Share

7. Kontrak Darah

last update publish date: 2026-08-23 21:04:16

Arkan tidak membalas sepatah kata pun. Wajahnya datar, tetapi matanya mengunci pandangan Zen dengan ketenangan yang dingin. Di balik jubah kusamnya, jemari Arkan menggenggam erat gagang pisau pemburu yang sudah disiapkannya semalam.

Guru Jian yang berdiri santai di samping Arkan hanya terkekeh pelan. "Kesombongan yang dibangun di atas ketidaktahuan memang selalu terlihat megah, ya?" bisik sang guru cukup pelan hingga hanya Arkan yang bisa mendengarnya.

"Ayo berangkat, Arkan," lanjut Guru Jian tanpa mempedulikan Zen sama sekali. "Jangan buang waktu mendengarkan bualan orang yang bahkan tak tahu apa yang sebenarnya ia bawa pulang."

Tanpa melayani ejekan itu, Arkan melangkah melewati Zen begitu saja, membiarkan kakak kandungnya itu berdiri mematung terkejut karena diabaikan sepenuhnya.

"Tunggu dulu, Sampah! Kau mau ke mana?!" teriak Zen seraya mencengkeram bahu Arkan dan menyentaknya kasar hingga terseret ke tengah arena.

Para murid yang mengelilingi lapangan seketika bersorak riuh, mengelilingi mereka membentuk lingkaran untuk menyaksikan pertunjukan. Zen tersenyum makin culas, menikmati tatapan penuh tekanan dari ratusan pasang mata yang mengarah pada adiknya.

Melihat muridnya diperlakukan semena-mena, Guru Jian melangkah maju dengan sorot mata yang mendadak mendingin. Namun, baru satu langkah ia mengayun, sesosok tubuh mendadak menghalangi jalannya. Guru Agung sudah berdiri tegak di hadapan Guru Jian, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum meremehkan.

"Jangan ikut campur urusan anak-anak, Jian," tegur Guru Agung dengan suara berat yang dipenuhi tekanan aura kultivasi. "Ini pertikaian antar saudara dan sesama murid akademi. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri."

Guru Jian menghentikan langkahnya. Matanya mengunci sang Guru Agung dengan pandangan tajam bertorehkan peringatan terselubung. Namun, bukannya panik, Guru Jian melirik Arkan dari sudut matanya lalu tersenyum sangat tipis. Ia paham, ini saatnya Arkan menguji mental dan persiapan yang telah dibutatnya semalam.

Di tengah arena, Zen membusungkan dada, melangkah mendekati Arkan yang baru saja menegakkan posisinya.

Tepat saat duel hendak meletus, Guru Jian mengambil tindakan mendadak. Dengan satu gerakan cepat yang teramat halus, ia sudah berdiri melayang tepat di tengah-tengah antara Arkan dan Zen, memutus aura ketegangan yang membakar arena.

"Tidak baik bertarung sekarang," ucap Guru Jian santai namun suaranya bergema penuh tekanan di seluruh lapangan. "Bukankah sudah ada janji bahwa duel resmi antara kalian berdua baru akan dilakukan satu tahun lagi?"

Mendengar hal itu, Zen langsung naik pitam. Wajahnya memerah padam karena merasa dikatai dan dihalangi saat berada di atas angin.

"Tutup mulutmu, Orang Tua!" teriak Zen murka, mengarahkan pedangnya ke arah Guru Jian. "Dia cuma sampah yang tidak pantas membuang waktuku selama satu tahun! Aku bisa menghancurkannya sekarang juga!"

Kemarahan Zen seketika membuat suasana di arena makin riuh. Para murid bersorak-sorak, saling berbisik gempar menyaksikan ketegangan yang kian memuncak.

Melihat kekacauan tersebut, Guru Agung melangkah maju dengan wajah dingin. Hawa keberadaannya yang berat menindas area sekitar saat ia menatap Guru Jian dengan sorot mata mengancam.

