หน้าหลัก / Fantasi / PENGUASA ELEMEN MUTLAK / 8. Ucapan Dan Tantangan Kaelen

แชร์

8. Ucapan Dan Tantangan Kaelen

ผู้เขียน: Yarniati
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-25 17:12:17

Minggu-minggu berlalu dengan cepat. Kabar tentang persaingan antara "Anak Desa" melawan "Kelompok Bangsawan Tinggi" telah menjadi pembicaraan hangat di seluruh akademi. Sebagian besar siswa bertaruh bahwa Kaelen akan hancur lebur. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang anak miskin dari desa terpencil bisa melawan keturunan bangsawan yang telah ditempa kekuatan sejak bayi dan memiliki sumber daya tak terbatas?

Namun ada juga sekelompok kecil siswa dari kalangan rakyat biasa atau bangsawan rendah yang mulai menaruh harapan pada Kaelen. Mereka juga sering diperlakukan semena-mena oleh Kelompok Mahkota Emas, dan diam-diam mereka berharap ada seseorang yang bisa menekan kesombongan para bangsawan itu.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba yaitu Ujian Penyisihan Bulanan.

Hari itu, Arena Pertarungan Besar Akademi dipenuhi sesak oleh ribuan siswa, guru, dan pejabat kerajaan yang diundang khusus. Arena itu luasnya seperti sebuah lapangan kota. Dikelilingi tribun penonton bertingkat-tingkat yang terbuat dari batu putih berkilauan. Di tengahnya terdapat panggung pertarungan berbentuk lingkaran besar dengan lantai yang diperkuat oleh sihir agar tidak mudah hancur akibat benturan energi.

Di tribun kehormatan, duduk para Guru Besar dan Dewan Akademi. Di sisi kanan, menempati tempat terbaik. Dan paling depan, duduk rombongan Kelompok Mahkota Emas.

Reynald duduk tegak dengan wajah dingin dan penuh keyakinan akan kemenangan.

Geraldo tertawa-tawa sambil menunjuk ke arah panggung dengan nada meremehkan.

Selena membetulkan rambutnya dengan santai, seolah keberadaan Kaelen hanyalah debu yang akan mereka sapu bersih hari ini.

Di sisi lain, di antara kerumunan siswa biasa, Kaelen berdiri berdampingan dengan Lira dan Dimas. Kaelen mengenakan jubah akademi standar berwarna abu-abu.

Namun Kaelen telah membetulkan kerahnya dan berdiri dengan sikap yang sangat tenang. Matanya menatap lurus ke arah Reynald di kejauhan. Tatapan yang bertemu dan saling mengunci. Tidak ada rasa takut. Hanya ada tantangan diam-diam yang menggetarkan udara.

"Kau siap?" bisik Dimas di sampingnya. Tangannya mengepal erat, siap untuk turun membantu jika terjadi hal buruk.

Lira menggenggam ujung lengan baju Kaelen dengan cemas namun matanya menatap penuh dukungan. "Ingat janjimu, tunjukkan pada mereka siapa dirimu yang sebenarnya. Aku percaya padamu, Kaelen."

Kaelen mengangguk pelan, lalu melangkah maju saat nama pertamanya dipanggil.

"Pertandingan Babak Penyisihan yaitu Kaelen Voss melawan Tuan Geraldo Van Croyden!"

Suara penyiar menggema ke seluruh penjuru arena. Riuh rendah suara penonton meledak. Geraldo! Salah satu pengikut terkuat Reynald, pengguna elemen Petir tingkat Menengah ke atas! Lawan pertama Kaelen saja sudah sekuat itu, jelas-jelas merupakan rencana Reynald untuk menyingkirkan Kaelen secara menyakitkan di babak awal agar dia dipermalukan habis-habisan.

Geraldo melompat masuk ke atas panggung dengan gerakan lincah dan angkuh. Tubuhnya dikelilingi kilatan listrik berwarna kuning menyilaukan. Suara desis dan bau belerang langsung tercium. Dia menatap Kaelen yang baru berjalan masuk dengan senyum menyeramkan.

"Dasar sampah. Nasib sialmu habis hari ini," geram Geraldo dengan suara berat. "Pangeran Reynald berjanji akan memberiku hadiah besar jika aku membuatmu keluar dari arena ini dengan kaki terbungkus."

Kaelen berdiri sepuluh meter di hadapannya. Tangannya santai di samping tubuh. Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada energi yang terlihat keluar. Dia tampak kosong dan lemah persis seperti saat pertama kali masuk akademi.

