memakai kain lap ini."

Kaelen berjalan menuju asrama dan ruang kelas yang ditentukan. Dia ertekad untuk tetap bersikap rendah dan menyembunyikan potensi aslinya sebanyak mungkin. Persis seperti yang dilakukan ayah dan leluhurnya dulu. Dia harus belajar, mengamati, dan tumbuh kuat tanpa menarik perhatian berlebihan sebelum waktunya.

***

Hari-hari pertama di akademi berlalu dengan cepat. Di kelas teori, Kaelen menemukan bahwa apa yang diajarkan di sini hanyalah permukaan dari ilmu sihir yang sebenarnya. Buku harian Elzar berisi pengetahuan yang jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih akurat.

Saat guru menjelaskan cara menggerakkan elemen Air, Kaelen sudah tahu cara memanipulasinya hingga ke tingkat molekul. Saat siswa lain kesulitan membentuk bola api seukuran kepalan, Kaelen bisa menciptakan kobaran raksasa di dalam kepalanya, namun dia hanya berpura-pura gagal atau mendapatkan nilai rata-rata.

Namun di tempat ini, Kaelen tidak hanya menemukan musuh, tetapi juga orang-orang tulus yang pertama kali mau mendekatinya tanpa melihat latar belakang atau pakaian.

Suatu sore, di taman belakang akademi yang tenang dan sejuk. Kaelen sedang duduk di bawah pohon besar, diam-diam menyerap energi elemen alam yang melimpah di tempat itu. Di sanalah dia pertama kali bertemu dengan mereka.

"Eh... maaf. Apakah aku mengganggumu?"

Sebuah suara lembut dan renyah terdengar dari samping. Kaelen menoleh dan melihat seorang gadis seumurannya berdiri di sana. Dia mengenakan jubah biru muda yang bersih dan rapi. Rambut panjangnya berwarna hitam pekat berkilauan seperti air sungai yang jernih, dan wajahnya cantik dengan senyum yang sangat manis dan tulus. Matanya berwarna biru bening, menandakan dia adalah pengguna Elemen Air yang berbakat.

"Namaku Lira. Aku sering melihatmu di kelas. Tapi sepertimu kamu selalu sendirian," kata gadis itu lagi sambil duduk perlahan di samping Kaelen tanpa menunggu diundang. Sikapnya sangat ramah, tidak ada sedikit pun kesombongan di wajahnya.

Sebelum Kaelen sempat menjawab, sosok lain muncul dari balik batang pohon besar di dekat sana. Sosok itu berbadan tegap, tinggi besar.

Namun berjalan dengan langkah yang sangat pelan dan tidak bersuara, seolah-olah tubuhnya menyatu dengan tanah tempat dia berpijak. Dia mengenakan jubah berwarna Cokelat Tanah, wajahnya datar dan pendiam, namun matanya yang tajam memancarkan ketenangan yang kokoh.

"Namaku Dimas," ucap pemuda itu singkat dan padat. Dia duduk bersila di tanah, bersandar pada batang pohon. "Aku tahu siapa kau, Kaelen. Anak yang mengalahkan pengguna Api tingkat menengah dengan Angin tingkat dasar. Cara bertarungmu sungguh menarik."

Itulah awal persahabatan mereka.

Lira adalah anak dari seorang pejabat kerajaan yang cukup terpandang, namun dia sama sekali tidak memiliki sifat angkuh. Dia ceria, cerdas, dan memiliki bakat luar biasa dalam penyembuhan serta manipulasi air. Sifatnya yang lembut membuatnya disukai banyak orang.

Namun Lira justru memilih berteman dengan Kaelen karena dia merasakan sesuatu yang istimewa namun tersembunyi dari pemuda itu, kedalaman dan kekuatan yang tak terukur.

Sementara Dimas, meski juga berasal dari keluarga terhormat yang menguasai wilayah pertambangan. Dia lebih suka kesunyian dan tidak tertarik pada kemewahan. Sebagai pengguna elemen Tanah. Dimas memiliki pertahanan yang luar biasa kuat dan kekuatan fisik yang sulit ditandingi. Dia pendiam, jarang bicara. Tapi saat berbicara, kata-katanya selalu berisi dan tepat sasaran. Dia adalah tipe teman yang akan berdiri di baris terdepan melindungi kawanannya meski harus menanggung bahaya sendiri.

Bagi Kaelen, kehadiran dua orang ini adalah hal yang tak terduga namun sangat berharga. Setelah bertahun-tahun hidup sendirian dan dihina. Akhirnya dia memiliki teman yang tulus. Orang-orang yang melihat dirinya bukan sebagai sampah atau bangsawan, melainkan sebagai manusia biasa.

Namun keberadaan persahabatan itu segera menjadi sasaran cibiran dan kebencian dari kelompok yang paling berkuasa dan berpengaruh di akademi yaitu Kelompok Mahkota Emas.