"Seharusnya kau tidak ikut campur, Jian," sergah Guru Agung dengan suara berat yang menggelegar. "Aturan akademi memberi hak kepada yang kuat untuk memberi pelajaran kepada yang lemah. Kau tidak punya hak membatalkan duel ini!"

Di tengah kepungan tekanan aura Guru Agung dan teriakan riuh para siswa, Arkan tetap berdiri tegak. Jemarinya yang melingkari gagang pisau pemburu di balik jubah perlahan melonggar, namun tatapannya pada Zen tetap tajam tanpa rasa takut sedikit pun.

Guru Jian hanya terkekeh pelan meladeni ancaman sang Guru Agung. "Satu tahun," tegas Guru Jian seraya menoleh ke arah Tan Hau yang duduk di kursi tertinggi. "Atau Ketua Akademi sendiri yang harus mengakui bahwa putra 'jenius'-nya takut memberi waktu pada seorang yang ia sebut sampah?"

Akhirnya, Tan Hau turun tangan untuk mengakhiri ketegangan sebelum percekcokan para guru makin liar. Dari kursi tertingginya, sang Ketua Akademi bangkit berdiri. Tekanan aura kultivasi yang sangat kuat mendadak membumbung tinggi, menekan seluruh area lapangan hingga suara riuh ribuan murid seketika senyap seketika.

“Sudah, hentikan!” seru Tan Hau dengan suara menggelegar yang menggetarkan arena.

Pandangan dingin Tan Hau menyapu Guru Jian, Guru Agung, lalu tertuju pada kedua putranya. Wajahnya tampak amat gusar karena hari pembuktian keberhasilan Zen dan Lie justru dinodai oleh keributan antar-pengajar.

“Zen! Tahan dirimu,” tegur Tan Hau tegas, menatap putra kesayangannya. “Seorang jenius yang membawa pulang telur Hewan Roh tingkat Kaisar tidak perlu menurunkan derajatnya hanya untuk membuktikan diri di hadapan seorang pecundang. Simpan tenaga dan gengsimu untuk duel resmi satu tahun lagi!”

Zen mengepalkan tangannya rapat-rapat, menggeram kesal. Namun, di hadapan wibawa ayahnya, ia tidak punya pilihan selain menarik kembali pedangnya. “Baik, Ayah. Akan kubiarkan sampah ini bernapas satu tahun lagi. Kita lihat sejauh mana ia bisa berlari!” ucap Zen seraya menatap Arkan dengan pandangan penuh dendam.

Guru Agung hanya mengendus dingin, lalu melangkah mundur seraya bersedekap. Di sisinya, Guru Jian tetap tersenyum tenang tanpa beban, seolah sejak awal sudah menduga jalan pikiran Tan Hau.

“Bubar semuanya!” perintah Tan Hau melambaikan tangannya, membubarkan kerumunan yang tampak kecewa karena batal menyaksikan pertumpahan darah.

Arkan perlahan melepas cengkeramannya dari gagang pisau pemburu di balik jubah. Ia menatap Zen yang berbalik pergi dengan langkah angkuh, lalu menoleh pada sang ayah yang bahkan sama sekali tidak mau menatap keberadaannya.

“Ayo pergi, Arkan,” bisik Guru Jian pelan seraya menepuk pundaknya. “Panggung pertunjukan mereka sudah selesai. Sekarang saatnya kita mengambil milikmu yang sebenarnya.”

Arkan mengangguk mantap. Tanpa membuang waktu lagi, ia dan Guru Jian segera berbalik arah, melangkah mantap meninggalkan riuk-pikuk akademi menuju kegelapan Hutan Bulan Perak.

Setelah semua kerumunan membubarkan diri, amarah Zen justru makin membakar dadanya. Merasa dipermalukan karena duelnya dihentikan, ia berjalan cepat menuju sudut aula utama akademi dengan napas memburu.

Di sana, terpajang sebuah telur misterius berwarna hitam pekat. Telur itu telah berada di Akademi Cakrawala selama ribuan tahun, namun tak pernah sekali pun menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Karena dianggap sebagai telur cacat dan "mati", pihak akademi hanya menggunakannya sebagai hiasan pajangan yang tak berharga.

