MasukOlivia Hart, seorang masterchef berbakat dari dunia nyata, terbangun di tubuh figuran pelayan dapur miskin di sebuah kedai kumuh yang terancam bangkrut di wilayah kekuasaan Baron Julian Vane. Memanfaatkan keahlian kuliner kelas dunianya serta pengetahuan tentang ramuan bahan ajaib dalam novel, Olivia menyajikan hidangan luar biasa yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memberikan ketenangan jiwa dan pemulihan stamina. Keahlian Olivia secara bertahap menaklukkan hati lima pria berdarah biru yang mendatangi kedainya, Baron Julian, Viscount Kenneth, Earl Caelum, Duke Damian, hingga Putra Mahkota Cassian yang menyamar. Kehangatan hidangan Olivia mengubah interaksi kaku para bangsawan ini menjadi kepedulian dan ikatan emosional yang mendalam. Namun, teralihkannya perhatian para pria bangsawan ini memicu kemarahan Tokoh Utama Perempuan aslinya Ladi Seraphina dan Penulis Asli (AuthorX) yang merasa alur utama terbajak. Olivia kini harus mengelola bisnis kulinernya dari nol, menjaga dinamika hubungannya dengan para ML, mengakali semua intrik sang tokoh utama wanita serta memanipulasi revisi plot mingguan Penulis Asli demi mematahkan skenario tragis (Bad Ending) dan menentukan takdirnya sendiri.
Lihat lebih banyakSrek... srek... srek...
Suara gesekan pisau kusam pada batu asah menggema pelan di sudut dapur Kedai Babi Hutan yang pengap. Tiga hari sudah Olivia terbangun di tubuh pelayan miskin ini, dan tiga hari pula ia dipaksa menerima kenyataan brutal, ia terperangkap di dunia novel fantasi yang pernah dibacanya, The Legend of Astra.
Bukan jadi tokoh utama seperti Lady Seraphina, atau setidaknya figuran disekitar tokoh utama, melainkan figuran tanpa nama belakang yang hidup dari sisa makanan.
Olivia menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia mengusap pelipisnya yang dibasahi keringat dingin menggunakan punggung lengan baju kain kasar yang gatal. Kepala dan lambungnya masih menyuarakan protes yang sama sejak tiga hari lalu, pusing berputar dan perih yang melilit.
Ia menatap dua telapak tangannya. Jemari yang dulu mulus dan terlatih memegang pisau chef mahal bernilai jutaan rupiah, kini penuh daki tipis, kapalan kasar, dan bekas irisan kecil yang belum sembuh total. Tubuh gadis dua puluh tahun ini benar-benar berada di ambang batas kelaparan ekstrem.
"Tiga hari..." gumam Olivia lirih, suaranya terdengar serak dan tipis. "Bagaimana bisa aku benar-benar masuk ke novel The Legend of Astra? Kenapa harus jadi Olivia si pelayan dapur yang bahkan di cerita aslinya cuma disebut sekali lalu mati kelaparan?"
Ia menghela napas panjang, mencoba menetralkan rasa mual akibat aroma minyak tengik dan tanah basah yang mengendap kental di udara dapur. Olivia tahu, meratapi nasib tidak akan mengisi perutnya. Jika ia ingin bertahan hidup di dunia jahat ini, ia harus menggunakan satu-satunya keahlian yang dibawanya dari dunia nyata, memasak, namun ia sendiri skeptis, apa bisa keahliannya di dunia nyata dibawa kemari, karena tangan yang ia pakai adalah tangan seorang pelayan rendahan.
Srek... srek...
Ia kembali mengasah mata pisau kusam itu pada batu sungai yang rata. Gerakannya presisi dan cekatan, sisa ingatan otot dari kehidupan sebelumnya sebagai koki profesional yang menolak mati konyol.
BRAK!
Pintu kayu dapur didorong kasar dari luar hingga menghantam dinding. Seorang pria setengah baya berbadan tambun dengan celemek bernoda darah dan minyak dingin berdiri di ambang pintu. Matanya yang kecil melotot menyalang.
"Masih belum selesai mengasah pisau, pemalas?!" bentak Tuan Grok kasar. Suaranya yang serak menggema di dapur sempit itu.
Olivia tidak tersentak. Selama tiga hari ini, ia sudah cukup paham tabiat pemilik kedai pelit di wilayah perbatasan ini. Ia menyapu ujung pisau dengan kain lap kusam sebelum mendongak datar.
"Mata pisaunya tumpul, Tuan Grok. Kalau dipaksa mengiris lobak keras dengan pisau tumpul, potongannya hancur dan banyak bahan yang terbuang," sahut Olivia tenang.
"Alasan!" Grok melangkah maju, membuat lantai kayu dapur berderit keras di bawah bobot tubuhnya. Ia melemparkan sebuah ember kayu kosong hingga mendarat persis di depan kaki Olivia. "Cepat ambil air di sumur belakang! Pelanggan perbatasan sebentar lagi datang. Kalau lantai belum disapu dan kayu bakar belum siap, jangan harap ada sisa tulang untuk makan malammu hari ini!"