Kelompok ini berisi anak-anak bangsawan tingkat tinggi. Keturunan para bangsawan besar dan keluarga yang memegang tampuk kekuasaan kerajaan. Mereka menganggap diri mereka sebagai kaum elit sejati. Keturunan murni yang lebih unggul dari rakyat biasa. Mereka memegang sejarah sesat yang diajarkan di akademi sebagai kebenaran mutlak, dan membenci siapa pun yang dianggap "bercacat" atau tidak pantas berada di tempat ini.

Pemimpin mereka adalah Pangeran Reynald, anak kedua dari Raja Kerajaan. Sia adalah pengguna Elemen Api tingkat Lanjutan, pemuda yang tampan namun berwajah dingin dan sombong. Di sebelahnya selalu ada dua pengikut setianya yaitu Geraldo pengguna Elemen Petir yang kasar dan arogan, serta Selena, gadis bangsawan pengguna Elemen Angin yang memandang semua orang dengan tatapan jijik.

Kehidupan damai Kaelen, Lira, dan Dimas berakhir saat kelompok ini mulai memperhatikan mereka, terutama karena Lira yang cantik dan berpengaruh selalu berada di sisi Kaelen yang dianggap "rendahan".

***

Suatu siang, di kantin akademi yang luas dan ramai, insiden itu terjadi.

Kaelen, Lira, dan Dimas sedang duduk di sebuah meja sederhana di sudut ruangan. Berbicara santai sambil menikmati makanan mereka.

Tiba-tiba suasana ruangan menjadi hening seketika. Langkah kaki berat dan berirama terdengar mendekat. Reynald, Geraldo, Selena, dan pengikut-pengikutnya berjalan menghampiri meja mereka. Berdiri mengelilingi meja itu seolah menguasai wilayah tersebut.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    14. Pingsan Karena Kelelahan

    Kaelen berdiri tegak di sana. Uap panas berwarna kuning keemasan mengepul keluar dari pori-pori kulitnya. Matanya yang tadinya abu-abu kini berkilat dengan Cahaya Petir yang hidup. Berkedip-kedip setiap kali dia berkedip. Rasa sakit di tubuhnya lenyap digantikan oleh kekuatan yang meluap-luap, begitu besar hingga dia merasa bisa membelah langit jika dia mau.Kaelen menatap Baron yang terhuyung-huyung hampir jatuh. Suaranya rendah namun bergetar dengan kekuatan yang menekan hati semua orang yang mendengarnya."Kau bilang, rasakan kekuatan yang tak bisa aku impikan?" ucap Kaelen pelan namun jelas. "Terima kasih. Berkatmu, aku sekarang mengerti segalanya tentang Petir. Kau benar. Petirmu sangat kuat, sangat cepat, dan sangat menyakitkan. Tapi sayang sekali, kau lupa satu hal penting."Kaelen melangkah maju selangkah. Hanya satu langkah, namun karena energi petir yang mengalir di kakinya, dia seolah berpindah tempat dan sudah berada tepat di depan wajah Baron."Elemen apa pun, sekuat apa

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    13. Kekalahan Baron

    Kaelen memaksakan dirinya berguling ke samping. Pedang energi itu menghantam tanah tempat dia berbaring sedetik sebelumnya, menciptakan kawah berdiameter lima meter. Tanah di sekitar kawah itu meleleh menjadi kaca akibat suhu yang luar biasa panas.Hancur. Jika terkena serangan itu sepenuhnya, ia pasti sudah tidak bernyawa.Kaelen bangkit berdiri dengan susah payah. Pakaiannya robek-robek, tubuhnya penuh luka bakar hitam. Napasnya terengah-engah. Dia benar-benar kewalahan. Kecepatan Baron terlalu tinggi. Serangannya terlalu ganas, dan efek samping dari elemen petir membuat kemampuan bertahannya berkurang drastis."Aku kalah cepat. Aku kalah kuat. Jika terus begini. Aku benar-benar akan mati," batin Kaelen sambil menahan rasa sakit yang luar biasa. "Sistem! Analisis! Cari kelemahannya, cari celah apa pun!"[ANALISIS DIPERCEPAT. MEMINDAI STRUKTUR ENERGI PETIR BARON][PERHATIAN: ELEMEN PETIR BERGERAK DENGAN GETARAN TINGGI. KECEPATANNYA BERASAL DARI KEPADATAN MUATAN ENERGI][KELEMAHAN DIT

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    12. Konfrontasi Dengan Elit