Tanpa berpikir panjang, Zen mencengkeram telur hitam itu secara kasar, lalu berlari menyusul Arkan dan Guru Jian yang baru saja akan melewati gerbang belakang.

"Hei, Sampah!" teriak Zen penuh dendam.

Arkan dan Guru Jian menghentikan langkah lalu berbalik. Sebelum Arkan sempat bereaksi, Zen mengayunkan tangannya kuat-kuat, melempar telur hitam pekat itu tepat ke arah dada Arkan!

"Dasar sampah! Kau itu setara dengan telur busuk tak berharga ini!" caci Zen dengan tawa puas yang meluap-luap setelah melampiaskan kekesalannya.

REFLEKS!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    35 Hutan Hitam

    Hutan Hitam langsung menyambut Arkan dengan udara lembap yang berbau tanah basah dan desis tajam angin malam yang menyelinap di antara pepohonan purba. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menghalangi cahaya matahari hingga area Sektor Sembilan hanya diterangi pendar redup jamur-jamur beracun yang tumbuh di akar-akar besar.Arkan berjalan perlahan dengan langkah tanpa suara. Di dadanya, telur hitam bergaris emas bergetar halus, mengirimkan gelombang kehangatan yang memperajam indra penglihatannya di tengah kegelapan.Srak... Srak...Suara gesekan dedaunan terdengar dari tiga arah berbeda. Bukannya jeritan monster, Arkan justru merasakan pancaran tekanan mana manusia yang dingin dan dipenuhi niat membunuh.Tiga sosok berjanggut hitam mengenakan pakaian serba gelap melompat turun dari dahan pohon, mengepung Arkan dalam formasi segitiga. Dari aura yang dipancarkan, ketiganya adalah pendekar tingkat menengah—pembunuh bayaran yang disewa oleh Tetua Kelam dan Tan Hau."Sayang sekali, Bocah,"

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    34 Ujian Tahunan

    Keesokan paginya, suasana di lapangan utama Akademi Cakrawala tampak ramai seperti biasa. Para murid berkumpul untuk menyimak pengumuman rutin, tetapi suasana tenang itu mendadak buyar saat Lie melangkah maju dengan wajah congkaknya.Didorong rasa iri dan ketakutan usai menyaksikan latihan rahasia Arkan semalam, Lie sengaja mencari gara-gara untuk memancing Arkan memamerkan kekuatannya di depan umum—sekaligus memojokkannya.BRAK!Lie menendang wadah air milik seorang murid junior hingga pecah berantakan di tengah lapangan. Murid itu terlonjak kaget dan menunduk ketakutan."Hei, sampah!" teriak Lie dengan suara lantang, matanya yang tajam langsung mengunci keberadaan Arkan yang sedang berjalan tenang di tepi lapangan sambil mengenakan kembali Gelang Penutup Jiwa-nya.Seluruh perhatian murid-murid seketika tertuju pada Arkan dan Lie."Kau pikir dengan berlindung di balik ketiak Guru Jian, kau bisa melupakan statusmu di tempat ini?" Lie melangkah mendekati Arkan, memamerkan senyum licikn

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    33 Terus Diawasi

    "Kau sudah pulang? Bagaimana latihanmu di sana?" tanya Guru Jian begitu Arkan melangkah masuk ke dalam kediamannya yang tenang."Mereka tidak melatihku, Guru... mereka hanya fokus menghindari serangan dan menilaiku," jawab Arkan. "Pasti Guru benar-benar orang yang sangat hebat, hingga seluruh guru di akademi begitu sungkan dan segan pada Guru."Guru Jian tertawa lepas mendengar kepolosan muridnya itu."Tentu saja! Aku saja sebenarnya sudah cukup untuk melatihmu. Tan Hau saja yang sengaja ingin menghalangi perkembanganmu dengan berbagai muslihat," ujar Guru Jian penuh percaya diri. "Jika memang begitu situasinya, aku akan menjadwalkan latihan khusus pada malam hari untukmu.""Baik, Guru," sahut Arkan mantap."Sekarang, copot gelangmu. Aku ingin melihat seberapa jauh kau berkembang," perintah Guru Jian seraya menatap pergelangan tangan muridnya.Arkan mengangguk lalu perlahan melepaskan Gelang Penutup Jiwa dari tangannya. Begitu gelang itu terlepas, gelombang mana yang amat murni dan pe