"Kau terlalu banyak bicara, bangsawan sombong!" jawab Kaelen dingin. "Keluargamu dan kau sendiri, kalian semua sama saja. Bersembunyi di balik gelar dan kekuasaan. Berpikir kalian adalah tuan atas segalanya. Hari ini aku akan ajarkan kalian satu hal penting yaitu Bahwa apa yang kalian miliki hanyalah pinjaman. Dan apa yang aku miliki adalah hak warisan mutlak yang tak ada yang bisa merampasnya."

Geraldo menggeram marah. "Kau berani!! Hancurlah! Halilintar Menghancurkan!"

Dengan teriakan keras, Geraldo mengangkat kedua tangannya ke atas. Langit di atas arena yang tertutup sihir perlahan menjadi gelap. Kilatan petir raksasa sebesar lengan manusia turun menyambar ke arah Kaelen, diikuti oleh ratusan anak panah listrik yang melesat tajam ke segala arah.

Serangan itu cepat, ganas, dan mematikan. Bagi siswa biasa, satu sambaran saja sudah cukup membuat mereka pingsan seumur hidup.

Di tribun penonton, Lira menjerit kaget menutup mulutnya. Dimas berdiri tegap. Matanya melotot menahan napas. Reynald dan Selena tersenyum puas. Para Guru Besar pun ikut berdiri, siap melakukan intervensi jika nyawa Kaelen terancam.

Namun di tengah cahaya kuning yang menyilaukan itu, sosok Kaelen tidak bergerak mundur selangkah pun.

Di dalam benaknya, sistem bekerja dengan kecepatan luar biasa.

[ANALISIS ELEMEN PETIR: TERDETEKSI. KECEPATAN TINGGI, TEGANGAN TINGGI, TAPI RENTAN TERHADAP PENGALIHAN ARUS]

[REKOMENDASI: GABUNGKAN ELEMEN ANGIN DAN ELEMEN AIR UNTUK MEMBENTUK MEDAN PENYERAP]

Saat sambaran petir itu tinggal satu inci lagi menyentuh tubuhnya, Kaelen mengangkat tangan kanannya perlahan. Tidak ada teriakan. Tidak ada gerakan berlebihan. Hanya satu gerakan tangan yang tenang.

Seketika itu juga, pusaran Angin Hijau yang bercampur dengan uap Air Biru muncul di sekeliling tubuhnya. Berputar begitu cepat hingga menciptakan dinding kabut tebal.

DUARRR..

Suara ledakan dahsyat mengguncang seluruh arena. Asap dan debu mengepul memenuhi panggung. Seluruh penonton terdiam. Menatap kaku ke arah kabut yang perlahan menghilang.

Dan saat pandangan kembali jelas, mulut semua orang terbuka lebar tak percaya.

Kaelen berdiri tegak di tempatnya semula. Pakaiannya tidak robek sedikit pun. Wajahnya masih sama tenangnya.

Dan yang paling mengerikan di tangannya, Kaelen sedang memegang gumpalan Energi Petir yang masih menyala dan mendesis-desis, seolah-olah dia sedang memegang bola karet biasa.

Geraldo yang berdiri di seberang sana terbelalak ketakutan. Kakinya gemetar hebat. Dia tahu persis seberapa kuat serangannya tadi. Itu adalah jurus terkuatnya.

Namun bukan saja tidak melukai musuhnya, energinya justru seolah ditangkap begitu saja seperti burung yang terperangkap jaring.

"Kau... apa yang kau lakukan?!" teriak Geraldo histeris.

Kaelen tersenyum. Senyum yang kini terlihat begitu mengerikan di mata para bangsawan itu. Dia mengangkat bola petir itu lebih tinggi, lalu perlahan tangannya mengepal. Energi petir itu bergetar, berteriak, lalu... terserap masuk ke dalam telapak tangan Kaelen tanpa sisa.

[SERAP BERHASIL. ELEMEN PETIR: TINGKAT DASAR 100% — NAIK KE TINGKAT MAHIR]

[KEMAMPUAN BARU DIPEROLEH: KENDALI LISTRIK, KECEPATAN CAHAYA, SENGATAN MUTLAK]

"Kau bertanya apa yang aku lakukan?" ucap Kaelen pelan.

Suara Kaelen terdengar jelas ke seluruh penjuru arena karena dibantu oleh Elemen Angin yang dia kendalikan.

"Aku hanya menunjukkan padamu bahwa elemen apa pun, termasuk Petirmu yang kau banggakan itu, pada dasarnya adalah milikku."

Kaelen melangkah maju selangkah. Langkah itu terasa seperti gunung yang bergerak mendekat. Tekanan udara yang luar biasa berat menimpa seluruh panggung membuat Geraldo sulit bernapas hingga jatuh berlutut.