Olivia memandangi ember kayu yang cukup berat itu, lalu menatap Grok. "Saya butuh air minum dan sedikit gula atau roti keras sekarang, Tuan. Perut saya melilit. Kalau saya pingsan lagi seperti tiga hari lalu, tidak ada yang mengurus dapur ini."
"Apa?!" Grok tertawa mengejek, memperlihatkan deretan giginya yang kuning dan kotor. "Kamu minta roti?! Di perbatasan Vance ini, roti itu barang mewah! Kamu cuma pelayan numpang hidup di sini! Kalau mau makan, kerja dulu baru makan!"
"Saya tidak minta roti mewah," potong Olivia dingin, menatap lurus mata Grok tanpa rasa takut yang biasanya ditunjukkan oleh Olivia yang lama. "Saya cuma minta jatah yang cukup supaya tubuh ini tidak ambruk saat membawa kayu bakar. Kalau saya mati di sini, Tuan harus bayar orang baru atau mengiris daging sendiri."
Grok tertegun sejenak. Ada yang berbeda dari pelayan yatim piatu ini sejak terbangun dari pingsannya tiga hari lalu. Tatapannya tidak lagi penakut dan liar seperti binatang buruan, melainkan tajam, dingin, dan menuntut.
"Kurang ajar kamu, ya! Sudah pintar menjawab!" bentak Grok murka. Ia menunjuk wajah Olivia dengan jarinya yang gemuk dan kotor. "Dengar, Olivia! Kamu cuma anak tanpa nama belakang yang saya pungut dari jalanan! Kalau bukan karena kebaikan hati saya menampungmu, mayatmu sudah dimakan serigala perbatasan!"
"Kebaikan hati Tuan adalah memberi saya tempat tidur di atas jerami busuk dan sisa tulang kering," jawab Olivia pelan namun menohok.
"Tutup mulutmu!" Grok mendesis tajam. Ia merogoh kantong celemeknya, lalu melemparkan sepotong kerak roti keras yang sudah berjamur tipis di pinggirannya ke atas meja potong. "Makan itu dan cepat pergi ke sumur! Kalau dalam sepuluh menit air belum penuh di kuali, kupastikan malam ini kamu tidur di luar tanpa selimut terpal!"
Grok berbalik kasar, menghentakkan kakinya melangkah keluar dapur menuju area depan kedai.
Brak! Pintu depan kembali ditutup keras.
Dapur kembali hening. Olivia menatap potongan kerak roti keras di atas meja. Meski baunya agak tengik dan teksturnya sekeras batu, perutnya yang melilit menyiksanya tanpa ampun.
Dengan tangan gemetar, Olivia meraih roti itu, memotong bagian yang berjamur menggunakan pisau dapur yang baru diasahnya, lalu menggigit kecil roti keras tersebut. Rasa tawar dan kering memenuhi mulutnya, tetapi ia memaksanya masuk ke kerongkongan demi bertahan hidup.
"Bertahanlah sedikit lagi," bisik Olivia pada tubuh lemahnya sendiri seraya mengepalkan tangan. "Aku tidak akan mati di kedai busuk ini. Tidak.. Tidak boleh mati."
Ia meneguk air dari kendi tanah liat retak di dekatnya untuk membantu menelan roti. Baru saja Olivia hendak mengangkat ember kayu menuju sumur belakang, langkahnya mendadak terhenti.
Kriet... srok...
Suara bergesek yang aneh terdengar dari sudut dapur paling dalam, persis di balik tumpukan karung kosong dan meja potong besar.
Olivia mengurungkan niatnya melangkah. Ia menyelinap pelan di balik bayangan rak bahan, menahan napasnya.
Di sana, ia melihat Tuan Grok sedang menggeser sebuah peti kayu tebal yang menutupi pintu jebakan di lantai dapur. Pria tambun itu celingukan ke arah luar sebelum perlahan menuruni tangga kayu menuju ruang bawah tanah.
Curiga, Olivia mengendap-endap mendekat. Dari celah lantai kayu yang agak merenggang, matanya melebar tak percaya.
Di bawah sana, ruang bawah tanah kedai ternyata dipenuhi karung-karung gandum murni berstempel resmi Kerajaan, tumpukan daging asap segar, serta puluhan botol minyak zaitun kualitas tinggi. Itu adalah bantuan pangan Kerajaan untuk rakyat perbatasan yang sedang kelaparan, bahan yang dibeli murah atau diselundupkan Grok secara ilegal untuk dijual kembali dengan harga fantastis.
"Dasar tikus serakah..." bisik Olivia menahan amarah. "Sementara dia memberi pelayannya roti berjamur, dia menimbun harta pangan di bawah sini."
KREET!
Papan lantai tempat Olivia berdiri berderit pelan di bawah bobot tubuhnya.
Suara kecil itu langsung membuat aktivitas di bawah berhenti seketika. Grok mendongak dengan cepat. Mata kecilnya yang menyalang berpapasan tepat dengan mata Olivia melalui celah papan lantai.
Wajah Grok mendadak berubah sangat gelap. Dari bawah, Olivia bisa melihat Grok merogoh pinggangnya dan mencabut sebuah pisau pemotong daging yang tebal dan berdarah.