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    32 Perlakuan Bebeda

    "Tapi aku masih belum bisa menguasai kekuatanku..." bisik Arkan pelan, menatap telapak tangannya sendiri yang sesekali masih bergetar hebat akibat luapan energi liar dari telur misterius itu.Guru Jian menatap muridnya dengan tatapan lembut namun sarat akan kebijaksanaan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuat keputusan yang tak terduga."Baiklah, kalau begitu kau pergi ke akademi sana sesuai apa yang dikatakan Tan Hau," ujar Guru Jian pelan. "Tenang saja, aku akan membayangimu dan melindungimu dari balik layar."Arkan mendongak, terkejut mendengar perubahan rencana gurunya."Ingat pesan pentingku ini, Arkan," lanjut Guru Jian dengan nada amat serius. "Jangan pernah menarik perhatian mereka, dan jangan pula memancing amarah siapa pun di sana. Kau harus bisa bersabar lebih lama lagi. Meskipun perlakuan mereka nantinya tetap tidak akan baik kepadamu, setidaknya masih ada ilmu dan pengetahuan teknik pertarungan di perpustakaan akademi yang bisa kau pelajari."Guru Jian menepu

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    31 Murid Resmi Akademi

    Sementara itu, di dalam aula megah Kediaman Tan Hau, suasana terasa begitu mencekat. Tan Hau berjalan mondar-mandir dengan raut wajah gusar, menghempaskan langkah kakinya ke lantai batu pualam yang dingin."Masih tidak ada laporan yang berarti?!" geram Tan Hau, suaranya membentak rendah hingga membuat para pengawal di sekelilingnya tertunduk gemetar.Salah seorang mata-mata yang bertugas mengintai Lembah Dalam membungkuk makin dalam. "Ampun, Tetua Tan... Gubuk itu terus-menerus diselimuti asap obat yang amat pekat. Kami hanya melihat Guru Jian keluar sesekali untuk mengambil air, sedangkan Arkan sama sekali tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Tidak ada pendar mana ataupun lonjakan energi yang terdeteksi."Tan Hau mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panik perlahan mulai menggerogoti pikirannya."Jian sialan itu..." umpat Tan Hau seraya mengepalkan tinju ke meja kayu di sampingnya hingga retak. "Dia sengaja memasang benteng informasi! Dia melindungi bocah

  • PEWARIS MAKHLUK LEGENDARIS    30. mengelabuhi Musuh

    Arkan mengepalkan jemarinya di balik selimut tebal, merasakan sensasi mana yang mengalir makin tenang dan solid di dalam meridian tubuhnya. Suara langkah kaki kedua pengawal yang makin menjauh dari Lembah Dalam menjadi pertanda bahwa giliran Tan Hau yang kini terjebak dalam permainannya sendiri.Guru Jian menyilangkan tangan di depan dada, menyandarkan punggungnya pada tiang kayu gubuk. "Tan Hau berpikir dia memegang kendali penuh atas akademi ini. Namun, racun terbesar bagi seorang pemimpin yang otoriter adalah kecurigaan berlebih. Makin dia berspekulasi tentang kekuatanmu, makin banyak langkah ceroboh yang akan dia ambil.""Lalu bagaimana dengan persidangan Dewan Tetua, Guru?" tanya Arkan seraya mengubah posisinya menjadi duduk bersila secara perlahan—sama sekali tak terlihat seperti orang yang kemarin nyaris tewas tertebas. "Apakah Tan Hau akan membiarkan Lie lolos begitu saja dari tuduhan melepaskan binatang Tingkat Raja di arena?""Tentu saja tidak seratus persen aman," sahut Gur

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status