    Kabar tentang keberhasilan Kaelen, Lira, dan Dimas keluar dari Hutan Dalam dengan selamat. Bahkan membawa pulang Inti Elemen Naga Tanah Purba yang legendaris menyebar ke seluruh penjuru Akademi Sihir Kerajaan bagaikan badai. Tidak ada satu pun siswa atau pengajar yang tidak mengenal nama Kaelen Voss saat ini. Pemuda yang dulunya dianggap sampah. Kini berubah menjadi sosok misterius yang mampu melakukan hal-hal mustahil.Namun semakin tinggi pohon menjulang. Semakin kencang angin bertiup. Rasa kagum dan takut dari sebagian besar siswa berbanding terbalik dengan rasa marah dan dendam yang membara di dada para anggota Kelompok Mahkota Emas. Bagi mereka, kemenangan Kaelen adalah penghinaan terbesar terhadap status dan kekuasaan mereka. Di mata mereka, rakyat biasa seharusnya selamanya tetap menjadi rakyat biasa. Tidak boleh naik ke atas, apalagi menyalip dan membuat mereka tampak konyol.Dan kemarahan itu memuncak paling hebat di hati sosok kedua terkuat di kelompok itu, sosok yang posisi

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    11. Ketakutan Valerius

    Tanpa menunggu jawaban lagi, Kaelen melesat maju. Dia tidak berlari, dia melayang rendah di atas tanah didorong oleh elemen Angin dan Petir yang berpadu. Kecepatannya melebihi apa pun yang pernah dilihat Lira dan Dimas.Naga Tanah Purba itu meraung marah melihat makhluk kecil berani mendekat. Dia menghentakkan kaki depannya ke tanah. Seketika itu juga, puluhan duri batu setajam pedang melesat keluar dari permukaan tanah, menyambar ke arah Kaelen dari segala penjuru.Namun Kaelen tidak menghindar. Dia mengerahkan elemen Tanah di dalam tubuhnya. Kulitnya berubah menjadi berwarna cokelat keemasan. Keras dan kokoh seperti logam tempaan terbaik. Duri-duri batu itu menghantam tubuhnya namun pecah berantakan tanpa meninggalkan sedikit pun goresan."Kulit Batu, tingkat Mahir saja sudah sekuat ini?" batin Kaelen kagum sekaligus makin bersemangat. "Kalau aku menyerap kekuatan makhluk ini, seberapa kuat aku nanti?"Saat Kaelen mendekati tubuh raksasa itu, ekor naga yang berujung duri berayun der

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    10. Dia Kunci Ke Tingkat Tinggi

    Kaelen menghela napas panjang. Merasakan aliran energi Tanah yang luar biasa memenuhi seluruh tubuhnya. Dia bisa merasakan kekerasan, kestabilan, dan ketahanan yang menjadi sifat dasar elemen ini. Pengetahuan tentang bagaimana menyatu dengan tanah. Bagaimana mengeraskan kulit, dan bagaimana mengendalikan bebatuan langsung tertanam kuat di ingatannya seolah dia telah mempelajarinya selama puluhan tahun.[SERAPAN BERHASIL. ELEMEN TANAH: TINGKAT DASAR 100% — MENINGKAT KE TINGKAT MAHIR][KEMAMPUAN BARU DIPEROLEH: KULIT BATU, PERTAHANAN MUTLAK, KENDALI TANAH DAN BATU]Kaelen menoleh ke arah kedua temannya yang masih terpaku. Senyum tipis terukir di bibirnya."Kau tidak apa-apa, Dimas?" tanyanya sambil mengulurkan tangan membantu Dimas bangkit."Kau. Apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Dimas tergagap. Masih menatap bangkai makhluk raksasa itu tak percaya. "Kulitnya? Dia menjadi tanah begitu saja. Kau menyedot kekuatannya?""Begitulah kira-kira," jawab Kaelen mengelak. Tidak mau membuka r

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    9. Ujian Masuk Yang Menegangkan

    Kemenangan telak Kaelen atas Geraldo di babak penyisihan bukan hanya membuat geger seluruh Akademi Sihir Kerajaan, tetapi juga mengubah pandangan semua orang terhadap pemuda yang dulunya dicap sampah itu. Kata-kata ancaman dan ejekan kini berubah menjadi rasa hormat, rasa takut, dan rasa penasaran yang luar biasa.Namun bagi Kaelen, pertarungan itu hanyalah pemanasan. Dia tahu, untuk bisa bertahan hidup di lingkungan ini dan mencapai tujuannya, ia harus terus tumbuh lebih kuat lagi.Beberapa hari setelah pertandingan itu, pengumuman besar dibacakan di lapangan utama akademi. Ini adalah tahap akhir dari rangkaian ujian penyaringan tahunan. Ujian yang paling berat, paling berbahaya, dan sekaligus paling menentukan nasib setiap siswa baru adalah Ujian Bertahan Hidup di Hutan Dalam.Berbeda dengan Hutan Pinggiran tempat Kaelen berlatih dulu, atau Hutan Latihan biasa di belakang akademi. Hutan Dalam adalah wilayah yang benar-benar liar. Belum terjamah sepenuhnya, dan menjadi rumah bagi rib

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status