"Kau bilang aku sampah? Kau bilang aku tidak pantas di sini?" Kaelen terus berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah panggung retak perlahan akibat energi yang meluap-luap. "Hari ini, Geraldo. Aku akan buat kau merasakan betapa menyakitkan menjadi debu yang diinjak-injak. Dan kau, Reynald....!"

Kaelen menoleh tajam ke arah tribun kehormatan tempat Reynald duduk. Tatapan mata mereka bertemu lagi, dan kali ini Reynald merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya.

Di mata abu-abu Kaelen. Reynald tidak melihat pemuda desa yang lemah. Dia melihat bayangan sosok raksasa kuno yang menguasai segalanya. Sosok yang selama ribuan tahun ini nama dan kekuatannya berusaha mereka hapus dari muka bumi.

"...bersiaplah. Setelah aku selesai dengan anjingmu ini, giliranmulah yang akan merasakan amarah keturunan Voss yang sesungguhnya."

Di panggung itu, di hadapan ribuan saksi mata, legenda baru mulai ditulis. Anak yang dihina. Yang dianggap sampah. Kini berdiri tegak dengan aura kekuasaan yang mutlak. Dan pertempuran ini hanyalah permulaan dari perjalanan panjangnya untuk meruntuhkan kerajaan yang dibangun di atas pengkhianatan, dan mengembalikan takhta yang seharusnya menjadi milik keluarganya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    56. Kembalinya Sang Pembawa Cahaya Langit

    Seluruh ibu kota terdiam serentak. Ribuan orang yang ada di tembok, di jalanan, di istana, dan di rumah-rumah. Semuanya berhenti melakukan apa pun yang sedang mereka lakukan. Mulut mereka terbuka sedikit karena takjub karena kagum, dan karena rasa hormat yang muncul begitu saja dari lubuk hati terdalam."I-itu... siapa?" tanya seorang prajurit dengan suara berbisik gemetar. "Apakah itu dewa yang turun ke bumi?""Tidak," jawab komandan pasukan di sebelahnya, suaranya parau karena emosi. Air mata mulai menggenang di matanya. "Lihatlah wajahnya. Aku kenal wajah itu. Itu... itu adalah Pangeran Kaelen! Itu adalah Kaelen Voss!""KAELEN?!" seru banyak orang serentak, tidak percaya. "Itu benar-benar dia? Tapi... kekuatan macam apa itu? Cahaya apa itu? Wujud macam apa itu?"Lira berdiri kaku di tempatnya. Kakinya yang sudah lemas itu seolah mendapatkan kembali seluruh kekuatannya. Matanya menatap lekat-lekat sosok yang melayang turun semakin dekat itu. Air mata bahagia mengalir deras membasahi

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    55. Kedatangan Di Ibu Kota Kerajaan

    Cahaya emas yang dibawa oleh Kaelen saat melesat turun dari langit tidak hanya sekadar cahaya. Dia bergerak secepat kilat. Membelah angin dan ruang, namun tidak menimbulkan suara gemuruh atau ledakan apa pun. Gerakannya begitu halus, begitu mulia, dan begitu hening. Persis seperti cahaya matahari pagi yang jatuh perlahan ke permukaan bumi.Semakin jauh Kaelen bergerak ke selatan. Semakin banyak wilayah yang dia lewati. Wilayah yang dulunya mati, gersang, dan tertutup kabut hitam pekat sisa ulah Raja Bayangan. Namun keajaiban mulai terjadi di mana pun dia lewati.Saat bayangan emas itu melintas di atas daratan tandus yang tanahnya berwarna abu-abu dan keras. Seketika itu juga kabut kegelapan yang menempel bertahun-tahun itu menguap begitu saja, seolah takut dan tidak berdaya.Di belakangnya, tanah yang gersang perlahan berubah warna kembali menjadi cokelat subur. Biji-bijian yang tertidur puluhan tahun di bawah tanah seketika bertunas, tumbuh, dan mekar dalam sekejap mata. Rumput hijau

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    54. Kebangkitan Elemen Petir Ilahi

