Akash dan Asha bergegas keluar kantor setelah mendapat telepon dari Sizy yang mengabarkan kalau Arjuna mengajaknya ikut keluar kantor.
Tadinya Sizy berpikir ada kegiatan di luar kantor, ternyata Arjuna berniat membawanya kabur dari Jakarta.
“Sayang, tolong telepon Pak Bima, kasi tahu kondisinya biar dia lacak Kak Juna dimana,” pinta Akash.
Laki-laki itu sedang fokus menyetir mobil sambil sesekali melihat ke ponsel yang sedang menunjukkan lokasi terkini ponsel Sizy saat itu. Sizy sengaja mengaktifkan GPS ponselnya dan mengirimkan lokasinya pada Asha agar bisa dilacak.
Asha menekan nama Bima di ponsel Akash dan hanya berselang beberapa detik panggilan tersambung dan terjawab.
Asha menjelaskan semua yang disampaikan
Brak!Pintu ruang rawat Atha terbuka paksa dari luar hingga menimbulkan suara yang cukup keras, membuat Cakra dan yang lainnya sengaja memutar badan dan melihat ke arah pintu.Seorang pemuda nyeleneh dengan rambut sedikit acak-acakan, memakai kacamata sedang berdiri dan menggaruk kepalanya.“Maaf, saya kira gak ada orang,” ujarnya.Asha menghela nafas, sedikit kesal karena ulah anak laki-laki itu. “Bisa jangan berisik gak? Anakku baru tidur Ren,” ujarnya.Seketika pemuda yang dipanggil Ren itu memasang cengiran dan mengatupkan kedua tangan di depan dada, tanda meminta maaf.“Tunggu di depan dulu, nanti aku kesitu,” ujar Asha.Anak muda itu keluar kamar seteleh memberi tanda ok dengan tangan kanannya. Lalu perlahan, semua pandangan tertuju padanya. Sementara itu, Asha juga melihat putranya yang nampak tenang berada di ruangan.Melihat putranya tetap tidur tenang, akhirnya dia mulai bicara. “Asha bukan hacker kok Kek, tapi Asha memang punya teman hacker. Dan kebetulan pas Asha ceritakan
Langkah kaki Akash terdengar menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Nafasnya terengah, kemeja yang tadi rapi kini sedikit kusut akibat ia berlari sejak turun dari mobil. Setelah pertemuan di ruangan Cakra tadi dia baru tahu kalau Asha terburu-buru keluar dari kantor karena mendapat telepon dari ibunya, kalau Atha jatuh sakit dan dibawa ke rumah sakit.Akash menghentikan langkah sejenak di lorong khusus anak, matanya liar mencari satu sosok—Asha. Ia menggenggam ponselnya erat berniat menghubungi Asha kembali. Sayangnya dia tidak bisa melakukan itu karena ternyata ponsel wanita kesayangannya tidak aktif karena kehabisan daya.“Pasien anak, atas nama Atha,” ucap Akash saat berdiri di depan meja informasi.“Ruang 304, Pak. Ujung koridor kanan,” jawab perawat ramah sambil menunjukkan ara
Bima keluar dari mobilnya, ia masuk ke sebuah bangunan besar berwarna putih, mengikuti titik lokasi yang diberikan tim IT CMP. Sesuai instruksi Cakra, dia datang sendiri. Bukan untuk menangkap basah orang yang telah menerobos masuk ke server utama untuk kedua kalinya.Sejujurnya Bima dan Cakra sudah bisa menebak siapa yang melakukannya, tapi mereka tidak lekas mengambil kesimpulan. Saat bertemu dengan orang itu, ia menerima sebuah dan laptop yang lekas dibawa kembali ke CMP. Untuk menuntaskan tugasnya, sekaligus menangkap orang yang telah bermain di belakang layar.*Sementara itu di kantor, Cakra memanggil Sandy, Arjuna dan Akash ke ruangannya. Gara dan Andra yang mengerjakan projek, Mirna yang harusnya menjadi penyimpan data dan juga Damar sebagai kepala IT ikut hadir di ruangan itu.
Akash kembali ke ruangannya dengan wajah frustasi yang tidak bisa disembunyikan. Ia berusaha menghubungi Asha berkali-kali, tapi tidak ada hasilnya. Dia tidak ingin mempercayai pemikiran Arjuna, rasanya tidak mungkin kalau Asha melakukan hal buruk seperti ini. Apa gunanya untuk dia.Tapi, sejak tadi Asha tidak bisa di hubungi dan itu juga membuatnya hampir hilang akal.“Apa mungkin… nggak… nggak mungkin. Buat apa?” gumamnya pada diri sendiri. Berusaha menghilangkan semua kemungkinan terburuk kalau Asha ada dibalik semua ini.Pintu ruangan terbuka pelan, Gara datang bersama seorang tim IT. Ia benar-benar berharap kalau mereka datang dengan berita baik, sayangnya yang dia dengar justru membuat dadanya sesak.“Maksud kalian gimana?” tanya Akash, meminta penjelasan ulang.“Dari penyelidikan kami, pembobolan data ini tidak dilakukan dari luar kantor Pak. IP yang melakukan pembobolan berada di gedung ini. Dan…” pria dengan kaca mata bening di samping Gara sempat berhenti bicara sesaat. “Kem
Sementara Maha sedang bahagia dengan berita kehamilan Nania. Akash sendiri sedang sibuk dengan projek-projek baru yang sedang dikerjakannya. Tadinya, dia ingin meminta bantuan Maha untuk mengambil alih projek Aditya, sayangnya Aditya memilih fokus pada Nania karena kondisi Nania yang memang cukup lelah.Sayangnya belum satu bulan berjalan, salah satu projek yang dikerjakannya bermasalah. Server perusahaan dibobol dan satu data projek hilang, sialnya data projek yang hilang itu adalah projek dari perusahaan milik Aditya yang saat ini sedang dipegang Gara dan Andra dibawah pengawasan Akash.Brak!“Gimana bisa hilang Gar?” tanya Akash dengan nada suara meninggi.Ruangan kerja yang biasanya hangat mendadak berubah mencekam setelah berita itu sampai ke telinga Akash.“Kamu tahu kalau data-data itu penting kan? Itu rahasia perusahaan dan rekan kita. Kalau sampai bocor ke perusahaan lain gimana?” Akash kembali bertanya sekali lagi. Ia mengusak rambutnya kasar, lalu tangannya mengepal dan men
Kabar bahagia itu menyebar dengan cepat. Hanya beberapa jam setelah dokter memastikan kondisi Nania dan mereka diperbolehkan pulang, rumah keluarga Kurniawan tiba-tiba begitu ramai dengan kehadiran keluarga Nania. Ayah, abang dan kakak iparnya datang saat Nania diizinkan pulang.Mereka membawa makanan dan buah, serta susu hamil dan cemilan untuk Nania. Ekspresi bahagia tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka yang hadir meskipun hari sudah beranjak malam.“Ya Allah… akhirnya doa kita dikabulkan juga,” ucap Ratu dengan mata berkaca-kaca.Nania, yang masih lemah namun sudah bisa duduk, menjadi pusat perhatian. Pipinya memerah karena malu setiap kali mendengar ucapan selamat. Ia hanya bisa tersenyum kecil, sesekali melirik Maha yang duduk di sampingnya dengan tatapan lembut.