"Siapa itu? Olivia?" suara Grok terdengar sangat berat dan penuh ancaman dari bawah tanah.
Langkah kaki berat Grok mulai menaiki tangga kayu dengan cepat.
Jantung Olivia berdegup kencang. Tubuhnya yang lemah dan kelaparan ini sama sekali tidak punya tenaga untuk berlari, sementara pintu keluar dapur terkunci dari dalam!
Olivia menggenggam kunci besi berkarat itu erat-erat. Rasa heran membendung di kepalanya, tetapi kelelahan fisik membuat kakinya terus bergerak."Terima kasih, Nenek," bisik Olivia pelan."Naiklah. Jangan keluyuran ke lantai atasnya lagi," sahut Nenek tua itu tanpa berpaling dari meja kasirnya.Olivia menaiki tangga kayu pertama dengan hati-hati. Suara kayu berderit nyaring bergema di lantai dasar yang kumuh. Namun, begitu kakinya memijak anak tangga terakhir dan memasuki lorong lantai dua, napasnya seketika tertahan."Loh? Ini... penginapan yang sama?" gumam Olivia terperangah.Lantai dua penginapan itu sama sekali berbeda dengan lantai dasar yang berdebu dan bobrok. Karpet merah tebal terbentang rapi di sepanjang koridor. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang dipoles hingga mengkilap, memancarkan aroma terapi kayu manis yang menenangkan. Barang-barang yang ada di sana memang tampak tua, tetapi berkesan sangat klasik, elegan, dan bersih tanpa setitik debu pun.Di lorong luas itu
"Batuk! Uhuk-uhuk!"Olivia terbatuk-batuk hebat. Dadanya sesak akibat debu tebal yang membumbung di dalam kegelapan pekat. Keheningan mencekam langsung menyergap. Suara teriakan para pemburu liar dan gemuruh batuan yang runtuh tadi mendadak lenyap ditelan dinding batu raksasa yang kini menyumbat mulut gua."Dingin... gelap banget..." bisik Olivia gemetar.Gadis itu memeluk lututnya sendiri di atas tanah lembap. Tangannya mengepal erat, meremas kepingan perak yang berhasil ia pertahankan mati-matian. Rasa sakit di pipinya akibat tamparan keras pemburu tadi masih berdenyut nyeri, ditambah darah kental yang mengering di sudut bibirnya."Bisa-bisanya aku terkurung di sini?" ringis Olivia, berusaha menelan ludah yang terasa pahit. "Pikir, Olivia, pikir! Di novel The Legend of Astra, gua tempat bersarangnya monster berduri pasti punya celah ventilasi. Nggak mungkin gua ini benar-benar kedap udara!"Olivia merayap perlahan dalam kegelapan. Jemarinya bergerilya membelai dinding batu yang dingi
"Sialan..." umpat Olivia lirih.Suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri yang berdegup kencang bagai dihantam palu. Tubuhnya yang terbaring kaku di lantai gua berkerikil mendadak tak sanggup digerakkan. Rasa lelah dan kelaparan yang melilit perutnya mendadak menguap, tergantikan oleh ketakutan murni.Dua titik cahaya merah menyala itu makin mendekat. Bayangan besar berbulu lebat perlahan keluar dari kegelapan ceruk gua. Seekor Monster Berduri, monster tingkat rendah yang sering ditulis dalam novel The Legend of Astra, sedang menatapnya dengan liur yang menetes ke tanah."Kenapa harus ketemu monster di saat tubuhku begini?!" ringis Olivia seraya merayap mundur perlahan di tanah lembap.Groarrr!Monster itu menggeram rendah, memamerkan deretan taring tajam yang berkilat di bawah tembusan cahaya bulan dari mulut gua. Langkah kakinya yang berakar kuku tajam mengikis batuan gua dengan bersuara nyaring."Jangan mendekat..." bisik Olivia, tangannya bergerilya cepat di lantai g
"Sial!" umpat Olivia dalam hati.Darahnya membeku seketika. Suara serak dan berat itu muncul tepat dari arah bayangan semak-semak tebal di bawah dinding kedai. Olivia menahan napas, tangannya gemetar hebat seraya merapatkan tubuhnya ke dinding kayu yang berdebu.Sesosok pria berbadan tegap melangkah keluar dari kegelapan lorong samping. Ia tidak mengenakan zirah resmi prajurit Vance, melainkan mantel kulit kusam dengan penutup muka hitam. Di tangan kanannya, sebuah pisau pemburu berkilat tajam di bawah remang cahaya sore.Bukan Kapten Brandon, melainkan orang suruhan Grok yang ditugaskan menjaga lorong belakang."Kupikir Tuan Grok cuma berprasangka buruk," mendesis pria itu seraya melangkah mendekat. Ujung pisaunya terangkat, mengarah tepat ke dada Olivia. "Ternyata kamu benar-benar berniat kabur membawa uang perak itu, Tikus Kecil.""Aku tidak berniat kabur!" seru Olivia cepat, memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak tumpukan kayu bakar. "Prajurit menyergap ke dalam! Kalau






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.