    Gunung Badai.Sebuah gunung tertinggi di benua itu, puncaknya menembus lapisan atmosfer. Di sekelilingnya awan hitam tebal berputar tak henti-henti, dan dari sana, petir, bukan petir berwarna ungu atau merah milik kegelapan, melainkan petir berwarna EMAS MURNI menyambar ke bawah ribuan kali setiap detiknya. Suara gemuruhnya begitu keras hingga bumi bergetar terus-menerus. Udara di sekitar gunung itu begitu panas dan berenergi hingga makhluk hidup biasa bahkan tidak bisa mendekat dalam jarak seratus kilometer tanpa hangus menjadi abu."Ini dia," bisik Kaelen dengan sisa napasnya.Tubuh Kaelen jatuh terhempas tepat di puncak gunung itu, di atas batu hitam keras yang telah dipukul petir selama jutaan tahun.Begitu Kaelen menyentuh tanah itu, Sistem kembali berbunyi. Kali ini dengan nada yang tegas dan terakhir.[TUJUAN TERCAPAI. DETEKSI ENERGI PETIR MURNI TINGKAT TERTINGGI. SYARAT EVOLUSI TERPENUHI][PERINGATAN TERAKHIR: Segala sesuatu di dalam dirimu akan dihancurkan. Segala kotoran, se

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    53. Dewa Kekacauan

    Langit di atas Benteng Kegelapan retak terbuka. Dari celah itu, bukan lagi hanya kabut hitam atau energi gelap yang memancar, melainkan tekanan keberadaan yang begitu dahsyat hingga membuat ruang di sekitarnya berkerut seperti kertas yang diremas. Sosok Raja Bayangan telah berubah total. Tubuhnya yang semula setinggi manusia biasa kini membesar menjadi raksasa setinggi seribu meter, menembus atap benteng hingga kepalanya hampir menyentuh langit kelam itu. Kulitnya berubah menjadi lapisan energi padat berwarna ungu pekat, berdenyut-denyut seolah memiliki jantung raksasa. Di punggungnya terdapat sepasang sayap raksasa yang terbuat dari ribuan kilatan petir hitam dan merah terbentang lebar, menutupi sinar bulan dan bintang membuat wilayah itu jatuh ke dalam kegelapan total.Raja Bayangan bukan lagi manusia. Bukan lagi penyihir. Bukan lagi penguasa bayangan. Dia adalah DEWA KEKACAUAN."Akhirnya!"Suara itu bergema dari seluruh tubuh raksasa itu. Bukan keluar dari mulut saja, melainkan ber

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    52. Keterkejutan Raja Bayangan

    Di saat-saat paling kritis ini. Saat menghadapi ancaman terbesar musuhnya, pasukan yang tak terhitung jumlahnya, yang kuat, dan yang tidak boleh dihancurkan sepenuhnya. Kepala Kaelen tetap dingin dan jernih.Kaelen mengingat kembali ajaran dasarnya. Dia mengingat kembali hukum alam yang dia pegang teguh. Dia mengingat perbedaannya dengan Raja Bayangan.Raja Bayangan menguasai kekuatan dengan MEMAKSA dan MENCURI.Kaelen menguasai kekuatan dengan MENGERTI dan MENYATUKAN.Pasukan di depannya ini bukanlah musuh sejati. Mereka adalah korban. Mereka adalah energi yang tersesat, yang terikat, dan yang tersiksa."Kau pikir kau menjebakku, Raja Bayangan?" seru Kaelen.Suara Kaelen bergema jelas menembus hiruk-pikuk serangan yang mendekat. Cahaya pelangi di tubuhnya berubah. Dia tidak melepaskan ledakan kekuatan menghancurkan. Sebaliknya, cahaya itu menjadi lembut dan menyebar luas, namun jauh lebih padat dan lebih berwibawa dari sebelumnya."Kau pikir dengan memaksaku melawan mereka, kau akan

  • PENGUASA ELEMEN MUTLAK    51. Menghadapi Ancaman Terbesar Raja Bayangan

    Langit di atas Benteng Kegelapan bukan lagi sekadar gelap. Dia telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan, sebuah kubah raksasa berwarna hitam pekat yang berputar kencang, seolah seluruh langit sedang runtuh dan menyatu menjadi satu titik pusat.Di dalam pusaran itu, petir berwarna ungu darah menyambar tak henti-henti. Disertai suara gemuruh yang begitu dahsyat hingga tanah di bawahnya retak-retak dalam jangkauan ratusan kilometer. Energi yang dilepaskan begitu besar hingga udara terasa kental, berat, dan sulit untuk dihirup, seolah seseorang sedang berjalan menembus air yang membeku.Kaelen Voss melayang diam tepat di batas terluar kubah energi itu. Tubuhnya diselimuti cahaya pelangi yang bersinar terang, beradu kontras dengan kegelapan di sekelilingnya. Di belakangnya ribuan kilometer daratan mati terbentang, dan di depannya gerbang utama benteng musuh menjulang tinggi, sebuah bangunan raksasa dari logam hitam dan batu purba yang tingginya menembus awan badai. Gerbang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status